Saya memiliki kebiasaan unik saat masih bekerja di BSD, Tangerang. Kebiasaan unik ini berbeda yang dilakukan oleh orang-orang yang berada di sekitar lingkungan tempat saya bekerja. Yang membedakan adalah saya diberikan fasilitas Mess/ tempat tinggal di sekitar tempat kerja. Jika tempat bekerja saya di lantai datar, lantai dua dan lantai tiga, maka Mess saya berada di lantai empat. Jadi saya tak harus diburu waktu dan dibunuh oleh kemacetan.
Meski demikian sirkulasi suasana jadi tak dinamis. Baik kerja maupun tidak bekerja suasana sama. Hanya itu-itu saja. Jadi perasaan jenuh sering menghinggapi. Lantas apa yang saya lakukan saat pulang kerja atau ketika menghirup udara segar, serta melihat suasana riuh rendah kota Tangerang ini? Tidak lain adalah menikmati kota dari atas lantai lima. Lantai 5 ini merupakan loteng. Jadi saya bisa melihat lalu lalang kendaraan di jalan Pahlawan Seribu dari atas lonteng, yang saat sore dan tidak hujan, mega mendung selalu saya dapati.
Hal ini saya nikmati sembari menunggu azan Magrib. Barangkali kebanyakan masyarakat kota yang telah lama makan asam perkotaan tak bisa melihat megahnya mega mendung kala sore hari. Mereka jelas tak ada waktu untuk menikmati mega mendung, atau bagi orang Jawa menyebutnya Candi Olo dari balik kaca kantornya. Atau mereka tak memedulikan suasana merah jingga itu dari balik KRL atau transportasi umum lain.
Mereka jelas tidak bisa menikmati hal-hal yang indah-indah tersebut. Untuk sekadar nongkrong atau menikmati waktu sambil selanjar kaki saja pun barangkali tak sempat. Yang mereka nikmati selepas pulang kerja malah diburu oleh kemacetan dan ditunggu oleh keramaian di stasiun Commuter Line atau di halte. Mereka harus rela berdesakan dengan penumpang lain. Sampai di rumah tenaga dan mata sudah tak kuat lagi untuk menikmati sisa waktu istirahat. Aktivitas yang baik adalah istirahat dan tidur atau makanlah untuk memulihkan energi tubuh.
Lebih lanjut, jika para kaum urban selepas pulang kerja memanjakan dirinya dengan melepas kepenatan dengan istirahat atau main gawai di depan televisi atau tidur. Bagi saya selepas pulang bekerja memanjat gedung lantai atas dan menikmati Candi Olo atau Mega mendung dari loteng di lantai 5. Di lantai 5 inilah, biasa saya bisa menikmati dari berbagai sisi kota BSD. Saya bisa melihat bangunan-bangunan dan pertokoan di sekitar Jalan Pahlawan Seribu.
Dari atas loteng ini, saya bisa melihat Kota Jakarta dari balik awan. Kota Jakarta yang memiliki gedung-gedung pencakar langit terlihat seperti bangunan di atas langit. Seperti Desa Konoha, Desa di atas langit. Hahaha. Sementara di daerah Tangerang, BSD sendiri banyak gedung-gedung yang masih tahap pembangunan. Gedung dengan puluhan tingkat masih akan didirikan. Di atas bangunan itu, alat berat atau crane sedang berjalan berputar, beroperasi dan nampak aktif.
Sementara di sekitar jalan Pahlawan Seribu, dari atas genting. Saya melihat aktivitas kendaraan lihir mudik. Biasanya dari Jalan Pahlawan Seribu mengarah ke BSD selalu ramai padat. Namun, jalanan terpantau lancar dengan kecepatan 50 kilometer per/jam. Begitu juga arah sebaliknya yang mengarah ke Jalan Raya Serpong, terpantau ramai lancar. Jalan Raya Serpong dan Jalan Pahlawan Seribu merupakan jalan utama yang menghubungkan kawasan BSD (Bumi Serpong Damai) dan Tangerang.
Di sebelah timur saya berdiri ada pusat perbelanjaan yang biasa saya datangi, yakni BSD Plaza. Di sebelahnya ada pula Gerai Telkom dan Telkomsel. Serta di kanan-kiri dari atas loteng ini banyak bangunan-bangunan pertokoan maupun gudang-gudang.
Tidak itu saja, saya memiliki keinginan kenapa jalan yang selalu ramai itu dinamakan sebagai Jalan Pahlawan Seribu? Seperti dilansir http://serpongonline.com/ disebutkan bahwa dahulu terjadi pertempuran disertai penyerbuan dari rakyat Kulon ke penjajah Belanda. Penyerbuan ini dipimpin langsung oleh salah satu tokoh dari Kulon yang bernama Ibrahim. Dari penyerbuan tersebut banyak rakyat yang bersatu dari berbagai wilayah Serang,Pandeglang menyerbu pasukan kolonial. Rakyat tersebut jumlahnya lebih dari seribu orang dan terlibat dalam penyerbuan terhadap penjajah Belanda.
“Pertempuran berdarah yang tidak seimbang, mengakibatkan banyaknya jatuh korban hingga ribuan dari pihak yang dipimpin K.H Ibrahim, dari sinilah asal muasal nama Pahlawan Seribu,” ungkap Ilham Nurudin masih sumber yang sama.
Nah, dari atas di Jalan pahlawan Seribu itulha sepulang kerja, sekaligus menunggu azan Magrib, saya biasanya mencari angin sore dengan naik ke loteng atas. Pemandangan saat memasuki azan Magrib selalu menawarkan merah merona dari langit BSD. Merahnya langit BSD selalu menjadi alasan untuk tetap merindukan kota yang memberikan banyak pelajaran dan kesabaran. Begitulah hidup.[]
Meski demikian sirkulasi suasana jadi tak dinamis. Baik kerja maupun tidak bekerja suasana sama. Hanya itu-itu saja. Jadi perasaan jenuh sering menghinggapi. Lantas apa yang saya lakukan saat pulang kerja atau ketika menghirup udara segar, serta melihat suasana riuh rendah kota Tangerang ini? Tidak lain adalah menikmati kota dari atas lantai lima. Lantai 5 ini merupakan loteng. Jadi saya bisa melihat lalu lalang kendaraan di jalan Pahlawan Seribu dari atas lonteng, yang saat sore dan tidak hujan, mega mendung selalu saya dapati.
Hal ini saya nikmati sembari menunggu azan Magrib. Barangkali kebanyakan masyarakat kota yang telah lama makan asam perkotaan tak bisa melihat megahnya mega mendung kala sore hari. Mereka jelas tak ada waktu untuk menikmati mega mendung, atau bagi orang Jawa menyebutnya Candi Olo dari balik kaca kantornya. Atau mereka tak memedulikan suasana merah jingga itu dari balik KRL atau transportasi umum lain.
Mereka jelas tidak bisa menikmati hal-hal yang indah-indah tersebut. Untuk sekadar nongkrong atau menikmati waktu sambil selanjar kaki saja pun barangkali tak sempat. Yang mereka nikmati selepas pulang kerja malah diburu oleh kemacetan dan ditunggu oleh keramaian di stasiun Commuter Line atau di halte. Mereka harus rela berdesakan dengan penumpang lain. Sampai di rumah tenaga dan mata sudah tak kuat lagi untuk menikmati sisa waktu istirahat. Aktivitas yang baik adalah istirahat dan tidur atau makanlah untuk memulihkan energi tubuh.
Lebih lanjut, jika para kaum urban selepas pulang kerja memanjakan dirinya dengan melepas kepenatan dengan istirahat atau main gawai di depan televisi atau tidur. Bagi saya selepas pulang bekerja memanjat gedung lantai atas dan menikmati Candi Olo atau Mega mendung dari loteng di lantai 5. Di lantai 5 inilah, biasa saya bisa menikmati dari berbagai sisi kota BSD. Saya bisa melihat bangunan-bangunan dan pertokoan di sekitar Jalan Pahlawan Seribu.
Dari atas loteng ini, saya bisa melihat Kota Jakarta dari balik awan. Kota Jakarta yang memiliki gedung-gedung pencakar langit terlihat seperti bangunan di atas langit. Seperti Desa Konoha, Desa di atas langit. Hahaha. Sementara di daerah Tangerang, BSD sendiri banyak gedung-gedung yang masih tahap pembangunan. Gedung dengan puluhan tingkat masih akan didirikan. Di atas bangunan itu, alat berat atau crane sedang berjalan berputar, beroperasi dan nampak aktif.
Sementara di sekitar jalan Pahlawan Seribu, dari atas genting. Saya melihat aktivitas kendaraan lihir mudik. Biasanya dari Jalan Pahlawan Seribu mengarah ke BSD selalu ramai padat. Namun, jalanan terpantau lancar dengan kecepatan 50 kilometer per/jam. Begitu juga arah sebaliknya yang mengarah ke Jalan Raya Serpong, terpantau ramai lancar. Jalan Raya Serpong dan Jalan Pahlawan Seribu merupakan jalan utama yang menghubungkan kawasan BSD (Bumi Serpong Damai) dan Tangerang.
Di sebelah timur saya berdiri ada pusat perbelanjaan yang biasa saya datangi, yakni BSD Plaza. Di sebelahnya ada pula Gerai Telkom dan Telkomsel. Serta di kanan-kiri dari atas loteng ini banyak bangunan-bangunan pertokoan maupun gudang-gudang.
Tidak itu saja, saya memiliki keinginan kenapa jalan yang selalu ramai itu dinamakan sebagai Jalan Pahlawan Seribu? Seperti dilansir http://serpongonline.com/ disebutkan bahwa dahulu terjadi pertempuran disertai penyerbuan dari rakyat Kulon ke penjajah Belanda. Penyerbuan ini dipimpin langsung oleh salah satu tokoh dari Kulon yang bernama Ibrahim. Dari penyerbuan tersebut banyak rakyat yang bersatu dari berbagai wilayah Serang,Pandeglang menyerbu pasukan kolonial. Rakyat tersebut jumlahnya lebih dari seribu orang dan terlibat dalam penyerbuan terhadap penjajah Belanda.
“Pertempuran berdarah yang tidak seimbang, mengakibatkan banyaknya jatuh korban hingga ribuan dari pihak yang dipimpin K.H Ibrahim, dari sinilah asal muasal nama Pahlawan Seribu,” ungkap Ilham Nurudin masih sumber yang sama.
Nah, dari atas di Jalan pahlawan Seribu itulha sepulang kerja, sekaligus menunggu azan Magrib, saya biasanya mencari angin sore dengan naik ke loteng atas. Pemandangan saat memasuki azan Magrib selalu menawarkan merah merona dari langit BSD. Merahnya langit BSD selalu menjadi alasan untuk tetap merindukan kota yang memberikan banyak pelajaran dan kesabaran. Begitulah hidup.[]
Posting Komentar