Bulan Puasa telah melewati setengah perjalanan. Artinya kita sudah pergi meninggalkan bulan penuh berkah dan kemuliaan ini. Dalam istilah olahraga, sepak bola, kita hampir mencapai injury time, yang artinya waktu berpuasa di bulan Ramadhan ini hampir usai. Sudah berapapa besar nikmat yang telah saya rasakan. Dan, berapa banyak peristiwa yang telah saya lalui di bulan suci ini: mulai sakit hingga hampir dua bulan, hingga berpuasa dengan kondisi sakit. Namun, mengerjakan puasa dengan kondisi sakit telah memberikan berkah yang luar biasa. Karena di pertengahan bulan Ramadhan, saya diberikan kesembuhan.
Untuk itu, dengan kondisi yang lumayan fit, artinya memiliki kesempatan besar untukmempersiapkan diri untuk kembali ke fitri. Walau pada kenyataannya di fase minggu-minggu, diakhir Ramadhan banyak masjid atau langgar-langgar jamaahnya semakin maju shofnya, semoga di sisa waktu ini saya diberi kekuatan untuk menjalankan ibadah lebih giat lagi dan menikmati dalam menjalankan ibadah dengan penuh rasa syukur atas segala sesuatu yang telah diberikan oleh Allah SWT kepada kita.
Dan, seperti yang telah saya sampaikan di atas. Puasa tahun-tahun ini berbeda dengan tahun yang lalu. Perbedaan yang belum berpengaruh dalam lingkungan keluarga. Namun insyaAllah bermanfaat bagi orang lain yang berjuang di dalamnya. Maksudnya saya juga ikut berjuang dalam ranah di bidang literasi,yang notabene berjuang di dalam dunia tulis-menulis. Memang, secara kualitas saya belum tepat disebut penulis, saya lebih suka disebut dengan tukang belajar menulis. Pasalnya, setelah melewati fase pertengahan di bulan puasa, ternyata ada parcel yang akan nangkring di rumah. Bukan parcel atau THR yang akan saya dapatkan seperti halnya pegawai dan pekerja kantoran atau pun lainnya.
Mendapat THR biasanya identik dengan orang yang sudah kerjanya. Kendati mendapat THR tetapi bukan honorarium.Bukan bingkisan Tunjangan Hari Raya (THR) dari tempat kerja, karena saya belum kerja, bukan pula THR dari orang tua karena orang tua juga sibuk dengan kebutuhan orang tangga, juga bukan pula mendapat THR dari orang terdekat atau lebih akrab dengan angpauo dalam tradisi imlek. THR yang saya ini adalah bingkisan buku antologi yang saya tulis dengan rekan-rekan kampus IAIN Tulungagung. Tulisan yang berjudul Secarik Tulisan Serukan Budaya Literasi ini menjadi bagian dari kurator dalam buku yang bertajuk Geliat Literasi: Semangat Membaca dan Menulis dari Kampus IAIN Tulungagung. Buku ini memang menarik untuk dibaca dan didapati oleh semua mahasiswa maupun khalayak umum. Karena buku yang dituli oleh 61 orang; mulai dari dosen, mahasiswa dan stakeholder ini merupakan langkah awal menuju kampus Tulungagung sebagai peletakan batu pertama di bidang literasi.
Buku yang di pisahkan dengan tiga sub bab ini menarik. Pasalnya pada bab pertama diisi oleh jajaran dosen yang ikut menjadi kontributor dalam kepenulisan itu. Bab kedua ditengahi oleh para mahasiswa yang berkecimpung di dunia pendidikan serta mengaplikasikan dalam dunia buku serta bertutur kata dalam literasi (baca-tulis) ini. Mahasiswa IAIN Tulungagung memang terkenal dengan atmosfer yang baik di dalam aplikasi menulis. Namun masih banyak mahasiswa yang belum sadar akan manfaat baca dan tulis tersebut. Dan pada bagian akhir, bab tiga didampingi oleh para stakeholder dan alumni-alumni dari kampus Stain Tulungagung (sekarang IAIN Tulungagung). Oleh karena itu, dengan buku ini semoga bermanfaat dan menyadarkan akan pentingnya membaca dan menulis bagi kehidupan, kualitas dan kemudahan akademiknya.
Serta, ada hal yang beda dari bulan Ramadhan tahun ini dengan bulan Ramadhan tahun lalu. Dahulu saya belum tahu dan mengenal banyak tentang dunia literasi. Namun tahun ini saya banyak belajar tentang dunia menulis. Maka tak hayal saya mendapatkan buahnya di bulan Ramadhan ini. Bertepatan dengan bulan yang penuh berkah dan kemuliaan ini, saya mendapat dua THR bingkisan buku yang saya tulis antologi teman-teman Sahabat Pena Nusantara (SPN). Buku ini antologi kedua pada tahun ini. Buku yang berjudul Quantum Ramadhan:Cerdas Meningkatkan Kualitas Diri di Bulan Suci ini ditulis bareng-bareng dengan penulis yang ada di Nusantara, Indonesia. Hadir sumbangsih K.H. Prof. Dr. Imam Suprayogo, Ahmad Rifan Rifa'i, M Husnaini, Haidar Bagir, dan beberapa penulis kenamaan Indonesia/ Nusantara.
Oleh karena itu, di bulan Ramadhan tahun ini berbeda dengan tahun yang lalu. Sebab, bukan THR bingkisan uang atau honor yang didapat nanun bungkusan parcel buku antologi saya dan teman-teman. Suatu anugrah terindah bagi seseorang yang bergeliat dan membangun kesadaran tentang pentingnya membaca dan menulis sebagai bagian dari proses pendidikan dan kedewasaan diri. ("-")
Tm, 5/7/'15
Untuk itu, dengan kondisi yang lumayan fit, artinya memiliki kesempatan besar untukmempersiapkan diri untuk kembali ke fitri. Walau pada kenyataannya di fase minggu-minggu, diakhir Ramadhan banyak masjid atau langgar-langgar jamaahnya semakin maju shofnya, semoga di sisa waktu ini saya diberi kekuatan untuk menjalankan ibadah lebih giat lagi dan menikmati dalam menjalankan ibadah dengan penuh rasa syukur atas segala sesuatu yang telah diberikan oleh Allah SWT kepada kita.
Dan, seperti yang telah saya sampaikan di atas. Puasa tahun-tahun ini berbeda dengan tahun yang lalu. Perbedaan yang belum berpengaruh dalam lingkungan keluarga. Namun insyaAllah bermanfaat bagi orang lain yang berjuang di dalamnya. Maksudnya saya juga ikut berjuang dalam ranah di bidang literasi,yang notabene berjuang di dalam dunia tulis-menulis. Memang, secara kualitas saya belum tepat disebut penulis, saya lebih suka disebut dengan tukang belajar menulis. Pasalnya, setelah melewati fase pertengahan di bulan puasa, ternyata ada parcel yang akan nangkring di rumah. Bukan parcel atau THR yang akan saya dapatkan seperti halnya pegawai dan pekerja kantoran atau pun lainnya.
Mendapat THR biasanya identik dengan orang yang sudah kerjanya. Kendati mendapat THR tetapi bukan honorarium.Bukan bingkisan Tunjangan Hari Raya (THR) dari tempat kerja, karena saya belum kerja, bukan pula THR dari orang tua karena orang tua juga sibuk dengan kebutuhan orang tangga, juga bukan pula mendapat THR dari orang terdekat atau lebih akrab dengan angpauo dalam tradisi imlek. THR yang saya ini adalah bingkisan buku antologi yang saya tulis dengan rekan-rekan kampus IAIN Tulungagung. Tulisan yang berjudul Secarik Tulisan Serukan Budaya Literasi ini menjadi bagian dari kurator dalam buku yang bertajuk Geliat Literasi: Semangat Membaca dan Menulis dari Kampus IAIN Tulungagung. Buku ini memang menarik untuk dibaca dan didapati oleh semua mahasiswa maupun khalayak umum. Karena buku yang dituli oleh 61 orang; mulai dari dosen, mahasiswa dan stakeholder ini merupakan langkah awal menuju kampus Tulungagung sebagai peletakan batu pertama di bidang literasi.
Buku yang di pisahkan dengan tiga sub bab ini menarik. Pasalnya pada bab pertama diisi oleh jajaran dosen yang ikut menjadi kontributor dalam kepenulisan itu. Bab kedua ditengahi oleh para mahasiswa yang berkecimpung di dunia pendidikan serta mengaplikasikan dalam dunia buku serta bertutur kata dalam literasi (baca-tulis) ini. Mahasiswa IAIN Tulungagung memang terkenal dengan atmosfer yang baik di dalam aplikasi menulis. Namun masih banyak mahasiswa yang belum sadar akan manfaat baca dan tulis tersebut. Dan pada bagian akhir, bab tiga didampingi oleh para stakeholder dan alumni-alumni dari kampus Stain Tulungagung (sekarang IAIN Tulungagung). Oleh karena itu, dengan buku ini semoga bermanfaat dan menyadarkan akan pentingnya membaca dan menulis bagi kehidupan, kualitas dan kemudahan akademiknya.
Serta, ada hal yang beda dari bulan Ramadhan tahun ini dengan bulan Ramadhan tahun lalu. Dahulu saya belum tahu dan mengenal banyak tentang dunia literasi. Namun tahun ini saya banyak belajar tentang dunia menulis. Maka tak hayal saya mendapatkan buahnya di bulan Ramadhan ini. Bertepatan dengan bulan yang penuh berkah dan kemuliaan ini, saya mendapat dua THR bingkisan buku yang saya tulis antologi teman-teman Sahabat Pena Nusantara (SPN). Buku ini antologi kedua pada tahun ini. Buku yang berjudul Quantum Ramadhan:Cerdas Meningkatkan Kualitas Diri di Bulan Suci ini ditulis bareng-bareng dengan penulis yang ada di Nusantara, Indonesia. Hadir sumbangsih K.H. Prof. Dr. Imam Suprayogo, Ahmad Rifan Rifa'i, M Husnaini, Haidar Bagir, dan beberapa penulis kenamaan Indonesia/ Nusantara.
Oleh karena itu, di bulan Ramadhan tahun ini berbeda dengan tahun yang lalu. Sebab, bukan THR bingkisan uang atau honor yang didapat nanun bungkusan parcel buku antologi saya dan teman-teman. Suatu anugrah terindah bagi seseorang yang bergeliat dan membangun kesadaran tentang pentingnya membaca dan menulis sebagai bagian dari proses pendidikan dan kedewasaan diri. ("-")
Tm, 5/7/'15
إرسال تعليق