Setiap orang sudah pasti memiliki kendaraan. Minimal ada satu yang terparkir di garasi rumah. Karena kendaraan adalah alat transportasi umum yang penting. Selain itu, kendaraan sudah menjadi kebutuhan primer yang tak bisa terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Hal ini merepresentasikan bahwa hidup ini memerlukan kecepatan khusus. Sehingga kehidupan ini serasa, memang harus berjalan serba cepat dan canggih.
Hidup di pedesaan membuat saya harus sering berkendara jauh melintasi rimba jalan raya. Kendaraan yang saya kendaraan, dan alat transportasi miliki orang lain dengan kecepatan rata-rata membelah keriuhan jalanan. Karena saya sedang menempuh pendidikan di Kediri, saya diharuskan untuk melintasi jalanan antara Trenggalek—Tulungagung hingga Kediri. Terkadang perjalanan itu saya tempuh dengan pulang-pergi (PP). Dari sinilah saya sering melihat pertunjukan di "panggung" beraspal. Drama pun di sini sering terjadi. Dan hukum rimba pun tidak terhindarkan. Yang besar sudah pasti yang menguasai jalan, serta memenangkan persaingan.
Dari judul di atas, daya jadi teringat perbincangan antara Dr. Ngainun Naim dan Pak Ali selepas pulang dari acara Mubes Sahabat Pena Nusantara (SPN) di Bululawang, Malang tadi malam. Saya yang duduk pas di belakangnya Dr. Ngainun Naim hanya mengiya-iyakan saja. Terkadang tersenyum dan tertawa. Menandakan bahwasanya saya menyimak apa yang mereka berdua bicarakan di depan. Namun, barangkali yang luput dari perhatian mereka, mungkin saya tidak merekam dalam memori ATAS perbincangan tersebut. Dari obrolan ngalor-ngidul mereka berdua, ide pun terlintas. Ingin rasanya langsung saya tulis, karena cahaya di dalam mobil kurang bagus, saya pun mengurungkan. Dan menuliskan di rumah. Memperbincangkan tentang keadaan transportasi sekarang, memang menarik. Selepas tradisi mudik, pasca hari raya Idul Fitri kemarin, kondisi jalanan mulai normal kembali.
Namun faktanya tidak. Dalam perjalanan berangkat ke Malang, dan perjalanan membelah berbau aspal, kondisi jalanan pada jam pagi, sore, dan malam,memang kian hari kian padat. Sepeda, sepeda motor, mobil, dan bus berpacu ingin saling mendahului. Dan ingin yang terdepan. Hingga ingin cepat-cepat sampai tujuan. Kompetisi berkendara ini—menurut saya—mencerminkan kompetisi hidup yang sesungguhnya. Mereka (hampir) semuanya berlomba dan berjuang menuju tempat masing-masing demi sebuah asa yang menggantung. Bagi seorang siswa, mereka ingin cepat sampai di sekolah dan belajar. Bagi yang berkeluarga,mereka sudah tidak sabar ingin berkumpul bersama sanak famili. Bagi yang bekerja, mereka juga demikian, ingin pergi dan pulang dengan selamat.
Semuanya ingin segera menuju tempat yang dituju, baik tempat kerja atau sekolah. Kendati begitu, tentu dengan ritme yang berbeda. Ritme yang dijalani oleh penunggang "kuda besi" ini berbeda-beda. Ada yang memanfaatkan waktu berkendara dengan menikmati suasana dan panorama alam. Ada juga yang ingin cepat-cepat sampai di tempat tujuannya. Ada juga yang "ugal-ugalan" dengan mensabotase wilayah teritorial arus bagi pejalan lain.
Ada juga tipologi orang yang mendahulukan kepentingan orang lain, dengan cara memberikan kebebasan orang lain untuk mendahului kita berkendara. Beragam tipikal ini kita masukkan dalam kategori bagaimana, apabila kita hidup dalam berkendara. Apakah kita masuk dalam kategori orang yang ingin cepat mengambil keputusan, atau sabar dengan menikmati waktu dan suasana dijalanan.
Kompetisi yang ada dijalan ini menandakan bahwa kita sudah masuk dalam kehidupan dengan kecepatan super kilat. Semua ingin dimiliki dengan cepat dan mampu digenggam dalam kepalan tangan. Kita tidak bisa memandang sebelah mata dengan hadirnya handphone, yang sedemikian besar pengaruhnya terhadap gaya hidup masyarakat Indonesia. Sebagaimana dengan HP, kendaraan--apapun kendaraannya--menandakan dengan kesabaran seseorang. Kompetisi di jalanan mampu memberikan semangat hidup untuk mengubah kehidupan kita lebih baik. Setiap langkah di manapun bisa kita ambil hikmahnya.
Tidak terkecuali dengan kendaraan; sepeda, sepeda motor, mobil, hingga bus. Alat transportasi ini merepresentasikan dengan kondisi sekarang. Yang kehidupan ini berputar lebih cepat. Hidup ini semakin cepat dan instan. Psikologis-sosialis tipe orang sekarang memang lebih tidak ada yang sabaran. Pendek kata, tidak ada manusia tipe yang slow but sure. Hidup mengalir dengan sendirinya. Semua harus saling mendahului. Bukan untuk saling menghormati.
Maka, jika sering terjadi kekacauan di mana-mana, tidak bisa dihindarkan. Walau sudah berikrar untuk hidup lebih bijak. Namun nyatanya tidak sedikit orang-orang yang ingin mendahului kekayaan orang lain. Sehingga mereka menempuh jalan pintas. Karena ingin lulus cepat nan akurat, mereka membeli skripsi. Ingin memiliki sesuatu hal yang mewah, mereka harus korupsi. Ini menggambarkan betapa hidup ini harus terus mendahului. Seperti etika orang mengendarai kendaraan di rimba jalanan. []
Sepulang dari Malang
Hidup di pedesaan membuat saya harus sering berkendara jauh melintasi rimba jalan raya. Kendaraan yang saya kendaraan, dan alat transportasi miliki orang lain dengan kecepatan rata-rata membelah keriuhan jalanan. Karena saya sedang menempuh pendidikan di Kediri, saya diharuskan untuk melintasi jalanan antara Trenggalek—Tulungagung hingga Kediri. Terkadang perjalanan itu saya tempuh dengan pulang-pergi (PP). Dari sinilah saya sering melihat pertunjukan di "panggung" beraspal. Drama pun di sini sering terjadi. Dan hukum rimba pun tidak terhindarkan. Yang besar sudah pasti yang menguasai jalan, serta memenangkan persaingan.
Dari judul di atas, daya jadi teringat perbincangan antara Dr. Ngainun Naim dan Pak Ali selepas pulang dari acara Mubes Sahabat Pena Nusantara (SPN) di Bululawang, Malang tadi malam. Saya yang duduk pas di belakangnya Dr. Ngainun Naim hanya mengiya-iyakan saja. Terkadang tersenyum dan tertawa. Menandakan bahwasanya saya menyimak apa yang mereka berdua bicarakan di depan. Namun, barangkali yang luput dari perhatian mereka, mungkin saya tidak merekam dalam memori ATAS perbincangan tersebut. Dari obrolan ngalor-ngidul mereka berdua, ide pun terlintas. Ingin rasanya langsung saya tulis, karena cahaya di dalam mobil kurang bagus, saya pun mengurungkan. Dan menuliskan di rumah. Memperbincangkan tentang keadaan transportasi sekarang, memang menarik. Selepas tradisi mudik, pasca hari raya Idul Fitri kemarin, kondisi jalanan mulai normal kembali.
Namun faktanya tidak. Dalam perjalanan berangkat ke Malang, dan perjalanan membelah berbau aspal, kondisi jalanan pada jam pagi, sore, dan malam,memang kian hari kian padat. Sepeda, sepeda motor, mobil, dan bus berpacu ingin saling mendahului. Dan ingin yang terdepan. Hingga ingin cepat-cepat sampai tujuan. Kompetisi berkendara ini—menurut saya—mencerminkan kompetisi hidup yang sesungguhnya. Mereka (hampir) semuanya berlomba dan berjuang menuju tempat masing-masing demi sebuah asa yang menggantung. Bagi seorang siswa, mereka ingin cepat sampai di sekolah dan belajar. Bagi yang berkeluarga,mereka sudah tidak sabar ingin berkumpul bersama sanak famili. Bagi yang bekerja, mereka juga demikian, ingin pergi dan pulang dengan selamat.
Semuanya ingin segera menuju tempat yang dituju, baik tempat kerja atau sekolah. Kendati begitu, tentu dengan ritme yang berbeda. Ritme yang dijalani oleh penunggang "kuda besi" ini berbeda-beda. Ada yang memanfaatkan waktu berkendara dengan menikmati suasana dan panorama alam. Ada juga yang ingin cepat-cepat sampai di tempat tujuannya. Ada juga yang "ugal-ugalan" dengan mensabotase wilayah teritorial arus bagi pejalan lain.
Ada juga tipologi orang yang mendahulukan kepentingan orang lain, dengan cara memberikan kebebasan orang lain untuk mendahului kita berkendara. Beragam tipikal ini kita masukkan dalam kategori bagaimana, apabila kita hidup dalam berkendara. Apakah kita masuk dalam kategori orang yang ingin cepat mengambil keputusan, atau sabar dengan menikmati waktu dan suasana dijalanan.
Kompetisi yang ada dijalan ini menandakan bahwa kita sudah masuk dalam kehidupan dengan kecepatan super kilat. Semua ingin dimiliki dengan cepat dan mampu digenggam dalam kepalan tangan. Kita tidak bisa memandang sebelah mata dengan hadirnya handphone, yang sedemikian besar pengaruhnya terhadap gaya hidup masyarakat Indonesia. Sebagaimana dengan HP, kendaraan--apapun kendaraannya--menandakan dengan kesabaran seseorang. Kompetisi di jalanan mampu memberikan semangat hidup untuk mengubah kehidupan kita lebih baik. Setiap langkah di manapun bisa kita ambil hikmahnya.
Tidak terkecuali dengan kendaraan; sepeda, sepeda motor, mobil, hingga bus. Alat transportasi ini merepresentasikan dengan kondisi sekarang. Yang kehidupan ini berputar lebih cepat. Hidup ini semakin cepat dan instan. Psikologis-sosialis tipe orang sekarang memang lebih tidak ada yang sabaran. Pendek kata, tidak ada manusia tipe yang slow but sure. Hidup mengalir dengan sendirinya. Semua harus saling mendahului. Bukan untuk saling menghormati.
Maka, jika sering terjadi kekacauan di mana-mana, tidak bisa dihindarkan. Walau sudah berikrar untuk hidup lebih bijak. Namun nyatanya tidak sedikit orang-orang yang ingin mendahului kekayaan orang lain. Sehingga mereka menempuh jalan pintas. Karena ingin lulus cepat nan akurat, mereka membeli skripsi. Ingin memiliki sesuatu hal yang mewah, mereka harus korupsi. Ini menggambarkan betapa hidup ini harus terus mendahului. Seperti etika orang mengendarai kendaraan di rimba jalanan. []
Sepulang dari Malang
Posting Komentar