Saat sore datang menyapa, aktivitas paling enak adalah mengantarkan sang surya kembali ke peraduaan dengan secangkir kopi atau teh hangat dan aneka cemilan di atas meja. Namun saat itu, di medio 2013, saya bersama teman-teman keliling kota Kediri, sembari menikmati ramainya motor cross yang berada di sekita Brigrif Kediri.
Awalnya ingin menikmati serunya balapan jet darat, namun yang kami dapat hanya sirkuit kosong tanpa ada keseruan para pembalap. Kami tak membuang gerutu dan tetap menikmati sore dengan kesenangan. Namun kesenengan dan keseruan itu kami diciptakan sendiri dengan menaiki tangga kaki Bukit Maskumambang.
Untuk menuju di puncak Bukit Maskumambang, kami lewat gapura sisi barat yang berdekatan dengan Goa Selomangkleng dan Gunung Klotok.
Kami masuk gapura. Di awal anak tangga, suara “Ayo balapan naik tangga ini!” ajak Ridwan itu memulai perjalanan kami. Tidak ada aba-aba untuk memulai kami berenam berlari. Tak ada batas di mana kami harus berhenti. Tak ada pengakuan di antara kami, mana yang paling cepat dan paling terdepan sampai di ujung bukit.
Yang kami lakukan adalah menciptakan keseruan dan mengalahkan ratusan anak tangga itu sendiri. Bahwa seberapa berat menaiki anak tangga kehidupan, pasti kita akan sampai di atas puncak kejayaan. Itu moto kami berenam di tengah-tengah perjuangan untuk sampai di puncak bukit.
Meski tak menemui kendala saat naik bukit dengan menapaki anak tangga, namun nafas kami sempat kembang kempis. Jika kalian mendaki Bukit Maskumambang, harus menyiapkan tenaga dan kesabaran. Sebab, untuk sampai di puncak bukit kita membutuhkan waktu kurang lebih 30 menit. Di jalur anak tangga bawah banyak pohon rimbun tumbuh di sini. Tetapi berbeda saat kita sampai di puncak, semakin tinggi anak tangga semakin jarang tumbuhan/ pohon tumbuh.
Bukit Maskumambang ini terletak di ujung kaki timur Gunung Wilis dan berdiri satu jalur dengan Gunung Klotok. Gunung Klotok dahulu dibuat sebagai pemakaman Cina, namun akhirnya di pindah ke Lebak. Di kaki Bukit Maskumambang juga ada bekas makam, jika dilihat ada sisa-sisa pemakaman orang Cina.
Bukit Maskumambang memiliki ketinggian sekitar 300 mdpl dan letaknya berhadapan dengan Gunung Klotok. Bukit Maskumambang berada di ujung barat Kediri, tepatnya di Dusun Waung, Desa sukarame, Kecamatan Mojoroto, Kediri. Sampai di ujung bukit, kami menikmati pemandangan yang indah dengan background pemandangan Kota Kediri, serta Gunung Klotok di sisi Utara.
Di sisi selatan ada pohon besar dan rindang. Di bawah pohon itulah ada makam yang dikeramatkan oleh warga.
Sejarah Boncolono Si ‘Robin Hood’ Nusantara
Jika di Inggris ada kisah Robin Hood, pencuri yang membagi-bagikan hasil curiannya kepada rakyat kecil. Di Nusantara, tepatnya di Kediri juga memiliki tokoh pencuri yang cukup terkenal dengan sifatnya yang dermawan. Ia membagi-bagikan hasil curiannya pada warga miskin.
Syahdan, dahulu pada zaman kolonial Belanda menjajah Indonesia, warga Indonesia mengalami kehidupan yang tidak enak. Bangsa Indonesia, khususnya warga Kediri mengalami kesengsaraan oleh tindak semena-mena bangsa Kulit Putih itu. Belanda dengan tindakan yang tidak manusiawi, memungut pajak dari masyarakat kecil. Melihat hal ini membuat Robin Hood Nusantara ini melawan kesewang-wenangan dengan mencuri konglomerat asal Belanda.
Dengan bantuan Tumenggung Mojoroto, Tumenggung Poncolono dan para muridnya yanag sakti-sakti, mereka ganti merampok meneer-meneer Belanda yang kaya rasa. Hasil rampokannya itu mereka bagikan pada rakyat Kediri. Ia adalah Mbah Boncolono. Mbah Boncolono melakukan mirip Robin Hood itu secara berulang-ulang sehingga Meneer-meneer Belanda itu geram. Sementara warga masyarakat Kediri mengagumi sikap Mbah Boncolono yang dermawan itu.
Bangsa Belanda tidak tinggal diam dengan kelakuan Mbah Boncolono itu. Ia ingin menangkap Mbah Boncolono. Namun usaha Meneer-meneer itu sering berujung kegagalan. Namun Mbah Boncolono tetaplah manusia biasa. Ia pernah tertangkap dalam kepungan yang dilakukan oleh tentara Belanda.
Ia juga pernah dibunuh, namun hidup kembali. Mbah Boncolono memiliki aji-aji yang dahulu cukup terkenal. Setelah menyentuh tanah, Mbah Boncolono hidup kembali, yang dikenal denga ajian Pancasona yang juga dimiliki Eyang Djojodigan di Blitar.
Karena tak ingin terus menemui kegagalan, Bangsa Belanda menggunakan siasaat politik. Siasat itu adalah Politic Money. Siapa pun yang menemukan Mbah Boncolono, mereka akan diberi uang dengan jumlah yang sangat banyak. Dengan iming-iming uang itulah, warga masyarakat Kediri juga ikut memburu Mbah Boncolono.
Sayembara itupun berdampak pada penemuan dan mengetahui cara membunuh Mbah Boncolono. Kelemahannya diketahui oleh Belanda. Kelamahan Mbah Boncolono itu adalah tubuhnya dipenggal dan dipisah. Kemudian oleh bangsa Belanda mengubur Badannya di Bukit Maskumambang, sedangkan kepalanya dikubur di Ringin Sirah, Desa Banjaran. Kedua lokasi itu terpisah oleh sungai Brantas. Inilah cerita Robin Hood dari Nusantara, yang kemudian dikenal dengan kisah Maling Gentiri atau pencuri dermawan dengan ilmu sakti di tanah Kediri.
Makam Boncolono di Bukit Maskumambang
Itulah sedikit cerita tentang Mbah Boncolono, pencuri sakti dari telatah Kediri. Seperti yang saya tulis di atas. Badannya dimakamkan di bukit Maskumambang. Nah, saat saya di atas Bukit saya menjumpai makam Mbah Boncolono.
Di makam ini sangat rindang. Di atas makam ada pohon yang saat besar, sehingga makamnya dilindungi dari sinar matahari. Selain itu, makamnya juga dikelilingi oleh tembok, sebagai penyangga tembok-tembok yang sudah mulai rapuh dan lapuk dan gapura masuk.
Di makam Bukit Maskumbang ini ada tiga makam yang dikeramatkan. Ketiga makam itu adalah makam seperjuangan Mbah Boncolono semasa melawan Belanda. Selain makam Mbah Boncolono, ada juga makam Tumenggung Mojoroto, Tumenggung Poncolono yang kuburannya lumayan panjang dan besar.
Makam ini sering diziarahi oleh masyarakat Kediri. Karena lokasinya di bawah pepohonan yang rindang, ini menambah sejuk, sepi, tenang sehingga menambah khitmad saat berziarah atau menyepi.
Kini anak tangga untuk mencapai puncak Bukit Maskumambang atau berziarah di makam Mbah Boncolono telah diperbaiki. Pemerintah Kediri sudah melakukan pembangunan jalur anak tangga dan melakukan renovasi pada makam Mbah Boncolono. Hal tersebut dilakukan untuk mempermudah masyarakat untuk berziarah ke makam Maling Getiri, yang pernah berjasa pada rakyat Kediri.[]
Awalnya ingin menikmati serunya balapan jet darat, namun yang kami dapat hanya sirkuit kosong tanpa ada keseruan para pembalap. Kami tak membuang gerutu dan tetap menikmati sore dengan kesenangan. Namun kesenengan dan keseruan itu kami diciptakan sendiri dengan menaiki tangga kaki Bukit Maskumambang.
Untuk menuju di puncak Bukit Maskumambang, kami lewat gapura sisi barat yang berdekatan dengan Goa Selomangkleng dan Gunung Klotok.
Kami masuk gapura. Di awal anak tangga, suara “Ayo balapan naik tangga ini!” ajak Ridwan itu memulai perjalanan kami. Tidak ada aba-aba untuk memulai kami berenam berlari. Tak ada batas di mana kami harus berhenti. Tak ada pengakuan di antara kami, mana yang paling cepat dan paling terdepan sampai di ujung bukit.
Yang kami lakukan adalah menciptakan keseruan dan mengalahkan ratusan anak tangga itu sendiri. Bahwa seberapa berat menaiki anak tangga kehidupan, pasti kita akan sampai di atas puncak kejayaan. Itu moto kami berenam di tengah-tengah perjuangan untuk sampai di puncak bukit.
Meski tak menemui kendala saat naik bukit dengan menapaki anak tangga, namun nafas kami sempat kembang kempis. Jika kalian mendaki Bukit Maskumambang, harus menyiapkan tenaga dan kesabaran. Sebab, untuk sampai di puncak bukit kita membutuhkan waktu kurang lebih 30 menit. Di jalur anak tangga bawah banyak pohon rimbun tumbuh di sini. Tetapi berbeda saat kita sampai di puncak, semakin tinggi anak tangga semakin jarang tumbuhan/ pohon tumbuh.
Bukit Maskumambang ini terletak di ujung kaki timur Gunung Wilis dan berdiri satu jalur dengan Gunung Klotok. Gunung Klotok dahulu dibuat sebagai pemakaman Cina, namun akhirnya di pindah ke Lebak. Di kaki Bukit Maskumambang juga ada bekas makam, jika dilihat ada sisa-sisa pemakaman orang Cina.
Bukit Maskumambang memiliki ketinggian sekitar 300 mdpl dan letaknya berhadapan dengan Gunung Klotok. Bukit Maskumambang berada di ujung barat Kediri, tepatnya di Dusun Waung, Desa sukarame, Kecamatan Mojoroto, Kediri. Sampai di ujung bukit, kami menikmati pemandangan yang indah dengan background pemandangan Kota Kediri, serta Gunung Klotok di sisi Utara.
Di sisi selatan ada pohon besar dan rindang. Di bawah pohon itulah ada makam yang dikeramatkan oleh warga.
Sejarah Boncolono Si ‘Robin Hood’ Nusantara
Jika di Inggris ada kisah Robin Hood, pencuri yang membagi-bagikan hasil curiannya kepada rakyat kecil. Di Nusantara, tepatnya di Kediri juga memiliki tokoh pencuri yang cukup terkenal dengan sifatnya yang dermawan. Ia membagi-bagikan hasil curiannya pada warga miskin.
Syahdan, dahulu pada zaman kolonial Belanda menjajah Indonesia, warga Indonesia mengalami kehidupan yang tidak enak. Bangsa Indonesia, khususnya warga Kediri mengalami kesengsaraan oleh tindak semena-mena bangsa Kulit Putih itu. Belanda dengan tindakan yang tidak manusiawi, memungut pajak dari masyarakat kecil. Melihat hal ini membuat Robin Hood Nusantara ini melawan kesewang-wenangan dengan mencuri konglomerat asal Belanda.
Dengan bantuan Tumenggung Mojoroto, Tumenggung Poncolono dan para muridnya yanag sakti-sakti, mereka ganti merampok meneer-meneer Belanda yang kaya rasa. Hasil rampokannya itu mereka bagikan pada rakyat Kediri. Ia adalah Mbah Boncolono. Mbah Boncolono melakukan mirip Robin Hood itu secara berulang-ulang sehingga Meneer-meneer Belanda itu geram. Sementara warga masyarakat Kediri mengagumi sikap Mbah Boncolono yang dermawan itu.
Bangsa Belanda tidak tinggal diam dengan kelakuan Mbah Boncolono itu. Ia ingin menangkap Mbah Boncolono. Namun usaha Meneer-meneer itu sering berujung kegagalan. Namun Mbah Boncolono tetaplah manusia biasa. Ia pernah tertangkap dalam kepungan yang dilakukan oleh tentara Belanda.
Ia juga pernah dibunuh, namun hidup kembali. Mbah Boncolono memiliki aji-aji yang dahulu cukup terkenal. Setelah menyentuh tanah, Mbah Boncolono hidup kembali, yang dikenal denga ajian Pancasona yang juga dimiliki Eyang Djojodigan di Blitar.
Karena tak ingin terus menemui kegagalan, Bangsa Belanda menggunakan siasaat politik. Siasat itu adalah Politic Money. Siapa pun yang menemukan Mbah Boncolono, mereka akan diberi uang dengan jumlah yang sangat banyak. Dengan iming-iming uang itulah, warga masyarakat Kediri juga ikut memburu Mbah Boncolono.
Sayembara itupun berdampak pada penemuan dan mengetahui cara membunuh Mbah Boncolono. Kelemahannya diketahui oleh Belanda. Kelamahan Mbah Boncolono itu adalah tubuhnya dipenggal dan dipisah. Kemudian oleh bangsa Belanda mengubur Badannya di Bukit Maskumambang, sedangkan kepalanya dikubur di Ringin Sirah, Desa Banjaran. Kedua lokasi itu terpisah oleh sungai Brantas. Inilah cerita Robin Hood dari Nusantara, yang kemudian dikenal dengan kisah Maling Gentiri atau pencuri dermawan dengan ilmu sakti di tanah Kediri.
Makam Boncolono di Bukit Maskumambang
Itulah sedikit cerita tentang Mbah Boncolono, pencuri sakti dari telatah Kediri. Seperti yang saya tulis di atas. Badannya dimakamkan di bukit Maskumambang. Nah, saat saya di atas Bukit saya menjumpai makam Mbah Boncolono.
Di makam ini sangat rindang. Di atas makam ada pohon yang saat besar, sehingga makamnya dilindungi dari sinar matahari. Selain itu, makamnya juga dikelilingi oleh tembok, sebagai penyangga tembok-tembok yang sudah mulai rapuh dan lapuk dan gapura masuk.
Di makam Bukit Maskumbang ini ada tiga makam yang dikeramatkan. Ketiga makam itu adalah makam seperjuangan Mbah Boncolono semasa melawan Belanda. Selain makam Mbah Boncolono, ada juga makam Tumenggung Mojoroto, Tumenggung Poncolono yang kuburannya lumayan panjang dan besar.
Makam ini sering diziarahi oleh masyarakat Kediri. Karena lokasinya di bawah pepohonan yang rindang, ini menambah sejuk, sepi, tenang sehingga menambah khitmad saat berziarah atau menyepi.
Kini anak tangga untuk mencapai puncak Bukit Maskumambang atau berziarah di makam Mbah Boncolono telah diperbaiki. Pemerintah Kediri sudah melakukan pembangunan jalur anak tangga dan melakukan renovasi pada makam Mbah Boncolono. Hal tersebut dilakukan untuk mempermudah masyarakat untuk berziarah ke makam Maling Getiri, yang pernah berjasa pada rakyat Kediri.[]
Wah, bisa jadi objek yang layak dikunjungi nih kalo ke Kediri. Disamping kisahnya juga menarik.
BalasHapusBetul mas, sebagai tempat berziarah juga... kalao ke kediri silakan mampir di rumah saya, Mas. Hehehe
BalasHapusSiap.. hhheee
BalasHapusSa tunggu, Mas. Siip...
BalasHapusFoto no 2 sama 3, keren bgt tuh mas, sayangnya agak mendung.
BalasHapusIya mas. Sebenarnya itu gambar saya motret burung yang ada di pucuk tangkai pohon dan saya ambil pakai mode zoom jadi zoom.
BalasHapusKayaknya seru buat eksplorasi alam bareng teman-teman. Ngomong2, di foto ketiga, mas Rokhim nya yang mana? :D
BalasHapusBetul, Mas... asik banget jalan-jalan bareng temen-temen. Sangat seru pastinya.... hehehe... Saya yang paling tinggi, Mas Hendro. 😂
BalasHapusSeberapa sering kesitu mas? Yang baju ungu?
BalasHapusBetuul mas. Dulu sering sekali. Kalao sekarang udah jarang, Mas. Masnya sekarang domisili di mana?
BalasHapusDomisili di Jogja.
BalasHapusWaaah mantaap, Mas... di lingkungan ya tepat untuk belajaar
BalasHapusIya mas. :D
BalasHapusSemanggaaat... kalo saya mah di desa mas
BalasHapusWah saya disemangatin sama orang yang baru saya kenal. Jadi terharu saya. he-he-he. Makasih ya Mas Rokhim.
BalasHapusAhh nda apa-apa mau di desa atau di kota, kan bisa sama-sama belajar. :)
Iya mas.... Sama-sama. Saling berbagi semangat. 😂
BalasHapusIya sih. Klo lingkungannya mendukung tambah keren mas...
Iya mas. Jarang2 ada yang mau nyemangatin. hehe
BalasHapusHahahaha... 🙈
BalasHapusWah malah diketawain. :D :D
BalasHapusBukan diketawain, Mas. Tapi aku jadi gak enak hati. Hahaha. Nanti kalo saya ke Jogja saya hubungi ya...
BalasHapusPemandangan hamparan luas hijau gitu, diambil dari atas, bagus banget.
BalasHapusBetul, mas. Itu ambil gambarnya juga gak sengaja. 😂
BalasHapusBoleh-boleh. Hubungi saja nanti.
BalasHapusTerima kasih, Mas. Syaaap...
BalasHapusPosting Komentar