PPS atau Panitia Pungutan Suara. Saat saya menulis tulisan ini, tahapan pilkada serentak seluruh Indonesia telah pada penetapan DPT (Daftar Pemilih Tetap). Artinya, sudah lima bulan saya terlibat dalam bagian Pilkada, khususnya di Kabupaten saya sendiri, kabupaten Trenggalek. Terhitung sejak bulan Juni hingga Desember nanti.
Saya baru pertama kalinya menjadi anggota PPS 2015 dan kali 2018 di untuk Pilgub Jawa Timur. Kesan pertama ikut terlibat dalam tahapan-tahapan sangatlah melelahkan. Mulai dari pemetaan data pemilih, DPS (Daftar Pemilih Sementara) hingga saat ini DPT. Perasaan ketika di PPS sangat vafiatif: perasaan senang, gembira, gugup hingga takut ada insiden yang tidak diinginkan.
Awal mula sebagai anggota PPS pada bulan Juni, (tanggalnya saya lupa, foto pelantikan PPS dan PPK luput lenyap dari dokomentasi). Yang saya ingat, pelantikan kala itu di hotel Hayam Huruk, Trenggalek. Saat itu, Ketua komisaris KPU Trenggalek Suripto. S, Ag, M. Pd memberi beberapa wejangan terkait kesuksesan ke depan pada tahapan-tahapan pelaksanaan pilkada, sekaligus pelantikan serentak di gedung tersebut.
Setelah pelantikan itu, artinya amanah untuk melaksanakan ‘tugas’ negara telah ada di pundak muda, saya. Tugas ini bukan ringin. Mengingat serentetan acara yang sangat dikontrol setiap kebijakannya, serta setiap apapun harus ada berita acaranya.
Saya pun berproses dalam beberapa teman-teman PPS dan PPK di Kecamatan Watulimo. Disinilah, Excel yang awalnya tidak pernah menyentuh, saya harus ‘telanjangi’ hingga mata panas. Lembur. Harus menyediakan waktu banyak hanya untuk memilah-memilih setiap orang yang memiliki hak pada, Rahu Pahing, 9 Desember 2015.
Yang tidak kalah ekstrem adalah saat membredel satu-satu nama pemilih yang tidak sesuai TPS, RT, dan RW. Di sinilah saya harus bekerja ekstra bersama mas Supriyadi alias Jabrin dan Mas Fathakul Muawan alias mas Nawan. Untuk kesekretariatan, bu Endah (Yanti), Endang, dan mbah Carik Desa Tasikmadu, Yakni mas Hartadi. Mata saya harus super ekstra dan harus terjaga dari kantuk dan apapun itu.
Dari situ, saya banyak belajar dari para senior-senior yang sudah malang-melintang di dunia PPS atau lainnya. Dengan para senior inilah, saya bertukar pandangan dan bertukar pengalaman dengan para Mas Nawan dan Mas Jabrin. Dengan mereka saya lebih intens mengerjakan segala hal tentang tahapan dan garapan. Dan sesekali mengerjakan form list pilkada, kami selingi dengan guyunan humoris dan slengek’an. Mulai dari guyonan tingkat dewasa hingga membully teman-teman PPK.
Bersama mereka, saya belajar menelusuri waktu dan random yang telah disepakati KPU. Di Desa saya, Desa Tasikmadu, TPS-nya paling banyak jika dibandingkan desa-desa lain. Ada 19 TPS yang mayoritas setiap pemilih ada sekitaran 400 laki-laki perempuan. Pada Pilkada 2015 jumlah TPSnya berbeda dengan jumlah tahun-tahun yang lalu. Kalau tahun dahulu ada 22 TPS, sekarang tinggal 19 TPS. Memang ada regulasi jumlah TPS untuk tahun ini, sehingga ada perampingan terkait jumlah TPS. Yang lebih huror adalah, katanya, setiap ada pemilihan Desa Tasikmadu adalah daerah potensial terjadi benturan. Mengingat jumlah pemilih yang banyak dan ada beberapa warga yang tidak memiliki identitas asli di RT atau KK-nya tidak sesuai, (hilang atau tidak pindah tempat).
Dalam proses sebagai anggota PPS ini ada salah satu cerita yang tidak bisa saya lupakan. Apa itu? Pada tahapan dan garapan pemetaan data dan lainnya, saya juga sedang menyelesaikan skripsi sekalian sidang skripsi. Sungguh luar biasa pada bulan ini. Saya tidak lantas berhenti atau menanggalkan satu garapan atau kerjaan. Ini adalah soal pilihan. Kalau saya meninggalkn dan konsen di salah satu, artinya saya telah kalah sebelum perang, maka jalan yang saya pilih adalah mengerjakan kedua, dengan menejemen waktu. Sebab, semua adalah tanggung jawab saya sebagai mahasiswa dan anggota dari panitia KPU di desa.
Kenapa PPS saya tulis sebagai kerjaan, karena hal ini adalah pelajaran atau proses saya dalam melaksanakan amanah kepada orang banyak. PPS adalah proses perjalanan hidup saya yang pernah saya lakukan.
Ada beberapa hikmah yang dapat saya ambil saat menjalani dan melaksanakan tugas ini. Pertama, saya dari tidak tahu menjadi tahu. Begitulah terminologi dari belajar. Dari tidak tahu menjadi tahu. Saya yang awaanya tidak pernah bersinggungan denga microsoft excel saya belajar dari PPS ini.
Kedua, manfaatkan waktu dengan baik. Waktu adalah uang, begitu adagium yang umunya disampaikan oleh mayoritas orang menyebutnya. Dengan bergabung dalam ‘laskar’ PPS ini saya belajar memanfaat waktu dengan baik. Bagaimana tidak, saat mengerjakan pemetaan data dan DPS saya juga menyelesaikan skripsi dan sidang skripsi. Kalau pagi saya harus meluncur ke Kediri-pulang sore hampir malam, malam hingga selesai saya harus ngelembur sampai malam. Pernah saat itu, saya harus ngelembur sampai jam 3 dini hari. Padahal pagi jam delapan, saya harus ‘lari’ menuju ke Kediri.
Ketiga, uang bukan segala dibanding dengan persahabatan dan kekompakan team. Kemana saya menyembut uang sini? Karena seseorang yang bekerja, maka ia harus mendapatkan gaji dari jasa yang pernah dilakukan. Begitu juga di PPS, saya juga mendapat gaji perbulan. Namun bukan itu yang terpentng. Yang paing urgen untuk kesuksesan pilkada serentak Indonesia adalah kebersamaan dari para personel PPK dan PPS itu tadi.
Kebersamaan yang terbangun dari beberapa bulan belakangan ini janganlah cepat berlalu. Sangat penting untuk terus dirawat sekalipun gawean pilkada telah usai. Sepenting cairnya, honorium setiap bulannya. Itulah pekerjaan PPS turut mempelajari saya tentang semua hal. Dari kehangatan para panitia di kecamatan atau desa serta pelajaran yang tidak bisa saya sampaikan di sini. #Bravo PPS Tasikmadu
Saya baru pertama kalinya menjadi anggota PPS 2015 dan kali 2018 di untuk Pilgub Jawa Timur. Kesan pertama ikut terlibat dalam tahapan-tahapan sangatlah melelahkan. Mulai dari pemetaan data pemilih, DPS (Daftar Pemilih Sementara) hingga saat ini DPT. Perasaan ketika di PPS sangat vafiatif: perasaan senang, gembira, gugup hingga takut ada insiden yang tidak diinginkan.
Awal mula sebagai anggota PPS pada bulan Juni, (tanggalnya saya lupa, foto pelantikan PPS dan PPK luput lenyap dari dokomentasi). Yang saya ingat, pelantikan kala itu di hotel Hayam Huruk, Trenggalek. Saat itu, Ketua komisaris KPU Trenggalek Suripto. S, Ag, M. Pd memberi beberapa wejangan terkait kesuksesan ke depan pada tahapan-tahapan pelaksanaan pilkada, sekaligus pelantikan serentak di gedung tersebut.
Setelah pelantikan itu, artinya amanah untuk melaksanakan ‘tugas’ negara telah ada di pundak muda, saya. Tugas ini bukan ringin. Mengingat serentetan acara yang sangat dikontrol setiap kebijakannya, serta setiap apapun harus ada berita acaranya.
Saya pun berproses dalam beberapa teman-teman PPS dan PPK di Kecamatan Watulimo. Disinilah, Excel yang awalnya tidak pernah menyentuh, saya harus ‘telanjangi’ hingga mata panas. Lembur. Harus menyediakan waktu banyak hanya untuk memilah-memilih setiap orang yang memiliki hak pada, Rahu Pahing, 9 Desember 2015.
Yang tidak kalah ekstrem adalah saat membredel satu-satu nama pemilih yang tidak sesuai TPS, RT, dan RW. Di sinilah saya harus bekerja ekstra bersama mas Supriyadi alias Jabrin dan Mas Fathakul Muawan alias mas Nawan. Untuk kesekretariatan, bu Endah (Yanti), Endang, dan mbah Carik Desa Tasikmadu, Yakni mas Hartadi. Mata saya harus super ekstra dan harus terjaga dari kantuk dan apapun itu.
Dari situ, saya banyak belajar dari para senior-senior yang sudah malang-melintang di dunia PPS atau lainnya. Dengan para senior inilah, saya bertukar pandangan dan bertukar pengalaman dengan para Mas Nawan dan Mas Jabrin. Dengan mereka saya lebih intens mengerjakan segala hal tentang tahapan dan garapan. Dan sesekali mengerjakan form list pilkada, kami selingi dengan guyunan humoris dan slengek’an. Mulai dari guyonan tingkat dewasa hingga membully teman-teman PPK.
Bersama mereka, saya belajar menelusuri waktu dan random yang telah disepakati KPU. Di Desa saya, Desa Tasikmadu, TPS-nya paling banyak jika dibandingkan desa-desa lain. Ada 19 TPS yang mayoritas setiap pemilih ada sekitaran 400 laki-laki perempuan. Pada Pilkada 2015 jumlah TPSnya berbeda dengan jumlah tahun-tahun yang lalu. Kalau tahun dahulu ada 22 TPS, sekarang tinggal 19 TPS. Memang ada regulasi jumlah TPS untuk tahun ini, sehingga ada perampingan terkait jumlah TPS. Yang lebih huror adalah, katanya, setiap ada pemilihan Desa Tasikmadu adalah daerah potensial terjadi benturan. Mengingat jumlah pemilih yang banyak dan ada beberapa warga yang tidak memiliki identitas asli di RT atau KK-nya tidak sesuai, (hilang atau tidak pindah tempat).
Dalam proses sebagai anggota PPS ini ada salah satu cerita yang tidak bisa saya lupakan. Apa itu? Pada tahapan dan garapan pemetaan data dan lainnya, saya juga sedang menyelesaikan skripsi sekalian sidang skripsi. Sungguh luar biasa pada bulan ini. Saya tidak lantas berhenti atau menanggalkan satu garapan atau kerjaan. Ini adalah soal pilihan. Kalau saya meninggalkn dan konsen di salah satu, artinya saya telah kalah sebelum perang, maka jalan yang saya pilih adalah mengerjakan kedua, dengan menejemen waktu. Sebab, semua adalah tanggung jawab saya sebagai mahasiswa dan anggota dari panitia KPU di desa.
Kenapa PPS saya tulis sebagai kerjaan, karena hal ini adalah pelajaran atau proses saya dalam melaksanakan amanah kepada orang banyak. PPS adalah proses perjalanan hidup saya yang pernah saya lakukan.
Ada beberapa hikmah yang dapat saya ambil saat menjalani dan melaksanakan tugas ini. Pertama, saya dari tidak tahu menjadi tahu. Begitulah terminologi dari belajar. Dari tidak tahu menjadi tahu. Saya yang awaanya tidak pernah bersinggungan denga microsoft excel saya belajar dari PPS ini.
Kedua, manfaatkan waktu dengan baik. Waktu adalah uang, begitu adagium yang umunya disampaikan oleh mayoritas orang menyebutnya. Dengan bergabung dalam ‘laskar’ PPS ini saya belajar memanfaat waktu dengan baik. Bagaimana tidak, saat mengerjakan pemetaan data dan DPS saya juga menyelesaikan skripsi dan sidang skripsi. Kalau pagi saya harus meluncur ke Kediri-pulang sore hampir malam, malam hingga selesai saya harus ngelembur sampai malam. Pernah saat itu, saya harus ngelembur sampai jam 3 dini hari. Padahal pagi jam delapan, saya harus ‘lari’ menuju ke Kediri.
Ketiga, uang bukan segala dibanding dengan persahabatan dan kekompakan team. Kemana saya menyembut uang sini? Karena seseorang yang bekerja, maka ia harus mendapatkan gaji dari jasa yang pernah dilakukan. Begitu juga di PPS, saya juga mendapat gaji perbulan. Namun bukan itu yang terpentng. Yang paing urgen untuk kesuksesan pilkada serentak Indonesia adalah kebersamaan dari para personel PPK dan PPS itu tadi.
Kebersamaan yang terbangun dari beberapa bulan belakangan ini janganlah cepat berlalu. Sangat penting untuk terus dirawat sekalipun gawean pilkada telah usai. Sepenting cairnya, honorium setiap bulannya. Itulah pekerjaan PPS turut mempelajari saya tentang semua hal. Dari kehangatan para panitia di kecamatan atau desa serta pelajaran yang tidak bisa saya sampaikan di sini. #Bravo PPS Tasikmadu
Posting Komentar