Suara yang keluar dari rongga mulut itu sangat khas. Biasa kita mendengar saat orang penjaja atau menawarkan jasa di depan rumah. Jasa yang ditawarkan dan suara yang dikeluarkan mengisyaratkan dagangan atau jasa yang ditawarkan, sehingga mudah kita kenali.
“Soooooolll sepatu.! Thok sendok, thok piring.”
“Soooooolll sepatu.! Thok sendok, thok piring.”
“Soooooolll sepatu.! Thok sendok, thok piring.” Begitu suara itu.
Begitupun penjaja jasa yang lain.
Misalnya suara-suara khas penjual es, penjual alat perabotan rumah tangga, tukang bakso dan lain-lain—barangkali—telah membentuk dan menghiasai kehidupan sehari-hari. Misal penjual sayur keliling atau sering disebut bakul ethek yang mengeluarkan suara khas saban hari. Mulai dari klason motor, suara dari mulut langsung atau alat yang dirancang khusus supaya menghasilkan suara khas dan mudah dipahami dan mengenali. Lewat suara itu, sontak bergerak mendekati dan mengetahui apa yang kita butuhkan.
Kali ini saya tidak mendengar suara penjaja jasa itu. Kebetulan saya sedang mandi di belakang. Saya mengetahui ada aktivitas di depan setelah ibu bertanya sepatu yang ingin ia jahitkan.
Sepatu seng pengen kok jahitne apa iki?” tanya ibu sambil menunjukkan sepatu kulit berwarna cokelat.
Saya tak tahu siapa yang bakal menjahit sepatu saya. Yang saya pahami tukang jahit sepatu ada di depan rumah. Selesai mandi saya bergegas ke depan. Pagi itu sinar matahari begitu terik. Jam dinding menyentuh angka 09.45. Meski sudah mandi keringat masih keluar badan. Saya hanya memakai seutas sarung warna hitam tanpa CD dan atasan (baju) nggak pakai. Saya berinteraksi dengan tukang sol sepatu itu. Keinginan sholat Dhuha melaksanakan terdahulu saya urungkan. Saya malah bergabung dan komunikasi dengan tukang sol sepatu dengan asyik.
Ia merupakan tukang sol sepatu langganan kami. Tak hanya saya yang jadi pelanggan setia. Ternyata ibu juga telah meletakkan kepercayaan kepada tukang sol sepatu satu ini, bahkan beberapa tahun belakangan. Berbekal seutas benang jenis nilon dan jarum khusus menjahit ia nampak prigel. Jarum itu ia tusukkan pada karet bagian bawah sepatu. Kelincahan dan ke-prigel-annya merepresentasikan bahwa ia sangat mencintai profesi ini.
Namanya adalah pak Arif. Ia termasuk tukang sol yang militan. Bersamaan dengan tangannya yang terus mengayunkan tangan yang satu di balik sepatu, satunya memainkan tali, secara berulang-ulang dengan gerakan yang sama. Kesungguhan dalam membantu orang lain lewat jasanya menjahit sepatu, thok (cap) sendok-piring dan servis payung ini ia jalani selama bertahun-tahun. Ia bekerja sebagai tukang sol ini sudah lama sekali. Menurutnya menyentuh angka dua digit. Waktu yang tidak sebentar. Penasaran, saya bertanya kepada pak Arif.
“17 tahun, Mas, saya menjalani profesi jadi tukang sol ini,” tuturnya sambil mengayunkan tangan kanan dan tangan kirinya secara konsisten.
Tidak hanya itu, ia juga bercerita awal mula berkeliling di Prigi. Ia memang orang yang konsisten dan yakin terhadap ladang rezekinya. Sebelum menjajakan jasanya itu memakai kendaraan, ia pernah memanggul kotak dari kayu (peralatan thok dan sol) keliling kampung. Ia juga menyewa kosan untuk tetap berada di kawasan Prigi. Selain ngekos, ia juga pernah bermalam di Masjid dekat rumah, Masjid Sabilil Muttaqin, tuturnya.
Saat ia berkisah seperti itu, saya kaget dan sontak terperangah. Ia masih tetap bertahan dengan kemampuan yang ia miliki. Ia sadar bahwa dunia ini keras. Sekeras apapun harus lantang dan pantang untuk menyerah. Sebab hidup ini bukan arti menyerah. Hidup ini adalah pilihan untuk berjuang.
Tak lama satu stel sepatu selesai di-sol. Sepatu saya jadi rapi, kuat dan gagah dengan tambahan benang di samping alas sepatu. Selain itu mengetahui jenis kulit yang dipakai untuk membuat sepatu
"Padahal sepatumu ini Brand bagus, Mas. Yongki Komaladi. Tapi lem-nya nggak kuat. Kulit yang dipakai bukan kulit asli," tuturnya. "Ini kulit jenis Oscar. Kulit KW tapi yang bagus."
Jadi satu sepatu pekerjaan lain menunggu Pak Arif. Mbok saya--Mbok Yam mengalami kendala pada perabotan dapurnya. Ia menginginkan pancinya ditambal. Lalu ia melihat panci yang bocor. Ada dua atau empat panci. Kini ia pindah tempat. Sebelumnya ia duduk di teras, kini duduk di pelataran samping kendaraan jenis bebek, mrek Yamaha Vega. Sebelum menambal panci bolong, ia memastikan dan menerawang bagian bawah. Memastikan betul-betul ada yang bolong atau tidak? Masih baik atau tidak? Dan layak ditambal atau tidak?
Keakraban ia tunjukkan saat berkomunikasi. Ini membuktikan bahwa ia adalah sosok orang ramah dan sabar dalam meladeni konsumen. Meski ia bukan warga sekitar. Juga bukan warga Kecamatan Watulimo, dan tidak tercantum kependudukan sipil kabupaten. Ia merupakan pedatang. Rumahnya di Gringging, Grogol, Kediri.
Meski warga Kediri, ia telah mengetahui seluk-beluk teritorial wilayah Watulimo, khususnya daerah Prigi. Sambil menunjukkan kemahirannya dalam menjahit-sol dan menambal panci, ia bercerita tentang ekonomi rumah tangganya. Ia memiliki dua orang anak, yang keduanya laki-laki semua. Ia juga bercerita tentang perbedaan hobi kedua anaknya itu.
Dari situlah ia harus tetap bekerja. Apalagi kedua anaknya semakin tubuh besar. Yang satu kelas dua SMA dan yang satu masih TK. Dengan penghasilan yang tak menentu, ia bersyukur menjalani hidup.
“Tidak menentu, Mas penghasilan setiap hari!” tuturnya. “Kalau pas harinya ya, lumayan dapatnya.” pungkasnya.
Kemudian saya tak mengikuti Pak Arif sampai selesai. Lalu, saya mendirikan rutinitas yang tertunda tadi. Saya tak menembus ongkos sol sepatu tadi. Saya masuk rumah dan bilang sama Ibu bahwa sol-nya telah selesai.
Di desa mencari sol sepatu sudah terbilang sulit. Dahulu mudah dicari di pasar-pasar kecamatan, atau mangkal di hari pasaran desa-desa. Barangkali tukang sol sepatu ini merupakan salah satu profesi yang langka, di kota-kota besar dan bahkan di pinggiran kota. Tidak sedikit tukang jahit yang dahulu berkeliling memanggul kotak kayu, gerobak bersepeda kini mulai beralih menggunakan kendaraan bermesin. Karena tak tahan oleh gempuran zaman yang super keras lagi cepat, si tukang sol sepatu pun beralih bekerja di ladang lain; misal sebagai buruh di kota-kota besar.
Populasi tukang sol sepatu makin kesini makin sulit dicari. Saat kita tak jodoh, kita tak menemukan sol sepatu itu. Kini, sol sepatu merupakan profesi langka. Berprofesi sebagai tukang sol sepatu adalah profesi terhormat, sebab ia telah mengangkat kehormatan pemakai dalam urusan ketahanan dan ke-kokoh-an sandal dan sepatu yang kita pakai. Sebab, urusan sendal dan sepatu merupakan urusan identitas, tahta dan kekuasaan. Semakin bagus dan kokoh—meski ada sentuhan dari tukang sol sepatu—baik sendal atau sepatu mengantarkan orang tampil beda dengan sandal atau sepatu yang keukeuh.[]
“Soooooolll sepatu.! Thok sendok, thok piring.”
“Soooooolll sepatu.! Thok sendok, thok piring.”
“Soooooolll sepatu.! Thok sendok, thok piring.” Begitu suara itu.
Begitupun penjaja jasa yang lain.
Misalnya suara-suara khas penjual es, penjual alat perabotan rumah tangga, tukang bakso dan lain-lain—barangkali—telah membentuk dan menghiasai kehidupan sehari-hari. Misal penjual sayur keliling atau sering disebut bakul ethek yang mengeluarkan suara khas saban hari. Mulai dari klason motor, suara dari mulut langsung atau alat yang dirancang khusus supaya menghasilkan suara khas dan mudah dipahami dan mengenali. Lewat suara itu, sontak bergerak mendekati dan mengetahui apa yang kita butuhkan.
Kali ini saya tidak mendengar suara penjaja jasa itu. Kebetulan saya sedang mandi di belakang. Saya mengetahui ada aktivitas di depan setelah ibu bertanya sepatu yang ingin ia jahitkan.
Sepatu seng pengen kok jahitne apa iki?” tanya ibu sambil menunjukkan sepatu kulit berwarna cokelat.
Saya tak tahu siapa yang bakal menjahit sepatu saya. Yang saya pahami tukang jahit sepatu ada di depan rumah. Selesai mandi saya bergegas ke depan. Pagi itu sinar matahari begitu terik. Jam dinding menyentuh angka 09.45. Meski sudah mandi keringat masih keluar badan. Saya hanya memakai seutas sarung warna hitam tanpa CD dan atasan (baju) nggak pakai. Saya berinteraksi dengan tukang sol sepatu itu. Keinginan sholat Dhuha melaksanakan terdahulu saya urungkan. Saya malah bergabung dan komunikasi dengan tukang sol sepatu dengan asyik.
Ia merupakan tukang sol sepatu langganan kami. Tak hanya saya yang jadi pelanggan setia. Ternyata ibu juga telah meletakkan kepercayaan kepada tukang sol sepatu satu ini, bahkan beberapa tahun belakangan. Berbekal seutas benang jenis nilon dan jarum khusus menjahit ia nampak prigel. Jarum itu ia tusukkan pada karet bagian bawah sepatu. Kelincahan dan ke-prigel-annya merepresentasikan bahwa ia sangat mencintai profesi ini.
Namanya adalah pak Arif. Ia termasuk tukang sol yang militan. Bersamaan dengan tangannya yang terus mengayunkan tangan yang satu di balik sepatu, satunya memainkan tali, secara berulang-ulang dengan gerakan yang sama. Kesungguhan dalam membantu orang lain lewat jasanya menjahit sepatu, thok (cap) sendok-piring dan servis payung ini ia jalani selama bertahun-tahun. Ia bekerja sebagai tukang sol ini sudah lama sekali. Menurutnya menyentuh angka dua digit. Waktu yang tidak sebentar. Penasaran, saya bertanya kepada pak Arif.
“17 tahun, Mas, saya menjalani profesi jadi tukang sol ini,” tuturnya sambil mengayunkan tangan kanan dan tangan kirinya secara konsisten.
Tidak hanya itu, ia juga bercerita awal mula berkeliling di Prigi. Ia memang orang yang konsisten dan yakin terhadap ladang rezekinya. Sebelum menjajakan jasanya itu memakai kendaraan, ia pernah memanggul kotak dari kayu (peralatan thok dan sol) keliling kampung. Ia juga menyewa kosan untuk tetap berada di kawasan Prigi. Selain ngekos, ia juga pernah bermalam di Masjid dekat rumah, Masjid Sabilil Muttaqin, tuturnya.
Saat ia berkisah seperti itu, saya kaget dan sontak terperangah. Ia masih tetap bertahan dengan kemampuan yang ia miliki. Ia sadar bahwa dunia ini keras. Sekeras apapun harus lantang dan pantang untuk menyerah. Sebab hidup ini bukan arti menyerah. Hidup ini adalah pilihan untuk berjuang.
Tak lama satu stel sepatu selesai di-sol. Sepatu saya jadi rapi, kuat dan gagah dengan tambahan benang di samping alas sepatu. Selain itu mengetahui jenis kulit yang dipakai untuk membuat sepatu
"Padahal sepatumu ini Brand bagus, Mas. Yongki Komaladi. Tapi lem-nya nggak kuat. Kulit yang dipakai bukan kulit asli," tuturnya. "Ini kulit jenis Oscar. Kulit KW tapi yang bagus."
Jadi satu sepatu pekerjaan lain menunggu Pak Arif. Mbok saya--Mbok Yam mengalami kendala pada perabotan dapurnya. Ia menginginkan pancinya ditambal. Lalu ia melihat panci yang bocor. Ada dua atau empat panci. Kini ia pindah tempat. Sebelumnya ia duduk di teras, kini duduk di pelataran samping kendaraan jenis bebek, mrek Yamaha Vega. Sebelum menambal panci bolong, ia memastikan dan menerawang bagian bawah. Memastikan betul-betul ada yang bolong atau tidak? Masih baik atau tidak? Dan layak ditambal atau tidak?
Keakraban ia tunjukkan saat berkomunikasi. Ini membuktikan bahwa ia adalah sosok orang ramah dan sabar dalam meladeni konsumen. Meski ia bukan warga sekitar. Juga bukan warga Kecamatan Watulimo, dan tidak tercantum kependudukan sipil kabupaten. Ia merupakan pedatang. Rumahnya di Gringging, Grogol, Kediri.
Meski warga Kediri, ia telah mengetahui seluk-beluk teritorial wilayah Watulimo, khususnya daerah Prigi. Sambil menunjukkan kemahirannya dalam menjahit-sol dan menambal panci, ia bercerita tentang ekonomi rumah tangganya. Ia memiliki dua orang anak, yang keduanya laki-laki semua. Ia juga bercerita tentang perbedaan hobi kedua anaknya itu.
Dari situlah ia harus tetap bekerja. Apalagi kedua anaknya semakin tubuh besar. Yang satu kelas dua SMA dan yang satu masih TK. Dengan penghasilan yang tak menentu, ia bersyukur menjalani hidup.
“Tidak menentu, Mas penghasilan setiap hari!” tuturnya. “Kalau pas harinya ya, lumayan dapatnya.” pungkasnya.
Kemudian saya tak mengikuti Pak Arif sampai selesai. Lalu, saya mendirikan rutinitas yang tertunda tadi. Saya tak menembus ongkos sol sepatu tadi. Saya masuk rumah dan bilang sama Ibu bahwa sol-nya telah selesai.
Di desa mencari sol sepatu sudah terbilang sulit. Dahulu mudah dicari di pasar-pasar kecamatan, atau mangkal di hari pasaran desa-desa. Barangkali tukang sol sepatu ini merupakan salah satu profesi yang langka, di kota-kota besar dan bahkan di pinggiran kota. Tidak sedikit tukang jahit yang dahulu berkeliling memanggul kotak kayu, gerobak bersepeda kini mulai beralih menggunakan kendaraan bermesin. Karena tak tahan oleh gempuran zaman yang super keras lagi cepat, si tukang sol sepatu pun beralih bekerja di ladang lain; misal sebagai buruh di kota-kota besar.
Populasi tukang sol sepatu makin kesini makin sulit dicari. Saat kita tak jodoh, kita tak menemukan sol sepatu itu. Kini, sol sepatu merupakan profesi langka. Berprofesi sebagai tukang sol sepatu adalah profesi terhormat, sebab ia telah mengangkat kehormatan pemakai dalam urusan ketahanan dan ke-kokoh-an sandal dan sepatu yang kita pakai. Sebab, urusan sendal dan sepatu merupakan urusan identitas, tahta dan kekuasaan. Semakin bagus dan kokoh—meski ada sentuhan dari tukang sol sepatu—baik sendal atau sepatu mengantarkan orang tampil beda dengan sandal atau sepatu yang keukeuh.[]
aku jadi teringat eyang yang sepuuuuuuh banget, tukang sol sepatu yg mendorong gerobak tempat peralatannya, beliau kok lama sekali tak kelihatan...pas awal kupindah di kampung ini, sekitar 3 bulan lalu, beliau masih sering keliling kampung, sauamh namgeet pas ketemuan itu ku selalu lupa2 untuk memfoto, gak dlm posisin mudah on camera
BalasHapusSekarang di mana Bun? Udah gak ada kabar kah? Sayang sekali Bun. Belum terdokumentasi...
BalasHapusPosting Komentar