Siapa bilang menulis itu tidak penting? Orang boleh beranggapan tidak penting, juga sangat diperbolehkan menilai menulis itu sangat penting. Terlebih lagi di dunia pendidikan. Syarat utama mahasiswa untuk menempuh perkuliahan adalah dengan mengerjakan makalah. Mengerjakan makalah juga tidak asal copas (copy Paste). Membuat makalahpun juga membutuhkan keahlian menulis.
Apalagi untuk mahasiswa siswa tingkat akhir seperti saya ini. Hari ini saya mengajukan proposal untuk ketiga kalinya. Alhamdulillah, saya tidak menemui hambatan yang berarti. Tiga kali tatap muka dengan dosen pembimbing, tiga lancar tanpa ada coret-coretan yang parah. Persoalannya adalah kekurangtelitian dan kurang sabar dalam proses editing. Jujur saja, kelemahan saya terletak pada proses editing. Tapi sedikit terbantu karena saya sedang 'gandrung' dengan dunia kepenulisan. Jadi kelemahan menulis tersebut, jadi sedikit membantu saya menulis proposal skripsi.
Di lain kesempatan, saya menghampiri teman, juga kepentingan yang sama. yaitu bimbingan proposal. Namun ada pandangan yang menarik dari peristiwa tersebut. Tekan mahasiswa se tingkat yang sedang bimbingan proposal, beberapa kali mendapatkan teguran dari dosen pembimbing. Pasalnya, tulisan di duga kuat lantaran asal comot dan tanpa proses editing. Sehingga tulisannya terkesan tidak rapi dan amburadul. Oleh karena itu, tulisan banyak coretan dan dosen pun ikut kerja--bukan kerja tangan melainkan kerja 'ocehan'. Tentu dari ocehan dosen pembimbing tersebut menurunkan semangat menulis. Secara psikologis, spirit menulispun jadi terganggu. Besar kemungkinan tidak dikerjakan dan terbengkalai. Unjung-unjungnya kuliah mundur satu semester. Sangat disayangkan, bukan?
Mencermati persoalan demikian, wajar jika sastrawan Prof. Dr. Budi Darma membuat persepsi "menulis itu sulit." Menurut Dr. Ngainun Naim "menghasilkan sebuah tulisan membutuhkan proses dan perjuangan yang tidak mudah. Banyak yang tidak tahan mempertahankan eksistensinya, kemudian ia gagal. Faktor lain, rasa malas dan kesibukan juga mempengaruhi dalam menulis. Apalagi tugas wajib seorang mahasiswa tingkat akhir(seperti saya ini) bukan perlu tetapi sangatlah penting sekali." (Hal. 20)
Karena ketika kelak menjadi guru atau dosen, keahlian menulispun diuji kembali. Untuk mengajukan permohonan kenaikan pangkat atau jabatan, maka ia juga harus menulis. Oleh karena, keahlian menulis juga penting sekali dimiliki para mahasiswa--bukan tingkat akhir saja--tingkat mahasiswa baru (maba)--juga penting sekali. Karena hampir pasti, seorang mahasiswa diawal kuliah membuat tugas makalah.
Oleh karena itu, buku terbaru Dr. Ngainun Naim dengan judul "The Power of Writing (2015)" sangat penting dimiliki dan dibaca oleh semua khalayak umum. Terlebih para mahasiswa dan dosen yang berkecimpung di dunia pendidikan. Menulis memiliki kekuatan juga penting. Karena dengan memiliki keahlian menulis, persoalan di dunia pendidikan menjadi sangat membantu. Tidak menutup kemungkinan mahasiswa tingkat akhir, pengajuan dan tugas akhir; seperti proposal sekaligus skripsi. Dengan keahlian menulis Insya Allah skripsi jadi lancar. Selain itu doa juga harus kita panjangkan. Semoga skripsi dan dan cepat wisuda. Amin
***
“Menulis itu hanyalah masalah ketekunan—dan sedikit bakat. Pokoknya jangan menyerah. Maka, permainan belum berakhir,” William Kennedy
">Harapan bangsa dan keluarga ada di dalam diri kita semua. Harapan dan masa depanmu ada di diri kita sendiri, bukan orang lain. Anggapan ini seharusnya ditanamkan interpersonal sejak ia datang dan masuk ke perguruan tinggi. Karena sejak awalnya kita semua telah bercita-cita dan ambisi untuk melanjutkan kependidikan yang bertaraf perguruan, sedangkan status kita bukan lagi siswa, melainkan sudah mahasiswa. “Drajat” pun sedikit intelektual menurut anggapan orang pada umumnya, mahasiswa biasanya dianggap serba bisa dalam segalahal dalam intelektualnya.
Tetapi apalah arti ketika minat untuk terus bekerja dan belajar itu rendah, kuliah pun tak ubahnya seperti kupu-kupu, ia datang dan pergi, pulang dan kembali. Sesekali ia berhenti dan hinggap di suatu tempat, cangkruk bersama teman-teman, tetapi ia manfaatkan untuk cangkruk di tempat warung kopi atau warung pinggir jalan, untuk menghilangkan lelah dari hingar-hingar kerajinan yang di tanggungnya dari dosen. Kalau nggak begitu, selesai kuliah ia langsung pulang kerumah atau dikosan. Entah apa yang dilakukan dirumah maupun dikosan? Tidak lebihnya adalah tidur, itu kerjaan yang banyak dilakukan oleh para pemburu pendidikan.
Perpustakaan kampus pun bagaikan kosong tak terhuni. Sejak kapan perpustakaan itu sepi dari pengunjung? Pertanyaan ini sering terlintas dipikiran ku, ketika lewat sesekali di kantin yang dekat dengan perpustakaan. Dan ketika berkunjung di perpustakaan pun suasana tak berubah, mungkin kalau tidak ada kakak yang mau menghadapi skripsi, perpustakaan ini sepi tak terhuni. Lalu kemana kah semua mahasiswanya? Dari BAAK yang menyembutkan 4.000 mahasiswa yang terdaftar di kampus saya belajar. Ironisnya, seharinya hanya ada kurang lebih 100 mahasiswa dari daftar pengunjung perpustakaan, dengan akumulasi 25-35 mahasiswa yang meminjam buku. Ini menandakan mahasiswa buta dengan Cakrawala dunia
Slogan tidak pernah terganti Mahasiswa adalah agent of change. Mahasiswa harus berfikir yang terbaik untuknya. Jangan takut untuk berubah dikit demi sedikit, dari berdiam menjadi sedikit vokal. “Salah tidak apa-apa yang penting vokal dulu, itu adalah suatu proses.” Tetapi yang aku lihat dalam ruang perkuliahan dari mahasiswa menganut aliran batin. Ketika didalam kelas,sewaktu sesi tanya jawab, yang mestinya ditunggu banyak mahasiswa. Faktanya malah terbalik, ia tidak suka dengan sesi tanya jawab, yang ia sukai adalah segera meninggalkan ruang kelas dan bercanda di luar kelas. Dan ketika di luar, ia bisa dan berani mengutarakan gagasan, mestinya di sampaikan pada sesi tanya jawab dengan dosen. Inilah mahasiswa aliran batin, yang bisanya rasan-rasan dan berani luar.
Itu terbukti dari apa yang saya paparkan di atas. Apalah artinya ada perpustakaan kalau minat belajar mahasiswanya rendah? Perpustakaan seyogyanya harus di manfaatkan sedemikian gunanya sehingga intelektualitas seorang ,mahasiswa terus diasah dengan sering berkunjungnya ke perpustakaan. Apabila kesukaannya ke perpustakaan minim, itu berarti minat membaca dalam kalangan civitas akademika lumayan rendah.
Senada dengan minat membaca, minat menulis pun demikian. Menulis ternyata belum menjadi budaya bagi mahasiswa di indonesia. Kondisi itu terbukti dari ketertinggalan Indonesia dalam publikasi ilmiah internasional dibanding negara lain. Seperti yang di saya kutip dari suaramerdeka.com, pada 8 Desember kemarin.
Hal tersebut disampaikan Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof Yudo Sudo Hadi pada seminar nasional “Publikasi Hasil Penelitian tesis dan Disertai pada Jurnal Ilmiah Terakreditasi”. Dia memaparkan bawasannya dibandingkan dengan negara lain seperti Malaysia dan Singapura, Indonesia jauh lebih tertinggal dalam publikasi ilmiah internasional.
“Dengan yang terjadi itu ada sebuah pelajaran bahwa perlu di tuntut untuk mengubah budaya. Dari budaya menyanyi dan menonton menjadi budaya gemar membaca dan menulis,” ungkapnya dalam acara tersebut. Bisa kita lihat semua, dalam sehari-harinya budaya tonton dan budaya menyanyi mengalami peningkatan.
Bagi mahasiswa, lanjut dia, tujuan menulis hanya sebatas untuk memenuhi syarat-syarat seperti membuat proposal penelitian atau di sertai agar lulus S-2 an S-3. Begitupun bagicelon profesor, menulis sekadar untuk meraih gelar guu besar tersebut. “Padahal dengan tekun menulis banyak sekali keuntungan yang akan di dapat mahasiswa, di antaranya mendapatkan insentif dan meningkatkan budaya akademik.” Tutur Prof Yudo Sudo hadi, penulis jurnal nasioanl dan internasional itu.
Itu terbukti di dalam kalangan mahasiswa yang ada di kampus saya emban, minim sekali budaya menulis di kalangan mahasiswa. Sedikit dosen maupun mahasiswa yang ada niatan untuk terjun dalam dunia tulis menulis. Menulis memang akan meningkatkan kecerdasan intelektual mahasiswa.
Kampus 2 UNP Kediri, 22 Januari 2015
Apalagi untuk mahasiswa siswa tingkat akhir seperti saya ini. Hari ini saya mengajukan proposal untuk ketiga kalinya. Alhamdulillah, saya tidak menemui hambatan yang berarti. Tiga kali tatap muka dengan dosen pembimbing, tiga lancar tanpa ada coret-coretan yang parah. Persoalannya adalah kekurangtelitian dan kurang sabar dalam proses editing. Jujur saja, kelemahan saya terletak pada proses editing. Tapi sedikit terbantu karena saya sedang 'gandrung' dengan dunia kepenulisan. Jadi kelemahan menulis tersebut, jadi sedikit membantu saya menulis proposal skripsi.
Di lain kesempatan, saya menghampiri teman, juga kepentingan yang sama. yaitu bimbingan proposal. Namun ada pandangan yang menarik dari peristiwa tersebut. Tekan mahasiswa se tingkat yang sedang bimbingan proposal, beberapa kali mendapatkan teguran dari dosen pembimbing. Pasalnya, tulisan di duga kuat lantaran asal comot dan tanpa proses editing. Sehingga tulisannya terkesan tidak rapi dan amburadul. Oleh karena itu, tulisan banyak coretan dan dosen pun ikut kerja--bukan kerja tangan melainkan kerja 'ocehan'. Tentu dari ocehan dosen pembimbing tersebut menurunkan semangat menulis. Secara psikologis, spirit menulispun jadi terganggu. Besar kemungkinan tidak dikerjakan dan terbengkalai. Unjung-unjungnya kuliah mundur satu semester. Sangat disayangkan, bukan?
Mencermati persoalan demikian, wajar jika sastrawan Prof. Dr. Budi Darma membuat persepsi "menulis itu sulit." Menurut Dr. Ngainun Naim "menghasilkan sebuah tulisan membutuhkan proses dan perjuangan yang tidak mudah. Banyak yang tidak tahan mempertahankan eksistensinya, kemudian ia gagal. Faktor lain, rasa malas dan kesibukan juga mempengaruhi dalam menulis. Apalagi tugas wajib seorang mahasiswa tingkat akhir(seperti saya ini) bukan perlu tetapi sangatlah penting sekali." (Hal. 20)
Karena ketika kelak menjadi guru atau dosen, keahlian menulispun diuji kembali. Untuk mengajukan permohonan kenaikan pangkat atau jabatan, maka ia juga harus menulis. Oleh karena, keahlian menulis juga penting sekali dimiliki para mahasiswa--bukan tingkat akhir saja--tingkat mahasiswa baru (maba)--juga penting sekali. Karena hampir pasti, seorang mahasiswa diawal kuliah membuat tugas makalah.
Oleh karena itu, buku terbaru Dr. Ngainun Naim dengan judul "The Power of Writing (2015)" sangat penting dimiliki dan dibaca oleh semua khalayak umum. Terlebih para mahasiswa dan dosen yang berkecimpung di dunia pendidikan. Menulis memiliki kekuatan juga penting. Karena dengan memiliki keahlian menulis, persoalan di dunia pendidikan menjadi sangat membantu. Tidak menutup kemungkinan mahasiswa tingkat akhir, pengajuan dan tugas akhir; seperti proposal sekaligus skripsi. Dengan keahlian menulis Insya Allah skripsi jadi lancar. Selain itu doa juga harus kita panjangkan. Semoga skripsi dan dan cepat wisuda. Amin
***
“Menulis itu hanyalah masalah ketekunan—dan sedikit bakat. Pokoknya jangan menyerah. Maka, permainan belum berakhir,” William Kennedy
">Harapan bangsa dan keluarga ada di dalam diri kita semua. Harapan dan masa depanmu ada di diri kita sendiri, bukan orang lain. Anggapan ini seharusnya ditanamkan interpersonal sejak ia datang dan masuk ke perguruan tinggi. Karena sejak awalnya kita semua telah bercita-cita dan ambisi untuk melanjutkan kependidikan yang bertaraf perguruan, sedangkan status kita bukan lagi siswa, melainkan sudah mahasiswa. “Drajat” pun sedikit intelektual menurut anggapan orang pada umumnya, mahasiswa biasanya dianggap serba bisa dalam segalahal dalam intelektualnya.
Tetapi apalah arti ketika minat untuk terus bekerja dan belajar itu rendah, kuliah pun tak ubahnya seperti kupu-kupu, ia datang dan pergi, pulang dan kembali. Sesekali ia berhenti dan hinggap di suatu tempat, cangkruk bersama teman-teman, tetapi ia manfaatkan untuk cangkruk di tempat warung kopi atau warung pinggir jalan, untuk menghilangkan lelah dari hingar-hingar kerajinan yang di tanggungnya dari dosen. Kalau nggak begitu, selesai kuliah ia langsung pulang kerumah atau dikosan. Entah apa yang dilakukan dirumah maupun dikosan? Tidak lebihnya adalah tidur, itu kerjaan yang banyak dilakukan oleh para pemburu pendidikan.
Perpustakaan kampus pun bagaikan kosong tak terhuni. Sejak kapan perpustakaan itu sepi dari pengunjung? Pertanyaan ini sering terlintas dipikiran ku, ketika lewat sesekali di kantin yang dekat dengan perpustakaan. Dan ketika berkunjung di perpustakaan pun suasana tak berubah, mungkin kalau tidak ada kakak yang mau menghadapi skripsi, perpustakaan ini sepi tak terhuni. Lalu kemana kah semua mahasiswanya? Dari BAAK yang menyembutkan 4.000 mahasiswa yang terdaftar di kampus saya belajar. Ironisnya, seharinya hanya ada kurang lebih 100 mahasiswa dari daftar pengunjung perpustakaan, dengan akumulasi 25-35 mahasiswa yang meminjam buku. Ini menandakan mahasiswa buta dengan Cakrawala dunia
Slogan tidak pernah terganti Mahasiswa adalah agent of change. Mahasiswa harus berfikir yang terbaik untuknya. Jangan takut untuk berubah dikit demi sedikit, dari berdiam menjadi sedikit vokal. “Salah tidak apa-apa yang penting vokal dulu, itu adalah suatu proses.” Tetapi yang aku lihat dalam ruang perkuliahan dari mahasiswa menganut aliran batin. Ketika didalam kelas,sewaktu sesi tanya jawab, yang mestinya ditunggu banyak mahasiswa. Faktanya malah terbalik, ia tidak suka dengan sesi tanya jawab, yang ia sukai adalah segera meninggalkan ruang kelas dan bercanda di luar kelas. Dan ketika di luar, ia bisa dan berani mengutarakan gagasan, mestinya di sampaikan pada sesi tanya jawab dengan dosen. Inilah mahasiswa aliran batin, yang bisanya rasan-rasan dan berani luar.
Itu terbukti dari apa yang saya paparkan di atas. Apalah artinya ada perpustakaan kalau minat belajar mahasiswanya rendah? Perpustakaan seyogyanya harus di manfaatkan sedemikian gunanya sehingga intelektualitas seorang ,mahasiswa terus diasah dengan sering berkunjungnya ke perpustakaan. Apabila kesukaannya ke perpustakaan minim, itu berarti minat membaca dalam kalangan civitas akademika lumayan rendah.
Senada dengan minat membaca, minat menulis pun demikian. Menulis ternyata belum menjadi budaya bagi mahasiswa di indonesia. Kondisi itu terbukti dari ketertinggalan Indonesia dalam publikasi ilmiah internasional dibanding negara lain. Seperti yang di saya kutip dari suaramerdeka.com, pada 8 Desember kemarin.
Hal tersebut disampaikan Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof Yudo Sudo Hadi pada seminar nasional “Publikasi Hasil Penelitian tesis dan Disertai pada Jurnal Ilmiah Terakreditasi”. Dia memaparkan bawasannya dibandingkan dengan negara lain seperti Malaysia dan Singapura, Indonesia jauh lebih tertinggal dalam publikasi ilmiah internasional.
“Dengan yang terjadi itu ada sebuah pelajaran bahwa perlu di tuntut untuk mengubah budaya. Dari budaya menyanyi dan menonton menjadi budaya gemar membaca dan menulis,” ungkapnya dalam acara tersebut. Bisa kita lihat semua, dalam sehari-harinya budaya tonton dan budaya menyanyi mengalami peningkatan.
Bagi mahasiswa, lanjut dia, tujuan menulis hanya sebatas untuk memenuhi syarat-syarat seperti membuat proposal penelitian atau di sertai agar lulus S-2 an S-3. Begitupun bagicelon profesor, menulis sekadar untuk meraih gelar guu besar tersebut. “Padahal dengan tekun menulis banyak sekali keuntungan yang akan di dapat mahasiswa, di antaranya mendapatkan insentif dan meningkatkan budaya akademik.” Tutur Prof Yudo Sudo hadi, penulis jurnal nasioanl dan internasional itu.
Itu terbukti di dalam kalangan mahasiswa yang ada di kampus saya emban, minim sekali budaya menulis di kalangan mahasiswa. Sedikit dosen maupun mahasiswa yang ada niatan untuk terjun dalam dunia tulis menulis. Menulis memang akan meningkatkan kecerdasan intelektual mahasiswa.
Kampus 2 UNP Kediri, 22 Januari 2015
Posting Komentar