Saya menulis judul ini dengan perasaan sedih, dan terharu. Ketika membaca berita tentang perkembangan dunia pendidikan yang semakin hari-semakin belum ada obat yang cocok. Sementara, kita menyambut euforia di tengah-tengah hangat-hangatnya pergantian menteri pendidikan. Tulisan yang saya tulis ini sebenarnya efek setelah membaca sebuah artikel di media massa. Apa yang saya dapat setelah membaca website tersebut? Ya. Betul. Sama seperti kalimat pembuka tersebut. Sedih dan ingin secepatnya menuliskan ulang ke catatan saya. Terlepas dari kebenaran kabar tersebut, saya menemukan kasus anak yang dipaksa ibunya mengikuti berbagai les malah mengalami gangguan jiwa.
Dalam postingan itu tertulis, saking banyaknya belajar, anak ini sampai mengalami gangguan jiwa sehingga harus menemui seorang ahli kejiwaan. Terlepas dari benar tidaknya berita anak usia 6 (enam) tahun depresi karena terlalu diforsir oleh orang tuanya ,mengikuti berbagai les oleh orangtuanya. Kabar yang di dapat, kepada tamu yang menjenguk, sang gadis malang ini selalu menampilkan kemampuannya berhitung cepat dan berbahasa inggris.
Dengan wajah yang ceria, Ia juga memperagakan cara gurunya ketika mengajar, salah satunya soal matematika dengan skala yang mudah. Dari tingkahnya yang polos tersebut, ia berujar ketika ibu si bocah tersebut sedih dan menangis, ia berkata: “Bunda jangan menangis, aku kan sekarang sudah pintar. Tapi aku nggak mau tidur sama bunda ya. Aku maunya bobo sama dokter yang ganteng dan cantik saja.” Seperti dilansir situs website tersebut.
Bagaimana pun anak adalah anugerah dari sang maha kuasa. Kita sebagai orang tua seharusnya memberikan pendidikan yang layak dan sesuai kapasitas anak. Tugas kita sebagai orang tua, sekaligus orang yang pertama kali dikenal anak, adalah membangkitkan semangat belajar anak, serta mempetakan bakat dan minat si anak tersebut. Stimulus yang diberikan kepada mereka (anak) maka akan membuat respon yang sebaliknya. Apabila kita bisa mengajarkan anak dengan metode bermain, maka akan tidak merasa terkekang ketika belajar. Begitu pun sebaliknya, apabila metode yang kita terapkan tegang dan keras, maka yang didapat oleh anak adalah mengeluh. Jenuh. Terkenang. Hingga depresi dan stres pun akan dialaminya.
Manakala menambah forsi belajar siswa (anak) dengan mengikutikan berbagai les bimbingan belajar, maka anak serasa hidup dalam himpitan orang tuanya. Orang tua yang memiliki pandangan, seperti ini, menurutnya adalah bebal, “bodoh” dan takut masa depannya suram. Apalagi setiap guru-gurunya mengajari dia dengan ketat dan tegas, tidak di pungkiri akan menambah beban penderitaan anak. Ia akan terbengong dengan sendiri. Diajarpun akan melonggo, yang dipikirkan adalah bermain teman sebaya. Oleh karena orang tua hendaknya jangan memaksakan ekspektasinya diluar koridor anaknya.
Setali tiga uang, pendidikan kita memang sudah lama menjadi bahan hujatan. Sorotan, dan kritikan serta stement miring tentang dunia pendidikan pun selalu dialamatkan di institusi yang memiliki legalitas. Karena berkembang dan tumbuhnya suatu negara tidak terlepas dari sektor pendidikan, kesehatan dan ekonominya. Seperti bangsa Jepang ketika itu. Bagaimana bangsa jepang (Hirosima dan Nagasaki) setelah dibombardir dengan bom oleh sekutu, yang pertama kali ditanyakan adalah sektor pendidikan. Pun bangsa Finlandia, sektor yang sangat berperan dalam membangun negaranya adalah pendidikannya.
Peran sentral dalam kemajuan sebuah negara tidak terlepas dari pendidikannya. Pendidikan yang baik, akan mencetak penerus bangsa yang baik pula. Begitu sebaliknya, pendidikan yang kurang baik, maka akan mencetak lebih banyak bandit-bandit berdasi.
Oleh karena itu, manusia yang akan meneruskan perjuangan founding father adalah manusia-manusia kemudiannya. Termasuk anak-anak pada zaman-zaman kita. Anak adalah manusia yang hidup dijamannya, maka didiklah seperti pesan hadits yang cukup familiar ini, “dididiklah anak sesuai pada jamannya”. Maka janganlah Anda mendidik anak diluar kapasitas dan kemampuan anak tersebut.
Anak adalah aset yang berharga. Tak ubahnya sebuah benda (emas) atau pisau yang sangat berharga. Apabila kita sering mengasahnya tanpa ada jeda, maka kemungkinan akan patah dan tidak tajam pun ada. Barangkali, tipis pun ada harapan apabila benda itu diasah terus tanpa dipakai untuk memotong. Bayangkan saking takutnya orangtua anaknya bodoh, ia intoleransi terhadapnya. Seorang anak tidak harus menerima perlakuan yang tidak manusiawi tersebut.
Terlepas benar tidaknya berita diatas, sebagai orangtua supaya memetik pelajaran berharga dari cerita tersebut. Agar tidak terlalu memforsir dan mencecar otaknya sedemikian rupa. Dan jangan paksa dia memakan ilmu secara instan sekaligus waktu tersebut. Sayangilah buah hati, berikan waktu dan peluang untuk merefresh otak yang penuh hafalan-hafalan dengan santai dan bermain sehendak hatinya. Jangan memberikan pelajaran dan memforsir buah hati suatu hal yang sifatnya memaksa. Allahualam Bishowab
Dalam postingan itu tertulis, saking banyaknya belajar, anak ini sampai mengalami gangguan jiwa sehingga harus menemui seorang ahli kejiwaan. Terlepas dari benar tidaknya berita anak usia 6 (enam) tahun depresi karena terlalu diforsir oleh orang tuanya ,mengikuti berbagai les oleh orangtuanya. Kabar yang di dapat, kepada tamu yang menjenguk, sang gadis malang ini selalu menampilkan kemampuannya berhitung cepat dan berbahasa inggris.
Dengan wajah yang ceria, Ia juga memperagakan cara gurunya ketika mengajar, salah satunya soal matematika dengan skala yang mudah. Dari tingkahnya yang polos tersebut, ia berujar ketika ibu si bocah tersebut sedih dan menangis, ia berkata: “Bunda jangan menangis, aku kan sekarang sudah pintar. Tapi aku nggak mau tidur sama bunda ya. Aku maunya bobo sama dokter yang ganteng dan cantik saja.” Seperti dilansir situs website tersebut.
Bagaimana pun anak adalah anugerah dari sang maha kuasa. Kita sebagai orang tua seharusnya memberikan pendidikan yang layak dan sesuai kapasitas anak. Tugas kita sebagai orang tua, sekaligus orang yang pertama kali dikenal anak, adalah membangkitkan semangat belajar anak, serta mempetakan bakat dan minat si anak tersebut. Stimulus yang diberikan kepada mereka (anak) maka akan membuat respon yang sebaliknya. Apabila kita bisa mengajarkan anak dengan metode bermain, maka akan tidak merasa terkekang ketika belajar. Begitu pun sebaliknya, apabila metode yang kita terapkan tegang dan keras, maka yang didapat oleh anak adalah mengeluh. Jenuh. Terkenang. Hingga depresi dan stres pun akan dialaminya.
Manakala menambah forsi belajar siswa (anak) dengan mengikutikan berbagai les bimbingan belajar, maka anak serasa hidup dalam himpitan orang tuanya. Orang tua yang memiliki pandangan, seperti ini, menurutnya adalah bebal, “bodoh” dan takut masa depannya suram. Apalagi setiap guru-gurunya mengajari dia dengan ketat dan tegas, tidak di pungkiri akan menambah beban penderitaan anak. Ia akan terbengong dengan sendiri. Diajarpun akan melonggo, yang dipikirkan adalah bermain teman sebaya. Oleh karena orang tua hendaknya jangan memaksakan ekspektasinya diluar koridor anaknya.
Setali tiga uang, pendidikan kita memang sudah lama menjadi bahan hujatan. Sorotan, dan kritikan serta stement miring tentang dunia pendidikan pun selalu dialamatkan di institusi yang memiliki legalitas. Karena berkembang dan tumbuhnya suatu negara tidak terlepas dari sektor pendidikan, kesehatan dan ekonominya. Seperti bangsa Jepang ketika itu. Bagaimana bangsa jepang (Hirosima dan Nagasaki) setelah dibombardir dengan bom oleh sekutu, yang pertama kali ditanyakan adalah sektor pendidikan. Pun bangsa Finlandia, sektor yang sangat berperan dalam membangun negaranya adalah pendidikannya.
Peran sentral dalam kemajuan sebuah negara tidak terlepas dari pendidikannya. Pendidikan yang baik, akan mencetak penerus bangsa yang baik pula. Begitu sebaliknya, pendidikan yang kurang baik, maka akan mencetak lebih banyak bandit-bandit berdasi.
Oleh karena itu, manusia yang akan meneruskan perjuangan founding father adalah manusia-manusia kemudiannya. Termasuk anak-anak pada zaman-zaman kita. Anak adalah manusia yang hidup dijamannya, maka didiklah seperti pesan hadits yang cukup familiar ini, “dididiklah anak sesuai pada jamannya”. Maka janganlah Anda mendidik anak diluar kapasitas dan kemampuan anak tersebut.
Anak adalah aset yang berharga. Tak ubahnya sebuah benda (emas) atau pisau yang sangat berharga. Apabila kita sering mengasahnya tanpa ada jeda, maka kemungkinan akan patah dan tidak tajam pun ada. Barangkali, tipis pun ada harapan apabila benda itu diasah terus tanpa dipakai untuk memotong. Bayangkan saking takutnya orangtua anaknya bodoh, ia intoleransi terhadapnya. Seorang anak tidak harus menerima perlakuan yang tidak manusiawi tersebut.
Terlepas benar tidaknya berita diatas, sebagai orangtua supaya memetik pelajaran berharga dari cerita tersebut. Agar tidak terlalu memforsir dan mencecar otaknya sedemikian rupa. Dan jangan paksa dia memakan ilmu secara instan sekaligus waktu tersebut. Sayangilah buah hati, berikan waktu dan peluang untuk merefresh otak yang penuh hafalan-hafalan dengan santai dan bermain sehendak hatinya. Jangan memberikan pelajaran dan memforsir buah hati suatu hal yang sifatnya memaksa. Allahualam Bishowab
Posting Komentar