"... Oncor atau obor menjadi primadona dalam menyambut gemuruhnya bulan suci Ramadhan dan diarak keliling lingkungan. Di surau-surau atau langgar-langgar satu atau dua hari sebelum datangnya bulan Ramadhan, orangtua atau Imam Masjid yang diteruskan oleh tole-tole menabuh beduk atau kentongan atau orang Jawa bilang ketitir yang menabuhnya secara berulang-ulang."
Ramadhan adalah bulan yang berbeda dengan bulan Masehi biasa. Perbedaan ini bisa kita tangkap dengan menjamurnya beberapa aktivitas di televisi dan sosial masyarakat. Di tayangan televisi ada tayangan khas dalam menyambut Ramadhan. Orang-orang menjadi sedikit alim, berbalutkan kostumnya. Kealimannya terlihat berlebihan dengan berjudelnya merk sarung, songkok dan jilbab pada orang-orang di lingkungan dekat maupun masyarakat jauh sana.
Tidak hanya itu, kealiman seseorang juga didukung oleh produk khas tradisional yang menjadi tradisi. Tradisi orang Indonesia memang memakai sarung, songkok, dan kerudung dalam melakukan aktivitas ibadah. Oleh karena itu, ATPM (Agen Tunggal Penjual Merk) pun juga ikut kebablasan mempromosikan produknya kepada konsumen. Kita tentu tidak bisa menampik terhadap eksistensi Marjan (bukan mbah Marijan loh) dalam menyambut bulan penuh berkah ini. Barangkali berkah dalam melancarkan serangan dan peredaran produk dagangannya. Marjan dan beberapa produk makanan dan minuman misalnya, sukses dalam memasarkan produknya di tengah budaya masyarakat yang konsumerisme masif.
Di sosial masyarakat, kita sering mendengar dan menjumpai suara petasan atau dor-doran. Dor-doran dalam bahasa Jawa atau pesisir Selatan Jawa adalah pring atau bambu yang dilubangi dan dikasih karbit. Karbit sendiri terbuat dari bahan batu(bara) yang difermentasikan beberapa hari. Dari Karbitan ini kemudian dikasih air, dinyalakan dengan api hingga menimbulkan suara keras dan berasap, terkadang keluar percikan api kecil. Iiiiiiieeeeeerrrrrr, begitu suara yang acak kali timbul dari dor-doran itu.
Namun demikian, dor-doran yang biasanya dilakukan oleh para tole-tole semakin hilang. Dolanane tole sekarang tereleminasi oleh handphone, gadget, android televisi dan beberapa peralatan modern masa kini. Dolanan secara harfiah orang Jawa bilang adalah perangkat atau perabotan bermain anak-anak tradisional. Sedangkan tole adalah seseorang atau lebih identik dengan seorang anak laki-laki seusia Sekolah Dasar (SD). Dolanan-dolanane tole yang dahulu dimainkan sekarang sudah uzur masanya dan sekarang tersisih oleh zaman serba instan dan canggih ini.
Di era tahun 1990-an dolanane tole, seperti dor-doran, gedrek, delik-delikan atau petak umpet, delikan bal, kacang-kacangan atau dakon, egrang, main kelereng, ular tangga, pene'an pucang atau panjat pinang, main karet dan engklek sempat menuju kejayaannya dalam permainan tradisional. Permainan engklek sendiri juga kenal di beberapa daerah di Indonesia, di Sunda, engklek disebut Sondah, cak engkle (Palembang), enge-enge (Manado) atau Anda sebut sendiri sesuai istilah daerah masing-masing.
Permainan tradisional sendiri juga ikut terkenal hingga mancanegara. Sebutan saja engkle--benar atau hanya kebetulan--engkle berasal dari permainan Roma, Italia. Di Roma permainan ini disebut permainan Hopscotch. Hopscotch mempunyai arti Hop (melompat atau lompat) dan Scotch (garis-garis yang berada di dalam permainan). Dan awalnya, di Roma permainan engkle atau Sondah/Hopscotch digunakan latihan perang para tentara Roma, Italia. Biasanya permainan ini dilakukan tentara Roma di daerah Great North Road (Perjalanan untuk penjajahan daerah dari Glasgow, Skotlandia ke Inggris).
Kembali lagi pada permainan tradisional dalam menyambut bulan Ramadhan, oncor atau obor menjadi primadona dalam menyambut gemuruhnya bulan suci Ramadhan, dan obor pun diarak keliling lingkungan masyarakat. Di surau-surau atau langgar-langgar satu atau dua hari sebelum datangnya bulan Ramadhan, orangtua atau Imam Masjid yang diteruskan oleh anak-anak atau tole-tole menabuh beduk dan kentongan berulang -ulang dalam bahasa Jawa ketitir di Masjid.
Dan untuk urusan membersihkan badan dan sekaligus menjadi ritual sebelum datangnya bulan suci Ramadhan, tole-tole membersihkan diri kedung atau padusan. Kedung atau padusan ini dahulu adanya di sungai yang mengalir deras dari hulu ke hilir. Sehingga kotoran-kotoran manusia, karena orang Jawa lebih suka membuang hajat di sungai apabila air sungai mengalir deras. Kelucuan dan keluguan para si tole-tole lanang sangat terasa asik dan alami. Memang secara fungsional, kedung atau padusan ini bermanfaat untuk membersihkan diri dalam menyambut bulan suci ini.
Beberapa dolanane si tole dalam menyambut bulan Puasa ini sangat penting untuk diangkat ke permukaan di abad ke-20. Tanpa menutup sebelah mata, di beberapa medsos dan via blackberry messenger, yang kebanyakan orang lain dibuat gambar profil, saya menemukan warning terhadap dolanan tradisional. Mension tersebut menuliskan semakin punah dan tergerusnya dolanan tradisional tersebut. "Mungkin anak cucu kita tidak akan tahu, berapa serunya permainan ini (tradisional)? Oleh karena itu, dolanannya si tole dan bertepatan dengan tradisi yang kental di bulan Ramadhan ini diuri-uri kembali dan dijadikan pegangan para pemerhati dan si tole-tole lanang dan agar kita tidak terlalu jauh larut dalam semangat modernitas seperti sekarang ini. []
Tm, 16/6/'15
Ramadhan adalah bulan yang berbeda dengan bulan Masehi biasa. Perbedaan ini bisa kita tangkap dengan menjamurnya beberapa aktivitas di televisi dan sosial masyarakat. Di tayangan televisi ada tayangan khas dalam menyambut Ramadhan. Orang-orang menjadi sedikit alim, berbalutkan kostumnya. Kealimannya terlihat berlebihan dengan berjudelnya merk sarung, songkok dan jilbab pada orang-orang di lingkungan dekat maupun masyarakat jauh sana.
Tidak hanya itu, kealiman seseorang juga didukung oleh produk khas tradisional yang menjadi tradisi. Tradisi orang Indonesia memang memakai sarung, songkok, dan kerudung dalam melakukan aktivitas ibadah. Oleh karena itu, ATPM (Agen Tunggal Penjual Merk) pun juga ikut kebablasan mempromosikan produknya kepada konsumen. Kita tentu tidak bisa menampik terhadap eksistensi Marjan (bukan mbah Marijan loh) dalam menyambut bulan penuh berkah ini. Barangkali berkah dalam melancarkan serangan dan peredaran produk dagangannya. Marjan dan beberapa produk makanan dan minuman misalnya, sukses dalam memasarkan produknya di tengah budaya masyarakat yang konsumerisme masif.
Di sosial masyarakat, kita sering mendengar dan menjumpai suara petasan atau dor-doran. Dor-doran dalam bahasa Jawa atau pesisir Selatan Jawa adalah pring atau bambu yang dilubangi dan dikasih karbit. Karbit sendiri terbuat dari bahan batu(bara) yang difermentasikan beberapa hari. Dari Karbitan ini kemudian dikasih air, dinyalakan dengan api hingga menimbulkan suara keras dan berasap, terkadang keluar percikan api kecil. Iiiiiiieeeeeerrrrrr, begitu suara yang acak kali timbul dari dor-doran itu.
Namun demikian, dor-doran yang biasanya dilakukan oleh para tole-tole semakin hilang. Dolanane tole sekarang tereleminasi oleh handphone, gadget, android televisi dan beberapa peralatan modern masa kini. Dolanan secara harfiah orang Jawa bilang adalah perangkat atau perabotan bermain anak-anak tradisional. Sedangkan tole adalah seseorang atau lebih identik dengan seorang anak laki-laki seusia Sekolah Dasar (SD). Dolanan-dolanane tole yang dahulu dimainkan sekarang sudah uzur masanya dan sekarang tersisih oleh zaman serba instan dan canggih ini.
Di era tahun 1990-an dolanane tole, seperti dor-doran, gedrek, delik-delikan atau petak umpet, delikan bal, kacang-kacangan atau dakon, egrang, main kelereng, ular tangga, pene'an pucang atau panjat pinang, main karet dan engklek sempat menuju kejayaannya dalam permainan tradisional. Permainan engklek sendiri juga kenal di beberapa daerah di Indonesia, di Sunda, engklek disebut Sondah, cak engkle (Palembang), enge-enge (Manado) atau Anda sebut sendiri sesuai istilah daerah masing-masing.
Permainan tradisional sendiri juga ikut terkenal hingga mancanegara. Sebutan saja engkle--benar atau hanya kebetulan--engkle berasal dari permainan Roma, Italia. Di Roma permainan ini disebut permainan Hopscotch. Hopscotch mempunyai arti Hop (melompat atau lompat) dan Scotch (garis-garis yang berada di dalam permainan). Dan awalnya, di Roma permainan engkle atau Sondah/Hopscotch digunakan latihan perang para tentara Roma, Italia. Biasanya permainan ini dilakukan tentara Roma di daerah Great North Road (Perjalanan untuk penjajahan daerah dari Glasgow, Skotlandia ke Inggris).
Kembali lagi pada permainan tradisional dalam menyambut bulan Ramadhan, oncor atau obor menjadi primadona dalam menyambut gemuruhnya bulan suci Ramadhan, dan obor pun diarak keliling lingkungan masyarakat. Di surau-surau atau langgar-langgar satu atau dua hari sebelum datangnya bulan Ramadhan, orangtua atau Imam Masjid yang diteruskan oleh anak-anak atau tole-tole menabuh beduk dan kentongan berulang -ulang dalam bahasa Jawa ketitir di Masjid.
Dan untuk urusan membersihkan badan dan sekaligus menjadi ritual sebelum datangnya bulan suci Ramadhan, tole-tole membersihkan diri kedung atau padusan. Kedung atau padusan ini dahulu adanya di sungai yang mengalir deras dari hulu ke hilir. Sehingga kotoran-kotoran manusia, karena orang Jawa lebih suka membuang hajat di sungai apabila air sungai mengalir deras. Kelucuan dan keluguan para si tole-tole lanang sangat terasa asik dan alami. Memang secara fungsional, kedung atau padusan ini bermanfaat untuk membersihkan diri dalam menyambut bulan suci ini.
Beberapa dolanane si tole dalam menyambut bulan Puasa ini sangat penting untuk diangkat ke permukaan di abad ke-20. Tanpa menutup sebelah mata, di beberapa medsos dan via blackberry messenger, yang kebanyakan orang lain dibuat gambar profil, saya menemukan warning terhadap dolanan tradisional. Mension tersebut menuliskan semakin punah dan tergerusnya dolanan tradisional tersebut. "Mungkin anak cucu kita tidak akan tahu, berapa serunya permainan ini (tradisional)? Oleh karena itu, dolanannya si tole dan bertepatan dengan tradisi yang kental di bulan Ramadhan ini diuri-uri kembali dan dijadikan pegangan para pemerhati dan si tole-tole lanang dan agar kita tidak terlalu jauh larut dalam semangat modernitas seperti sekarang ini. []
Tm, 16/6/'15
Posting Komentar