Sekilas judul ini keminggris, atau kebarat-baratan. Namun, sebenarnya judul dari tulisan ini bukan bahasa Inggris, akan tetapi bahasa Jerman. Bahasa Jerman adalah salah satu bahasa yang dipelajari oleh masyarakat kita. Hingga anak-anak SMA mendapatkan matrikulasi pelajaran bahasa Jerman. Jerman juga salah satu negara maju yang ada di Eropa. Oleh karena itu, bangsa Indonesia banyak yang mempelajari bahasa Jerman untuk kepentingan keilmuan.
Misalnya saja, dalam tokoh nasional, kita mengenal Prof. BJ. Habibie. Ia adalah salah satu orang Indonesia yang berguru di negara Hitler. Habibie belajar dan mengembangkan potensi dirinya dengan membuat Pesawat terbang. Dari Jerman inilah, istri dari almarhum Ainun Habibie ini menghabiskan waktu belajarnya di Jerman dan waktu tuanya ilmu yang ia dapatkan, ia kembangkan di Indonesia. Namun asal Anda tahu, B.J Habibie memulainya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dia harus bersusah payah untuk belajar dan mengembangkan potensi dirinya, hingga ia mampu kuliah di Jerman. Mulanya, dia juga harus menumbuhkan semangat dan spirit belajarnya.
Ketika SMA, dia harus giat menekuni ilmu penerbangan dan instrumen-instrumen yang lain. Dan tidak dipungkiri, dia juga menemukan kesulitan-kesulitan dengan ilmu-ilmu yang digelutinya. Barangkali saja, dia ketika pertama kali di negara jauh sana harus beradaptasi dengan lingkungan dan bahasa atau pun yang lainnya. Namun manakala dia bisa melewati fase permulaan dengan baik maka dia akab sukses. Dan bisa lihat bersama, Habibie sukses dengan melalui tahap kesulitan dan halangan yang ada di Jerman dengan baik.
Cerita lain berasal dari Yogjakarta, kota pendidikan dan kebudayaan. Cerita dari dosen (UGM) Universitas Gadjah Mada, Yogjakarta ini. Cerita panjang perjalanan menuju ke negara Nippon, Jepang terangkum dalam buku catatan harian yang berjudul Tuntutan Ilmu Sampai ke Nippon; Catatan Pengalaman Belajar dari Jepang (2006). Pengalamannya yang sangat luar biasa, yang dia rangkum dengan sangat bernas.
Bagaimana Ika hidup dalam kesendiriannya, yang ketika itu, dia sendiri sedang hamil anak kedua. Bagaimana dia juga harus mengurusi beasiswa (Moubokagakashuo) beasiswa subsidi dari pemerintah Jepang. Dan melakukan penelitian dan risetnya dalam penelitian di bidang keilmuan dokter giginya. Dia juga harus belajar kursus bahasa Jepang dengan graduate-nya. Belum juga ia harus memenuhi kebutuhan hidup dan babynya selama di apartemen di Jepang. Semua dia lalui dengan permulaan yang sangat sulit, dalam bahasa Jerman-nya aller anfang ist scher, yang ia dapatkan dari dosen pembimbing dan pengujiannya.
Misalnya lain, banyak orang yang mau belajar menulis akan tetapi tidak tahu dari mana dia akan memulai. Namun beranjak dari ketidak tahuan, yang kemudian mereka mampu terus mengasah kreativitas dan kemampuan menulis itu dengan baik--tidak mustahil--semakin hari semakin bertambah kemampuan dalam merangkai kata. Begitupun orang yang "berjudi" mengirimkan hasil karya di media-media sosial. Semua berawal dari hal sulit, yang meminjam istilah Muhidin M Dahlan--menulis untuk kembali. Dan tidak dipungkiri permulaan memang mengandung nilai perjuangan akan kesulitan, aller anfang ist scher, segala permulaan itu sulit. Maka untuk melawan kesulitan-kesulitan tersebut diperlukan keterbiasaan. Diperlukan tindakan yang rutin (kontinuitas) setiap harinya.
Namun apabila kita memaknai hal tersebut, maka kebahagiaan akan kita gapai. Dalam Tafsir Kebahagian Jalaluddin Rakhmat, setiap permulaan memang bisa membuat orang stres namun setelah melewati proses itu maka seseorang akan menemui kebahagiaan. Misal, orang yang sedang membuat skripsi, riset penelitian, seperti yang dilakukan oleh kebanyakan mahasiswa, awalnya memang ketenangannya sedikit terganggu namun setelah menuju puncak "kejayaan" maka kebahagiaan akan kita dapat. Memang semua itu permulaan sangat terasa sulit namun akhirnya membuahkan hasil.
Oleh karena itu, setiap permulaan memang sangatlah sulit. Dan, bisa jadi berat sekali untuk mengawali. Entah pada bidang apapun, proses mulai awal hingga terakhir, fase yang sangat sulit dan berat adalah fase awalan. Memang awalan dalam berbagai hal adalah ujian seberapa besar konsistensi kita dalam proses itu sendiri. Manakala kita mengawali karir atau proses dengan sabar dan telaten awalan itu akan mengantarkan kita pada akhirnya yang membahagiakan dan menyenangkan. Permulaan adalah semacam babad yang godaannya amat sangat berat. Jika kita mampu melewati fase tersebut perjuangan kita sangat terasa nikmat. Sekali lagi, permulaan memang sangatlah sulit dan berat maka dibutuhkan kebesaran hati dan ketabahan hati pula. []
Misalnya saja, dalam tokoh nasional, kita mengenal Prof. BJ. Habibie. Ia adalah salah satu orang Indonesia yang berguru di negara Hitler. Habibie belajar dan mengembangkan potensi dirinya dengan membuat Pesawat terbang. Dari Jerman inilah, istri dari almarhum Ainun Habibie ini menghabiskan waktu belajarnya di Jerman dan waktu tuanya ilmu yang ia dapatkan, ia kembangkan di Indonesia. Namun asal Anda tahu, B.J Habibie memulainya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dia harus bersusah payah untuk belajar dan mengembangkan potensi dirinya, hingga ia mampu kuliah di Jerman. Mulanya, dia juga harus menumbuhkan semangat dan spirit belajarnya.
Ketika SMA, dia harus giat menekuni ilmu penerbangan dan instrumen-instrumen yang lain. Dan tidak dipungkiri, dia juga menemukan kesulitan-kesulitan dengan ilmu-ilmu yang digelutinya. Barangkali saja, dia ketika pertama kali di negara jauh sana harus beradaptasi dengan lingkungan dan bahasa atau pun yang lainnya. Namun manakala dia bisa melewati fase permulaan dengan baik maka dia akab sukses. Dan bisa lihat bersama, Habibie sukses dengan melalui tahap kesulitan dan halangan yang ada di Jerman dengan baik.
Cerita lain berasal dari Yogjakarta, kota pendidikan dan kebudayaan. Cerita dari dosen (UGM) Universitas Gadjah Mada, Yogjakarta ini. Cerita panjang perjalanan menuju ke negara Nippon, Jepang terangkum dalam buku catatan harian yang berjudul Tuntutan Ilmu Sampai ke Nippon; Catatan Pengalaman Belajar dari Jepang (2006). Pengalamannya yang sangat luar biasa, yang dia rangkum dengan sangat bernas.
Bagaimana Ika hidup dalam kesendiriannya, yang ketika itu, dia sendiri sedang hamil anak kedua. Bagaimana dia juga harus mengurusi beasiswa (Moubokagakashuo) beasiswa subsidi dari pemerintah Jepang. Dan melakukan penelitian dan risetnya dalam penelitian di bidang keilmuan dokter giginya. Dia juga harus belajar kursus bahasa Jepang dengan graduate-nya. Belum juga ia harus memenuhi kebutuhan hidup dan babynya selama di apartemen di Jepang. Semua dia lalui dengan permulaan yang sangat sulit, dalam bahasa Jerman-nya aller anfang ist scher, yang ia dapatkan dari dosen pembimbing dan pengujiannya.
Misalnya lain, banyak orang yang mau belajar menulis akan tetapi tidak tahu dari mana dia akan memulai. Namun beranjak dari ketidak tahuan, yang kemudian mereka mampu terus mengasah kreativitas dan kemampuan menulis itu dengan baik--tidak mustahil--semakin hari semakin bertambah kemampuan dalam merangkai kata. Begitupun orang yang "berjudi" mengirimkan hasil karya di media-media sosial. Semua berawal dari hal sulit, yang meminjam istilah Muhidin M Dahlan--menulis untuk kembali. Dan tidak dipungkiri permulaan memang mengandung nilai perjuangan akan kesulitan, aller anfang ist scher, segala permulaan itu sulit. Maka untuk melawan kesulitan-kesulitan tersebut diperlukan keterbiasaan. Diperlukan tindakan yang rutin (kontinuitas) setiap harinya.
Namun apabila kita memaknai hal tersebut, maka kebahagiaan akan kita gapai. Dalam Tafsir Kebahagian Jalaluddin Rakhmat, setiap permulaan memang bisa membuat orang stres namun setelah melewati proses itu maka seseorang akan menemui kebahagiaan. Misal, orang yang sedang membuat skripsi, riset penelitian, seperti yang dilakukan oleh kebanyakan mahasiswa, awalnya memang ketenangannya sedikit terganggu namun setelah menuju puncak "kejayaan" maka kebahagiaan akan kita dapat. Memang semua itu permulaan sangat terasa sulit namun akhirnya membuahkan hasil.
Oleh karena itu, setiap permulaan memang sangatlah sulit. Dan, bisa jadi berat sekali untuk mengawali. Entah pada bidang apapun, proses mulai awal hingga terakhir, fase yang sangat sulit dan berat adalah fase awalan. Memang awalan dalam berbagai hal adalah ujian seberapa besar konsistensi kita dalam proses itu sendiri. Manakala kita mengawali karir atau proses dengan sabar dan telaten awalan itu akan mengantarkan kita pada akhirnya yang membahagiakan dan menyenangkan. Permulaan adalah semacam babad yang godaannya amat sangat berat. Jika kita mampu melewati fase tersebut perjuangan kita sangat terasa nikmat. Sekali lagi, permulaan memang sangatlah sulit dan berat maka dibutuhkan kebesaran hati dan ketabahan hati pula. []
Posting Komentar