Kampung Coklat sudah lama berdiri. Berdirinya tempat wisata keluarga ini tidak mudah seperti yang kita lihat sekarang. Para perintisnya sudah pasti mengalami apa yang dinamakan pahitnya kegagalan. Namun jika dilihat dari apa yang diperlihatkan pada benner di jalan masuk di kampung coklat itu, pemilik menginformasikan bahwa ia pernah gagal dalam membangun usaha.
Pemilik usaha ini adalah Kholid Mustofa. Sejak awal Pak Kholid sudah berjuang di jalan usaha. Salah satu usahanya adalah beternak ayam petelur. Namun usahanya itu gagal total setelah virus yang mematikan itu menjangkiti ayam-ayamnya. Pada 2004 itu, Pak Kholid mengalami kegagalan dari usaha yang dirintisnya.
2007
Program gerakan kakao itu yang digagas Pak Kholid itu terbukti sukses. Terlihat dari pesatnya perkembangan bibit coklat yang berada di desa tersebut. Yang tidak kalah penting adalah tidak hanya bidang budidaya pembibitan yang azas keterbukaan kepada petani saja, perdagangan biji kakao juga semakin meningkat.
Tentu, berkembang dan meningkatnya program gerakan kakao tersebut tidak luput dari pengetahuan dan wawasan Pak Kholid Mustofa yang didapatkan dari beberapa referensi dalam bidang perkakaoan di Perpustakaan Proklamator Bung Karno Blitar (Perpustakaan Nasional Republik Indonesia).
Keberhasilan dalam menggerakan program tanam kakao itulah Pak Kholid mendapat kepercayaan untuk memasok biji Kakao ke pabrik Cokelat lain. Di tahun 2007 hingga saat ini tidak kurang dari 15 ton/hari biji Kakao kering dikirim dari Kampung Coklat ini ke dalam maupun luar negri.
2010
Melihat dari potensi kebun kakao ini, di tahun 2000 terdapat kebun coklat yang mulai besar. Dengan kumpulan tanaman coklat yang tumbuh subur, jadi potensi untuk membuat makanan ringan yang terbuat dari tanaman coklat kemudian dikemas dengan baik. Produk kemasan itu lalu dipasarkan di swalayan kampung coklat dengan harga yang terjangkau.
2013
Pemilik usaha ini adalah Kholid Mustofa. Sejak awal Pak Kholid sudah berjuang di jalan usaha. Salah satu usahanya adalah beternak ayam petelur. Namun usahanya itu gagal total setelah virus yang mematikan itu menjangkiti ayam-ayamnya. Pada 2004 itu, Pak Kholid mengalami kegagalan dari usaha yang dirintisnya.
Namun dari kegagalan itu, Pak Kholid tidak patas semangat. Ia kemudian beralih menekuni budidaya Kakao milik keluarganya. Pada saat itu, di daerah pak Kholid sendiri, tepatnya di daerah Plososorejo, Kademangan kabupaten Blitar belum ada pengusaha coklat. Kondisi seperti itu dijadikan peluang bagi Pak Kholid untuk melakukan bisnis coklat.
Fase-fase Berdirinya Kampung Coklat:
2004
Berawal dari kegagalan ternak Ayam petelur akibat wabah Virus Flu Burung pada tahun 2004 itu, Kholid Mustofa mulai menekuni budidaya Kakao milik kebun keluarganya. Kebun coklat yang membesarkan namanya itu sejatinya telah ditanami Kakao sejak tahun 2000.
Di tahun itu, harga Kakao sudah lumayan mahal. Waktu itu satu kilo kakao kering dihargai Rp. 9000. Dari situlah titik balik dari kegagalan yang pernah dialaminya itu. Dari usaha kakaonya itulah jadi motivasi untuk mendalami budidaya kakao dengan magang di Ptpn XII Blitar dan dilanjutkan di Puslit Koka Jember
2005
Bermodal dari pengalaman magang itu menjadi bekal menggerakan untuk membudidayakan kakao lebih masif lagi. Hal itu dibuktikan dengan membuat pembibitan kakao sebanyak 75.000 di tahun 2005. Bibit coklat yang dibuat itu kemudian disalurkan kepada para petani lainnya, baik di Blitar maupun daerah lainnya.
2004
Berawal dari kegagalan ternak Ayam petelur akibat wabah Virus Flu Burung pada tahun 2004 itu, Kholid Mustofa mulai menekuni budidaya Kakao milik kebun keluarganya. Kebun coklat yang membesarkan namanya itu sejatinya telah ditanami Kakao sejak tahun 2000.
Di tahun itu, harga Kakao sudah lumayan mahal. Waktu itu satu kilo kakao kering dihargai Rp. 9000. Dari situlah titik balik dari kegagalan yang pernah dialaminya itu. Dari usaha kakaonya itulah jadi motivasi untuk mendalami budidaya kakao dengan magang di Ptpn XII Blitar dan dilanjutkan di Puslit Koka Jember
2005
Bermodal dari pengalaman magang itu menjadi bekal menggerakan untuk membudidayakan kakao lebih masif lagi. Hal itu dibuktikan dengan membuat pembibitan kakao sebanyak 75.000 di tahun 2005. Bibit coklat yang dibuat itu kemudian disalurkan kepada para petani lainnya, baik di Blitar maupun daerah lainnya.
2007
Program gerakan kakao itu yang digagas Pak Kholid itu terbukti sukses. Terlihat dari pesatnya perkembangan bibit coklat yang berada di desa tersebut. Yang tidak kalah penting adalah tidak hanya bidang budidaya pembibitan yang azas keterbukaan kepada petani saja, perdagangan biji kakao juga semakin meningkat.
Tentu, berkembang dan meningkatnya program gerakan kakao tersebut tidak luput dari pengetahuan dan wawasan Pak Kholid Mustofa yang didapatkan dari beberapa referensi dalam bidang perkakaoan di Perpustakaan Proklamator Bung Karno Blitar (Perpustakaan Nasional Republik Indonesia).
Keberhasilan dalam menggerakan program tanam kakao itulah Pak Kholid mendapat kepercayaan untuk memasok biji Kakao ke pabrik Cokelat lain. Di tahun 2007 hingga saat ini tidak kurang dari 15 ton/hari biji Kakao kering dikirim dari Kampung Coklat ini ke dalam maupun luar negri.
2010
Melihat dari potensi kebun kakao ini, di tahun 2000 terdapat kebun coklat yang mulai besar. Dengan kumpulan tanaman coklat yang tumbuh subur, jadi potensi untuk membuat makanan ringan yang terbuat dari tanaman coklat kemudian dikemas dengan baik. Produk kemasan itu lalu dipasarkan di swalayan kampung coklat dengan harga yang terjangkau.
2013
Berangkat dari keyakinan akan masa depan kakao Indonesia lebih baik, keinginan kuat untuk memberikan edukasi kepada masyarakat, dimulailah produksi Cokelat ini. Cokelat dengan kemurnian Kakao dan citarasa khas Indonesia.
2014
Wisata Edukasi Kampung Coklat berdiri dengan spirit membangun perekonomian Indonesia. Mengekpresikan rasa syukur dengan berbagi ilmu dan kemanfaatan demi cita cita dari Kampung Coklat untuk Republik Of Chocolate di Indonesia.
2014
Wisata Edukasi Kampung Coklat berdiri dengan spirit membangun perekonomian Indonesia. Mengekpresikan rasa syukur dengan berbagi ilmu dan kemanfaatan demi cita cita dari Kampung Coklat untuk Republik Of Chocolate di Indonesia.


Posting Komentar