Sebuah kata akan memiliki makna mendalam jika seseorang mampu menemukan keterkaitan. Keterkaitan antara kata dengan pengalaman eksistensialnya (kediriannya). Keterkaitan inilah yang mampu menjadikan seseorang larut, hanyut, dan merasakan keterlibatan emosi secara mendalam. Pada kondisi semacam ini, ke(diri)an bisa menyatu dan membangun sebuah makna baru.
Makna yang mampu mempengaruhi diri sendiri ini bisa kita pelajari dari mana saja. Tidak terkecuali membaca realitas kehidupan, membaca buku-buku bacaan; membaca kisah tokoh-tokoh besar. Namun di tengah tantangan kehidupan sekarang ini, membaca buku atau belajar memang menghadapi tantangan yang tidak ringan. Zaman sekarang dengan sifat cepat saji dan mental instan. Ditambah lagi, zaman digital atau IT dengan berbagai perangkat pendukung, membuat minat membaca—khususnya membaca buku cetak—menghadapi tantangan yang hebat. Di tengah tantangan zaman yang kompleks ini, belajar menjadi kebutuhan yang tidak bisa diabaikan. Belajar merupakan salah satu cara untuk menambah pengetahuan.
Selain itu, kegiatan atau tradisi belajar menjadi syarat untuk kemajuan taraf hidup seseorang. Untuk itu, kita bisa belajar kepada banyak pihak. Bisa belajar dengan ilmuwan, tokoh masyarakat, atau para ulama besar. Lantaran, mereka menjadi tokoh besar karena hasil dari perjuangan dan keseriusan belajarnya. Mereka belajar secara serius, buah dari usaha dan kerja keras yang dilakukan secara terus menerus (konstinuitas), sehingga dapat meningkatkan pengetahuan dan kapasitas dirinya. Misal, membaca buku adalah salah satu kesempatan yang sangat luas untuk mereguk hikmah dan inspirasi atau pencerahan lakon tokoh dan patut kita teladani.
Di dunia pesantren, misal, kita banyak belajar keteladanan dari seorang Kiai atau ulama. Misalnya, kita bisa belajar ke-istiqomah-annya Kiai Abdul Mujib Abbas. Kiai Mujib memberikan teladan kepada santri—juga kepada kita sekalian—mengenai istiqamah dan keteguhan. Ia istiqamah dalam beribadah. Kiai Mujib jarang sekali mengurangi jumlah rakaat saat dalam perjalanan, walau hukum Islam memperbolehkan. Kiai Mujib juga konsisten melakukan sholat berjamaah, sekalipun shalat Zuhur dan Ashar, kecuali masa-masa uzur: ketika sakit berat. Selain itu, beliau juga menanam spirit muthala’ah (belajar). Di mana pun berada dan ada kesempatan, ia menyempatkan membaca kitab kuning, sekalipun saat bepergian. Dan dapat dipastikan di dalam mobilnya terdapat kitab-kitab kuning.
Dari Kiai Mahrus Aly, kita bisa belajar tentang spiritnya berkelana menuntut ilmu. Kita juga bisa mencontoh, sekalipun seorang kiai, beliau justru berguru kepada muridnya. Kiai Mahrus Aly berguru kepada muridnya yang telah menjadi kiai. Hal ini menunjukkan serap-menyerap ilmu menandakan bahwa belajar tidak memiliki batas. Selain itu, spirit yang luar biasa juga ditunjukkan oleh ulama besar lain.
Dari KH. Bisri Musthofa kita bisa belajar dari tradisi dan bekarya dalam spirit menulisnya. Dalam spirit menuangkan ide, gagasan, serta pemikirannya, beliau mampu bertahan berjam-jam. Ratusan karya tulis berbagai bentuk sudah beliau hasilkan. Gus Mus—sapaan akrab—KH. Musthofa Bisri Rembang kelabakan menandingi tradisi dan spirit menulis ayahandanya, Gus Bisri. Dan tidak dipungkiri karya beliau yang sudah dicetak ada 276 judul buku dan semua laris diburu pembaca.
Mbah Bisri mengatakan, “Seandainya para kiai—tidak kecuali tokoh-tokoh lain—berkenaan menuangkan gagasan ide, dan pemikirannnya dalam bentuk karya tulis, tentu persebaran ide dan pemikiran mereka semakin luas. Dakwah melalui tulisan semakin penting di tengah dinamika perkembangan zaman yang semakin kompleks sekarang ini,” (hal.31).
Mereka tidak bisa mengesampingkan aspek spiritualitas dan religiulitas dalam hidup. Aspek penting, spiritualitas tidak bisa diabaikan untuk menjaga keseimbangan hidup. Mengabaikan aspek spiritual dan hanya menggunakan materi sebagai ukuran berimplikasi menjadikan pemilik sukses belum tentu mencapai kebahagian. Itu sebabnya kita sering mendengar orang yang kaya raya terjerat narkoba, pejabat korupsi, bunuh diri, dan seterusnya. Materi yang berlimpah, jabatan yang wah, dan fasilitas yang mendukung kehidupan tidak menjamin kebahagian. Energi yang terpancarkan oleh aspek spiritual mampu memberikan keseimbangan hidup kita.
Sisi hidup mereka yang dilingkupi keterbatasan menyimpan banyak makna. Mereka terus saja menebar inspirasi dan menyimpan sejuta makna. Jejak mereka tidak pernah kering untuk terus digali dan diaktualisasi. Sehingga dapat memberikan secercah kesejukan di tengah oase hidup yang gersang sekarang ini. Sederhana dan sekecil apapun kita juga bisa menggali inspirasi dan meneladani lakon hidupnya.
Buku yang ditulis oleh Ngainun Naim ini dilihat dari sampulnya terlihat seram. Kendati, buku Menipu Setan; Kita Waras di zaman Edan ini kelihatan boombastis, namun setelah membuka dan berusaha menyelesaikan membacanya sampai tuntas, dugaan seram terbantahkan. Ibarat harta karun, buku ini kaya akan makna yang tersimpan. Dan harus kita keruk atau gali. Menggali untuk mereguk hikmah dan inspirasi untuk meraih pencerahan hidup.
Buku ini isinya sederhana, sesederhana lakon hidup tokoh-tokoh yang dideskripsikannya. Di tengah zaman “edan” atau zaman sinting sekarang, buku ini mampu memberi kontribusi untuk pencerahan kehidupan manusia. Melalui kearifan dan spirit tokoh-tokohnya yang inspiratif serta kearifan lokal patut kita teladani. Selain itu, kata-kata yang tertuliskan memiliki energi transformatif yang mencerahkan—sekalipun kecil atau sesederhana apa pun. (*)
Judul Buku: Menipu Setan; Kita Waras di Zaman Edan
Penulis: Ngainun Naim
Penerbit: PT Elex Media Komputindo, Jakarta
Tebal: x+182 hlm
Cetakan: Pertama, 2015
Peresensi: Muhammad Choirur Rokhim
Makna yang mampu mempengaruhi diri sendiri ini bisa kita pelajari dari mana saja. Tidak terkecuali membaca realitas kehidupan, membaca buku-buku bacaan; membaca kisah tokoh-tokoh besar. Namun di tengah tantangan kehidupan sekarang ini, membaca buku atau belajar memang menghadapi tantangan yang tidak ringan. Zaman sekarang dengan sifat cepat saji dan mental instan. Ditambah lagi, zaman digital atau IT dengan berbagai perangkat pendukung, membuat minat membaca—khususnya membaca buku cetak—menghadapi tantangan yang hebat. Di tengah tantangan zaman yang kompleks ini, belajar menjadi kebutuhan yang tidak bisa diabaikan. Belajar merupakan salah satu cara untuk menambah pengetahuan.
Selain itu, kegiatan atau tradisi belajar menjadi syarat untuk kemajuan taraf hidup seseorang. Untuk itu, kita bisa belajar kepada banyak pihak. Bisa belajar dengan ilmuwan, tokoh masyarakat, atau para ulama besar. Lantaran, mereka menjadi tokoh besar karena hasil dari perjuangan dan keseriusan belajarnya. Mereka belajar secara serius, buah dari usaha dan kerja keras yang dilakukan secara terus menerus (konstinuitas), sehingga dapat meningkatkan pengetahuan dan kapasitas dirinya. Misal, membaca buku adalah salah satu kesempatan yang sangat luas untuk mereguk hikmah dan inspirasi atau pencerahan lakon tokoh dan patut kita teladani.
Di dunia pesantren, misal, kita banyak belajar keteladanan dari seorang Kiai atau ulama. Misalnya, kita bisa belajar ke-istiqomah-annya Kiai Abdul Mujib Abbas. Kiai Mujib memberikan teladan kepada santri—juga kepada kita sekalian—mengenai istiqamah dan keteguhan. Ia istiqamah dalam beribadah. Kiai Mujib jarang sekali mengurangi jumlah rakaat saat dalam perjalanan, walau hukum Islam memperbolehkan. Kiai Mujib juga konsisten melakukan sholat berjamaah, sekalipun shalat Zuhur dan Ashar, kecuali masa-masa uzur: ketika sakit berat. Selain itu, beliau juga menanam spirit muthala’ah (belajar). Di mana pun berada dan ada kesempatan, ia menyempatkan membaca kitab kuning, sekalipun saat bepergian. Dan dapat dipastikan di dalam mobilnya terdapat kitab-kitab kuning.
Dari Kiai Mahrus Aly, kita bisa belajar tentang spiritnya berkelana menuntut ilmu. Kita juga bisa mencontoh, sekalipun seorang kiai, beliau justru berguru kepada muridnya. Kiai Mahrus Aly berguru kepada muridnya yang telah menjadi kiai. Hal ini menunjukkan serap-menyerap ilmu menandakan bahwa belajar tidak memiliki batas. Selain itu, spirit yang luar biasa juga ditunjukkan oleh ulama besar lain.
Dari KH. Bisri Musthofa kita bisa belajar dari tradisi dan bekarya dalam spirit menulisnya. Dalam spirit menuangkan ide, gagasan, serta pemikirannya, beliau mampu bertahan berjam-jam. Ratusan karya tulis berbagai bentuk sudah beliau hasilkan. Gus Mus—sapaan akrab—KH. Musthofa Bisri Rembang kelabakan menandingi tradisi dan spirit menulis ayahandanya, Gus Bisri. Dan tidak dipungkiri karya beliau yang sudah dicetak ada 276 judul buku dan semua laris diburu pembaca.
Mbah Bisri mengatakan, “Seandainya para kiai—tidak kecuali tokoh-tokoh lain—berkenaan menuangkan gagasan ide, dan pemikirannnya dalam bentuk karya tulis, tentu persebaran ide dan pemikiran mereka semakin luas. Dakwah melalui tulisan semakin penting di tengah dinamika perkembangan zaman yang semakin kompleks sekarang ini,” (hal.31).
Mereka tidak bisa mengesampingkan aspek spiritualitas dan religiulitas dalam hidup. Aspek penting, spiritualitas tidak bisa diabaikan untuk menjaga keseimbangan hidup. Mengabaikan aspek spiritual dan hanya menggunakan materi sebagai ukuran berimplikasi menjadikan pemilik sukses belum tentu mencapai kebahagian. Itu sebabnya kita sering mendengar orang yang kaya raya terjerat narkoba, pejabat korupsi, bunuh diri, dan seterusnya. Materi yang berlimpah, jabatan yang wah, dan fasilitas yang mendukung kehidupan tidak menjamin kebahagian. Energi yang terpancarkan oleh aspek spiritual mampu memberikan keseimbangan hidup kita.
Sisi hidup mereka yang dilingkupi keterbatasan menyimpan banyak makna. Mereka terus saja menebar inspirasi dan menyimpan sejuta makna. Jejak mereka tidak pernah kering untuk terus digali dan diaktualisasi. Sehingga dapat memberikan secercah kesejukan di tengah oase hidup yang gersang sekarang ini. Sederhana dan sekecil apapun kita juga bisa menggali inspirasi dan meneladani lakon hidupnya.
Buku yang ditulis oleh Ngainun Naim ini dilihat dari sampulnya terlihat seram. Kendati, buku Menipu Setan; Kita Waras di zaman Edan ini kelihatan boombastis, namun setelah membuka dan berusaha menyelesaikan membacanya sampai tuntas, dugaan seram terbantahkan. Ibarat harta karun, buku ini kaya akan makna yang tersimpan. Dan harus kita keruk atau gali. Menggali untuk mereguk hikmah dan inspirasi untuk meraih pencerahan hidup.
Buku ini isinya sederhana, sesederhana lakon hidup tokoh-tokoh yang dideskripsikannya. Di tengah zaman “edan” atau zaman sinting sekarang, buku ini mampu memberi kontribusi untuk pencerahan kehidupan manusia. Melalui kearifan dan spirit tokoh-tokohnya yang inspiratif serta kearifan lokal patut kita teladani. Selain itu, kata-kata yang tertuliskan memiliki energi transformatif yang mencerahkan—sekalipun kecil atau sesederhana apa pun. (*)
Judul Buku: Menipu Setan; Kita Waras di Zaman Edan
Penulis: Ngainun Naim
Penerbit: PT Elex Media Komputindo, Jakarta
Tebal: x+182 hlm
Cetakan: Pertama, 2015
Peresensi: Muhammad Choirur Rokhim
Semoga terus menebar spirit inspirasi ya, Mas. Amin. Saya tunggu karya-karyamu.
BalasHapusMas Rokhim, boleh ngasih tips untuk membuat resensi sebuah buku? Apa-apa saja yang harus dimuat di dalamnya? Terima kasih.
BalasHapusMas, saya kok bingung kalau diminta tip-tip resensi. Saya otodidak, mas...
BalasHapusPosting Komentar