Di era yang semakin tidak menentu ini, banyak orang yang kehilangan arah. Mereka hanya memikirkan yang tampak saja. Mempercantik bagian luar saja. Artinya, hanya memoles fisik; entah fisik jasmani maupun non jasmani. Baginya, yang fisik adalah nyata. Nyata di depan mata. Maka dari itu, kenyataan yang nyata itu yang perlu dinikmati, diagung-agungkan, dibangga-banggakan, dipamer-pamerkan. Itu merupakan kecongkakan hati yang agung.
Kecongkakan ini yang membuat orang, jika orang tersebut sedang menapaki statistik kehidupan, dan sedang dalam grafik menurun, mereka akan menghujat dan memaki diriya sendiri. Pun sering mengeluh dengan keadaan yang sedang menimpanya. Intinya semua serba tidak sesuai dengan ekspektasi dengan perkiraan dalam dirinya. Ujung-ujungnya, mereka akan marah-marah sendiri. Mengeluarkan nada sinis maupun ujaran yang mengandung hal-hal negatif. Sampai-sampai mereka melakukan hal yang sangat merugikan dirinya sendiri, mencoba melakukan bunuh diri. Suatu yang sangat tidak mendidik bagi dirinya sendiri maupun orang lain.
Coba lihat di dunia maya, meski tidak kasat mata, tetapi dunia maya ini adalah tempat berkumpulnya, berkongkownya, berdiskusi sampai tempat menghujat diri sendiri ada di sini. Kita akan menjumpai banyak pengguna layanan media sosial ini dengan mengeluh. Bahwa "Tuhan tidak adil", sedang galau, hingga lebih ekstrem, mereka mempost akan bunuh diri. Inilah goncangan pribadi yang tidak layak ditampilkan. Sekalipun itu tidak di dunia nyata.
Di dunia nyata pun, tidak sedikit, dan hampir semua manusia memiliki sifat tidak gampang puas. Artinya, selalu saja ingin, ingin dan selalu menginginkan lebih dari ini. (Kenapa saya sebut ini?) Ini di sini, kepunyaan, kemampuan dan rezeki yang dipunyai selalu saja kurang, kurang dan kurang. Mereka selalu melihat ke atas daripada melihat ke bawah. Itulah yang selalu ditampilkan setiap saat.
Jika ada produk Hape baru, misalnya, seseorang--termasuk saya--mempunyai kemauan berlebih. Ingin memiliki HP baru itu. Ingin mengupgrade perangkat komunikasi itu. Padahal alat komunikasi yang ada di tangan masih berfungsi dengan normal. Tetapi rasa ingin menguasai, ingin memiliki yang dominan ini yang ingin menguasai semuanya. Sekiranya betul apa yang dikatakan oleh KH. Anwar Zahid dikesempatan pengajiannya. Bila manusia itu ingin menguasai semuanya. Termasuk bumi ingin akan dikuasai. Ingin dimilikinya segalanya.
Oleh karena itu, manusia dengan sifat yang sedemikian rupa, ia biasanya sulit untuk bersyukur. Saking ambisinya untuk menguasai dunia, mereka lupa dengan kemampuan yang dimiliki. Hal tersebut sangat tidak representatif terhadap kemampuan secara finansial maupun secara kehidupan.
Misal, ketika ia sedang menjalani kehidupan. Mereka lebih banyak mengeluh daripada bekerja keras dalam menghidupi keluarganya. Ia selalu saja melontarkan perkataan ketidakkepercayaan maupun ketidakadilan memihak dengannya. Jika kita mendengarnya, tentu kita akan merasa risih dengan “criwis-criwisan” mereka.
Ada banyak kisah di sekitaran kita atau kita juga sering menjadi konsultan dari kehidupan orang lain. Intinya kehidupan ini tampak seperti barisan masalah. Tidak ada perasaan bahagia yang menentramkan jiwa. Yang ada hanya hati yang galau dan ketidakkepastian hidup. Sekalipun ada rasa kebungahan hati itu hanya sebentar singgah di dirinya. Selebihnya selalu tampak murung, selalu tidak menampakkan wajahnya cerah dan terasing dari lingkungannya.
Jika merujuk dari “criwisan”, M Husnaini menilai orang seperti ini merupakan manusia tukang sambat. Tukang mengeluh. Sekali lagi, M Husnaini dalam buku Keadilan Tuhan Daam Tulisan orang seperti ini adalah masuk dalam kategori orang tidak bersyukur atas karunia dari Tuhan yang Maha Besar. Jika kita mendengar mulutnya berbusa, dan selalu sambat dengan mengungkapkan suasana hati yang tidak mengenakkan. Tengok saja umpatan-umpatan murahan, sekali lagi, Facebook, Twitter serta media sosial yang lain. Ungkapan yang sering kita temui, “Panik, panik, panik!”, “galau” “Aku ingin mati saja!”, baru kehilangan uang seratus ribu saja, ia sudah berani mengumpat, “Tuhan tidak adil”.
Sungguh menyedihkan jiwa dunia yang penuh suka duka ini, dianggap bahwa kehidupannya penuh dengan duka. Kita mafhum bahwa orang yang akan naik derajat akan di coba. Permasalahan yang ada di kehidupannya tersebut yang mengantarkan ke grafik derajat satu tingkat. Jika dalam tahap ujian tersebut kita mengeluh saja, itu artinya ia telah turun satu tingkat dan stagnan dalam kelulusan hidup. Lebih jauh, M. Husnaini menilai, orang seperti ini sekalipun diberi rezeki dan karunia tidak menjadi sebuah kenikmatan yang patut disyukuri.
Jalaluddin el Rumi dalam serpihan puisinya yang ditafsirkan oleh Haidar Bagir dalam buku yang berjudul Belajar Hidup dari Rumi menuliskan "Beban adalah pondasi kerehatan, kepahitan adalah pembuka jalan kenikmatan," Jalaluddin Rumi. Tuhan telah mengingatkan kepada kita semua, bahwa Tuhan tidak menguji manusia di luar kemampuan manusia itu sendirinya. Artinya, jika manusia ingin menapaki “klasemen” dalam grafik kehidupan satu tingkat, poleslah sebuah dinamika kepahitan hidup ini menjadi sebuah warna dan jalan menuju kenikmatan menjalani hidup. Seperti Puisi Jalaluddin el-Rumi di atas. Sebuah kepahitan, sebuah perasaan yang tidak menentu, sebuah keadaan yang serba tidak mungkin menjadi sebuah pembuka jalan menuju gerbang kenikmatan yang tiada tara.
Jika manusia memang merasa beban dalam kehidupan dengan ekspektasi yang berlebihan, bolehlah beristirahat dulu, dan melihat orang yang ada di bawahnya. Jamak orang mengatakan bahwa di bawah langit masih ada langit. Artinya rezeki dan karunia Tuhan ini adalah sebuah kenikmatan, dan sambil rehat sejenak (dan) sambil menikmati, diperlukan intropeksi diri sebagai kapasitas manusia dengan level yang ditapakinya.[]
Kecongkakan ini yang membuat orang, jika orang tersebut sedang menapaki statistik kehidupan, dan sedang dalam grafik menurun, mereka akan menghujat dan memaki diriya sendiri. Pun sering mengeluh dengan keadaan yang sedang menimpanya. Intinya semua serba tidak sesuai dengan ekspektasi dengan perkiraan dalam dirinya. Ujung-ujungnya, mereka akan marah-marah sendiri. Mengeluarkan nada sinis maupun ujaran yang mengandung hal-hal negatif. Sampai-sampai mereka melakukan hal yang sangat merugikan dirinya sendiri, mencoba melakukan bunuh diri. Suatu yang sangat tidak mendidik bagi dirinya sendiri maupun orang lain.
Coba lihat di dunia maya, meski tidak kasat mata, tetapi dunia maya ini adalah tempat berkumpulnya, berkongkownya, berdiskusi sampai tempat menghujat diri sendiri ada di sini. Kita akan menjumpai banyak pengguna layanan media sosial ini dengan mengeluh. Bahwa "Tuhan tidak adil", sedang galau, hingga lebih ekstrem, mereka mempost akan bunuh diri. Inilah goncangan pribadi yang tidak layak ditampilkan. Sekalipun itu tidak di dunia nyata.
Di dunia nyata pun, tidak sedikit, dan hampir semua manusia memiliki sifat tidak gampang puas. Artinya, selalu saja ingin, ingin dan selalu menginginkan lebih dari ini. (Kenapa saya sebut ini?) Ini di sini, kepunyaan, kemampuan dan rezeki yang dipunyai selalu saja kurang, kurang dan kurang. Mereka selalu melihat ke atas daripada melihat ke bawah. Itulah yang selalu ditampilkan setiap saat.
Jika ada produk Hape baru, misalnya, seseorang--termasuk saya--mempunyai kemauan berlebih. Ingin memiliki HP baru itu. Ingin mengupgrade perangkat komunikasi itu. Padahal alat komunikasi yang ada di tangan masih berfungsi dengan normal. Tetapi rasa ingin menguasai, ingin memiliki yang dominan ini yang ingin menguasai semuanya. Sekiranya betul apa yang dikatakan oleh KH. Anwar Zahid dikesempatan pengajiannya. Bila manusia itu ingin menguasai semuanya. Termasuk bumi ingin akan dikuasai. Ingin dimilikinya segalanya.
Oleh karena itu, manusia dengan sifat yang sedemikian rupa, ia biasanya sulit untuk bersyukur. Saking ambisinya untuk menguasai dunia, mereka lupa dengan kemampuan yang dimiliki. Hal tersebut sangat tidak representatif terhadap kemampuan secara finansial maupun secara kehidupan.
Misal, ketika ia sedang menjalani kehidupan. Mereka lebih banyak mengeluh daripada bekerja keras dalam menghidupi keluarganya. Ia selalu saja melontarkan perkataan ketidakkepercayaan maupun ketidakadilan memihak dengannya. Jika kita mendengarnya, tentu kita akan merasa risih dengan “criwis-criwisan” mereka.
Ada banyak kisah di sekitaran kita atau kita juga sering menjadi konsultan dari kehidupan orang lain. Intinya kehidupan ini tampak seperti barisan masalah. Tidak ada perasaan bahagia yang menentramkan jiwa. Yang ada hanya hati yang galau dan ketidakkepastian hidup. Sekalipun ada rasa kebungahan hati itu hanya sebentar singgah di dirinya. Selebihnya selalu tampak murung, selalu tidak menampakkan wajahnya cerah dan terasing dari lingkungannya.
Jika merujuk dari “criwisan”, M Husnaini menilai orang seperti ini merupakan manusia tukang sambat. Tukang mengeluh. Sekali lagi, M Husnaini dalam buku Keadilan Tuhan Daam Tulisan orang seperti ini adalah masuk dalam kategori orang tidak bersyukur atas karunia dari Tuhan yang Maha Besar. Jika kita mendengar mulutnya berbusa, dan selalu sambat dengan mengungkapkan suasana hati yang tidak mengenakkan. Tengok saja umpatan-umpatan murahan, sekali lagi, Facebook, Twitter serta media sosial yang lain. Ungkapan yang sering kita temui, “Panik, panik, panik!”, “galau” “Aku ingin mati saja!”, baru kehilangan uang seratus ribu saja, ia sudah berani mengumpat, “Tuhan tidak adil”.
Sungguh menyedihkan jiwa dunia yang penuh suka duka ini, dianggap bahwa kehidupannya penuh dengan duka. Kita mafhum bahwa orang yang akan naik derajat akan di coba. Permasalahan yang ada di kehidupannya tersebut yang mengantarkan ke grafik derajat satu tingkat. Jika dalam tahap ujian tersebut kita mengeluh saja, itu artinya ia telah turun satu tingkat dan stagnan dalam kelulusan hidup. Lebih jauh, M. Husnaini menilai, orang seperti ini sekalipun diberi rezeki dan karunia tidak menjadi sebuah kenikmatan yang patut disyukuri.
Jalaluddin el Rumi dalam serpihan puisinya yang ditafsirkan oleh Haidar Bagir dalam buku yang berjudul Belajar Hidup dari Rumi menuliskan "Beban adalah pondasi kerehatan, kepahitan adalah pembuka jalan kenikmatan," Jalaluddin Rumi. Tuhan telah mengingatkan kepada kita semua, bahwa Tuhan tidak menguji manusia di luar kemampuan manusia itu sendirinya. Artinya, jika manusia ingin menapaki “klasemen” dalam grafik kehidupan satu tingkat, poleslah sebuah dinamika kepahitan hidup ini menjadi sebuah warna dan jalan menuju kenikmatan menjalani hidup. Seperti Puisi Jalaluddin el-Rumi di atas. Sebuah kepahitan, sebuah perasaan yang tidak menentu, sebuah keadaan yang serba tidak mungkin menjadi sebuah pembuka jalan menuju gerbang kenikmatan yang tiada tara.
Jika manusia memang merasa beban dalam kehidupan dengan ekspektasi yang berlebihan, bolehlah beristirahat dulu, dan melihat orang yang ada di bawahnya. Jamak orang mengatakan bahwa di bawah langit masih ada langit. Artinya rezeki dan karunia Tuhan ini adalah sebuah kenikmatan, dan sambil rehat sejenak (dan) sambil menikmati, diperlukan intropeksi diri sebagai kapasitas manusia dengan level yang ditapakinya.[]
tulisan bagus, tp hurufnya bikin pusing
BalasHapusTerimakasih bu Agustina, hurufnya sudah saya edit...
BalasHapusPosting Komentar