Selepas pulang dari Kediri kemarin, badan serasa lemas. Kurang tidur. Vitamin dan cairan pun seakan habis ludes dilalap si jago merah, dibakar aktivitas perjalanan panjang. Hari ini lebih tepatnya adalah hari untuk menggantikan hari kemarin yang habis dijalanan. Tidak ada aktivitas lain selain memanjakan tulang belulang di atas ranjang. Badan yang dari hari ke hari semakin rapuh untuk menjalani kehidupan yang keras perlulah sesekali mendekam di jeruji kamar, tidak lebih untuk menikmati ke-per-mojok-an.
Orang Jawa, ketika mendengar istilah mojok tentu mengarah ke hal negatif. Tidak lebih aktivitas dua orang lain senyawa, se-kelamin, atawa malah beda muatan setrum. Singkatnya bukan muhrim-nya. Mojok bukan sekedar mojok. Mojok bukan hanya aktivitas pasif, apalagi negatif. Apalagi mojok yang mengumbar syahwat di sembarang tempat. Mojok ini adalah pekerjaan produktif. Menikmati portal yang lagi naik pita, eh, maksudnya, lagi naik daun. Situs web yang lagi moncer dengan tulisan-tulisannya yang cerdas, kritis dan sedikit ada unsur humoris.
Situs Website yang baru saja meluncurkan buku dengan cover merah ini memang menarik. Bukan sedekar mojok yang saya sebutkan di atas. Bukan pula mojok di tempat gelap maupun sepi. Karena para kontributor portal Mojok.co adalah para penggemar jomblo sejati. Oleh karena, jangan sebut Agus Mulyadi ketika bicara tentang jomblo. Agus--begitu nama depannya--adalah seorang jones, (keren, kayak nama orang Inggris), jomblo ngenes sejati. Jangan bicara cinta ketika tak kunjung menemukan cinta, atau lebih menyakitkan lagi ditolak oleh seorang gadis. Mas Arman Dani, maaf aku tidak sebagai penggemarmu, follower-mu tentang cinta biarkan waktu yang menjawab.
Kembali soal buku, kesuksesan situs Mojok.co yang pertama diterbitkan secara massal untuk para mojok o (sebutan saya sendiri) yang berjudul Surat Terbuka Kepada Pemilih Jokowi Sedunia ini bikin cerdas secerdas goresannya Edi AH Iyubenu sebagai orang madura dengan kelucuan-kelucuannya. Ketika BJ. Habibie sedang melakukan lawatannya ke pulau garam itu, ada puluhan umbul-umbul menjulang tinggi. Sebagai Menristek-saat itu--BJ. Habibie bertanya kepada panitia soal tinggi umbul-umbul itu.
Bukan orang Madura kalau tidak menghadirkan gelak tawa. "Berapa itu tingginya?" Tanyaku Habibie.
Orang tersebut langsung mengambil meteran dan memanjat bambu umbul-umbul. "Akan saya ukur tingginya, Pak."
Sebagai orang pandai, yang bahkan mampu membuat pesawat terbang. Habibie melihat tingkah konyol orang Madura itu tersenyum. "Bapak ini kok repot. Di rubuhkan dulu saja kan ya bisa, nggak usah dipanjat."
Bukan orang Madura kalau tidak lugu tapi lucu. Seketika orang Madura itu tertawa. "Sampeyan ini bagaimana? Kalau dirubuhkan itu jadinya panjang, bukan tinggi lagi."
Membaca tulisan Edi ini membuatku tersenyum. Terlalu munafik apabila ada cerita dari Madura bila tidak ada simbol suka dengan bicaranya orang Madura tersebut.
Buku Mojok memang tepat untuk aktivitas mojok meski tidak pasangan sekalipun. Jangan punya pikiran negatif, loh! Mojok dengan menikmati cemilan tulisan-tulisan para penghuni situs yang lagi naik trafik-nya tersebut membuat sedikit cerdas tak beraturan. Pasalnya, tulisan-tulisan atau ide-ide yang digarap hanya untuk serang-menyerang komplotan kontributor-nya sendiri. Tulisannya sederhana, subjek yang dibahas bukan skala nasional. Maksudnya, hanya hujat-hujatan antara teman sendiri. Misal soal pernikahan sejenis di Ameriki, antara Eddward S Kennedy dengan Rahmat Hidayat.
Sekali lagi, tulisan mojok.co dalam buku yang berjudul Surat Terbuka Kepada Pemilih Jokowi Sedunia ini menarik. Setiap fragmen yang disajikan tidak ada garingnya. Selalu ada yang sulit ditolak penggemarnya. Meski sesekali tulisan yang dimuat mengandung unsur polemik di media sosial. Tulisan atau buku yang secara umum lugas dan jenaka, bahkan sarkastis--begitu kata Akhmad Sahal Pengurus Nahdlatul Ulama cabang Amerika Serikat di endorsement.
Maka, buku ini saya terima dengan tangan terbuka sebagai teman mojok atau menyepi di kamar kecil nan berantakan, semacam kapal pecah. Kiranya, sebagai tulisan yang mengandung kebaikan kepada dan para pembaca. Oleh karena itu, saya terima dan semoga saja dengan adanya buku mojok ini saya terinspirasi untuk mojok semojok-mojoknya, bukan sesingkat-singkatnya, ya Pak Tua Kepala Suku Puthut EA. Saya kutip kalam pengantar di rahasia kritikan. "Sekalipun sederhana, bolehlah kami berharap Mojok bisa tumbuh bersama semua elemen masyarakat sipil di dalam menegakkan keadilan dan martabat kemanusiaan. Kami memang nakal. Kadang pedas. Tapi kami ingin terus bergerak untuk kebaikan." Sekali lagi, seperti jargon-nya Agak Nakal, Banyak Akal. Yang hanya sekedar mojok yang tidak memiliki keresahan para pembacanya nakal tapi cerdas yang progresif. Semoga.
TM, 39-9-'15
Orang Jawa, ketika mendengar istilah mojok tentu mengarah ke hal negatif. Tidak lebih aktivitas dua orang lain senyawa, se-kelamin, atawa malah beda muatan setrum. Singkatnya bukan muhrim-nya. Mojok bukan sekedar mojok. Mojok bukan hanya aktivitas pasif, apalagi negatif. Apalagi mojok yang mengumbar syahwat di sembarang tempat. Mojok ini adalah pekerjaan produktif. Menikmati portal yang lagi naik pita, eh, maksudnya, lagi naik daun. Situs web yang lagi moncer dengan tulisan-tulisannya yang cerdas, kritis dan sedikit ada unsur humoris.
Situs Website yang baru saja meluncurkan buku dengan cover merah ini memang menarik. Bukan sedekar mojok yang saya sebutkan di atas. Bukan pula mojok di tempat gelap maupun sepi. Karena para kontributor portal Mojok.co adalah para penggemar jomblo sejati. Oleh karena, jangan sebut Agus Mulyadi ketika bicara tentang jomblo. Agus--begitu nama depannya--adalah seorang jones, (keren, kayak nama orang Inggris), jomblo ngenes sejati. Jangan bicara cinta ketika tak kunjung menemukan cinta, atau lebih menyakitkan lagi ditolak oleh seorang gadis. Mas Arman Dani, maaf aku tidak sebagai penggemarmu, follower-mu tentang cinta biarkan waktu yang menjawab.
Kembali soal buku, kesuksesan situs Mojok.co yang pertama diterbitkan secara massal untuk para mojok o (sebutan saya sendiri) yang berjudul Surat Terbuka Kepada Pemilih Jokowi Sedunia ini bikin cerdas secerdas goresannya Edi AH Iyubenu sebagai orang madura dengan kelucuan-kelucuannya. Ketika BJ. Habibie sedang melakukan lawatannya ke pulau garam itu, ada puluhan umbul-umbul menjulang tinggi. Sebagai Menristek-saat itu--BJ. Habibie bertanya kepada panitia soal tinggi umbul-umbul itu.
Bukan orang Madura kalau tidak menghadirkan gelak tawa. "Berapa itu tingginya?" Tanyaku Habibie.
Orang tersebut langsung mengambil meteran dan memanjat bambu umbul-umbul. "Akan saya ukur tingginya, Pak."
Sebagai orang pandai, yang bahkan mampu membuat pesawat terbang. Habibie melihat tingkah konyol orang Madura itu tersenyum. "Bapak ini kok repot. Di rubuhkan dulu saja kan ya bisa, nggak usah dipanjat."
Bukan orang Madura kalau tidak lugu tapi lucu. Seketika orang Madura itu tertawa. "Sampeyan ini bagaimana? Kalau dirubuhkan itu jadinya panjang, bukan tinggi lagi."
Membaca tulisan Edi ini membuatku tersenyum. Terlalu munafik apabila ada cerita dari Madura bila tidak ada simbol suka dengan bicaranya orang Madura tersebut.
Buku Mojok memang tepat untuk aktivitas mojok meski tidak pasangan sekalipun. Jangan punya pikiran negatif, loh! Mojok dengan menikmati cemilan tulisan-tulisan para penghuni situs yang lagi naik trafik-nya tersebut membuat sedikit cerdas tak beraturan. Pasalnya, tulisan-tulisan atau ide-ide yang digarap hanya untuk serang-menyerang komplotan kontributor-nya sendiri. Tulisannya sederhana, subjek yang dibahas bukan skala nasional. Maksudnya, hanya hujat-hujatan antara teman sendiri. Misal soal pernikahan sejenis di Ameriki, antara Eddward S Kennedy dengan Rahmat Hidayat.
Sekali lagi, tulisan mojok.co dalam buku yang berjudul Surat Terbuka Kepada Pemilih Jokowi Sedunia ini menarik. Setiap fragmen yang disajikan tidak ada garingnya. Selalu ada yang sulit ditolak penggemarnya. Meski sesekali tulisan yang dimuat mengandung unsur polemik di media sosial. Tulisan atau buku yang secara umum lugas dan jenaka, bahkan sarkastis--begitu kata Akhmad Sahal Pengurus Nahdlatul Ulama cabang Amerika Serikat di endorsement.
Maka, buku ini saya terima dengan tangan terbuka sebagai teman mojok atau menyepi di kamar kecil nan berantakan, semacam kapal pecah. Kiranya, sebagai tulisan yang mengandung kebaikan kepada dan para pembaca. Oleh karena itu, saya terima dan semoga saja dengan adanya buku mojok ini saya terinspirasi untuk mojok semojok-mojoknya, bukan sesingkat-singkatnya, ya Pak Tua Kepala Suku Puthut EA. Saya kutip kalam pengantar di rahasia kritikan. "Sekalipun sederhana, bolehlah kami berharap Mojok bisa tumbuh bersama semua elemen masyarakat sipil di dalam menegakkan keadilan dan martabat kemanusiaan. Kami memang nakal. Kadang pedas. Tapi kami ingin terus bergerak untuk kebaikan." Sekali lagi, seperti jargon-nya Agak Nakal, Banyak Akal. Yang hanya sekedar mojok yang tidak memiliki keresahan para pembacanya nakal tapi cerdas yang progresif. Semoga.
TM, 39-9-'15
Posting Komentar