Sudah berapa tahun jelasnya tradisi ini terbangun di kalangan masyarakat sekitar tempat tinggal Watulimo. Beberapa hari ini, masyarakat di sekitar melakukan runtinitas puasa. Ramadan yang identik dengan melaksanakan ibadah secara mendalam, untuk menjawab kehambaan sebagai seorang hamba Tuhan. Tidak dimungkiri masyarakat disekitar saya harus berbagi tradisi. Dianatara tradisi yang kental di bulan Ramadan dengan Tradisi penen cengkeh.
Tradisi petil cengkeh ini terbangun dan ada sudah sejak lama. karena musim panennya cengkeh setiap tahun satu kali, dan berketepatan dengan datangnya bulan Ramadan tiba. Bulan Ramadan adalah bulan yang penuh berkat. Bisa kita amati, seeorang akan meningkatkan kualitas dirinya. Yang sebelumnya tidak pernah bangun tengah malam akan menjalankan ibadah-ibadah sunah, tentunya itu dikerjakan untuk menyembut keridhoan Allah SWT. Bacaan-bacaan Ayat Al-Qur’an menadi melengking setiap sudut surau sampai masjdi. Dari perdesaan sampai kota. Dari acara-acara televisi mengobral apa itu yang menjadi sisi produksinya.
Sementara itu, bisa kita lihat, seorang perempuan berbondong-bondong mengenakan hijab, berkerudung. Anak laki-laki dan perempuan setiap sore menjadi tertib di ujung masjdi berjubel antri melantunkan kitab suci. Masjid yang semula tak terhuni, dan sepi sekonyong-konyong menjadi banyak jamaah yang memenuhi masjid, langgar dan surau. Itu semua dilakukan hanya meningkatkan kualitasnya kehambaanya dihadapan Sang Maha Agung.
Masjid, langgar dan surau yang biasanya waktu Shalat Magrib, Isyak, dan Subuh sepi, seakan kedatangan tamu yang tak terhingga jumlahnya. Yang biasanya tak mendengar anak kecil melantunkan suara-suara merdu akan tadarus Al-Qur’an dan mengemaskan di ujung ‘corong’ speaker tiba-tibanya memenuhi suara speaker diatas pojok masjid. Ramadan adalah penyebab utama.
Dan beruntunglah bagi seorang hamba yang menyambut ramadan dengan bekal iman. Ramadan diisi dengan ibadah dan beragam kebajikan dan aktifitas yang positif. Rugilah bagi mereka yang menyiakan Ramadan. Mereka mendapat bulan yang istimewa gagal memetik hikmah dan pahala.
Tradisi Pitil Cengkih
Pitel cengkeh sendiri biasanya dilakukan pada jam-jam istirahat kekeluargaan, atau malam hari. Atau apabila para pekerja selesai petik dari kebun atau hutan yang lahannya ditanami cengkeh tersebut. Pitel cengkeh atau orang jawa bilang ‘mipik’ cengkeh yang dilakukan dengan duduk bersila berjam-jam. Tentu tradisi ini sangat terasa rasa sosialisnya. Kenapa bisa dianggap rasa sosialisnya terjaga? Coba bayangkan semua pekerjaan memerlukan bantuan dari tetangga aatau orang lain untuk dipekerjakan dengan imbalan yang setimpal. Yang saya amati, pemilik cengkeh tidak bisa melakukan sendiri kegiatan tersebut. karena memang cengkeh yang dihasilkan tidak hanya sekilo atau dua kilo namun banyak jumlahnya. sehingga harus meminta bantuan dari tetangga rumah untuk dijadikan karyawan dan tenaga supaya pekerjaan secepatnya selesai.
Cengkeh adalah sumber mata pencaharian utama selama Ramadan, selama laut pesisir selatan ini tak musim ikan. Panen cengkeh ini di percaya adalah hikmah datangnya bulan yang istimewa dan penuh berkah tersebut. Selama pengamatan saya, aktifitas pitel cengkeh adalah hal yang lazim dan menjadi budaya setiap Ramadan datang. Namun itu adalah buah dari kesabaran yang bertahun-tahun petani yang menggarap dan menyuburkan tanah dan lahannya sehingga menjadi seperti sekarang ini. Hingga terbentuk dan merasakan tradisi pitil di tengah mengalap berkah di bulan suci ini. tidak ikut euforia pemerintah dan lainnya berdebat hilal atau hisab, Sabtu atau Minggu. Yang penting hidup penuh berkah dan rukun antar keluarga dan lingkungan sekitar.
Konon dahulu rempah-rempah ini dicari dan diboyong oleh bangsa kolonial Belanda untuk di bawa ke negeri kincir angin tersebut. Dengan panennya cengkeh masyarakat sekitar bisa mengoptimalkan kegiatan dan tenaganya untuk mencari rejeki di ladang atau di hutan untuk menjadi petani cengkeh. Sementara, di bulan Ramadan harga kebutuhan yang terus merangkak naik. Dengan mengais rejeki dari rempah-rempah cengkeh ini masyarakat bisa terbantu, karena harganya cukup tinggi. Cengkeh di mata saya adalah dua sisi mata uangyang menjadi manfaat sendiri untuk masyarakat sekitar saya.
Pitil cengkeh bisa dilakukan dari anak-anak sampai orang dewasa dan orangtua. Dengan adanya tradisi ini kekeluargaan terjaga sedemikian rupa. Bisa berkumpul di bale-bale rumah, di ruang keluarga atau ruang tamu, maupun di teras-teras rumah. Tentu kebersamaan sesema keluarga terasa sedimikian hangat. Inilah moment ,yang istimewa di tengah-tengah bulan Ramadan. Seperti kata Umar Bayan “mangan ora mangan sepenting ngumpul”. Ada satu yang diharapkan dari moment tersebut, yakni tangannya harus ‘uwik’ atau mitil cengkeh supaya secepatnya terlaksana dan selesai. Allahualam’ Bishowab. Hehhehe
Tasikmadu, Trenggalek, 28 Juni 2014
Tradisi petil cengkeh ini terbangun dan ada sudah sejak lama. karena musim panennya cengkeh setiap tahun satu kali, dan berketepatan dengan datangnya bulan Ramadan tiba. Bulan Ramadan adalah bulan yang penuh berkat. Bisa kita amati, seeorang akan meningkatkan kualitas dirinya. Yang sebelumnya tidak pernah bangun tengah malam akan menjalankan ibadah-ibadah sunah, tentunya itu dikerjakan untuk menyembut keridhoan Allah SWT. Bacaan-bacaan Ayat Al-Qur’an menadi melengking setiap sudut surau sampai masjdi. Dari perdesaan sampai kota. Dari acara-acara televisi mengobral apa itu yang menjadi sisi produksinya.
Sementara itu, bisa kita lihat, seorang perempuan berbondong-bondong mengenakan hijab, berkerudung. Anak laki-laki dan perempuan setiap sore menjadi tertib di ujung masjdi berjubel antri melantunkan kitab suci. Masjid yang semula tak terhuni, dan sepi sekonyong-konyong menjadi banyak jamaah yang memenuhi masjid, langgar dan surau. Itu semua dilakukan hanya meningkatkan kualitasnya kehambaanya dihadapan Sang Maha Agung.
Masjid, langgar dan surau yang biasanya waktu Shalat Magrib, Isyak, dan Subuh sepi, seakan kedatangan tamu yang tak terhingga jumlahnya. Yang biasanya tak mendengar anak kecil melantunkan suara-suara merdu akan tadarus Al-Qur’an dan mengemaskan di ujung ‘corong’ speaker tiba-tibanya memenuhi suara speaker diatas pojok masjid. Ramadan adalah penyebab utama.
Dan beruntunglah bagi seorang hamba yang menyambut ramadan dengan bekal iman. Ramadan diisi dengan ibadah dan beragam kebajikan dan aktifitas yang positif. Rugilah bagi mereka yang menyiakan Ramadan. Mereka mendapat bulan yang istimewa gagal memetik hikmah dan pahala.
Tradisi Pitil Cengkih
Pitel cengkeh sendiri biasanya dilakukan pada jam-jam istirahat kekeluargaan, atau malam hari. Atau apabila para pekerja selesai petik dari kebun atau hutan yang lahannya ditanami cengkeh tersebut. Pitel cengkeh atau orang jawa bilang ‘mipik’ cengkeh yang dilakukan dengan duduk bersila berjam-jam. Tentu tradisi ini sangat terasa rasa sosialisnya. Kenapa bisa dianggap rasa sosialisnya terjaga? Coba bayangkan semua pekerjaan memerlukan bantuan dari tetangga aatau orang lain untuk dipekerjakan dengan imbalan yang setimpal. Yang saya amati, pemilik cengkeh tidak bisa melakukan sendiri kegiatan tersebut. karena memang cengkeh yang dihasilkan tidak hanya sekilo atau dua kilo namun banyak jumlahnya. sehingga harus meminta bantuan dari tetangga rumah untuk dijadikan karyawan dan tenaga supaya pekerjaan secepatnya selesai.
Cengkeh adalah sumber mata pencaharian utama selama Ramadan, selama laut pesisir selatan ini tak musim ikan. Panen cengkeh ini di percaya adalah hikmah datangnya bulan yang istimewa dan penuh berkah tersebut. Selama pengamatan saya, aktifitas pitel cengkeh adalah hal yang lazim dan menjadi budaya setiap Ramadan datang. Namun itu adalah buah dari kesabaran yang bertahun-tahun petani yang menggarap dan menyuburkan tanah dan lahannya sehingga menjadi seperti sekarang ini. Hingga terbentuk dan merasakan tradisi pitil di tengah mengalap berkah di bulan suci ini. tidak ikut euforia pemerintah dan lainnya berdebat hilal atau hisab, Sabtu atau Minggu. Yang penting hidup penuh berkah dan rukun antar keluarga dan lingkungan sekitar.
Konon dahulu rempah-rempah ini dicari dan diboyong oleh bangsa kolonial Belanda untuk di bawa ke negeri kincir angin tersebut. Dengan panennya cengkeh masyarakat sekitar bisa mengoptimalkan kegiatan dan tenaganya untuk mencari rejeki di ladang atau di hutan untuk menjadi petani cengkeh. Sementara, di bulan Ramadan harga kebutuhan yang terus merangkak naik. Dengan mengais rejeki dari rempah-rempah cengkeh ini masyarakat bisa terbantu, karena harganya cukup tinggi. Cengkeh di mata saya adalah dua sisi mata uangyang menjadi manfaat sendiri untuk masyarakat sekitar saya.
Pitil cengkeh bisa dilakukan dari anak-anak sampai orang dewasa dan orangtua. Dengan adanya tradisi ini kekeluargaan terjaga sedemikian rupa. Bisa berkumpul di bale-bale rumah, di ruang keluarga atau ruang tamu, maupun di teras-teras rumah. Tentu kebersamaan sesema keluarga terasa sedimikian hangat. Inilah moment ,yang istimewa di tengah-tengah bulan Ramadan. Seperti kata Umar Bayan “mangan ora mangan sepenting ngumpul”. Ada satu yang diharapkan dari moment tersebut, yakni tangannya harus ‘uwik’ atau mitil cengkeh supaya secepatnya terlaksana dan selesai. Allahualam’ Bishowab. Hehhehe
Tasikmadu, Trenggalek, 28 Juni 2014
Posting Komentar