Panggung politik sama artinya terjun dalam rimba belantara yang penuh dengan duri-duri yang menganga. Jika tidak hati-hati, siapa pun yang berjalan akan terkena duri itu. Tidak hanya terkena di bagian kaki saja, bahkan terkena di bagian hati dan bahkan jantung, bisa juga sekujur tubuh terbujur kaku oleh sengatan dari musuh-musuh di hutan belantara itu.
Di panggung politik hukum rimba masih berlaku. Siapa yang besar, dia yang menang. Siapa yang paling kuat dukungannya, dia yang bakal menang. Dia yang mendapat perolehan suara pemilihan, dia juga yang berhak menjabat kedudukan menjadi ketua atau wakil ketua. Artinya, siapa yang besar dukungannya, dia yang mendapatkan amanah dari rakyat.
Di indonesia, yang sistem pemerintahannya menganut paham demokratis, jelas berbeda dengan sistem yang ada di Inggris. Semua pemilihannya “dirembukan” seluruh warga negara. Ini yang membedakan dengan sistem yang ada di Inggris, Monarki Konstitutional. Di Inggris pemerintahannya dipimpin Ratu Elizabeth sak pinunggal e: anak, cucu, cicit dan keturunan-keturunan yang belum dicetak di duniapun sudah mendapat jatah untuk memipin negara. Begitulah sistem yang ada di Inggris maupun negara kesemakmura dengannnya.
Ini lagi-lagi di Indonesia, setelah Orde Baru yang dipimpin oleh Soeharto, berkuasa setelah 32 tahun, sistem pemilihannya menggunakan langsung. Maksudnya, setiap pemilihan selalu diselenggarakan rahasia, langsung dan damai. Setiap perbedaan hak pilih, ya itu namanya demokratis.
Namun kita tentu masih ingat, bagaimana aura ketika pemilihan presiden 2014 kemarin? Jelas, pemilihan yang paling meneggangkan yang pernah saya catat. Auranya pun masih terasa sampai sekarang. Para pendukung maupun hater (bahasa kerennya oposisi) masih saja menebarkan rasa kebencian dengan mengumbar informasi-informasi negatif di media sosial.
Efeknya, sesama tetangga masih ada yang tidak mau tegur sapa. Ada juga yang tidak mau bersilaturahim.yang lebih parah lagi. Karena berbeda pilihan, suami istri harus berpisah satu ranjang. Coba, siapa yang rugi atas kegiatan ini? Jelas, kita semua yang rugi. Kan, harusnya pesta demokrasi itu romantis.
Bagi yang menang tidak terlalu bergembira, dengan ueforia yang berlebihan. Bagi yang kalah, jangan terlalu sakit hati. Seakan hasil dari pemilihan ini final, dan tidak ada hari esok yang lebih cerah lagi. Dus, demokrasi adalah pesta bagi kita semua. Pesta rakyat yang dinikmati dan diramaikan kita bersama, masyarakat pemegang hak pilih.
Sebagaimana pasar raya yang digelar untuk masyarakat. Ramaikan, kunjungilah, dan sukseskan kegiatan pasar rakyat tersebut, tanpa ada tendesi-tendesi yang berarti. Apalagi dengan permusuhan-permusuhan yang tidak mencerminkan kedewasaan diri. Karena beda pilihan, kita harus beradus fisik. Kerena beda keyakinan, toleransi perbedaan dikesampingkan.
Seharusnya pesta demokrasi itu yang romantis, mblo. Yang namanya pesta, ya harus dibuat seromantis mungkin. Apalagi pesta itu pemilihan sepasang pengantin. Ya, merayakan atau memilih pengantin, ya, tanpa ada tadeng aling-aling kekerasan. Dan yang penting kalau pengantin sudah ada yang terpilih untuk memimpin daerah, atau negeri, ya kita legowo dan membantu untuk kebaikan bersama. Bersama membangun negeri. Membangun dari sektor, yang memang masyarakat butuhkan. Demi kemaslahatan hidup bersama masyarakat, yang ayem tentrem mulyo lan tinoto, begitu keinginan kita bersama.
Di panggung politik hukum rimba masih berlaku. Siapa yang besar, dia yang menang. Siapa yang paling kuat dukungannya, dia yang bakal menang. Dia yang mendapat perolehan suara pemilihan, dia juga yang berhak menjabat kedudukan menjadi ketua atau wakil ketua. Artinya, siapa yang besar dukungannya, dia yang mendapatkan amanah dari rakyat.
Di indonesia, yang sistem pemerintahannya menganut paham demokratis, jelas berbeda dengan sistem yang ada di Inggris. Semua pemilihannya “dirembukan” seluruh warga negara. Ini yang membedakan dengan sistem yang ada di Inggris, Monarki Konstitutional. Di Inggris pemerintahannya dipimpin Ratu Elizabeth sak pinunggal e: anak, cucu, cicit dan keturunan-keturunan yang belum dicetak di duniapun sudah mendapat jatah untuk memipin negara. Begitulah sistem yang ada di Inggris maupun negara kesemakmura dengannnya.
Ini lagi-lagi di Indonesia, setelah Orde Baru yang dipimpin oleh Soeharto, berkuasa setelah 32 tahun, sistem pemilihannya menggunakan langsung. Maksudnya, setiap pemilihan selalu diselenggarakan rahasia, langsung dan damai. Setiap perbedaan hak pilih, ya itu namanya demokratis.
Namun kita tentu masih ingat, bagaimana aura ketika pemilihan presiden 2014 kemarin? Jelas, pemilihan yang paling meneggangkan yang pernah saya catat. Auranya pun masih terasa sampai sekarang. Para pendukung maupun hater (bahasa kerennya oposisi) masih saja menebarkan rasa kebencian dengan mengumbar informasi-informasi negatif di media sosial.
Efeknya, sesama tetangga masih ada yang tidak mau tegur sapa. Ada juga yang tidak mau bersilaturahim.yang lebih parah lagi. Karena berbeda pilihan, suami istri harus berpisah satu ranjang. Coba, siapa yang rugi atas kegiatan ini? Jelas, kita semua yang rugi. Kan, harusnya pesta demokrasi itu romantis.
Bagi yang menang tidak terlalu bergembira, dengan ueforia yang berlebihan. Bagi yang kalah, jangan terlalu sakit hati. Seakan hasil dari pemilihan ini final, dan tidak ada hari esok yang lebih cerah lagi. Dus, demokrasi adalah pesta bagi kita semua. Pesta rakyat yang dinikmati dan diramaikan kita bersama, masyarakat pemegang hak pilih.
Sebagaimana pasar raya yang digelar untuk masyarakat. Ramaikan, kunjungilah, dan sukseskan kegiatan pasar rakyat tersebut, tanpa ada tendesi-tendesi yang berarti. Apalagi dengan permusuhan-permusuhan yang tidak mencerminkan kedewasaan diri. Karena beda pilihan, kita harus beradus fisik. Kerena beda keyakinan, toleransi perbedaan dikesampingkan.
Seharusnya pesta demokrasi itu yang romantis, mblo. Yang namanya pesta, ya harus dibuat seromantis mungkin. Apalagi pesta itu pemilihan sepasang pengantin. Ya, merayakan atau memilih pengantin, ya, tanpa ada tadeng aling-aling kekerasan. Dan yang penting kalau pengantin sudah ada yang terpilih untuk memimpin daerah, atau negeri, ya kita legowo dan membantu untuk kebaikan bersama. Bersama membangun negeri. Membangun dari sektor, yang memang masyarakat butuhkan. Demi kemaslahatan hidup bersama masyarakat, yang ayem tentrem mulyo lan tinoto, begitu keinginan kita bersama.
Posting Komentar