Bulan suci ramadan merupakan bulan penuh barakah. Dimana, semua umat muslimin bersama-sama menjalankan ibadah puasa. Namun ada yang menarik di mata saya, bagaimana rasanya merasakan menjalankan ibadah puasa di bawah terik matahari yang selalu menyinari kita. Tentu haus, lapar dan lemas menghampiri kondisi badan kita. Kondisi ini sejalan dengan menjalankan ibadah sebulan penuh ini di negara beriklim panas atau kemarau disana. Misalnya, di gurun pasir yang notabene daerah gersang dan panas, tentu dahaga kita meningkat. Haus dan lelah tak bisa jauh dari kita.
Menjalankan ibadah puasa, saya kira cocok untuk iklim tropis. Seperti, di negara kita, negara Indonesia raya ini. Karena di negara kita ini, tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin, sehingga kondisi badan tetap terjaga dari terbitnya fajar hingga tenggelam di ufuk barat. Dan waktu untuk menjalankan ibadah puasa kurang lebih 16 jam. Tentu sangat mendukung dan pas untuk menahan lapar dan dahaga.
Petani di sekitar rumah saya sedang merayakan panen cengkeh. Kondisi ini adalah berkat datangnya bulan penuh magfirullah. Bulan penuh berkah. Bulan penuh hikmah bagi petani di sekitar desa saya dan lainnya. Namun bagaimana rasanya ketika petani di daerah saya harus menjalankan ibadah puasa di tengah terik matahari, itu pun dilakukan di atas pohon? Tak bisa membayangkan, bagaimana kondisi daya tahan mereka, yang seharian mulai dari jam 7 pagi sampai jam 4 sore, berada di hutan. Pasti capek, dahaga, dan lemas tidak bisa terhindarkan dari kondisi badannya.
Kondisi itu dilakukan dengan memanjat tangga yang ‘berkaki satu’. Itu dilakukan dengan kondisi berpuasa dan mata ngantuk tentunya, setelah bangun pagi, menikmati secangkir minuman dan sepiring nasi untuk sunatullah, sahur. Setelah selesai menjalankan sholat subuh, para petani bersiap-siap berangkat ke hutan lagi. Ia harus menjalankan ibadah dengan kerendahan hati, keikhlasan hati. Berangkat kerjapun juga harus jumawa. Juga dengan tetap bersyukur bekerja ditengah bulan puasa.
Sementara ia berangkat menaiki bukit yang ditempuh dengan berjalankan kaki. Perjalanan bisa ditempuh kurang lebih setengah jam. Apalagi kalau tanahnya tidak datar, tak bisa membayangkan. Apalagi pulangnya, ia harus merangkul di pundaknya dengan barang bawaan kurang lebih berat kotor 20 kg. Tentu tidak bisa dimungkiri, lapar, haus dan ngantuk menyerangnya tanpa ia sadari.
Bisa kita rasakan, menjalankan puasa di atas pohon, di tengah-tengah terik dan goncangan angin, tentu membutuhkan energi yang lebih. Seperti yang kita yakini bersama, semakin tinggi pohon yang orang panjat semakin tinggi pula goncangan angin menerka. Sama halnya dengan makna dari ibadah puasa tersebut. Semakin kita sabar dalam menjalankan ibadah penuh keikhlasan, semakin banyak dan besar tuah yang didapat. Tentunya dikerjakan dengan keikhlasan dan hati yang senang.
Apabila menjalankan ibadah puasa dengan ikhlas, akan ringan ia kerjakan. Lantas, ia akan tampak begitu gembira dan tidak akan merasakan rasa haus dan dahaga tersebut. namun, alangkah bertambah nilai kehambaannya, petani tersebut tidak melupakan tilawah dan tadarus Al-Qur’an pada malam hari. Shalat sunah; shalat traweh, shalat tahajud dan tak lupa shalat dhuha. Tidak lupa juga berkah ramadan ini, jiwa sosial terhadap sesama ini terbangun. Karena tidak semua dikerjakan diri sendiri, namun ia juga minta bantuan kepada orang lain. Event ini adalh eventyang pas untuk mempersatukan tali persaudaraan, mempererat persahabatan dan kekerabatan.
Sehingga jalan untuk meraih rejeki akan terasa dimudahkan dan ditambah. Lewat panen cengkeh tersebut, bekal untuk hari raya nanti terpenuhi. Keringat yang bercucuran dari sekujur badan itu adalah rejeki yang ia hasilkan. Semangatnya yang ia gunakan adalah keikhlasan dan kesabaran tiada rasa dan tara. Manusia seperti ini adalah manusia yang transformasi menjadi manusia yang menuai hikmah dan berkah pada bulan ramadan. Makna puasa di tengah terik matahari adalah cobaan. Seberapa besar takaran keimanan kita menjalankan perintah ini. Seberapa kuat dan tegar kah kita menuju manusia yang baik. semua akan indah dan terasa pada waktunya. Karena Ramadan is the best. Amin, Allhua’lam Bishowab
Tasikmadu, Trenggalek, 29 Juni 2014
Menjalankan ibadah puasa, saya kira cocok untuk iklim tropis. Seperti, di negara kita, negara Indonesia raya ini. Karena di negara kita ini, tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin, sehingga kondisi badan tetap terjaga dari terbitnya fajar hingga tenggelam di ufuk barat. Dan waktu untuk menjalankan ibadah puasa kurang lebih 16 jam. Tentu sangat mendukung dan pas untuk menahan lapar dan dahaga.
Petani di sekitar rumah saya sedang merayakan panen cengkeh. Kondisi ini adalah berkat datangnya bulan penuh magfirullah. Bulan penuh berkah. Bulan penuh hikmah bagi petani di sekitar desa saya dan lainnya. Namun bagaimana rasanya ketika petani di daerah saya harus menjalankan ibadah puasa di tengah terik matahari, itu pun dilakukan di atas pohon? Tak bisa membayangkan, bagaimana kondisi daya tahan mereka, yang seharian mulai dari jam 7 pagi sampai jam 4 sore, berada di hutan. Pasti capek, dahaga, dan lemas tidak bisa terhindarkan dari kondisi badannya.
Kondisi itu dilakukan dengan memanjat tangga yang ‘berkaki satu’. Itu dilakukan dengan kondisi berpuasa dan mata ngantuk tentunya, setelah bangun pagi, menikmati secangkir minuman dan sepiring nasi untuk sunatullah, sahur. Setelah selesai menjalankan sholat subuh, para petani bersiap-siap berangkat ke hutan lagi. Ia harus menjalankan ibadah dengan kerendahan hati, keikhlasan hati. Berangkat kerjapun juga harus jumawa. Juga dengan tetap bersyukur bekerja ditengah bulan puasa.
Sementara ia berangkat menaiki bukit yang ditempuh dengan berjalankan kaki. Perjalanan bisa ditempuh kurang lebih setengah jam. Apalagi kalau tanahnya tidak datar, tak bisa membayangkan. Apalagi pulangnya, ia harus merangkul di pundaknya dengan barang bawaan kurang lebih berat kotor 20 kg. Tentu tidak bisa dimungkiri, lapar, haus dan ngantuk menyerangnya tanpa ia sadari.
Bisa kita rasakan, menjalankan puasa di atas pohon, di tengah-tengah terik dan goncangan angin, tentu membutuhkan energi yang lebih. Seperti yang kita yakini bersama, semakin tinggi pohon yang orang panjat semakin tinggi pula goncangan angin menerka. Sama halnya dengan makna dari ibadah puasa tersebut. Semakin kita sabar dalam menjalankan ibadah penuh keikhlasan, semakin banyak dan besar tuah yang didapat. Tentunya dikerjakan dengan keikhlasan dan hati yang senang.
Apabila menjalankan ibadah puasa dengan ikhlas, akan ringan ia kerjakan. Lantas, ia akan tampak begitu gembira dan tidak akan merasakan rasa haus dan dahaga tersebut. namun, alangkah bertambah nilai kehambaannya, petani tersebut tidak melupakan tilawah dan tadarus Al-Qur’an pada malam hari. Shalat sunah; shalat traweh, shalat tahajud dan tak lupa shalat dhuha. Tidak lupa juga berkah ramadan ini, jiwa sosial terhadap sesama ini terbangun. Karena tidak semua dikerjakan diri sendiri, namun ia juga minta bantuan kepada orang lain. Event ini adalh eventyang pas untuk mempersatukan tali persaudaraan, mempererat persahabatan dan kekerabatan.
Sehingga jalan untuk meraih rejeki akan terasa dimudahkan dan ditambah. Lewat panen cengkeh tersebut, bekal untuk hari raya nanti terpenuhi. Keringat yang bercucuran dari sekujur badan itu adalah rejeki yang ia hasilkan. Semangatnya yang ia gunakan adalah keikhlasan dan kesabaran tiada rasa dan tara. Manusia seperti ini adalah manusia yang transformasi menjadi manusia yang menuai hikmah dan berkah pada bulan ramadan. Makna puasa di tengah terik matahari adalah cobaan. Seberapa besar takaran keimanan kita menjalankan perintah ini. Seberapa kuat dan tegar kah kita menuju manusia yang baik. semua akan indah dan terasa pada waktunya. Karena Ramadan is the best. Amin, Allhua’lam Bishowab
Tasikmadu, Trenggalek, 29 Juni 2014
إرسال تعليق