Saya pertama kali bertemu dengan Chafid Wahyudi empat atau lima tahun lalu di Tulungagung. Jauh-jauh dari Surabaya ke Tulungagung, tak lain lantaran data riset tentang Ki Hajar Dewantara, yang ia cari. Kebetulan buku-buku yang diinginkan ada di teman, yang rumahnya di Kepatihan, Tulungagung.
Karena waktu itu saya ingin ketemu dengan Cak Chafid--sapaan akrabnya--dan bareng ke rumah teman yang memiliki referensi tentang Ki Hajar tersebut. Teman tersebut adalah Mbak Fafa. Jauh-jauh hari, ia telah minta tolong Mbak Fafa untuk menggandakan buku-buku Ki Hajar Dewantara. Ke Tulungagung itu selain ingin bermain sekaligus mengambil buku. Sementara saya sendiri punya hutang buku Mbak Fafa. Sama dengan Cak Chafid, saya juga mau buku tentang Ki Hajar Dewantara itu.
Senin saya menghubungi via massenger. Namun tak ada balasan. Hari berikutnya, saya mencoba keberuntungan ulang dengan mengirim salam di massenger dan berharap chat itu dibuka dan dibaca. Beberapa menit berjalan. akhirnya dari balik smartphone, gadget itu bergetar dan saya lihat ternyata chat saya terbalas. Saya lalu minta nomor whatsappnya dan rencana ingin sowan ke rumah.
Hari Rabu itu, selepas salat Isyak saya bilang akan datang ke rumah. Tanpa saya minta alamat rumah atau yang lain, dari balik smartphone saya dikirimi share lokasi. Tanpa pikir panjang, saya pun meluncur ke alamat tersebut. Ternyata dari tempat kos ke rumah itu sangat deket. Hanya putar balik dari jalur kosan saya, lurus sekitar 8 menit sudah masuk di gang rumahnya.
Tanpa pikir panjang, saya meluncur ke rumahnya. Dengan panduan Google Maps, saya mengikuti petunjuk itu. Ternyata, saya ditunggu di warung kopi sebelah rumahnya. Belum benar-benar turun dari motor, saya ditodong minuman.
"Mau minum apa? tawarnya.
Dari atas motor, saya menjawab tawarannya dengan sedikit sungkan dan gagap. Karena saya bukan aku istimewa. Makanya ketika belum benar-benar turun dari motor lantas langsung ditawari unjug-an saya rada glagapan.
"Teh hangat, Pak."
Kami akhirnya diajak masuk ke rumah dan memulai ngobrol ngidul. Namun di sela-sela obrolan itu saya memandang ke depan. Tepat pandangan tersebut puluhan buku babon tertumpuk mosah-masih. Tetapi ada tumpukan yang sudah dirapikan sebagai bahan riset yang akan dikerjakannya.
Ia berulang kali bilang bila di rumah ini sendirian. Istri dan anaknya berada di Malang. Jadi ia minta maaf tidak bisa menjamu dengan baik. Belum lama memulai ngobrol, kami langsung ditawari makan dan pesan go-send. Lagi-lagi saya tak bisa menolak tawaran tersebut. Padahal saya baru saja makan malam di kos.
Namun buka itu tujuan saya datang di rumahnya malam itu. Saya sangat pengen banget belajar menulis seperti yang dimiliki oleh Cak Chafid. Ia sangat menyarahkan kepada saya bahwa semangat menulis harus terus ditingkatkan dan sewaktu-waktu belajar menulis riset atau tulisan ilmiah.
Sebagain besar tulisan yang dihasilkan oleh Cak Chafid adalah tulisan yang terlatar belakang dari filsafat. Sebab ia adalah mahasiswa filsafat saat masih kuliah di UIN Jogjakarta dahulu. Di tengah-tengah obrolan yang tidak selalu pungkas itu, ia menyarakan untuk mempelajari karakter menulis dari Pak Sutedja, salah satu penulis dari Ponorogo.
Obrolan itu memang tidak pernah berakhir dengan kesimpulan. Obrolan itu bagi saya adalah pemantik atau prolog yang perlu saya kejar bila nanti saya sudah akrab dan tidak sungkan-sungkan belajar dengannya. Malam itu memang banyak pelajaran dan pengetahuan dari apa yang diceritakan oleh Cak Chafid. Mulai dari pertama kali ia kehidupan di Surabaya, pendidikan di Surabaya hingga buku-buku yang ia baca sebagai bahan risetnya.
Sekarang penilitian yang sedang dalam pengerjaan adalah penilitan tentang--kalau tak salah denger--Ulama dan Kebangsaaan. Sebab akhir-akhir ini isu tentang kebangsaan sedang hangat dan dibahas secara nasional. Sehingga riset ini sangat membantu bagi siapa saja yang ingin mengetahui seluk beluk tentang kebangsaan. Kita tahu pemahaman kebangsaan negara ini sedang mengalami kemunduran, jika tak ingin menyebut merosot.
Malam itu kami tidak membahas soal jurnal ilmiah yang akan digarap tersebut. Tetapi bagi saya pribadi bisa sowan di rumahnya Cak Chafid adalah semacam "penembusan dosan". Karena saat pertama kali bertemu saya hanya punya keinginan, yang hanya sekadar keinginan saja. Akhirnya pada Rabu malam kemarin kami bisa bertemu dan bercerita tentang apa saja.
Karena waktu itu saya ingin ketemu dengan Cak Chafid--sapaan akrabnya--dan bareng ke rumah teman yang memiliki referensi tentang Ki Hajar tersebut. Teman tersebut adalah Mbak Fafa. Jauh-jauh hari, ia telah minta tolong Mbak Fafa untuk menggandakan buku-buku Ki Hajar Dewantara. Ke Tulungagung itu selain ingin bermain sekaligus mengambil buku. Sementara saya sendiri punya hutang buku Mbak Fafa. Sama dengan Cak Chafid, saya juga mau buku tentang Ki Hajar Dewantara itu.
Cak Chafid merupakan periset yang ulung. Sudah banyak penelitian yang sudah ia hasilkan. Bahkan hasil penelitiannya juga jadi rujukan bagi para penelitian lain. Salah satu riset yang dia kerjakan waktu itu adalah Sufisme Ki Hadjar Dewantara.
Ia mengatakan bahwa yang orang tahu tentang Ki Hajar Dewantara itu adalah sosok pendidik atau Bapak Pendidikan. Itu dalam filsafat adalah aksioma atau barang jadi. Tambahnya, "saya meneliti tentang sufistik dari Ki Hajar itu. Barang yang belum jadi seperti yang dikenal orang seperti sekarang ini."
Penelitiannya Ki Hajar dari sudut sufistiknya. Setelah empat atau lima tahun lalu, kini riset tentang Ki Hajar Dewantara itu sudah bisa kita baca dan nikmati. Cak Chafid merupakan salah satu dosen di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Ia mengakui bahwa ia terakhir menulis di media cetak lima tahun yang lalu dan lebih fokus menulis di jurnal ilmiah yang standar nasional maupun internasional daripada menulis buku.
Ia mengatakan bahwa yang orang tahu tentang Ki Hajar Dewantara itu adalah sosok pendidik atau Bapak Pendidikan. Itu dalam filsafat adalah aksioma atau barang jadi. Tambahnya, "saya meneliti tentang sufistik dari Ki Hajar itu. Barang yang belum jadi seperti yang dikenal orang seperti sekarang ini."
Penelitiannya Ki Hajar dari sudut sufistiknya. Setelah empat atau lima tahun lalu, kini riset tentang Ki Hajar Dewantara itu sudah bisa kita baca dan nikmati. Cak Chafid merupakan salah satu dosen di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Ia mengakui bahwa ia terakhir menulis di media cetak lima tahun yang lalu dan lebih fokus menulis di jurnal ilmiah yang standar nasional maupun internasional daripada menulis buku.
***
Setelah empat atau lima tahun berselang saya memendam keinginan sowan ke rumahnya, akhirnya pada Rabu malam (17/10) kemarin, kami akhirnya bertemu lagi. Sebenarnya awal di Surabaya, saya tak terlintas tentang Cak Chafid. Yang saya rasakan hanya bagaimana saya secepatnya bisa beradaptasi dengan cuaca panas Kota Surabaya. Sore hari, selepas pulang kerja, sambil menunggu azan Maghrib berkumandang. Sembari merebahkan badan di atas kasur nan kumel dan kipas angin yang tolah-toleh, saya seketika ingat bahwa saya dahulu punya keinginan datang ke rumahnya Cak Chafid.Senin saya menghubungi via massenger. Namun tak ada balasan. Hari berikutnya, saya mencoba keberuntungan ulang dengan mengirim salam di massenger dan berharap chat itu dibuka dan dibaca. Beberapa menit berjalan. akhirnya dari balik smartphone, gadget itu bergetar dan saya lihat ternyata chat saya terbalas. Saya lalu minta nomor whatsappnya dan rencana ingin sowan ke rumah.
Hari Rabu itu, selepas salat Isyak saya bilang akan datang ke rumah. Tanpa saya minta alamat rumah atau yang lain, dari balik smartphone saya dikirimi share lokasi. Tanpa pikir panjang, saya pun meluncur ke alamat tersebut. Ternyata dari tempat kos ke rumah itu sangat deket. Hanya putar balik dari jalur kosan saya, lurus sekitar 8 menit sudah masuk di gang rumahnya.
Tanpa pikir panjang, saya meluncur ke rumahnya. Dengan panduan Google Maps, saya mengikuti petunjuk itu. Ternyata, saya ditunggu di warung kopi sebelah rumahnya. Belum benar-benar turun dari motor, saya ditodong minuman.
"Mau minum apa? tawarnya.
Dari atas motor, saya menjawab tawarannya dengan sedikit sungkan dan gagap. Karena saya bukan aku istimewa. Makanya ketika belum benar-benar turun dari motor lantas langsung ditawari unjug-an saya rada glagapan.
"Teh hangat, Pak."
Kami akhirnya diajak masuk ke rumah dan memulai ngobrol ngidul. Namun di sela-sela obrolan itu saya memandang ke depan. Tepat pandangan tersebut puluhan buku babon tertumpuk mosah-masih. Tetapi ada tumpukan yang sudah dirapikan sebagai bahan riset yang akan dikerjakannya.
Ia berulang kali bilang bila di rumah ini sendirian. Istri dan anaknya berada di Malang. Jadi ia minta maaf tidak bisa menjamu dengan baik. Belum lama memulai ngobrol, kami langsung ditawari makan dan pesan go-send. Lagi-lagi saya tak bisa menolak tawaran tersebut. Padahal saya baru saja makan malam di kos.
Namun buka itu tujuan saya datang di rumahnya malam itu. Saya sangat pengen banget belajar menulis seperti yang dimiliki oleh Cak Chafid. Ia sangat menyarahkan kepada saya bahwa semangat menulis harus terus ditingkatkan dan sewaktu-waktu belajar menulis riset atau tulisan ilmiah.
Sebagain besar tulisan yang dihasilkan oleh Cak Chafid adalah tulisan yang terlatar belakang dari filsafat. Sebab ia adalah mahasiswa filsafat saat masih kuliah di UIN Jogjakarta dahulu. Di tengah-tengah obrolan yang tidak selalu pungkas itu, ia menyarakan untuk mempelajari karakter menulis dari Pak Sutedja, salah satu penulis dari Ponorogo.
Obrolan itu memang tidak pernah berakhir dengan kesimpulan. Obrolan itu bagi saya adalah pemantik atau prolog yang perlu saya kejar bila nanti saya sudah akrab dan tidak sungkan-sungkan belajar dengannya. Malam itu memang banyak pelajaran dan pengetahuan dari apa yang diceritakan oleh Cak Chafid. Mulai dari pertama kali ia kehidupan di Surabaya, pendidikan di Surabaya hingga buku-buku yang ia baca sebagai bahan risetnya.
Sekarang penilitian yang sedang dalam pengerjaan adalah penilitan tentang--kalau tak salah denger--Ulama dan Kebangsaaan. Sebab akhir-akhir ini isu tentang kebangsaan sedang hangat dan dibahas secara nasional. Sehingga riset ini sangat membantu bagi siapa saja yang ingin mengetahui seluk beluk tentang kebangsaan. Kita tahu pemahaman kebangsaan negara ini sedang mengalami kemunduran, jika tak ingin menyebut merosot.
Malam itu kami tidak membahas soal jurnal ilmiah yang akan digarap tersebut. Tetapi bagi saya pribadi bisa sowan di rumahnya Cak Chafid adalah semacam "penembusan dosan". Karena saat pertama kali bertemu saya hanya punya keinginan, yang hanya sekadar keinginan saja. Akhirnya pada Rabu malam kemarin kami bisa bertemu dan bercerita tentang apa saja.
Posting Komentar