Jepang adalah salah satu raksasa Asia yang menggeliat menuju puncak-puncak peradabannya. Tak hanya keefisienan ekonomi dan kepekaan teknologi, tapi juga kecakapan dan disiplin manusia-manusianya menjaga kesinambungan kemajuan bangsanya. Jepang memang luluh lantak usai Perang Dunia II. Dan di tahun yang sama Indonesia baru bersegera beranjak dari titik nadirnya. Namun Jepang melejit jauh meninggalkan Indonesia. Dalam hal apa pun. Terutama ekonomi, teknologi, dan pada akhirnya perbawa di antara bangsa-bangsa.
Setelah hancur lebur terkena Boom Nuklir, Hirosima dan Nagasaki, Jepang menghargai posisi guru. Yang pertama kali dicari adalah guru. “Masih ada berapa guru yang masih hidup?” Mereka yakin bahwa guru akan mampu mencetak orang-orang yang handal dan memiliki budi pekerti baik. Berawal dari situ, Jepang akhirnya telah melakukan revolusi berbagai elemen, termasuk dari sektor pendidikan, kesehatan dan teknologi. Bahkan, Jepang merupakan negara yang dipandang maju dan menjadi mercusuar dalam bidang teknologi dan kebudayaan.
Maka wajar bila orang berduyun-duyun ke jepang. Mulai dari mereka yang berminat belajar ilmu dan teknologi, menjadi pekerja di industri-industri otomotif raksasa, hingga menjadi pembantu rumah tangga.
Apabila kita ingin melanjutkan pendidikan di Jepang, banyak beasiswa yang bisa didapat. Beasiswa tersebut berasal dari Moubukagakushou (Depdiknas-nya Jepang). Jepang menerapakan sistem guarantor (penjamin), artinya ada yang menjamin selama menempuh pendidikan di sana. Beasiswa itu bisa didapat mulai dari Moubukagakushou (Depdiknas-nya Jepang), juga biaya dari pemerintah negara asal mahasiswa. (untuk mendapatkan informasi tentang beasiswa, informasi bisa didapat dari kenalan-kenalan yang sudah berangkat ke sana atau anggota PPI, dan di mailling list yang di share non-anggota). “Jadi, tidak usah khawatir apabila ingin melanjutkan ke negara Matahari Terbit ini.”
Buku yang ditulis oleh Ika Dewi Ana, berjudul Tuntutlah Ilmu Sampai ke Nippon; Catatan Pengalaman Belajar dari Jepang (2006) ini, emosi dan imajinasi saya langsung tertuju dan beringinan melanjutkan kuliah di Jepang. Membacanya sangat terprovokasi menancapkan impian setingi-tingginya dan menumbuhkan kegiatan menulis, supaya mudah melakukan riset dalam kemudahan pendidikan. Dosen Fakultas Kedoteran Gigi, Universitas Gajah Mada (UGM), Yogjakarta ini, adalah salah satu dari lima belas mahasiswa yang menerima beasiswa dan bisa melanjutkan studi doktoralnya di Jepang. Pada tahun 2003, pemerintah Jepang memberikan 109. 508 mahasiswa asing untuk mengenyam pendidikan di negara ini.
Doktor Lulusan Universitas Kyushu, Jepang di bidang keilmuwan Teknologi dan Rekayasa Substitusi Tulang yang secara khusus konsentrasi pada Nanobioceramics ini memotret keberhasilan bangsa Jepang dari watak dan perilaku serta semangat dan jiwa para penduduknya. Rahasia kemajuan dan kemakmurannya tidak terlepas dari karakter, etos kerja orang-orang Jepang, sopan santun dan memiliki budaya malu serta hemat dan inovatif, yang dimiliki bangsa rawan bencana dan Tsunami ini.
Selain itu, masyarakat Jepang memiliki jiwa sosial yang tinggi. Ketika kita berada di Jepang, kita tidak usah panik selama ada “Naigai Senta” (Center for Domestic and Foreign Student). “Naigai Senta” adalah salah satu pusat informasi untuk orang/ mahasiswa Asing. Dari International Student Center ini, kita bisa mencari informasi tenang fasilitas pemondokan/ tempat tinggal murah, serta mencari kegiatan kebudayaan, informasi tentang kerja paruh waktu “arubaito”, membantu urusan kesehatan, mengantar-mengurus dokumen-dokumen kepindahan hingga mengantar di tempat-tempat penting sekali pun.
Barangkali yang menjadi kendala adalah bahasa—dan mungkin—makanan. Dari segi bahasa, kita tidak usah khawatir. Pasalnya, di Jepang menerapkan sistem mentor bagi para mahasiswa/ orang baru. Mentor ini yang akan membantu kita untuk belajar bahasa Jepang. Dan biasanya yang menjadi mentor adalah mahasiswa Jepang dan mahasiswa asing yang telah fasih berbahasa Jepang dan bahasa asing. Bagi pemerintah Jepang, konsep individual mentoring ini dapat mengembangkan wawasan internasional mahasiswa-mahasiswa di Jepang. Namun apabila terkendala makanan, dekat Masjid Ikebukuro terdapat restoran-restoran halal yang sesuai dengan bangsa kita.
Dalam kesejahteraan warganya, Jepang menomor-satukan Kesehatannya. Terlihat, Jepang dikenal sebagai negara “National Health Insurance System” dan cinta kebersihan. Selain setiap warga negaranya diasuransikan, warganya pun diajari mengelola sampah tak tidak dipakainya lagi sehingga terjaga kesehatannya. Warga yang belum punya asuransi maka disuruh bergabung Perusahaan asuransi kesehatan swasta. Yang tergabung mereka terkena biaya 30 %. Dan bagi mahasiswa asing dan tercatat bervisa “Colloge Student” melalui beasiswa Moubukagakushou maka mendapat subsidi pengganti 80 % dari 30 % total biaya kesehatan. Jika ditotal, mereka hanya membayar 6 % dari keseluruhan biaya pengobatan. Kendati demikian, beberapa universitas menyediakan klinik kesehatan bagi mahasiswa dengan tarif gratis tanpa dipungut biaya.
Dan bidang pendidikan, Jepang hampir sama di Indonesia. Sejak awal tahun 2000, Jepang memperlakukan sistem otonomi bagi universitas-universitas. Jadi, tidak ada lagi universitas imperial dan universitas negeri, kokuritsu daigaku ha nakunarimashita. Semuanya melebur menjadi perguruan tinggi dengan otonomi yang sama. Yang membedakan di Indonesia dengan Jepang adalah kesadaran mahasiswanya. Di Jepang hanya sedikit waktu tatap muka di kelas. Mahasiswa dipancing untuk belajar dari ahlinya, dan belajar sendiri di luar. Dengan displin ilmu yang tinggi. Sehingga hanya 30% yang masuk dan bertatap muka di kelas.
Bisa dibayangkan bagaimana jadinya teori tersebut diimplementasikan di Indonesia? Bisa jadi, mahasiswa mendapat gelar yang sangat terhormat, MA (Mahasiswa Abadi). Oleh karena itu, kita tidak boleh menutup mata untuk belajar masyarakat Jepang yang serba teratur, disiplin, ulet, serta etos kerja bangsa Jepang yang tinggi, sehingga bangsa kita mencapai bangsa yang lebih maju dari peradaban sekarang, sehingga bangsa kita bisa berprestasi dalam bidang ekonomi, pendidikan maupun teknologi dan memiliki sumber daya manusia yang lebih baik lagi.[]
Judul Buku : Tuntutlah Ilmu Sampai ke Nippon; Catatan Pengalaman Belajar dari Jepang
Penulis : Ika Dewi Ana
Penerbit : i:boekoe
Terbit : 1, November 2006
Tebal : 248 hlm
Setelah hancur lebur terkena Boom Nuklir, Hirosima dan Nagasaki, Jepang menghargai posisi guru. Yang pertama kali dicari adalah guru. “Masih ada berapa guru yang masih hidup?” Mereka yakin bahwa guru akan mampu mencetak orang-orang yang handal dan memiliki budi pekerti baik. Berawal dari situ, Jepang akhirnya telah melakukan revolusi berbagai elemen, termasuk dari sektor pendidikan, kesehatan dan teknologi. Bahkan, Jepang merupakan negara yang dipandang maju dan menjadi mercusuar dalam bidang teknologi dan kebudayaan.
Maka wajar bila orang berduyun-duyun ke jepang. Mulai dari mereka yang berminat belajar ilmu dan teknologi, menjadi pekerja di industri-industri otomotif raksasa, hingga menjadi pembantu rumah tangga.
Apabila kita ingin melanjutkan pendidikan di Jepang, banyak beasiswa yang bisa didapat. Beasiswa tersebut berasal dari Moubukagakushou (Depdiknas-nya Jepang). Jepang menerapakan sistem guarantor (penjamin), artinya ada yang menjamin selama menempuh pendidikan di sana. Beasiswa itu bisa didapat mulai dari Moubukagakushou (Depdiknas-nya Jepang), juga biaya dari pemerintah negara asal mahasiswa. (untuk mendapatkan informasi tentang beasiswa, informasi bisa didapat dari kenalan-kenalan yang sudah berangkat ke sana atau anggota PPI, dan di mailling list yang di share non-anggota). “Jadi, tidak usah khawatir apabila ingin melanjutkan ke negara Matahari Terbit ini.”
Buku yang ditulis oleh Ika Dewi Ana, berjudul Tuntutlah Ilmu Sampai ke Nippon; Catatan Pengalaman Belajar dari Jepang (2006) ini, emosi dan imajinasi saya langsung tertuju dan beringinan melanjutkan kuliah di Jepang. Membacanya sangat terprovokasi menancapkan impian setingi-tingginya dan menumbuhkan kegiatan menulis, supaya mudah melakukan riset dalam kemudahan pendidikan. Dosen Fakultas Kedoteran Gigi, Universitas Gajah Mada (UGM), Yogjakarta ini, adalah salah satu dari lima belas mahasiswa yang menerima beasiswa dan bisa melanjutkan studi doktoralnya di Jepang. Pada tahun 2003, pemerintah Jepang memberikan 109. 508 mahasiswa asing untuk mengenyam pendidikan di negara ini.
Doktor Lulusan Universitas Kyushu, Jepang di bidang keilmuwan Teknologi dan Rekayasa Substitusi Tulang yang secara khusus konsentrasi pada Nanobioceramics ini memotret keberhasilan bangsa Jepang dari watak dan perilaku serta semangat dan jiwa para penduduknya. Rahasia kemajuan dan kemakmurannya tidak terlepas dari karakter, etos kerja orang-orang Jepang, sopan santun dan memiliki budaya malu serta hemat dan inovatif, yang dimiliki bangsa rawan bencana dan Tsunami ini.
Selain itu, masyarakat Jepang memiliki jiwa sosial yang tinggi. Ketika kita berada di Jepang, kita tidak usah panik selama ada “Naigai Senta” (Center for Domestic and Foreign Student). “Naigai Senta” adalah salah satu pusat informasi untuk orang/ mahasiswa Asing. Dari International Student Center ini, kita bisa mencari informasi tenang fasilitas pemondokan/ tempat tinggal murah, serta mencari kegiatan kebudayaan, informasi tentang kerja paruh waktu “arubaito”, membantu urusan kesehatan, mengantar-mengurus dokumen-dokumen kepindahan hingga mengantar di tempat-tempat penting sekali pun.
Barangkali yang menjadi kendala adalah bahasa—dan mungkin—makanan. Dari segi bahasa, kita tidak usah khawatir. Pasalnya, di Jepang menerapkan sistem mentor bagi para mahasiswa/ orang baru. Mentor ini yang akan membantu kita untuk belajar bahasa Jepang. Dan biasanya yang menjadi mentor adalah mahasiswa Jepang dan mahasiswa asing yang telah fasih berbahasa Jepang dan bahasa asing. Bagi pemerintah Jepang, konsep individual mentoring ini dapat mengembangkan wawasan internasional mahasiswa-mahasiswa di Jepang. Namun apabila terkendala makanan, dekat Masjid Ikebukuro terdapat restoran-restoran halal yang sesuai dengan bangsa kita.
Dalam kesejahteraan warganya, Jepang menomor-satukan Kesehatannya. Terlihat, Jepang dikenal sebagai negara “National Health Insurance System” dan cinta kebersihan. Selain setiap warga negaranya diasuransikan, warganya pun diajari mengelola sampah tak tidak dipakainya lagi sehingga terjaga kesehatannya. Warga yang belum punya asuransi maka disuruh bergabung Perusahaan asuransi kesehatan swasta. Yang tergabung mereka terkena biaya 30 %. Dan bagi mahasiswa asing dan tercatat bervisa “Colloge Student” melalui beasiswa Moubukagakushou maka mendapat subsidi pengganti 80 % dari 30 % total biaya kesehatan. Jika ditotal, mereka hanya membayar 6 % dari keseluruhan biaya pengobatan. Kendati demikian, beberapa universitas menyediakan klinik kesehatan bagi mahasiswa dengan tarif gratis tanpa dipungut biaya.
Dan bidang pendidikan, Jepang hampir sama di Indonesia. Sejak awal tahun 2000, Jepang memperlakukan sistem otonomi bagi universitas-universitas. Jadi, tidak ada lagi universitas imperial dan universitas negeri, kokuritsu daigaku ha nakunarimashita. Semuanya melebur menjadi perguruan tinggi dengan otonomi yang sama. Yang membedakan di Indonesia dengan Jepang adalah kesadaran mahasiswanya. Di Jepang hanya sedikit waktu tatap muka di kelas. Mahasiswa dipancing untuk belajar dari ahlinya, dan belajar sendiri di luar. Dengan displin ilmu yang tinggi. Sehingga hanya 30% yang masuk dan bertatap muka di kelas.
Bisa dibayangkan bagaimana jadinya teori tersebut diimplementasikan di Indonesia? Bisa jadi, mahasiswa mendapat gelar yang sangat terhormat, MA (Mahasiswa Abadi). Oleh karena itu, kita tidak boleh menutup mata untuk belajar masyarakat Jepang yang serba teratur, disiplin, ulet, serta etos kerja bangsa Jepang yang tinggi, sehingga bangsa kita mencapai bangsa yang lebih maju dari peradaban sekarang, sehingga bangsa kita bisa berprestasi dalam bidang ekonomi, pendidikan maupun teknologi dan memiliki sumber daya manusia yang lebih baik lagi.[]
Judul Buku : Tuntutlah Ilmu Sampai ke Nippon; Catatan Pengalaman Belajar dari Jepang
Penulis : Ika Dewi Ana
Penerbit : i:boekoe
Terbit : 1, November 2006
Tebal : 248 hlm
Posting Komentar