Di dalam rumah tangga, hal pertama yang harus diperhatikan supaya rumah tangga tetap rukun adalah suami senang makan di rumah dan istri bisa masak. Hal ini penting dilakukan oleh semua pasangan pengantin "kawakan" maupun pasangan baru seperti kami ini. Bagi para pasangan pengantin, hal tersebut sebenarnya mudah dilakukan, tetapi sangat sulit diterapkan. Apalagi bagi mereka yang benar-benar belum siap membina rumah tangga. Sebab, banyak pasangan yang telah lama membina rumah tangga retak seketika hanya karena urusan di meja makan.
Di usia pernikahan kami yang baru menginjak satu bulan, perkara tersebut ternyata tidak segampang membalikkan badan di atas kasur. Perlu komitmen dan besar hati dalam menjalankan roda rumah tangga demi mencapai tujuan bersama. Termasuk keleluasaan menerima apa saja yang diberikan dan disajikan oleh orang di rumah. Orang di rumah sudah capek-capek menyediakan, menyiapkan, menyajikan dan meracik menu serta menghafalkan resep penuh kasih sayang di atas wajan dengan segala rempah-rempah dan bumbu yang rumit dan kompleks.
Ke-kompleks-an bumbu tersebut tentu perlu dilengkapi rasa saling memahami supaya bumbu-bumbu cinta tersebut dirasa enak dan tidak hambar. Di antara ke-sedap-an racikan bumbu dan menu masakan tak dipungkiri ada sajian yang rasanya asin, asam dan manis. Begitupun di bahtera rumah tangga, siapapun yang menikmati sajian bernama rumah tangga pasti ada sajian asam dan asinnya. Itu adalah bumbu-bumbu penyedap dan resep rumah tangga. Ada kalanya menikmati yang asam, suatu saat menikmati yang asin. Karena tidak selamanya kehidupan itu manis selalu. Situ kita harus pandai-pandainya untuk menikmati dan mensyukuri apa yang sudah dikasih, termasuk wanita yang pandai memasak di rumah.
Selain itu perlu juga kerendahan hati dan pikiran yang jernih dalam menyikapi asinnya kehidupan ini. Kejernihan hati dan pikiran tentu sangat penting dilakukan oleh kedua pasangan. Untuk menyatukan rasa asin dan asem menjadi manis di antara racikan masakan menjadi lengkap, maka di sanalah perlunya berkomunikasi saling memahami, memaafkan, memberi maaf dan menerima segala kekurangan satu sama lain.
Setelah mengikrarkan janji di acara akad nikah pada tanggal 16 bulan Juni 2019 kemarin, yang mana kami telah sah menyandang status suami istri, tetapi melakukan hal tersebut saya masih banyak belajar. Karena pendidikan tentang rumah tangga memang tidak ada sekolahnya, tidak ada tempat pelatihan (trial) menjalani kehidupan rumah tangga. Saya belum memiliki keterampilan dalam merajut rumah tangga. Tetapi kami berkomitmen saling belajar, saling melonggarkan pikiran yang kadang egois itu, kepala sering keras bagai batu itu, kami yakin bahwa kami bisa melampaui pulau yang bernama sakinah, mawaddah, warahmah, Al barokah. Amin
Walaupun itu soal pelajaran yang sederhana, bagi saya untuk tidak saling bertengkar atau tidak cekcok atau adu mulut itu sudah baik. Sebab, sesuatu hal yang terbesar terjadi berakar dari selisih paham di antara kedua dan berawal dari ribut-ribut kecil di antara kedua mulut pasangan. Itu bagi saya penting bersikap lunak dan bertekad menjaga hubungan supaya adem ayem.
Belajar dari Resep Sayur Sop
Menyandang status suami istri bagi saya itu relatif ribet--untuk tidak menyebut sulit. Sebab sesuatu hal yang paling sederhana pun harus memasang tampang atau perilaku yang tidak kaku atau lemah lembut di hadapan muka istri. Semua harus dinilai baik jika yang lahir dari tangan lembutnya. Intinya semua harus dinilai baik, meskipun itu sebenarnya jauh dari tidak baik. Namun sesuatu hal yang lahir dari tangan dan tentang masakan baik itu ibumu sendiri maupun istrimu sendiri usahakan menilainya dengan rasa dan kenikmatan di atas segalanya. Sebab itu adalah kunci dari segala masakan yang pernah ada.
Sayur Sop adalah sayur yang tidak terlalu ribet jika dimasak. Hanya butuh beberapa sayur yang dicampur oleh bumbu lantas dikasih air hingga mendidih jadi deh. Kemarin, saat istri saya masak pertama untuk saya dan keluarga saya, ia masak sop. Sayur yang ia gunakan tentunya adalah potongan wortel, gubis, brokoli dan sayur lainnya. Saya tak tahu persis proses memasak, yang jelas cerita pertama kali ia memasak telah saya sajikan dalam tulisan Baju dan Kebahagiaan (1).
Di dalam resep dan sajian sayur sop, saya banyak belajar tentang kehidupan dan kesederhanaan. Di mana sayur sop tak terlalu ribet dalam mengolahnya. Potongan sayur yang telah dimasukkan dalam wajan dan dikasih air hingga mendidih, maka bumbu yang lain bisa dimasukkan dalam wajan tersebut dan rebus wortel, brokoli dan sayur yang lain hingga matang. Supaya mendapatkan sop yang nikmat dibutuhkan lada bubuk dan kaldu secukupnya. Serta tambahkan sedikit gula agar rasa sayur sop makin gurih menggugah selera.
Begitupun masakan istri saya saat itu. Ia memasak sayur sop tersebut hasilnya juga nikmat nan seger. Kuahnya juga nikmat sekali. Pokoknya saya tak bisa menggambarkan kenikmatan kuah dan sop yang dimasak oleh dingin seorang istri tersebut. Saya tak mengira bahwa ia jago memasak. Saat saya ditanya berapa nilai untuk masakan tersebut, maka dengan besar hati menjawab, "nilai untuk sayur sop tersebut adalah sembilan (9)," kata saya kepada istri sambil makan.
"Sepuluh," jawab adik saya, Rista saat menjawab penilaian dari istri saya.
Kenapa saya memberi angka sembilan, sedangkan adik saya sepuluh? Ini merupakan kebahagiaan saya memberikan ia angka untuk sebuah kejujuran. Saya orangnya memang jujur jika diminta menilai. Namun sayur sop bikinan istri saya tersebut memang pantas diberi nilai sembilan. Sebab lain adalah karena masak saya sangat lahap. Ini adalah masakan pertama setelah kami menikah. Awalnya ia mamang (tidak percaya diri) dihadapan mertuanya. Tetapi rasa yang dihasilkan dari olahan sayur sop tersebut melebihi rasa khawatirnya terhadap ibu saya tersebut.
Resep sop itu memang sederhana. Jadi belajar dari kesederhanaan dari resep masakan sop tersebut sangat penting. Kunci mengarungi kerasnya kehidupan ini adalah kesederhanaan dan kejujuran. Sebab saling jujur, saling terbuka, sederhana dan tidak mementingkan keras kepala merupakan kesederhanaan yang tidak bisa diungkapkan. Belajar dari sayuran sop yang tidak rewel dimasak maupun resepnya merupakan kunci dari masakan nikmat di dalam rumah tangga pasutri (pasangan suami istri). Salam
Kamar, 23-7-2019
Di usia pernikahan kami yang baru menginjak satu bulan, perkara tersebut ternyata tidak segampang membalikkan badan di atas kasur. Perlu komitmen dan besar hati dalam menjalankan roda rumah tangga demi mencapai tujuan bersama. Termasuk keleluasaan menerima apa saja yang diberikan dan disajikan oleh orang di rumah. Orang di rumah sudah capek-capek menyediakan, menyiapkan, menyajikan dan meracik menu serta menghafalkan resep penuh kasih sayang di atas wajan dengan segala rempah-rempah dan bumbu yang rumit dan kompleks.
Ke-kompleks-an bumbu tersebut tentu perlu dilengkapi rasa saling memahami supaya bumbu-bumbu cinta tersebut dirasa enak dan tidak hambar. Di antara ke-sedap-an racikan bumbu dan menu masakan tak dipungkiri ada sajian yang rasanya asin, asam dan manis. Begitupun di bahtera rumah tangga, siapapun yang menikmati sajian bernama rumah tangga pasti ada sajian asam dan asinnya. Itu adalah bumbu-bumbu penyedap dan resep rumah tangga. Ada kalanya menikmati yang asam, suatu saat menikmati yang asin. Karena tidak selamanya kehidupan itu manis selalu. Situ kita harus pandai-pandainya untuk menikmati dan mensyukuri apa yang sudah dikasih, termasuk wanita yang pandai memasak di rumah.
Selain itu perlu juga kerendahan hati dan pikiran yang jernih dalam menyikapi asinnya kehidupan ini. Kejernihan hati dan pikiran tentu sangat penting dilakukan oleh kedua pasangan. Untuk menyatukan rasa asin dan asem menjadi manis di antara racikan masakan menjadi lengkap, maka di sanalah perlunya berkomunikasi saling memahami, memaafkan, memberi maaf dan menerima segala kekurangan satu sama lain.
Setelah mengikrarkan janji di acara akad nikah pada tanggal 16 bulan Juni 2019 kemarin, yang mana kami telah sah menyandang status suami istri, tetapi melakukan hal tersebut saya masih banyak belajar. Karena pendidikan tentang rumah tangga memang tidak ada sekolahnya, tidak ada tempat pelatihan (trial) menjalani kehidupan rumah tangga. Saya belum memiliki keterampilan dalam merajut rumah tangga. Tetapi kami berkomitmen saling belajar, saling melonggarkan pikiran yang kadang egois itu, kepala sering keras bagai batu itu, kami yakin bahwa kami bisa melampaui pulau yang bernama sakinah, mawaddah, warahmah, Al barokah. Amin
Walaupun itu soal pelajaran yang sederhana, bagi saya untuk tidak saling bertengkar atau tidak cekcok atau adu mulut itu sudah baik. Sebab, sesuatu hal yang terbesar terjadi berakar dari selisih paham di antara kedua dan berawal dari ribut-ribut kecil di antara kedua mulut pasangan. Itu bagi saya penting bersikap lunak dan bertekad menjaga hubungan supaya adem ayem.
Belajar dari Resep Sayur Sop
Menyandang status suami istri bagi saya itu relatif ribet--untuk tidak menyebut sulit. Sebab sesuatu hal yang paling sederhana pun harus memasang tampang atau perilaku yang tidak kaku atau lemah lembut di hadapan muka istri. Semua harus dinilai baik jika yang lahir dari tangan lembutnya. Intinya semua harus dinilai baik, meskipun itu sebenarnya jauh dari tidak baik. Namun sesuatu hal yang lahir dari tangan dan tentang masakan baik itu ibumu sendiri maupun istrimu sendiri usahakan menilainya dengan rasa dan kenikmatan di atas segalanya. Sebab itu adalah kunci dari segala masakan yang pernah ada.
Sayur Sop adalah sayur yang tidak terlalu ribet jika dimasak. Hanya butuh beberapa sayur yang dicampur oleh bumbu lantas dikasih air hingga mendidih jadi deh. Kemarin, saat istri saya masak pertama untuk saya dan keluarga saya, ia masak sop. Sayur yang ia gunakan tentunya adalah potongan wortel, gubis, brokoli dan sayur lainnya. Saya tak tahu persis proses memasak, yang jelas cerita pertama kali ia memasak telah saya sajikan dalam tulisan Baju dan Kebahagiaan (1).
Di dalam resep dan sajian sayur sop, saya banyak belajar tentang kehidupan dan kesederhanaan. Di mana sayur sop tak terlalu ribet dalam mengolahnya. Potongan sayur yang telah dimasukkan dalam wajan dan dikasih air hingga mendidih, maka bumbu yang lain bisa dimasukkan dalam wajan tersebut dan rebus wortel, brokoli dan sayur yang lain hingga matang. Supaya mendapatkan sop yang nikmat dibutuhkan lada bubuk dan kaldu secukupnya. Serta tambahkan sedikit gula agar rasa sayur sop makin gurih menggugah selera.
Begitupun masakan istri saya saat itu. Ia memasak sayur sop tersebut hasilnya juga nikmat nan seger. Kuahnya juga nikmat sekali. Pokoknya saya tak bisa menggambarkan kenikmatan kuah dan sop yang dimasak oleh dingin seorang istri tersebut. Saya tak mengira bahwa ia jago memasak. Saat saya ditanya berapa nilai untuk masakan tersebut, maka dengan besar hati menjawab, "nilai untuk sayur sop tersebut adalah sembilan (9)," kata saya kepada istri sambil makan.
"Sepuluh," jawab adik saya, Rista saat menjawab penilaian dari istri saya.
Kenapa saya memberi angka sembilan, sedangkan adik saya sepuluh? Ini merupakan kebahagiaan saya memberikan ia angka untuk sebuah kejujuran. Saya orangnya memang jujur jika diminta menilai. Namun sayur sop bikinan istri saya tersebut memang pantas diberi nilai sembilan. Sebab lain adalah karena masak saya sangat lahap. Ini adalah masakan pertama setelah kami menikah. Awalnya ia mamang (tidak percaya diri) dihadapan mertuanya. Tetapi rasa yang dihasilkan dari olahan sayur sop tersebut melebihi rasa khawatirnya terhadap ibu saya tersebut.
Resep sop itu memang sederhana. Jadi belajar dari kesederhanaan dari resep masakan sop tersebut sangat penting. Kunci mengarungi kerasnya kehidupan ini adalah kesederhanaan dan kejujuran. Sebab saling jujur, saling terbuka, sederhana dan tidak mementingkan keras kepala merupakan kesederhanaan yang tidak bisa diungkapkan. Belajar dari sayuran sop yang tidak rewel dimasak maupun resepnya merupakan kunci dari masakan nikmat di dalam rumah tangga pasutri (pasangan suami istri). Salam
Kamar, 23-7-2019
إرسال تعليق