Saya sudah lama berkeinginan untuk menikah. Namun keinginan itu terbentur oleh restu orang tua dari calon saya. Arti restu ini bukan arti sempit, melainkan dalam arti luas. Bahwa hubungan kita direstui bukan untuk dilarang. Hubungan kita malah diberi lampu hijau. Namun hanya kita diminta untuk bersabar sampai pada titik tertentu. Di mana sabar sampai tanggal yang ditentukan kedua orang tua kami.
Kami sebenarnya sangat jengah dengan situasi seperti itu. Jelas, kita sebagai manusia biasa dengan segala kemampuan terbatas menginginkan semua itu cepat terlaksana dan lancar-lancar saja. Apalagi kita sudah usia. Dibanding dengan usia teman-teman, usia kami termasuk pada tahap siklus ideal. Selain itu teman-teman saya yang sebaya sudah pada menikah. Pilihan menunggu seperti itu tentu pilihan yang berat.
Menunggu hari pernikahan merupakan sebuah aktivitas yang tidak enak juga menjemukan. Kami anak muda di usia muda tentu menunggu hari pernikahan sabar-sabar gemetaran. Di sisi lain, sebagai pemuda penuh dengan idealis tinggi menunggu hari pernikahan tentu enggebu-gebu dan tidak-sabar. Karena yang kita tunggu adalah waktu yang relatif lama. Sangat-sangat tidak tidak sabar menunggu hari itu. Hal tersebut tentu sangat menjenuhkan.
Betapa tidak, saya sebenarnya sudah ijin dan meminta untuk menikah dengan Ella; mantan pacar yang saya pacari selama kurang lebih 6 tahun-an. Jadi ceritanya, sebelum cita-cita itu tercapai, istri saya ini sedikit kemendel (dibaca el) atau berani memperkenalkan saya di hadapan orang tuanya.
Malam itu, saya diperkenalkan tanpa sengaja. Waktu itu setelah kami berkenalan dengan serius sekitar 1 tahun-an, kami sebenarnya telah punya keinginan untuk segera menikah. Namun kami tidak langsung dikasih lampu hijau atau calon marasepah saya, Ibu Srianah--sebelumnya saya nembung istri saya saat ini--telah ngedikan atau memberi tahu bahwa "kami boleh menikah kalau usia pernikahan kakakmu tiga tahun?" ujarnya sore itu di ruang tamu.
Artinya, jika di bulan Juni kemarin kami menyelenggarakan pernikahan di tanggal 16 Juni sebagai tanggal Akad, itu artinya di tahun 2013-an kita sudah memiliki cita-cita untuk menikah. Rentang waktu yang begitu lama itu memang membuat kita memiliki banyak cita-cita yang harus kami bangun.
Salah satu cita-cita yang kita bangun adalah kita harus memiliki pancatan; mendapat pekerjaan yang jelas sebelum kami menikah. Tetapi sampai waktu yang telah ditentukan itu, ternyata kami belum juga kami berdua mendapat pekerjaan yang jelas. Istri saya sebelum menikah sangat semangat sekali mendaftar lowongan pekerjaan termasuk mendaftar CPNS waktu itu. Tetapi lagi-lagi cita-cita kami sampai saat ini masih belum sampai rezeki kami.
Sampai kami menurunkan target dan cita-cita itu. Setelah pulang dari Surabaya, bekerja di kampus Tristar Institut Surabaya, kami juga belum mendapat apa yang kita inginkan atau cita-citakan. Sampai saya sendiri yang mendapat tawaran sebagai operator Siskuedes di desa. Sebenarnya jika kami hitung-hitung kebutuhan kami tidak seimbang dengan modal belanja kami setelah menikah. Karena, saya sendiri harus Pulang-Pergi Tulungagung-Prigi, minimal satu Minggu sekali. Itu artinya setiap bepergian saya harus mengeluarkan modal lebih satu jutaan.
Oleh karena itu, kami harus 'mengalihkan' cita-cita kami. Kita tetap memasang suatu saat nanti kami mendapatkan pekerjaan yang kami cita-cita sembari mengalihkan perhatian kami untuk mengolah modal yang kami miliki. Salah satunya adalah membeli sapi. Membeli sapi merupakan salah satu tindakan yang tepat. Sebab, kami harus pandai-pandai mengatur dan memutar biaya dan beban hidup kami berdua. Meski setiap harinya kita tidak memiliki pemasukan yang jelas atau minimal dalam 1 bulan ada pemasukan hanya kurang lebih satu jutaan. Kami harus mengelola keuangan itu dengan baik.
Kami berharap bisa belajar mengelola keuangan itu dengan mandiri. Kami juga sangat berharap bahwa cita-cita yang kami inginkan segera terkabul. Sambil kami mempelajari kehidupan ini dengan ikhlas dan sabar. Semoga keluarga yang kami bina antara saya dan Lailatul Ashariyah, istri saya ini sampai biduk bahtera rumah tangga yang sakinah mawadah warahmah dan barokah. Amin.
Kami sebenarnya sangat jengah dengan situasi seperti itu. Jelas, kita sebagai manusia biasa dengan segala kemampuan terbatas menginginkan semua itu cepat terlaksana dan lancar-lancar saja. Apalagi kita sudah usia. Dibanding dengan usia teman-teman, usia kami termasuk pada tahap siklus ideal. Selain itu teman-teman saya yang sebaya sudah pada menikah. Pilihan menunggu seperti itu tentu pilihan yang berat.
Menunggu hari pernikahan merupakan sebuah aktivitas yang tidak enak juga menjemukan. Kami anak muda di usia muda tentu menunggu hari pernikahan sabar-sabar gemetaran. Di sisi lain, sebagai pemuda penuh dengan idealis tinggi menunggu hari pernikahan tentu enggebu-gebu dan tidak-sabar. Karena yang kita tunggu adalah waktu yang relatif lama. Sangat-sangat tidak tidak sabar menunggu hari itu. Hal tersebut tentu sangat menjenuhkan.
Betapa tidak, saya sebenarnya sudah ijin dan meminta untuk menikah dengan Ella; mantan pacar yang saya pacari selama kurang lebih 6 tahun-an. Jadi ceritanya, sebelum cita-cita itu tercapai, istri saya ini sedikit kemendel (dibaca el) atau berani memperkenalkan saya di hadapan orang tuanya.
Malam itu, saya diperkenalkan tanpa sengaja. Waktu itu setelah kami berkenalan dengan serius sekitar 1 tahun-an, kami sebenarnya telah punya keinginan untuk segera menikah. Namun kami tidak langsung dikasih lampu hijau atau calon marasepah saya, Ibu Srianah--sebelumnya saya nembung istri saya saat ini--telah ngedikan atau memberi tahu bahwa "kami boleh menikah kalau usia pernikahan kakakmu tiga tahun?" ujarnya sore itu di ruang tamu.
Artinya, jika di bulan Juni kemarin kami menyelenggarakan pernikahan di tanggal 16 Juni sebagai tanggal Akad, itu artinya di tahun 2013-an kita sudah memiliki cita-cita untuk menikah. Rentang waktu yang begitu lama itu memang membuat kita memiliki banyak cita-cita yang harus kami bangun.
Salah satu cita-cita yang kita bangun adalah kita harus memiliki pancatan; mendapat pekerjaan yang jelas sebelum kami menikah. Tetapi sampai waktu yang telah ditentukan itu, ternyata kami belum juga kami berdua mendapat pekerjaan yang jelas. Istri saya sebelum menikah sangat semangat sekali mendaftar lowongan pekerjaan termasuk mendaftar CPNS waktu itu. Tetapi lagi-lagi cita-cita kami sampai saat ini masih belum sampai rezeki kami.
Sampai kami menurunkan target dan cita-cita itu. Setelah pulang dari Surabaya, bekerja di kampus Tristar Institut Surabaya, kami juga belum mendapat apa yang kita inginkan atau cita-citakan. Sampai saya sendiri yang mendapat tawaran sebagai operator Siskuedes di desa. Sebenarnya jika kami hitung-hitung kebutuhan kami tidak seimbang dengan modal belanja kami setelah menikah. Karena, saya sendiri harus Pulang-Pergi Tulungagung-Prigi, minimal satu Minggu sekali. Itu artinya setiap bepergian saya harus mengeluarkan modal lebih satu jutaan.
Oleh karena itu, kami harus 'mengalihkan' cita-cita kami. Kita tetap memasang suatu saat nanti kami mendapatkan pekerjaan yang kami cita-cita sembari mengalihkan perhatian kami untuk mengolah modal yang kami miliki. Salah satunya adalah membeli sapi. Membeli sapi merupakan salah satu tindakan yang tepat. Sebab, kami harus pandai-pandai mengatur dan memutar biaya dan beban hidup kami berdua. Meski setiap harinya kita tidak memiliki pemasukan yang jelas atau minimal dalam 1 bulan ada pemasukan hanya kurang lebih satu jutaan. Kami harus mengelola keuangan itu dengan baik.
Kami berharap bisa belajar mengelola keuangan itu dengan mandiri. Kami juga sangat berharap bahwa cita-cita yang kami inginkan segera terkabul. Sambil kami mempelajari kehidupan ini dengan ikhlas dan sabar. Semoga keluarga yang kami bina antara saya dan Lailatul Ashariyah, istri saya ini sampai biduk bahtera rumah tangga yang sakinah mawadah warahmah dan barokah. Amin.
إرسال تعليق