"Pengalaman Eni Kusuma meneguhkan sebuah kenyataan bahwa membaca yang menghasilkan makna akan mampu berubah menjadi sebuah potensi besar yang dapat diberdayakan. Membaca yang menghasilkan makna dan berubah menjadi potensi akan sekedar sebagai potensi manakala tidak diberdayakan. Potensi diri yang sudah dimiliki dari hasil membaca ini harus dioptimalkan untuk menghasikan sesuatu yang berharga dalam diri.” Ngainun Naim, The Power of Writing, (2015: 45).
Sangat sering sekali kita mendapat berita tentang TKI (Tenaga Kerja Indonesia), TKW (Tenaga Keja Wanita), BMI (Buruh Migran Indonesia)—atau dengan bahasa konotasi yang positifnya—“pahlawan devisa” negara tersiksa: soal penganiayaan, kekerasan fisik dan mental yang berujung pada kematian.
Maka yang disaksikan oleh berjuta pasang mata melalui layar televisi maupun media: massa dan sosial wajah-wajah menangis, pasrah serta tidak memiliki jalan lain selain tidak berdaya menanggung semua derita di negara orang ini. akhir-akhir ini dunia maya juga digegerkan oleh video-video para TKI yang mengunggah videonya sendiri dengan stetment “rumangsamu ra penak, yo penak!”. Para pahlawan devisa ini berperang sesama TkI di luar negeri dengan memposting video-video di laman media sosial; youtube. Dan yang paling gres, kasus Siti Zainab dieksekusi mata di Madinah beberapa hari yang lalu. Masih sangat “basah” kasus TKW asal Bangkalan, Madura ini berlalu dengan bergugurnya pahlawan devisa negara ini.
Terlepas dari cerita haru biru dan berita “aneh-aneh” tentang TKI yang ada di luar negeri sana, banyak cerita yang sangat inspiratif bagi kita semua. Pada tanggal 1 Mei, yang biasa disebut May Day, atau Hari Buruh Internasional, saya bertemu langsung dengan Eni Kusuma dan Suwendah di Dongko, rumah Bonari Nabonenar.
Cerita inspiratif apa yang saya dapat dari acara “Gelaran Budaya Buruh Migran” tersebut. Pada season sarasehan di Sanggar Buadaya Kumenyar di Dusun Nglaran, Desa Cakul ini Mas Bonari Nabonenar menceritakan tentang sosok mungil yang begitu mengisakkan tangis Mas Bonari ketika membacakan sepintas profil Eni Kusuma.
Barangkali sudah banyak orang yang menulis profil Eni Kusuma ini, bahkan koran atau majalah juga pernah mengangkat mantan pahlawan devisa ini. Sedikit saya jelaskan tentang profil Eni Kusuma sesuai apa yang dipaparkan oleh Mas Bonari Nabonenar. Sejak kecil Eni Kusuma sudah suka membaca: entah buku, bacaan yang lain, majalah, koran ataupun bacaan yang lain. Buku yang utama ia baca adalah kitab suci. Makna dalam kitab suci, sebagaimana diakuinya, adalah makanan jiwa yang sangat bergizi. Ketika itu, ia sangat “haram” dibilang anak orang kaya, ia ketika sekolah SD, lantaran tidak mempunyai uang saku, ia lebih suka ke perpustakaan sekolah.
Tidak hanya di perpustakaan sekolah, Eni Kusuma juga membaca buku-buku berkualitas dari tumpukan sampah yang telah sobek-sobek. Sedangkan buku-buku bermutu lain—yang ia pulung dari sampah bacaan, beli sendiri, maupun dikasih oleh orang-orang tercinta—sebagai pelengkap untuk menambah pengetahuannya.
Kecintaannya kepada dunia literasi: membaca dan menulis ia bawa hingga menjadi “babu” di Hongkong. Namun kegemarannya terhadap membaca dan menulis tidak berjalan mulus di negeri tetangga itu. Eni yang bekerja menjadi pembantu rumah tangga di Hongkong tersebut mendapat larangan dari majikannya. Enam tahun di Hongkong dan belajar menulis ia lakukan dengan cara sembunyi-sembunyi seperti tahanan menulis surat takut ketahuan sipirnya. Di tengah pekerjaannya yang menggunung, ia tetap belajar menulis. Misalnya saja ketika ia menyapu, negepel atau pekerjaan rumah tangga lainnya—sekali ide terlintas—ia menuliskan di handphone pribadinya. Atau menuliskan dalam kertas yang kemudian ia simppan dalam kolong kultas biar tidak ketahuan majikannya. Selain itu, apabila malam hari, ia melabui majikannya dengan mematikan lampu kamarnya. Bukannya ia tidur namun ia melakukan kegiatan menulisnya dengan penerangan senter hapenya selama 1 jam.
Ketika musim liburan datang, ia tidak memanfaatkan hari liburnya dengan bersenang-senang atau blusukan di kota-kota Hongkong, namun malah sebaliknya, ia menggunakan waktu liburna dengan menulis dan mengetik tulisanb tersebut dan kemudian mengirimkan ke Pak Edy Zaques. Setelah mendapat tanggapan dari Edy Zaques di Jakarta ia malah merasa tertantang menulis banyak. Dari situlah di tengah-tengah kesibukannya sebagai pembantu rumah tangga, ia berhasil mengasah bakat menulisnya dan bergaul dengan komunitas yang lebih luas melalui internet.
Lulusan sebuah SMA swasta di Banyuwangi ini aktif di sejumlah mailing list kepenulisan. Di sanalah kemampuan menulis dan keterampilan berkembang pesat sehingga artikel-artikel tersebar luas dan memndapat apresiasi oleh banyak orang dan masyarakat dunia di internet. Dari situlah akhir bulan April tahun 2007 Eni berhasil menerbitkan buku motivasi yang berjudul Anda Luar Biasa!! Dan kemarin (di rumah Bonari) ia memperlihatkan buku barunya (kalau tidak salah, berjudul Mitra Kerja Bersama, bersama Melly Keiong).
Menurut Ngainun Naim dalam bukunya The Power of Writing (2015), “selama enam tahun menjalani profesi sebagai pembantu rumah tangga di Hongkong, Eni berhasil pulang dengan membawa sesuatu. Bukan harta yang berlimpah, tetapi sebuah hasil proses pembelajaran yang sangat menajubkan.” Perubahan dan oleh-oleh yang dibawa dari Hongkong sebagai babu itu mengantarkannya Eni memputar-balikan derajatnya menjadi yang sekarang bisa kita lihat bersama.
Eni Kusuma terus belajar mengasah kemampuan menulisnya. Ia menyebar-luaskan semangatnya melalui forum-forum seminar nasional, diskusi, serta talk show di radio-radio serta diundang sebagai pembicara di Universitas-Universitas. Eni yang sejak kecil dianggap gagap bicara, ketika itu disuruh berbicara menjadi morivator di forum-forum nasional dengan memberi pengarahan betapa pentingnya budaya literasi bagi kehidupannya. Menurutnya, “menulis itu penting,” demikian ujarnya di rumah Bonari sebelum membaca puisi di acara diskusi Buruh Migran di Dongko itu.
Selain sebagai motivator, ia pada tahun 2009 menjadi bintang dalam acara Tauperwer. Serta menjadi pemimpin redaksi di situs Perempuaan Bertutur. Org. Pada 2010 ia mendirikan Rumah Cerdas dengan murid 150 anak dengan bermacam-macam karakter secara ekonomi, namun karena Rumah Cerdasnya tersebut berjalan di bidang sosial, maka yang mampu boleh membayar, sementara yang tidak mampu ia gratisnya SPPnya. Dari Rumah Cerdasnya tersebut, mengantarkannya masuk nominasi salah satu kategori Perempuan, Pendidikan dan Sosial dalam tajub SCTV Award tahun ini (2015, bulan Mei ini).
Hal demikian juga dilakukan oleh Sarwendah dan suaminya, Bambang. Sarwendah adalah mantan buruh Migran—atau bahasa nasionalisme dan positifnya pahlawan devisa—juga menulis. Namun Sarwendah dan Bambang lebih fokus ke Sastra. Menurutnya disela-sela diskusi dan mendengarkan karawitan yang dimainkan oleh ibu-ibu Desa Cakul, Dongko itu, mereka berdua kalau di rumah biasanya sparing partner menulis puisi. Selain itu, mereka berdua juga melalukan pendampingan kepada masyarakat di kota Malang yang bergerak air dan lingkungan hidup. Sarwendah dan Mas Bunbun—begitu sapaan akrabnya—membawa TDS (Total Dol Solid), alat pendetek kadar campuran dalam air.
Ternyata dari banyak sekali saya beajar dari para mantan pahlawan devisa yang sudah lama “mentas” yang sekarang bergerak dalam bidang sosial ini. Awalnya, mereka ikut komunitas menulis yang ada di Hongkong, sehingga sikap kepedulian terhadap sosial begitu tinggi. Dari kemampuan berliterasi: membaca dan menulis mampu mengubah kehidupan yang sedemikian mereka rasakan. Yang dulunya menjadi pembantu di negara orang, sekarang ia bisa membangun negara sendiri dengan keterampilan yang mereka miliki. Yang awalnya bersemangat untuk bertaruh nasib dalam “paket ekspor” bekerja ke luar negeri, saat ini mempertaruhan nasib orang banyak di negeri sendiri. “menulis membuat seseorang bukan siapa-siapa, karena menulis kita menjadi siapa. Menulis membuat berkualitas, sebab menulis orang memandang tidak seperti itu. Maka menulis itu penting, secara psikologis, “menulis bisa membuat to down: bisa tenang, sehat dan plong,” kata Eni Kusuma.[]
Sangat sering sekali kita mendapat berita tentang TKI (Tenaga Kerja Indonesia), TKW (Tenaga Keja Wanita), BMI (Buruh Migran Indonesia)—atau dengan bahasa konotasi yang positifnya—“pahlawan devisa” negara tersiksa: soal penganiayaan, kekerasan fisik dan mental yang berujung pada kematian.
Maka yang disaksikan oleh berjuta pasang mata melalui layar televisi maupun media: massa dan sosial wajah-wajah menangis, pasrah serta tidak memiliki jalan lain selain tidak berdaya menanggung semua derita di negara orang ini. akhir-akhir ini dunia maya juga digegerkan oleh video-video para TKI yang mengunggah videonya sendiri dengan stetment “rumangsamu ra penak, yo penak!”. Para pahlawan devisa ini berperang sesama TkI di luar negeri dengan memposting video-video di laman media sosial; youtube. Dan yang paling gres, kasus Siti Zainab dieksekusi mata di Madinah beberapa hari yang lalu. Masih sangat “basah” kasus TKW asal Bangkalan, Madura ini berlalu dengan bergugurnya pahlawan devisa negara ini.
Terlepas dari cerita haru biru dan berita “aneh-aneh” tentang TKI yang ada di luar negeri sana, banyak cerita yang sangat inspiratif bagi kita semua. Pada tanggal 1 Mei, yang biasa disebut May Day, atau Hari Buruh Internasional, saya bertemu langsung dengan Eni Kusuma dan Suwendah di Dongko, rumah Bonari Nabonenar.
Cerita inspiratif apa yang saya dapat dari acara “Gelaran Budaya Buruh Migran” tersebut. Pada season sarasehan di Sanggar Buadaya Kumenyar di Dusun Nglaran, Desa Cakul ini Mas Bonari Nabonenar menceritakan tentang sosok mungil yang begitu mengisakkan tangis Mas Bonari ketika membacakan sepintas profil Eni Kusuma.
Barangkali sudah banyak orang yang menulis profil Eni Kusuma ini, bahkan koran atau majalah juga pernah mengangkat mantan pahlawan devisa ini. Sedikit saya jelaskan tentang profil Eni Kusuma sesuai apa yang dipaparkan oleh Mas Bonari Nabonenar. Sejak kecil Eni Kusuma sudah suka membaca: entah buku, bacaan yang lain, majalah, koran ataupun bacaan yang lain. Buku yang utama ia baca adalah kitab suci. Makna dalam kitab suci, sebagaimana diakuinya, adalah makanan jiwa yang sangat bergizi. Ketika itu, ia sangat “haram” dibilang anak orang kaya, ia ketika sekolah SD, lantaran tidak mempunyai uang saku, ia lebih suka ke perpustakaan sekolah.
Tidak hanya di perpustakaan sekolah, Eni Kusuma juga membaca buku-buku berkualitas dari tumpukan sampah yang telah sobek-sobek. Sedangkan buku-buku bermutu lain—yang ia pulung dari sampah bacaan, beli sendiri, maupun dikasih oleh orang-orang tercinta—sebagai pelengkap untuk menambah pengetahuannya.
Kecintaannya kepada dunia literasi: membaca dan menulis ia bawa hingga menjadi “babu” di Hongkong. Namun kegemarannya terhadap membaca dan menulis tidak berjalan mulus di negeri tetangga itu. Eni yang bekerja menjadi pembantu rumah tangga di Hongkong tersebut mendapat larangan dari majikannya. Enam tahun di Hongkong dan belajar menulis ia lakukan dengan cara sembunyi-sembunyi seperti tahanan menulis surat takut ketahuan sipirnya. Di tengah pekerjaannya yang menggunung, ia tetap belajar menulis. Misalnya saja ketika ia menyapu, negepel atau pekerjaan rumah tangga lainnya—sekali ide terlintas—ia menuliskan di handphone pribadinya. Atau menuliskan dalam kertas yang kemudian ia simppan dalam kolong kultas biar tidak ketahuan majikannya. Selain itu, apabila malam hari, ia melabui majikannya dengan mematikan lampu kamarnya. Bukannya ia tidur namun ia melakukan kegiatan menulisnya dengan penerangan senter hapenya selama 1 jam.
Ketika musim liburan datang, ia tidak memanfaatkan hari liburnya dengan bersenang-senang atau blusukan di kota-kota Hongkong, namun malah sebaliknya, ia menggunakan waktu liburna dengan menulis dan mengetik tulisanb tersebut dan kemudian mengirimkan ke Pak Edy Zaques. Setelah mendapat tanggapan dari Edy Zaques di Jakarta ia malah merasa tertantang menulis banyak. Dari situlah di tengah-tengah kesibukannya sebagai pembantu rumah tangga, ia berhasil mengasah bakat menulisnya dan bergaul dengan komunitas yang lebih luas melalui internet.
Lulusan sebuah SMA swasta di Banyuwangi ini aktif di sejumlah mailing list kepenulisan. Di sanalah kemampuan menulis dan keterampilan berkembang pesat sehingga artikel-artikel tersebar luas dan memndapat apresiasi oleh banyak orang dan masyarakat dunia di internet. Dari situlah akhir bulan April tahun 2007 Eni berhasil menerbitkan buku motivasi yang berjudul Anda Luar Biasa!! Dan kemarin (di rumah Bonari) ia memperlihatkan buku barunya (kalau tidak salah, berjudul Mitra Kerja Bersama, bersama Melly Keiong).
Menurut Ngainun Naim dalam bukunya The Power of Writing (2015), “selama enam tahun menjalani profesi sebagai pembantu rumah tangga di Hongkong, Eni berhasil pulang dengan membawa sesuatu. Bukan harta yang berlimpah, tetapi sebuah hasil proses pembelajaran yang sangat menajubkan.” Perubahan dan oleh-oleh yang dibawa dari Hongkong sebagai babu itu mengantarkannya Eni memputar-balikan derajatnya menjadi yang sekarang bisa kita lihat bersama.
Eni Kusuma terus belajar mengasah kemampuan menulisnya. Ia menyebar-luaskan semangatnya melalui forum-forum seminar nasional, diskusi, serta talk show di radio-radio serta diundang sebagai pembicara di Universitas-Universitas. Eni yang sejak kecil dianggap gagap bicara, ketika itu disuruh berbicara menjadi morivator di forum-forum nasional dengan memberi pengarahan betapa pentingnya budaya literasi bagi kehidupannya. Menurutnya, “menulis itu penting,” demikian ujarnya di rumah Bonari sebelum membaca puisi di acara diskusi Buruh Migran di Dongko itu.
Selain sebagai motivator, ia pada tahun 2009 menjadi bintang dalam acara Tauperwer. Serta menjadi pemimpin redaksi di situs Perempuaan Bertutur. Org. Pada 2010 ia mendirikan Rumah Cerdas dengan murid 150 anak dengan bermacam-macam karakter secara ekonomi, namun karena Rumah Cerdasnya tersebut berjalan di bidang sosial, maka yang mampu boleh membayar, sementara yang tidak mampu ia gratisnya SPPnya. Dari Rumah Cerdasnya tersebut, mengantarkannya masuk nominasi salah satu kategori Perempuan, Pendidikan dan Sosial dalam tajub SCTV Award tahun ini (2015, bulan Mei ini).
Hal demikian juga dilakukan oleh Sarwendah dan suaminya, Bambang. Sarwendah adalah mantan buruh Migran—atau bahasa nasionalisme dan positifnya pahlawan devisa—juga menulis. Namun Sarwendah dan Bambang lebih fokus ke Sastra. Menurutnya disela-sela diskusi dan mendengarkan karawitan yang dimainkan oleh ibu-ibu Desa Cakul, Dongko itu, mereka berdua kalau di rumah biasanya sparing partner menulis puisi. Selain itu, mereka berdua juga melalukan pendampingan kepada masyarakat di kota Malang yang bergerak air dan lingkungan hidup. Sarwendah dan Mas Bunbun—begitu sapaan akrabnya—membawa TDS (Total Dol Solid), alat pendetek kadar campuran dalam air.
Ternyata dari banyak sekali saya beajar dari para mantan pahlawan devisa yang sudah lama “mentas” yang sekarang bergerak dalam bidang sosial ini. Awalnya, mereka ikut komunitas menulis yang ada di Hongkong, sehingga sikap kepedulian terhadap sosial begitu tinggi. Dari kemampuan berliterasi: membaca dan menulis mampu mengubah kehidupan yang sedemikian mereka rasakan. Yang dulunya menjadi pembantu di negara orang, sekarang ia bisa membangun negara sendiri dengan keterampilan yang mereka miliki. Yang awalnya bersemangat untuk bertaruh nasib dalam “paket ekspor” bekerja ke luar negeri, saat ini mempertaruhan nasib orang banyak di negeri sendiri. “menulis membuat seseorang bukan siapa-siapa, karena menulis kita menjadi siapa. Menulis membuat berkualitas, sebab menulis orang memandang tidak seperti itu. Maka menulis itu penting, secara psikologis, “menulis bisa membuat to down: bisa tenang, sehat dan plong,” kata Eni Kusuma.[]
Posting Komentar