Rabuk jiwa. Mendengar kata rabuk pandangan kita pasti tertuju pada sebuah pupuk, yang amat berguna untuk menyuburkan pertumbuhan tanaman. Jiwa sendiri menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) QTMedia adalah ji·wa; 1 roh manusia (yg ada di dl tubuh dan menyebabkan seseorang hidup); nyawa; 2 seluruh kehidupan batin manusia (yg terjadi dari perasaan, pikiran, angan-angan, dsb).
Disadari atau tidak, jiwa sebenarnya amat memerlukan asupan "gizi" kehidupan agar lebih optimistis menjalani hidup. Dan juga selama bulan suci Ramadhan ini. Ada beberapa unsur untuk merabuk jiwa kita selama bulan Ramadhan, di antaranya:
Mengaji. Mengaji satu hari satu juz bukan hal istimewa. Tapi bagi orang awam seperti saya, satu juz setiap hari jelas perjuangan berat.
Bersedekah. Ajaran Islam itu bukan cuma membawa mashlahat bagi Muslim, tapi juga buat siapa saja yang mau mengamalkan. Rahmat Allah SWT itu begitu luasnya, sehingga tak terbatas dan melimpah siapa saja. Sesaat, saya baru ngeh. Satu hal yang sering kita tak sadari adalah bahwa zakat, infak maupun sedekah sesungguhnya bukan cuma melepaskan hak orang lain yang terdapat pada diri kita. Namun, ada rahasia lain. Di bulan Ramadhan ini, kita perlu memperbanyak bersedekah bagi sesama. Bersedekah itu bisa dilakukan dengan memberi takjil kepada tetangga sebelah kanan kiri kita. Juga, kalau kita lagi banyak rejeki, bisa juga bersedekah kepada masyarakat sekitar, terutama pada anak yatim piatu. Semua dilandasi hanya untuk beribadah, meningkatkan kualitas diri di bulan suci ini.
Melembutkan hati dan perkataan. Melembutkan hati ini adalah salah satu untuk menahan diri untuk melakukan hal yang di luar dugaan kita. Yang biasanya berbicara dengan nada tinggi, dengan adanya bulan Ramadhan ini bisa melatihnya berbicara dengan sopan dan dipelankan. Dalam buku Wawan Susetya yang berjudul Membedah Kepribadian Kekasih Allah (2015) memberi sumbangsih dengan memberi contoh Nabi Muhammad saw bertanggung jawab terhadap apa yang dikerjakan; dengan apa yang diucapkan lewat lisannya, bertanggung jawab dengan tangannya dan mengerjakan tugas-tugasnya dengan baik, serta mendahulukan kepentingan bersama dari pada kepentingan pribadi dan golongan. Dan, apabila menyuruh atau berbicara dengan orang “rendahan” tidak menonjolkan kelebihan dan berbicara terlalu ditinggi-tinggikan.
Rasulullah sudah memberi teladan ihwal dalam bercakap. Nabi Muhammad Saw., bertutur dengan lawan bicaranya dengan nada sangat lembah-lembut, dan tegas juga tidak terlalu keras. Bahkan untuk menghindari sesuatu yang menyakitkan hati atau perasaan, apalagi menyinggung, Rasul mengulangi sampai tiga kali. Oleh karena itu, menjaga mulutmu harimaumu adalah cara melembutkan hati dan percakapan.
Membaca dan menulis. Membaca dan menulis adalah salah satu rabuk jiwa. Membaca adalah aktivitas intelektual yang dapat menambah pengetahuan dan wawasan bagi pribadi kita. Membaca juga sangat penting untuk merabuk jiwa kita dalam meningkatkan kualitas pribadi kita. Seperti yang dimaksudkan rabuk di atas, membaca adalah media untuk merabuk atau memupuk diri kita supaya subur dalam berkarya dan berkreatifitas. Sebagaimana dengan membaca, menulis adalah cara untuk rabuk diri. Seseorang yang melakukan aktivitas intelektual membaca dan menulis sama halnya dengan merabuk dan meracik dirinya menjadi pribadi yang akan dikenang oleh zaman. Oleh karena itu, kedua aktivitas ini sangatlah penting dilakukan untuk meningkatkan kualitas diri, juga penting untuk menunggu atau ngabuburit berkumandangnya adzan Maghrib tiba.
Biasanya, orang-orang bertadarus ria, membaca Al-Qur'an. Aktivitas ini sangat bermanfaat, seperti yang sudah saya sebutkan di atas, ngaji adalah aktivitas yang tidak bisa ditinggal. Namun, hanya sedikit orang yang melakukan aktivitas menulis. Oleh karena itu, selama ada waktu senggang, maka sangat bermanfaat untuk dilakukan aktivitas intelektual dan produktif ini, yaitu menulis. Entah, menulis puisi, sajak, cerpen, novel, esai, artikel hingga menulis yang sifatnya ilmiah sekalipun. Karena menulis adalah berbicara tentang kebaikan yang dibalut dengan tulisan, yang akan disampaikan kepada orang lain.
Apapun pekerjaan selagi mendatangkan kemaslahatan bagi umat. Maka nilai keberkahan bisa kita dapat. Oleh karena itu, aktivitas apapun bisa kita lakukan selama di bulan suci Ramadhan ini. Dan memang dianjurkan bagi kita untuk melakukan kebaikan. Kebaikan kepada sesama atau bagi makhluk hidup di bumi ini. Tanpa harus ada kekerasan, pembunuhan, seperti kasus angeline, yang santer diberikan akhir-akhir ini n hidup bermasyarakat dengan berkontribusi terhadap masyarakat adalah menjadi rabuk bagi kita, apabila kita bisa bermanfaat bagi orang lain. Rasanya tiada tara menjalani hidup masyarakat ini. (*)
Disadari atau tidak, jiwa sebenarnya amat memerlukan asupan "gizi" kehidupan agar lebih optimistis menjalani hidup. Dan juga selama bulan suci Ramadhan ini. Ada beberapa unsur untuk merabuk jiwa kita selama bulan Ramadhan, di antaranya:
Mengaji. Mengaji satu hari satu juz bukan hal istimewa. Tapi bagi orang awam seperti saya, satu juz setiap hari jelas perjuangan berat.
Bersedekah. Ajaran Islam itu bukan cuma membawa mashlahat bagi Muslim, tapi juga buat siapa saja yang mau mengamalkan. Rahmat Allah SWT itu begitu luasnya, sehingga tak terbatas dan melimpah siapa saja. Sesaat, saya baru ngeh. Satu hal yang sering kita tak sadari adalah bahwa zakat, infak maupun sedekah sesungguhnya bukan cuma melepaskan hak orang lain yang terdapat pada diri kita. Namun, ada rahasia lain. Di bulan Ramadhan ini, kita perlu memperbanyak bersedekah bagi sesama. Bersedekah itu bisa dilakukan dengan memberi takjil kepada tetangga sebelah kanan kiri kita. Juga, kalau kita lagi banyak rejeki, bisa juga bersedekah kepada masyarakat sekitar, terutama pada anak yatim piatu. Semua dilandasi hanya untuk beribadah, meningkatkan kualitas diri di bulan suci ini.
Melembutkan hati dan perkataan. Melembutkan hati ini adalah salah satu untuk menahan diri untuk melakukan hal yang di luar dugaan kita. Yang biasanya berbicara dengan nada tinggi, dengan adanya bulan Ramadhan ini bisa melatihnya berbicara dengan sopan dan dipelankan. Dalam buku Wawan Susetya yang berjudul Membedah Kepribadian Kekasih Allah (2015) memberi sumbangsih dengan memberi contoh Nabi Muhammad saw bertanggung jawab terhadap apa yang dikerjakan; dengan apa yang diucapkan lewat lisannya, bertanggung jawab dengan tangannya dan mengerjakan tugas-tugasnya dengan baik, serta mendahulukan kepentingan bersama dari pada kepentingan pribadi dan golongan. Dan, apabila menyuruh atau berbicara dengan orang “rendahan” tidak menonjolkan kelebihan dan berbicara terlalu ditinggi-tinggikan.
Rasulullah sudah memberi teladan ihwal dalam bercakap. Nabi Muhammad Saw., bertutur dengan lawan bicaranya dengan nada sangat lembah-lembut, dan tegas juga tidak terlalu keras. Bahkan untuk menghindari sesuatu yang menyakitkan hati atau perasaan, apalagi menyinggung, Rasul mengulangi sampai tiga kali. Oleh karena itu, menjaga mulutmu harimaumu adalah cara melembutkan hati dan percakapan.
Membaca dan menulis. Membaca dan menulis adalah salah satu rabuk jiwa. Membaca adalah aktivitas intelektual yang dapat menambah pengetahuan dan wawasan bagi pribadi kita. Membaca juga sangat penting untuk merabuk jiwa kita dalam meningkatkan kualitas pribadi kita. Seperti yang dimaksudkan rabuk di atas, membaca adalah media untuk merabuk atau memupuk diri kita supaya subur dalam berkarya dan berkreatifitas. Sebagaimana dengan membaca, menulis adalah cara untuk rabuk diri. Seseorang yang melakukan aktivitas intelektual membaca dan menulis sama halnya dengan merabuk dan meracik dirinya menjadi pribadi yang akan dikenang oleh zaman. Oleh karena itu, kedua aktivitas ini sangatlah penting dilakukan untuk meningkatkan kualitas diri, juga penting untuk menunggu atau ngabuburit berkumandangnya adzan Maghrib tiba.
Biasanya, orang-orang bertadarus ria, membaca Al-Qur'an. Aktivitas ini sangat bermanfaat, seperti yang sudah saya sebutkan di atas, ngaji adalah aktivitas yang tidak bisa ditinggal. Namun, hanya sedikit orang yang melakukan aktivitas menulis. Oleh karena itu, selama ada waktu senggang, maka sangat bermanfaat untuk dilakukan aktivitas intelektual dan produktif ini, yaitu menulis. Entah, menulis puisi, sajak, cerpen, novel, esai, artikel hingga menulis yang sifatnya ilmiah sekalipun. Karena menulis adalah berbicara tentang kebaikan yang dibalut dengan tulisan, yang akan disampaikan kepada orang lain.
Apapun pekerjaan selagi mendatangkan kemaslahatan bagi umat. Maka nilai keberkahan bisa kita dapat. Oleh karena itu, aktivitas apapun bisa kita lakukan selama di bulan suci Ramadhan ini. Dan memang dianjurkan bagi kita untuk melakukan kebaikan. Kebaikan kepada sesama atau bagi makhluk hidup di bumi ini. Tanpa harus ada kekerasan, pembunuhan, seperti kasus angeline, yang santer diberikan akhir-akhir ini n hidup bermasyarakat dengan berkontribusi terhadap masyarakat adalah menjadi rabuk bagi kita, apabila kita bisa bermanfaat bagi orang lain. Rasanya tiada tara menjalani hidup masyarakat ini. (*)
إرسال تعليق