Kegiatan menulis itu adalah seni. Seni di sini adalah menikmati setiap tahap demi tahap. Karena tidak sedikit orang yang belajar menulis menemui banyak hambatan. Menulis memang salah satu kegiatan yang memacu "adrenalin", tak ayal bayangan ketika tak selesai pun menyeruak di pikiran.
Beberapa orang menyebut, menulis menjadi sebuah kewajiban, layaknya sholat lima waktu. Apabila tidak segera diselesaikan, kewajiban itu selalu menjadi beban.
Sebenarnya sejak duduk di Taman Kanak-Kanak (TK), kita telah dibekali kemampuan menulis, membaca, berhitung, maupun bernyanyi. Beralih di Sekolah Dasar (SD) kita telah diarahkan balistung (baca, tulis, dan berhitung). Seharusnya persoalan tulis-menulis sudah tidak lagi menjadi masalah lagi di dunia pendidikan. Tetapi pendidikan tak memiliki kesadaran tentang pentingnya menulis. Sekolah tak menanamkan budaya literasi, baca-tulis. Khususnya, dunia tulis-menulis.
Oleh karena itu, tidak sedikit orang yang ingin belajar dan mengembangkan potensi diri dengan ngangsu kaweruh melalui tulisan orang lain.
Sehingga orang-orang di luar sana, ia terkenal dan besar karena ia concern di dunia kepenulisan. Tinggal kita percaya atau tidak! Semua tergantung dari perspektif masing-masing. Namun sebagian besar, mereka besar karena pendidikannya yang moncer. Yang bisa meluluskan dirinya dari sekat gedung lembaga pendidikan hingga Strata satu sampai gelar doktoral ataupun profesor.
Hanya orang-orang yang beruntung, yang mampu menyelesaikan pendidikannya hingga jenjang sekolah yang tinggi. Banyak anak-anak miskin yang tidak bisa melanjutkan studinya, hanya gara-gara tidak memiliki cukup banyak biaya. Dan tidak mustahil, banyak pula orang miskin dan tidak memiliki apa-apa tentang ber(gelar)an atau tidak memiliki pangkat bisa terkenang oleh kelakuan yang menuliskan gagasan dan ide ke dalam tulisan.
Lalu, seberapa penting menulis itu bagi kita? Apapun aktivitasnya kita membutuhkan pertolongan yang sifatnya fisik, sebut saja tulisan sebagai petunjuk. Dan manakala kita tidak bisa membaca petunjuk dengan adanya tulisan, bagaimana rasanya hidup dalam kegelapan? Lantas masihkah kita menganggap menulis itu tidak penting.
Sekali lagi, saya tekankan, menulis itu penting! Meskipun saya sendiri bukan berprofesi sebagai penulis, tetapi menulis itu merupakan suatu aktivitas yang sangat penting. Karena kalau pun Anda adalah orang yang sukses, dengan berbagai gelar akademisi, dengan pangkat yang tinggi menjulang, tetapi jika Anda sama sekali tidak pernah menulis dan tidak ada yang menuliskan kisah kesuksesan, maka kesuksesan Anda dan keluarga Anda sendiri. Barangkali akan ditekan oleh zaman. Tidak akan dikenang oleh zaman. Hanya obrolan-obrolan orang, yang akan hilang ditelan udara maupun zaman.
Selain itu, menulis sangat bermanfaat, menurut Diana AV Sasa, dan Muhidin M Dahlan, dalam bukunya yang berjudul Berguru Pada Pesohor (2012: 4-5), yakni, Secara psikologis, menulis adalah soal eksistensi. Ada kebanggaan tersendiri bila kita bisa memberi apa yang kita punya kepada orang lain. Bukan semata ditujukan untuk kepentingan sosial, tapi kerap dorongan stimulus ego yang bersemayam dalam diri setiap manusia. Menulis itu memberi suntikan spiritualitas kepada penulisnya."
Jaringan: Menulis adalah menabung nama di hati dan pikiran orang lain. Dengan makin sering menulis, maka secara otomatis jaringan pergaulan kita meluas. Nama kita berpendaran di mana-mana.
Keilmuan: Dengan sering menulis, di mulai dari membuat judul, memilih tema yang bersifat kompetitif, mengolah tema, memasak data hingga menjadi kalimat, paragraf, maupun bab, bahkan hingga tahap desain dan pemasaran. Menulis menyerap praktik tentang pengetahuan yang analisis dan produktif.
Barangkali kita ingat ungkapan dari sastrawan Pramoedya Ananta Toer: "Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dalam masyarakat dan sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian."
Walaupun orang yang sukses, dan telah dikubur di liang lahat maka tulisan masih memperpanjang usia penulis tersebut. Anda pasti mengenal sosol Tan Malaka kan? Ia pernah berujar yang sedemikian fenomenal hingga dikenal ungkapannya yang begitu mainstream, dan Tan Malaka bilang: Ingatlah! Bahwa dari dalam kubur, suara saya akan lebih keras daripada suara saya di atas bumi."
Begitulah perjuangan bagi seorang penulis, meski Tan Malaka tidak pernah disebutkan penulis, namun perjuangannya dalam menelurkan gagasan dan ide akan tetap abadi dan menggema setelah orangnya tiada di dunia.
Karena menulis itu jangka panjang atau masa depan kita, sebut saja usia kita akan diabadi oleh zaman dan akan menuai kemaslahatan bagi orang banyak. Wawan Susetya dalam bukunya yang berjudul Menulis Dengan Hati, Menulis Merdeka (2014: 4), "Jika buah tangan tulisan kita adalah bermuatan tentang ilmu yang bermanfaat, tentu ia akan termasuk salah satu apa yang dikatakan oleh Baginda Nabi Muhammad Saw mengenai tiga hal yang tidak akan terputus meski orang yang bersangkutan telah meninggal dunia, yakni amal jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak sholeh."
Sepanjang buku atau tulisan kita terus dibaca banyak orang dan memberikan kemaslahatan bagi masyarakat luas, niscaya pahalanya akan terus mengalir kepada si penulisnya, meski yang bersangkutan telah wafat sekalipun.[]
Beberapa orang menyebut, menulis menjadi sebuah kewajiban, layaknya sholat lima waktu. Apabila tidak segera diselesaikan, kewajiban itu selalu menjadi beban.
Sebenarnya sejak duduk di Taman Kanak-Kanak (TK), kita telah dibekali kemampuan menulis, membaca, berhitung, maupun bernyanyi. Beralih di Sekolah Dasar (SD) kita telah diarahkan balistung (baca, tulis, dan berhitung). Seharusnya persoalan tulis-menulis sudah tidak lagi menjadi masalah lagi di dunia pendidikan. Tetapi pendidikan tak memiliki kesadaran tentang pentingnya menulis. Sekolah tak menanamkan budaya literasi, baca-tulis. Khususnya, dunia tulis-menulis.
Oleh karena itu, tidak sedikit orang yang ingin belajar dan mengembangkan potensi diri dengan ngangsu kaweruh melalui tulisan orang lain.
Sehingga orang-orang di luar sana, ia terkenal dan besar karena ia concern di dunia kepenulisan. Tinggal kita percaya atau tidak! Semua tergantung dari perspektif masing-masing. Namun sebagian besar, mereka besar karena pendidikannya yang moncer. Yang bisa meluluskan dirinya dari sekat gedung lembaga pendidikan hingga Strata satu sampai gelar doktoral ataupun profesor.
Hanya orang-orang yang beruntung, yang mampu menyelesaikan pendidikannya hingga jenjang sekolah yang tinggi. Banyak anak-anak miskin yang tidak bisa melanjutkan studinya, hanya gara-gara tidak memiliki cukup banyak biaya. Dan tidak mustahil, banyak pula orang miskin dan tidak memiliki apa-apa tentang ber(gelar)an atau tidak memiliki pangkat bisa terkenang oleh kelakuan yang menuliskan gagasan dan ide ke dalam tulisan.
Lalu, seberapa penting menulis itu bagi kita? Apapun aktivitasnya kita membutuhkan pertolongan yang sifatnya fisik, sebut saja tulisan sebagai petunjuk. Dan manakala kita tidak bisa membaca petunjuk dengan adanya tulisan, bagaimana rasanya hidup dalam kegelapan? Lantas masihkah kita menganggap menulis itu tidak penting.
Sekali lagi, saya tekankan, menulis itu penting! Meskipun saya sendiri bukan berprofesi sebagai penulis, tetapi menulis itu merupakan suatu aktivitas yang sangat penting. Karena kalau pun Anda adalah orang yang sukses, dengan berbagai gelar akademisi, dengan pangkat yang tinggi menjulang, tetapi jika Anda sama sekali tidak pernah menulis dan tidak ada yang menuliskan kisah kesuksesan, maka kesuksesan Anda dan keluarga Anda sendiri. Barangkali akan ditekan oleh zaman. Tidak akan dikenang oleh zaman. Hanya obrolan-obrolan orang, yang akan hilang ditelan udara maupun zaman.
Selain itu, menulis sangat bermanfaat, menurut Diana AV Sasa, dan Muhidin M Dahlan, dalam bukunya yang berjudul Berguru Pada Pesohor (2012: 4-5), yakni, Secara psikologis, menulis adalah soal eksistensi. Ada kebanggaan tersendiri bila kita bisa memberi apa yang kita punya kepada orang lain. Bukan semata ditujukan untuk kepentingan sosial, tapi kerap dorongan stimulus ego yang bersemayam dalam diri setiap manusia. Menulis itu memberi suntikan spiritualitas kepada penulisnya."
Jaringan: Menulis adalah menabung nama di hati dan pikiran orang lain. Dengan makin sering menulis, maka secara otomatis jaringan pergaulan kita meluas. Nama kita berpendaran di mana-mana.
Keilmuan: Dengan sering menulis, di mulai dari membuat judul, memilih tema yang bersifat kompetitif, mengolah tema, memasak data hingga menjadi kalimat, paragraf, maupun bab, bahkan hingga tahap desain dan pemasaran. Menulis menyerap praktik tentang pengetahuan yang analisis dan produktif.
Barangkali kita ingat ungkapan dari sastrawan Pramoedya Ananta Toer: "Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dalam masyarakat dan sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian."
Walaupun orang yang sukses, dan telah dikubur di liang lahat maka tulisan masih memperpanjang usia penulis tersebut. Anda pasti mengenal sosol Tan Malaka kan? Ia pernah berujar yang sedemikian fenomenal hingga dikenal ungkapannya yang begitu mainstream, dan Tan Malaka bilang: Ingatlah! Bahwa dari dalam kubur, suara saya akan lebih keras daripada suara saya di atas bumi."
Begitulah perjuangan bagi seorang penulis, meski Tan Malaka tidak pernah disebutkan penulis, namun perjuangannya dalam menelurkan gagasan dan ide akan tetap abadi dan menggema setelah orangnya tiada di dunia.
Karena menulis itu jangka panjang atau masa depan kita, sebut saja usia kita akan diabadi oleh zaman dan akan menuai kemaslahatan bagi orang banyak. Wawan Susetya dalam bukunya yang berjudul Menulis Dengan Hati, Menulis Merdeka (2014: 4), "Jika buah tangan tulisan kita adalah bermuatan tentang ilmu yang bermanfaat, tentu ia akan termasuk salah satu apa yang dikatakan oleh Baginda Nabi Muhammad Saw mengenai tiga hal yang tidak akan terputus meski orang yang bersangkutan telah meninggal dunia, yakni amal jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak sholeh."
Sepanjang buku atau tulisan kita terus dibaca banyak orang dan memberikan kemaslahatan bagi masyarakat luas, niscaya pahalanya akan terus mengalir kepada si penulisnya, meski yang bersangkutan telah wafat sekalipun.[]
setuju, dengan menulis terutama di blog, akan membangun persahabatan dunia maya, tapi bukan berarti tidak bisa ketemu di dunia nyata, soalnya seru juga loh kopdar
BalasHapusBetul mas, ayo mas Irwan kopdar. Saya pengen belajar dengan jenenngan di dunia nyata maupun di dunia virtual... ayo mas kopdar. Hehehe
BalasHapusHahahaha, kenapa dengan aku...
BalasHapuswkwkwk..
ya semoga saja ada waktu.. beberapa minggu yang lalu sempat ada yang nawarin kopdar sih bulan desember, tapi entah masih belum tau juga sih
Hahaha... jenengan sudah malang melintang nih di dunia persilatan, eh
BalasHapusWah mantap tuh. Sabung silaturahim sama belajar dengan temen". Harus direalisasikan nih... mantap
Setuju sekali bang,
BalasHapusyaaa walaupun saya masih belum konsisten soal menulis setidaknya niat saya sudah ada sih 😅😅🙈🙈
Btw makasih ya kunjungan di blog sy tempo hari, membuat sy sadar kalo sy udah gak pernah update nulis di wordpress hehehhe
Iya mas semoga kedepan semakin bisa konsisten menulisnya... saya juga masih belajar
BalasHapusOh iya masa-masa atas kunjungan kemari. Semoga bisa belajar bersama...
Heheheh saya dipanggil Mas? diganti jadi Mba aja deh biar cocok dgn gender saya :)
BalasHapusYa Allah maaf mbak saya ketika blas itu gak sadar sama sekali....
BalasHapusHehhehe iya gpp kok, selow aja
BalasHapusSiaap mbak. Salam kenal ya... tulisan e sampean kemarin mantap loh mbak...
BalasHapusPosting Komentar