Puasa adalah ibadah yang dijalankan pada bulan ramadan, dimana semua manusia diwajibkan untuk menahan makan dan dahaganya. Bulan ramadan adalah bulan yang penuh berkah, bulan penuh ampunan, bulan penuh kemenangan bagi kita semua, kaum muslim. Namun, seperti kita lihat bersama, puasa tidak bisa lepas dari yang namanya makanan yang di komersilkan oleh televisi. Setiap awal ramadan tiba, sudah dipastikan jajanan yang disiarkan oleh televisi meningkat 100 % daripada hari biasa. Padahal yang namanya bulan puasa kita harus menahan lapar dan dahaga, namun juga harus menahan hawa nafsu. Ini yang sulit oleh manusia sulit di perangi.
Hawa nafsu, musuh besar manusia adalah memerangi hawa nafsu, untuk menjadi manusia yang akhlakulkarimah, manusia harus bisa keluar dari jurang ambisi yang berasal dari nafsu yang terletak di hati.
Bisa kita amati, tayangan televisi-televisi mengunggah wanita-wanita yang berbalutkan busana tertutup. Berhija-hijab, berkebaya dengan penuh anggun nan cantik. Namun kebiasaannya memakai pakaian yang ketat. Bukan maksud saya untuk menkritik, namun alangkah indahnya apabila semua wanita dengan kodrat wanita memakai pakaian yang mustinya di pakai oleh wanita. Karena seperti apa kata orang-orang pada umumnya, wanita adalah sumber semuanya. Wanita adalah objek yang cantik untuk dijadikan model untuk sebuah dagang, sebuah komoditi, dan yang memiliki nilai lebih daripada seorang laki-laki.
Sementara itu, banyak jajanan dadakan di jalanan. Padahal kalau boleh berkomentar, seperti apa yang saya utarakan di atas, puasa adalah menahan hawa nafsu. Kalau kita terlibat membeli jajanan yang dipasarkan di televisi dan di lapak-lapak dagang tersebut tanpa memikirkan orang lain di sana, berarti kita memenuhi hawa nafsu dari pikiran kita.
Setelah dengan lahap kita mengonsumsi tanpa menghentikan berapa takaran makan kita. Itu sama saja dengan menuruti hawa nafsu. Seperti hadis-hadis yang sering kita dengar, “makanlah sebelum Anda kenyang, berhentilah jikalau sudah merasa kenyang”. Apabila keadaan kita sudah tidak muat untuk menerima asupan makanan, namun ambisi kita untuk terus kita ikuti, kemudian akibatnya ibadah kita terbekalai, itu adalah yang tidak disukai Allah swt. kita harus menyadari hal itu.
Ibadah pun menjadi tidak tenang. Sholat pun menjadi tidak konsen, itu semua berkat apa yang ditampakan dalam televisi dan menuruti keinginan di luar nalar. Manusia adalah makhluk yang dibekali oleh akal dan pikiran. Tanpa akal dan pikiran manusia hanyut dengan nafsu-nafsunya. Manusia menjadi objek dan subjek sekalipun untuk urusan komersil dan komoditi. Manusia adalah alat dan sumber apa yang ditawakan oleh televisi. Itu semua utuk menuruti apa yang namanya urusan perut.
Bahkan atas nama urusan perut, ditengah puasa ramadan, manusia masih saja melakukan hal-hal yang dimungkari oleh Allah. Ialah dengan korupsi, melakukan tidakan riya’, melakukan berbohong urusan timbang-menimbang. Ini adalah urusan perut yang kita lakukan tanpa peduli dengan yang lain.
Hawa nafsu, musuh besar manusia adalah memerangi hawa nafsu, untuk menjadi manusia yang akhlakulkarimah, manusia harus bisa keluar dari jurang ambisi yang berasal dari nafsu yang terletak di hati.
Bisa kita amati, tayangan televisi-televisi mengunggah wanita-wanita yang berbalutkan busana tertutup. Berhija-hijab, berkebaya dengan penuh anggun nan cantik. Namun kebiasaannya memakai pakaian yang ketat. Bukan maksud saya untuk menkritik, namun alangkah indahnya apabila semua wanita dengan kodrat wanita memakai pakaian yang mustinya di pakai oleh wanita. Karena seperti apa kata orang-orang pada umumnya, wanita adalah sumber semuanya. Wanita adalah objek yang cantik untuk dijadikan model untuk sebuah dagang, sebuah komoditi, dan yang memiliki nilai lebih daripada seorang laki-laki.
Sementara itu, banyak jajanan dadakan di jalanan. Padahal kalau boleh berkomentar, seperti apa yang saya utarakan di atas, puasa adalah menahan hawa nafsu. Kalau kita terlibat membeli jajanan yang dipasarkan di televisi dan di lapak-lapak dagang tersebut tanpa memikirkan orang lain di sana, berarti kita memenuhi hawa nafsu dari pikiran kita.
Setelah dengan lahap kita mengonsumsi tanpa menghentikan berapa takaran makan kita. Itu sama saja dengan menuruti hawa nafsu. Seperti hadis-hadis yang sering kita dengar, “makanlah sebelum Anda kenyang, berhentilah jikalau sudah merasa kenyang”. Apabila keadaan kita sudah tidak muat untuk menerima asupan makanan, namun ambisi kita untuk terus kita ikuti, kemudian akibatnya ibadah kita terbekalai, itu adalah yang tidak disukai Allah swt. kita harus menyadari hal itu.
Ibadah pun menjadi tidak tenang. Sholat pun menjadi tidak konsen, itu semua berkat apa yang ditampakan dalam televisi dan menuruti keinginan di luar nalar. Manusia adalah makhluk yang dibekali oleh akal dan pikiran. Tanpa akal dan pikiran manusia hanyut dengan nafsu-nafsunya. Manusia menjadi objek dan subjek sekalipun untuk urusan komersil dan komoditi. Manusia adalah alat dan sumber apa yang ditawakan oleh televisi. Itu semua utuk menuruti apa yang namanya urusan perut.
Bahkan atas nama urusan perut, ditengah puasa ramadan, manusia masih saja melakukan hal-hal yang dimungkari oleh Allah. Ialah dengan korupsi, melakukan tidakan riya’, melakukan berbohong urusan timbang-menimbang. Ini adalah urusan perut yang kita lakukan tanpa peduli dengan yang lain.
إرسال تعليق