Perjalanan dari Tulungagung ke Prigi, Trenggalek membutuhkan waktu dan tenaga lebih saat musim liburan. Pasalnya, jalannya yang naik turun, belak-belok seperti obat nyamuk dan kanan kiri sedikit curam membuat kepala pening. Saya sendiri yang sudah biasa dengan jalur seperti itu, waktu itu juga merasakan mual dan pening di kepala. Mungkin saja kalau tidak kuat nahan, saya bisa mabuk dan muntah darat.
Siang itu, liburan semester setelah liburan pascalebaran dimulai lagi. Masyarakat yang ingin berkunjung di tempat wisata pun bertambah banyak. Jalanan juga tambah ramai. Meskipun jalan yang dituju di tempat wisata lumayan terjal dan curam seperti Pantai Prigi dan Pantai Pasir Putih volume kendaraan hilir mudik tak ada sepinya. Baik kendaraan pribadi, bermotor maupun bis menuju arah yang sama, yakni Pantai Prigi.
Oleh karena itu, kami yang naik mobil tidak bisa memanfaatkan bahu jalan dengan kecepatan tertentu. Kami hanya bisa mengekor bis saja. Kalau posisi bis di depan melambat karena jalan naik, maka mobil yang kami tumpangi juga ikut melambat. Jika bis tersebut melewati lembah dan belok kanan kiri, di sinilah letak ke-pusing-an kami. Ditambah lagi jalan di arah Watulimo-sawahan naik turun seperti obat nyamuk bakar, yang muter-muter.
Setelah menikah di tanggal 16 Juni kemarin, kami bisa keluar bersama ya hari itu. Kalau dihitung pernikahan kami satu mingguan, waktu itu. Perjalanan kami ke Prigi bukan untuk wisata, melainkan menghadiri undangan pernikahan saudara. Kebetulan saya sedang berada di rumah Tulungagung. Oleh karenanya berangkat bersama rombongan, baik bapak dan ibu mertua, kakak ipar dua (Asrufin dan Fina Rosnita Dewi) serta ponakan kecil, Muhammad Athafaris Al-farezi dari Ngantru.
Seperti yang saya katakan tadi, perjalanan kami memang tidak seperti biasa. Jalan raya sedikit macet, rute Prigi juga terbilang sedikit curam, serta istri saya dari rumah memang sudah tidak enak badan. Menghadapi situasi di situ jelas tak enak sekali. Bawaannya juga ingin muntah. Wong orang yang telah terbiasa seperti saya saja mau muntah waktu itu. Apalagi orang yang tidak begitu sehat. Jelas mengeluh dan mau muntah. Tapi Alhamdulillah ia masih bisa bertahan dan tidak muntah darat.
Singkat cerita, acara undangan memang selesai. Dan kami langsung ke pantai. Kami memang sempat bermain air. Tapi Ella, istri saya tidak bermain air. Ia sudah tahu kondisinya. Ia hanya melihat kami yang bermain air dari tepi bersama bapak ibu. Lagi asyik bermain air, waktu mengajak kita untuk bergegas untuk pulang. Maka mereka berlima pulang ke Tulungagung. Sedangkan kami dan istri serta Rista (waktu itu Rista ikut ke pantai Simbaronce dari rumah Prigi) tidak ikut ke Tulungagung.
Was-was Suami Baru
Ella juga saya anggap tak enak badan biasa. Selang beberapa hari batuk yang dideritanya tersebut kok belum sembuh-sembuh. Wah pikiran saya melayang sampai pada titik tertentu. Apalagi ibu saya mendapat cerita bahwa ponakan yang satunya, rumahnya Padas, Puji namanya. Yang menikah duluan, ijabnya sebelum puasa dikabarkan tengah hamil atau telat beberapa bulan. Ia malah sudah menyiapkan susu atau asupan untuk ibu hamil.
Wah jangan-jangan sakit yang diderita istri saya ini adalah bawaan ibu hamil? Ini adalah keragu-raguan kami saat istri saya ini sakit hampir tiga Minggu tidak kunjung sembuh. Saya yang baru menyandang sebagai suami beberapa hanya bisa menerka dan berandai-andai. Suasana hati saya juga antara percaya dan tidak percaya. Semua seperti tidak percaya kalau saya sudah menikah. Wah apakah benar ini?
Penyakit yang diderita istri saya radang tenggorokan dan batuk-batuk memang sedikit membuat istri saya sedikit mengurangi aktivitasnya. Ia hanya banyak tiduran di kamar saja. Jikalau ia sedang batuk, saya merasa sangat kasihkan. Sebab batuknya sangat berdahak. Saat batuk, ia pasti melintir ke kanan ke kiri seraya mencari pegangan untuk menguatkan badannya dari hentakan dan deheman batuk dari tenggorokan itu. Sampai dibuat bisa saja yang keluar suara kuatnya yang keluar dari dalam tenggorokannya dan tidak terlalu keras. Intinya suara aslinya tidak begitu kedengaran.
Saya juga membayangkan kalau sakit itu, saya yang menanggung sudah pasti saya mengeluh dan berdehem dengan hentakan batuk yang luar biasa. Jika hentakan batuk bercampur radang tenggorokan tentu sakitnya luar biasa, saya juga meronta. Mungkin saja itu dampak dari pergantian musim, snyata musim di Tulungagung menyesuaikan musim di tanah Prigi dengan intensitas angin dan udara yang lumayan dingin di waktu tertentu. Musim dingin ini memang dampak dari angin muson yang terjadi menjelang musim kemarau.
Alhamdulillah radang tenggorokannya sudah sembuh tetapi batuknya masih menjadi-jadi. Sebenarnya sudah saya periksakan ke beberapa dokter. Kalau tidak salah ingat sudah pergi ke dokter dua kali. Dan sekali membeli obat di apotik di Ngantru. Namun hampir satu bulan ini batuknya belum juga reda. Saya yang masih suami 'bau kencur' memasang sisi positif dari kondisi istri saya tersebut. Jangan-jangan kondisi istri saya yang seperti itu adalah bawaan ibu hamil?
Anggapan tersebut diperkuat oleh dugaan dari ibu saya sendiri. "Engko gek gawan bayi, wong meteng?" (Jangan-jangan nanti bawaan bayi atau ibu hamil?), ujar ibu saya di beberapa hari lalu?
Kalau pun memang istri saya sedang hamil, maka saya sangat senang tentunya. Sebab, seperti dalam hadits atau Al-Qur'an, salah satu tujuan orang menikah adalah memperoleh keturunan. Jadi, apabila saya dikaruniai seorang anak, tentunya itu adalah kabar gembira bagi kedua keluarga kami.
Hingga saat ini, sakit seperti batuk-batuk istri saya ini masih belum sembuh total. Masih sering batuk-batuk meski tidak berdahak. Tetapi kini ada satu yang terus saya menduga-duga, bahwa istri saya sering meminta-minta dan sering banyak ngemil. Sebagai suami baru, tentu saya terus penasaran dan menduga-duga tingkah ini memang bawaan orang yang sedang hamil.
Meski demikian, saya sendiri belum mendapat kabar dari istri saya, kalau ia sedang telat atau sebutan lain. Namun kalaupun ia tidak sedang hamil atau perubahan siklus hidup setelah menikah itu tidak apa. Sebab, kami berdua selalu berkeinginan hidup bahagia dan sehat selalu. Semoga kami segera mendapat kabar baik tersebut, istri saya hamil dan kami tentunya sangat senang apabila kehadiran si jabang bayi itu. Amin
Tasikmadu - Tulungagung 23.02
Siang itu, liburan semester setelah liburan pascalebaran dimulai lagi. Masyarakat yang ingin berkunjung di tempat wisata pun bertambah banyak. Jalanan juga tambah ramai. Meskipun jalan yang dituju di tempat wisata lumayan terjal dan curam seperti Pantai Prigi dan Pantai Pasir Putih volume kendaraan hilir mudik tak ada sepinya. Baik kendaraan pribadi, bermotor maupun bis menuju arah yang sama, yakni Pantai Prigi.
Oleh karena itu, kami yang naik mobil tidak bisa memanfaatkan bahu jalan dengan kecepatan tertentu. Kami hanya bisa mengekor bis saja. Kalau posisi bis di depan melambat karena jalan naik, maka mobil yang kami tumpangi juga ikut melambat. Jika bis tersebut melewati lembah dan belok kanan kiri, di sinilah letak ke-pusing-an kami. Ditambah lagi jalan di arah Watulimo-sawahan naik turun seperti obat nyamuk bakar, yang muter-muter.
Setelah menikah di tanggal 16 Juni kemarin, kami bisa keluar bersama ya hari itu. Kalau dihitung pernikahan kami satu mingguan, waktu itu. Perjalanan kami ke Prigi bukan untuk wisata, melainkan menghadiri undangan pernikahan saudara. Kebetulan saya sedang berada di rumah Tulungagung. Oleh karenanya berangkat bersama rombongan, baik bapak dan ibu mertua, kakak ipar dua (Asrufin dan Fina Rosnita Dewi) serta ponakan kecil, Muhammad Athafaris Al-farezi dari Ngantru.
Seperti yang saya katakan tadi, perjalanan kami memang tidak seperti biasa. Jalan raya sedikit macet, rute Prigi juga terbilang sedikit curam, serta istri saya dari rumah memang sudah tidak enak badan. Menghadapi situasi di situ jelas tak enak sekali. Bawaannya juga ingin muntah. Wong orang yang telah terbiasa seperti saya saja mau muntah waktu itu. Apalagi orang yang tidak begitu sehat. Jelas mengeluh dan mau muntah. Tapi Alhamdulillah ia masih bisa bertahan dan tidak muntah darat.
Singkat cerita, acara undangan memang selesai. Dan kami langsung ke pantai. Kami memang sempat bermain air. Tapi Ella, istri saya tidak bermain air. Ia sudah tahu kondisinya. Ia hanya melihat kami yang bermain air dari tepi bersama bapak ibu. Lagi asyik bermain air, waktu mengajak kita untuk bergegas untuk pulang. Maka mereka berlima pulang ke Tulungagung. Sedangkan kami dan istri serta Rista (waktu itu Rista ikut ke pantai Simbaronce dari rumah Prigi) tidak ikut ke Tulungagung.
Was-was Suami Baru
Ella juga saya anggap tak enak badan biasa. Selang beberapa hari batuk yang dideritanya tersebut kok belum sembuh-sembuh. Wah pikiran saya melayang sampai pada titik tertentu. Apalagi ibu saya mendapat cerita bahwa ponakan yang satunya, rumahnya Padas, Puji namanya. Yang menikah duluan, ijabnya sebelum puasa dikabarkan tengah hamil atau telat beberapa bulan. Ia malah sudah menyiapkan susu atau asupan untuk ibu hamil.
Wah jangan-jangan sakit yang diderita istri saya ini adalah bawaan ibu hamil? Ini adalah keragu-raguan kami saat istri saya ini sakit hampir tiga Minggu tidak kunjung sembuh. Saya yang baru menyandang sebagai suami beberapa hanya bisa menerka dan berandai-andai. Suasana hati saya juga antara percaya dan tidak percaya. Semua seperti tidak percaya kalau saya sudah menikah. Wah apakah benar ini?
Penyakit yang diderita istri saya radang tenggorokan dan batuk-batuk memang sedikit membuat istri saya sedikit mengurangi aktivitasnya. Ia hanya banyak tiduran di kamar saja. Jikalau ia sedang batuk, saya merasa sangat kasihkan. Sebab batuknya sangat berdahak. Saat batuk, ia pasti melintir ke kanan ke kiri seraya mencari pegangan untuk menguatkan badannya dari hentakan dan deheman batuk dari tenggorokan itu. Sampai dibuat bisa saja yang keluar suara kuatnya yang keluar dari dalam tenggorokannya dan tidak terlalu keras. Intinya suara aslinya tidak begitu kedengaran.
Saya juga membayangkan kalau sakit itu, saya yang menanggung sudah pasti saya mengeluh dan berdehem dengan hentakan batuk yang luar biasa. Jika hentakan batuk bercampur radang tenggorokan tentu sakitnya luar biasa, saya juga meronta. Mungkin saja itu dampak dari pergantian musim, snyata musim di Tulungagung menyesuaikan musim di tanah Prigi dengan intensitas angin dan udara yang lumayan dingin di waktu tertentu. Musim dingin ini memang dampak dari angin muson yang terjadi menjelang musim kemarau.
Alhamdulillah radang tenggorokannya sudah sembuh tetapi batuknya masih menjadi-jadi. Sebenarnya sudah saya periksakan ke beberapa dokter. Kalau tidak salah ingat sudah pergi ke dokter dua kali. Dan sekali membeli obat di apotik di Ngantru. Namun hampir satu bulan ini batuknya belum juga reda. Saya yang masih suami 'bau kencur' memasang sisi positif dari kondisi istri saya tersebut. Jangan-jangan kondisi istri saya yang seperti itu adalah bawaan ibu hamil?
Anggapan tersebut diperkuat oleh dugaan dari ibu saya sendiri. "Engko gek gawan bayi, wong meteng?" (Jangan-jangan nanti bawaan bayi atau ibu hamil?), ujar ibu saya di beberapa hari lalu?
Kalau pun memang istri saya sedang hamil, maka saya sangat senang tentunya. Sebab, seperti dalam hadits atau Al-Qur'an, salah satu tujuan orang menikah adalah memperoleh keturunan. Jadi, apabila saya dikaruniai seorang anak, tentunya itu adalah kabar gembira bagi kedua keluarga kami.
Hingga saat ini, sakit seperti batuk-batuk istri saya ini masih belum sembuh total. Masih sering batuk-batuk meski tidak berdahak. Tetapi kini ada satu yang terus saya menduga-duga, bahwa istri saya sering meminta-minta dan sering banyak ngemil. Sebagai suami baru, tentu saya terus penasaran dan menduga-duga tingkah ini memang bawaan orang yang sedang hamil.
Meski demikian, saya sendiri belum mendapat kabar dari istri saya, kalau ia sedang telat atau sebutan lain. Namun kalaupun ia tidak sedang hamil atau perubahan siklus hidup setelah menikah itu tidak apa. Sebab, kami berdua selalu berkeinginan hidup bahagia dan sehat selalu. Semoga kami segera mendapat kabar baik tersebut, istri saya hamil dan kami tentunya sangat senang apabila kehadiran si jabang bayi itu. Amin
Tasikmadu - Tulungagung 23.02
إرسال تعليق