Selama liburan kuliah, dua tahun yang lalu, saya hampir setiap pagi menghantar Resta—adik saya pergi ke sekolah. Bisa dikatakan, saya adalah jasa antar-jemput sekolah, yang terjadwal rutin pagi dan siang. Hmmm... Sepertinya tak elok bilang jasa antarjemput. Lagi pula, dia adalah adik sendiri dan ini merupakan tanggung jawab sebagai kakak yang selayaknya membantu orangtua di rumah.
Sudah lama, saya menjadi manusia yang diharapkan berguna kepada orang lain. Yang lebih penting lagi adalah berguna—untuk tidak menyebut berbakti kepada orang terdekat. Yang tidak kalah penting sekali adalah tugas antar-jemput ini adalah wasilan yang turun dari orangtua.
Kegiatan antar-jemput ini saya kerjakan dengan penuh keikhlasan seperti halnya orangtua saya merawat saya sedari kecil hingga hari ini. Ini merupakan bentuk matarantai yang patut saya lakukan demi kelancaran dan membagi waktu saat jam-jam kerja bagi kedua orangtua waktu itu. Jam berangkat sekolah bagi Rista saat itu adalah berbeda jam masuk sekolah bagi siswa-siswi Sekolah Dasar.
Rista waktu itu—saat saya aktif antar jemput—masuk duduk di bangku Taman Kanak-kanak. Jadi waktu untuk menutut dan belajar di bangku sekolah adalah 08.30 WIB. Di jam-jam itulah saya harus tawaduk terhadap perintah orangtua saya itu. Saya harus bersedia dalam mobilisasi seorang adik saat berangkat sekolah.
Itulah kenapa saya, selama liburan semester jarang bermain atau mbolang keluar. Apalagi di waktu padat seperti jam kerja di kala pagi hari. Saya harus meluangkan waktu dan berdiam diri di rumah dan membantu orangtua. Khususnya merawat an membantu dalam menyiapkan Rista saat mau berangkat sekolah.
Singkat cerita, setiap hari kecuali hari minggu, saya diminta untuk membantu ibu. Membantu ini tidak melakukan pekerjaan dapur seperti biasa ibu memasak. Tetapi membantu di sini berbagi waktu saat adik saya—Rista siap-siap pergi ke sekolah. Yakni harus memakaikan baju, membedaki, serta mengantar-jemput sekolah.
Dalam melakukan kegiatan tersebut tidak gampang. Sebab, saya sering atau sering ditolak saat saya mengenakan bedak atau accesoris pendukung lainnya. Bahkan ia acapkali menolak saat saya mengenakan baju seragamnya dan membedaki atau meratakan bedak yang saya sapukan di antara kedua pipinya. Mungkin saja apa yang saya lakukan itu tak sesuai dengan apa yang diinginkan. Atau model sisiran rambutnya tak cocok dengan keinginannya.
Saya tak berhak mendakwa bahwa pekerjaan ini adalah pekerjaan seorang ibu. Lebih lanjut, saya tak pantas memprotes atau menolak perintah orangtua khususnya perintah ibu untuk membantu ibu menjaga dan merawat adik yang satu. Karena membantu orang tua memang sudah selayaknya menjadi tanggung jawab seorang kakak.
Selain ini merupakan wujud dan upaya dalam membahagiakan kedua orang tua, pekerjaan ini juga tergolong dalam upaya meringankan beban kerjaan kedua orang tua pula. Waktu itu, adik saya Rista ini berusia 5 tahun jalan. Ia duduk di bangku sekolah kelas TK nol besar.
Saya—menurut ibu saya sendiri—lebih cekatan dibanding adik saya yang nomor 2, Takin. Cekatan ini dalam urusan rumah tangga. Kalau adik saya ini cekatan dalam urusan pekerjaan yang mengandalkan otot. Misal bekerja di ladang atau hutan. Hal ini terbukti, ketika ibu saya membutuhkan bantu dalam membersihkan atau memandikan dan memakaikan baju adik saya di pagi hari, ia sering kali memilih dan mengarah bantuannya ke arah saya.
Entah apa yang membuat ibu, atau Rista menyuruh saya ketimbang Takin? Ya itu tadi. Bahwa saya termasuk prigel dibanding Takin. Sebab saya memang sudah terbiasa merawat dan mendadani seperti itu. Selain itu, saya juga suka mendandani dan menjaga adik.
Oleh karena itu, setelah selesai mendandani adik saya yang satu ini, saya langsung tancap gas mengantarnya pergi ke sekolah. Saya lebih suka mengantarnya mepet dengan jam masuk kelas. Karena apa? Meski tidak tak memberikan waktu bersosialisasi dengan teman-temannya sebelum masuk sekolah. Mepetnya dengan jam masuk ini memimalisir ketergantungan adik saya kepada barang-barang yang digelar di luar pagar sekolah itu.
Kenapa diantar? Kok tidak seperti anak-anak jaman dahulu. Jarak antara rumah dan sekolahnya lumayan jauh jika ditempuh jalan kaki apalagi ukuran usia anak TK. Pernah suatu hari—waktu itu—saya telat datang menjeput ternyata adik saya sudah sampai di rumah. Melihatnya dengan kondisi ngos-ngosan dan keringatnya bercucuran jatuh dari keningnya saya merasa bersalah dan sangat kasihan sekali. Pasti ia sangat kecapekan.
Jam pelajarannya mulai 08.30-11.00. Artinya di jam itu saya harus menjalankan tugas mulai tersebut. Selain itu ia Rista Sekolah Diniyah. Dan jam setengah 5 sore giliran saya jemput lagi. Selain di jam-jam sibuk di pagi hari. Di jam sore ketika senja datang menyapa pemujanya, ibu saya memanggil dan menyuruh saya menjemput saya.
“Adik e wayah e jupok (jemput), loh!” celetuknya.
Ini adalah kode di mana kode itu harus saya tunaikan segera mungkin. Jika tidak saya segerakan maka takutnya adik saya tersebut sudah jalan duluan. Oleh karena iu, pekerjaan menjemput dan mengantarkan adik saya ini adalah cara kerja manusia dalam memanusikan manusia.
Selama kuliah, belum tentu diajarkan pelajaran seperti itu. Dan ini harus saya lakukan dengan kerendahan hati. Bagaimanapun yang saya kerjakan semata-mata membantu meringankan pekerjaan orang tua, dan sebagai hiburan selama liburan kuliah ini. Ketepatan liburan semester ini tak ada gawean untuk saya. Hahaha
Tasikmadu, Trenggalek, 11 Februari 2014. Diedit ulang 09/09/2019
Sudah lama, saya menjadi manusia yang diharapkan berguna kepada orang lain. Yang lebih penting lagi adalah berguna—untuk tidak menyebut berbakti kepada orang terdekat. Yang tidak kalah penting sekali adalah tugas antar-jemput ini adalah wasilan yang turun dari orangtua.
Kegiatan antar-jemput ini saya kerjakan dengan penuh keikhlasan seperti halnya orangtua saya merawat saya sedari kecil hingga hari ini. Ini merupakan bentuk matarantai yang patut saya lakukan demi kelancaran dan membagi waktu saat jam-jam kerja bagi kedua orangtua waktu itu. Jam berangkat sekolah bagi Rista saat itu adalah berbeda jam masuk sekolah bagi siswa-siswi Sekolah Dasar.
Rista waktu itu—saat saya aktif antar jemput—masuk duduk di bangku Taman Kanak-kanak. Jadi waktu untuk menutut dan belajar di bangku sekolah adalah 08.30 WIB. Di jam-jam itulah saya harus tawaduk terhadap perintah orangtua saya itu. Saya harus bersedia dalam mobilisasi seorang adik saat berangkat sekolah.
Itulah kenapa saya, selama liburan semester jarang bermain atau mbolang keluar. Apalagi di waktu padat seperti jam kerja di kala pagi hari. Saya harus meluangkan waktu dan berdiam diri di rumah dan membantu orangtua. Khususnya merawat an membantu dalam menyiapkan Rista saat mau berangkat sekolah.
Singkat cerita, setiap hari kecuali hari minggu, saya diminta untuk membantu ibu. Membantu ini tidak melakukan pekerjaan dapur seperti biasa ibu memasak. Tetapi membantu di sini berbagi waktu saat adik saya—Rista siap-siap pergi ke sekolah. Yakni harus memakaikan baju, membedaki, serta mengantar-jemput sekolah.
Dalam melakukan kegiatan tersebut tidak gampang. Sebab, saya sering atau sering ditolak saat saya mengenakan bedak atau accesoris pendukung lainnya. Bahkan ia acapkali menolak saat saya mengenakan baju seragamnya dan membedaki atau meratakan bedak yang saya sapukan di antara kedua pipinya. Mungkin saja apa yang saya lakukan itu tak sesuai dengan apa yang diinginkan. Atau model sisiran rambutnya tak cocok dengan keinginannya.
Saya tak berhak mendakwa bahwa pekerjaan ini adalah pekerjaan seorang ibu. Lebih lanjut, saya tak pantas memprotes atau menolak perintah orangtua khususnya perintah ibu untuk membantu ibu menjaga dan merawat adik yang satu. Karena membantu orang tua memang sudah selayaknya menjadi tanggung jawab seorang kakak.
Selain ini merupakan wujud dan upaya dalam membahagiakan kedua orang tua, pekerjaan ini juga tergolong dalam upaya meringankan beban kerjaan kedua orang tua pula. Waktu itu, adik saya Rista ini berusia 5 tahun jalan. Ia duduk di bangku sekolah kelas TK nol besar.
Saya—menurut ibu saya sendiri—lebih cekatan dibanding adik saya yang nomor 2, Takin. Cekatan ini dalam urusan rumah tangga. Kalau adik saya ini cekatan dalam urusan pekerjaan yang mengandalkan otot. Misal bekerja di ladang atau hutan. Hal ini terbukti, ketika ibu saya membutuhkan bantu dalam membersihkan atau memandikan dan memakaikan baju adik saya di pagi hari, ia sering kali memilih dan mengarah bantuannya ke arah saya.
Entah apa yang membuat ibu, atau Rista menyuruh saya ketimbang Takin? Ya itu tadi. Bahwa saya termasuk prigel dibanding Takin. Sebab saya memang sudah terbiasa merawat dan mendadani seperti itu. Selain itu, saya juga suka mendandani dan menjaga adik.
Oleh karena itu, setelah selesai mendandani adik saya yang satu ini, saya langsung tancap gas mengantarnya pergi ke sekolah. Saya lebih suka mengantarnya mepet dengan jam masuk kelas. Karena apa? Meski tidak tak memberikan waktu bersosialisasi dengan teman-temannya sebelum masuk sekolah. Mepetnya dengan jam masuk ini memimalisir ketergantungan adik saya kepada barang-barang yang digelar di luar pagar sekolah itu.
Kenapa diantar? Kok tidak seperti anak-anak jaman dahulu. Jarak antara rumah dan sekolahnya lumayan jauh jika ditempuh jalan kaki apalagi ukuran usia anak TK. Pernah suatu hari—waktu itu—saya telat datang menjeput ternyata adik saya sudah sampai di rumah. Melihatnya dengan kondisi ngos-ngosan dan keringatnya bercucuran jatuh dari keningnya saya merasa bersalah dan sangat kasihan sekali. Pasti ia sangat kecapekan.
Jam pelajarannya mulai 08.30-11.00. Artinya di jam itu saya harus menjalankan tugas mulai tersebut. Selain itu ia Rista Sekolah Diniyah. Dan jam setengah 5 sore giliran saya jemput lagi. Selain di jam-jam sibuk di pagi hari. Di jam sore ketika senja datang menyapa pemujanya, ibu saya memanggil dan menyuruh saya menjemput saya.
“Adik e wayah e jupok (jemput), loh!” celetuknya.
Ini adalah kode di mana kode itu harus saya tunaikan segera mungkin. Jika tidak saya segerakan maka takutnya adik saya tersebut sudah jalan duluan. Oleh karena iu, pekerjaan menjemput dan mengantarkan adik saya ini adalah cara kerja manusia dalam memanusikan manusia.
Selama kuliah, belum tentu diajarkan pelajaran seperti itu. Dan ini harus saya lakukan dengan kerendahan hati. Bagaimanapun yang saya kerjakan semata-mata membantu meringankan pekerjaan orang tua, dan sebagai hiburan selama liburan kuliah ini. Ketepatan liburan semester ini tak ada gawean untuk saya. Hahaha
Tasikmadu, Trenggalek, 11 Februari 2014. Diedit ulang 09/09/2019
Posting Komentar