Bagi sebagian orang, hidup di hotel itu “waw”, enaknya luar biasa. Semua fasilitas yang ada telah disediakan oleh pemilik hotel. Akan tetapi, bagi sebagian orang—termasuk saya, yang baru pertama kali menikmati di hotel sendirian—merasakan, tak selamanya hidup di hotel itu enak.
Sebenarnya, jika dirasakan enak sih, enak-enak saja. Siapa sih yang pernah bilang hidup di hotel itu menyiksa, jika kita banyak uang. Selain itu, enak tidak enak tergantung sudah terbiasa apa belum, pengalaman apa belum saat menikmati fasilitas hotel. Itu masalahnya, saya termasuk salah satu orang yang belum terbiasa dan pengalaman “nol” jika menikmati kehidupan di hotel. Saya ‘kan dilahirkan, dibesarkan dari rahim seorang ibu dari orang ‘ndeso’ dan sering kali berkeliaran di “alam-alam” ndeso juga.
Oleh karena itu, hidup di hotel menjadi masalah klasik bagi orang pelosok seperti saya. Karena “trauma” dengan beberapa aturan yang ada di hotel, dan beberapa fasilitas yang tidak familiar dengan kehidupan sehari-hari. Bagaimana tidak trauma coba? Mau makan saja harus turun di lantai dasar, lantai satu. Sedangkan tidur di lantai atas—saya di lantai empat—lantas bagaimana dengan teman-teman saya yang di lantai atas. Wah, tak bisa saya bayangkan, bagaimana repotnya hidupnya untuk menikmati satu hari saja. Sudah pasti repot dan ribetnya minta ampun.
Tentu semua itu tergantung menjalani hidup diri-sendiri. Saya tidak bisa mendeskriditkan secara sepihak begitu saja. Namun ini saya rekaman saya sendiri selama pelatihan dan tidur di hotel selama satu minggu ini.
Pada hari jumat (11/12) kemarin, saya mendapat undangan untuk pelatihan selama seminggu untuk Pra-Tugas Pendamping Lokal Desa. Saya kebagian untuk menginap di hotel Plaza Surabaya, atau lebih dikenal dengan Surabaya Suite Hotel (SSH). Jujur saja, saya baru pertama kali menikmati hotel yang super mewah, dengan selama macam fasilitasnya ini, seorang diri.
Saya hidup di kamar seorang diri. Jadi, karena saya baru masuk hotel yang besar—selevel SSH ini—baru pertama kali, saya harus belajar mengenal situasi dan kondisi serta fasilitas yang ada di kamar. Beberapa fasilitas yang membuat saya harus belajar, bak orang tidak tahu apa-apa, karena memang benar-benar tidak pernah menggunakan adalah lip, chip pintu dan lampu. Fasilitas ini memang awalnya membuat saya harus bersosialisasi terlebih dahulu. Sebab, ini adalah pengalaman pertama saya tidur dan menikmati sendirian di hotel sebesar Surabaya Suite Hotel ini.
Sebenarnya, saya tidak sendirian hidup di hotel ini. awalnya, saya berdua bersama teman asal Lamongan, namun karena alasan apa, dia pulang dahulu tanpa asalan yang jelas. Sehingga saya harus bertidur sendirian tanpa seorang “kekanca”, hanya televisi yang menemani kesunyian hidup di kamar yang megah dan waaaaah ini.
Pengalaman ini saya dapat berkat pelatihan Pra-Tugas sebagai Pendamping Lokal Desa, salah satu program yang dari Menteri Desa, yakni Marwan Jafar. Bagaimana seorang pendamping berfungsi sebagai fasilitator, mendampingi setiap pembangunan yang dilaksanakan oleh Desa. Berkat pelatihan inilah, saya bisa menikmati bagaimana hidup hedonis, pragmatis, dan praktis. Bagaimana rasanya jadi orang parlente, mesti itu hanya beberapa hari saja, atau bisa merasakan betapa repotnya hidup dengan gaya begini.
Entah apa yang mendasari hidup di hotel itu tidak enak. Jika sebagian besar melihat tukar nasib, pasti sebagain besar masyarakat Indonesia ingin merasakan hidup enak, seperti berkasurkan yang empuk, buang air besar (bab) tak perlu jebok, makan tak perlu masak, mandi tak perlu mengalirkan air dari saluran air, tinggal memekankan shower langsung bisa bersih.
Namun itu tidak semua bisa menikmati sepenuhnya. Saya merekam dan merasakan sendiri bagaimana beberapa orang, yang kebetulan, dan mendapatkan kesempatan seperti saya ini, berkelakar bagaimana tidak cocoknya masakan yang ada di hotel sesuai dengan “filosofi” perut kita, para orang ndeso. Permasalahan lain yang dihadapi adalah tidak kuatnya menahan dinginnya dengan suasana Air Condicioner (AC), ketika kegiatan sedang berlangsung, tidak sedikit yang merasakan dinginnya udara yang keluar dari lubang ventilasi AC.
Selain itu, ada saja yang membuat saya geli dan berkelakar dalam hati adalah ketika saja tidak bisa bagaimana mau memakai closet duduk, yang tidak ada showernya. Lebih lagi, seperti yang sudah saya singgung di awal, saya baru pertama kali naik lip, dan yang lebih parah lagi, ketika naik lip, saya merasakan mual, mau muntah. Coba bayangkan, aneh, dan dasar katrok tidak? Hehehe.
Ya, namanya juga dasar orang jawa, mau berlagak orang kota pun masih perlu waktu lama, meski tak pantas-pantas amat. Ya, dasar medok, kate macak opo wae ya tetep medok jowone. Begitulah, di hotel bagi saya tidak sepenuhnya enak. Tidak begitu nyaman. Pasalnya saya masih kangen dengan masakan ibu di rumah. Bau kasur rumah. Ndeso tetep ndeso. Demi menjaga kearifan lokal, saya katakan hidup di hotel berbintang masih enak hidup di kamar sendiri. Bagaimana tidak enak di rumah sendiri coba, di rumah sendiri tak ada tarif yang berlaku. Itulah alasan kenapa hidup di hotel tak begitu nyaman dan selalu enak. []
Sebenarnya, jika dirasakan enak sih, enak-enak saja. Siapa sih yang pernah bilang hidup di hotel itu menyiksa, jika kita banyak uang. Selain itu, enak tidak enak tergantung sudah terbiasa apa belum, pengalaman apa belum saat menikmati fasilitas hotel. Itu masalahnya, saya termasuk salah satu orang yang belum terbiasa dan pengalaman “nol” jika menikmati kehidupan di hotel. Saya ‘kan dilahirkan, dibesarkan dari rahim seorang ibu dari orang ‘ndeso’ dan sering kali berkeliaran di “alam-alam” ndeso juga.
Oleh karena itu, hidup di hotel menjadi masalah klasik bagi orang pelosok seperti saya. Karena “trauma” dengan beberapa aturan yang ada di hotel, dan beberapa fasilitas yang tidak familiar dengan kehidupan sehari-hari. Bagaimana tidak trauma coba? Mau makan saja harus turun di lantai dasar, lantai satu. Sedangkan tidur di lantai atas—saya di lantai empat—lantas bagaimana dengan teman-teman saya yang di lantai atas. Wah, tak bisa saya bayangkan, bagaimana repotnya hidupnya untuk menikmati satu hari saja. Sudah pasti repot dan ribetnya minta ampun.
Tentu semua itu tergantung menjalani hidup diri-sendiri. Saya tidak bisa mendeskriditkan secara sepihak begitu saja. Namun ini saya rekaman saya sendiri selama pelatihan dan tidur di hotel selama satu minggu ini.
Pada hari jumat (11/12) kemarin, saya mendapat undangan untuk pelatihan selama seminggu untuk Pra-Tugas Pendamping Lokal Desa. Saya kebagian untuk menginap di hotel Plaza Surabaya, atau lebih dikenal dengan Surabaya Suite Hotel (SSH). Jujur saja, saya baru pertama kali menikmati hotel yang super mewah, dengan selama macam fasilitasnya ini, seorang diri.
Saya hidup di kamar seorang diri. Jadi, karena saya baru masuk hotel yang besar—selevel SSH ini—baru pertama kali, saya harus belajar mengenal situasi dan kondisi serta fasilitas yang ada di kamar. Beberapa fasilitas yang membuat saya harus belajar, bak orang tidak tahu apa-apa, karena memang benar-benar tidak pernah menggunakan adalah lip, chip pintu dan lampu. Fasilitas ini memang awalnya membuat saya harus bersosialisasi terlebih dahulu. Sebab, ini adalah pengalaman pertama saya tidur dan menikmati sendirian di hotel sebesar Surabaya Suite Hotel ini.
Sebenarnya, saya tidak sendirian hidup di hotel ini. awalnya, saya berdua bersama teman asal Lamongan, namun karena alasan apa, dia pulang dahulu tanpa asalan yang jelas. Sehingga saya harus bertidur sendirian tanpa seorang “kekanca”, hanya televisi yang menemani kesunyian hidup di kamar yang megah dan waaaaah ini.
Pengalaman ini saya dapat berkat pelatihan Pra-Tugas sebagai Pendamping Lokal Desa, salah satu program yang dari Menteri Desa, yakni Marwan Jafar. Bagaimana seorang pendamping berfungsi sebagai fasilitator, mendampingi setiap pembangunan yang dilaksanakan oleh Desa. Berkat pelatihan inilah, saya bisa menikmati bagaimana hidup hedonis, pragmatis, dan praktis. Bagaimana rasanya jadi orang parlente, mesti itu hanya beberapa hari saja, atau bisa merasakan betapa repotnya hidup dengan gaya begini.
Entah apa yang mendasari hidup di hotel itu tidak enak. Jika sebagian besar melihat tukar nasib, pasti sebagain besar masyarakat Indonesia ingin merasakan hidup enak, seperti berkasurkan yang empuk, buang air besar (bab) tak perlu jebok, makan tak perlu masak, mandi tak perlu mengalirkan air dari saluran air, tinggal memekankan shower langsung bisa bersih.
Namun itu tidak semua bisa menikmati sepenuhnya. Saya merekam dan merasakan sendiri bagaimana beberapa orang, yang kebetulan, dan mendapatkan kesempatan seperti saya ini, berkelakar bagaimana tidak cocoknya masakan yang ada di hotel sesuai dengan “filosofi” perut kita, para orang ndeso. Permasalahan lain yang dihadapi adalah tidak kuatnya menahan dinginnya dengan suasana Air Condicioner (AC), ketika kegiatan sedang berlangsung, tidak sedikit yang merasakan dinginnya udara yang keluar dari lubang ventilasi AC.
Selain itu, ada saja yang membuat saya geli dan berkelakar dalam hati adalah ketika saja tidak bisa bagaimana mau memakai closet duduk, yang tidak ada showernya. Lebih lagi, seperti yang sudah saya singgung di awal, saya baru pertama kali naik lip, dan yang lebih parah lagi, ketika naik lip, saya merasakan mual, mau muntah. Coba bayangkan, aneh, dan dasar katrok tidak? Hehehe.
Ya, namanya juga dasar orang jawa, mau berlagak orang kota pun masih perlu waktu lama, meski tak pantas-pantas amat. Ya, dasar medok, kate macak opo wae ya tetep medok jowone. Begitulah, di hotel bagi saya tidak sepenuhnya enak. Tidak begitu nyaman. Pasalnya saya masih kangen dengan masakan ibu di rumah. Bau kasur rumah. Ndeso tetep ndeso. Demi menjaga kearifan lokal, saya katakan hidup di hotel berbintang masih enak hidup di kamar sendiri. Bagaimana tidak enak di rumah sendiri coba, di rumah sendiri tak ada tarif yang berlaku. Itulah alasan kenapa hidup di hotel tak begitu nyaman dan selalu enak. []
Posting Komentar