Suatu sore di tanah lapang yang tidak jauh dari perkampungan, sekumpulan bocah berkejaran dengan telanjang kaki. Mereka lari kesana kemari tanpa ada rasa takut. Mereka berkejaran tanpa alas kaki sedang bermain bola. Media yang digunakan adalah bola yang berasal dari plastik.
Kita tahu beban masa bola plastik tidak sama dengan bola standar yang digunakan di stadion atau di lapangan indoor. Saat bola itu ditendang, maka bola tersebut meluncur tidak akan sesuai dengan prediksi kita. Bahkan sedang seru-serunya bermain, permaianan berhenti sejenak gara-gara bola tersebut nyangkut di atas pohon atau di genteng.
Masih ingat dengan jelas, kami bermain bola tidak memerdulikan aturan, bahwa tidak ada garis khusus yang membatasi lapangan tersebut. Juga tidak ada tiang gawang di lapangan tersebut, bahkan dua bongkah batu dan sekumpulan sandal jepit pun sudah bisa dipakai sebagai tiang gawang.
Seorang wasit yang penting dalam pertandingan sepak bola pun ditiadakan. Dalam pertandingan tersebut tak adanya peraturan baku. Justru itulah kami tahu dan menikmati permainan sepak bola, lebih dari sekadar pertandingan juga pertemanan, persahabatan, fair play.
Untuk jumlah pemain tidak ada batasan berapa anak yang bermain. Hanya, ada sebuah peraturan yang tak tertulis tapi seolah disepakti bersama bahwa apabila sudah berada di lapangan dan lapangan sudah dirasa penuh anak-anak, maka tidak boleh ada penambahan jumlah pemain lagi.
Bagaimana cara menentukan atau membagi kedua tim? Suit merupakan salah satu cara yang paling adil dalam permainan tersebut. Apabila ada yang dirasa jago, maka ia suit dengan yang jago. Dan apabila ada anak yang ganjil dalam hitungan pembagian dua tim tersebut, biasanya kita bagi antara yang jago atau yang besar atau berusia dengan dua orang yang dianggap "biasa" atau dua anak yang usia belum sepantaran.
Karena itu tidak ada yang merasa dirugikan seperti pesepak bola India Gourav Mukhi yang disinyalir sedang melakukan pencurian usia. Menurut kabar yang berkembang, usia aslinya 28, tetapi usia yang diberitakan adalah 16 tahun.
Tidak ada pergantian meski bermain jelek. Tetapi saat kita melakukan sesuatu kesalahan, di situ keseruan atau kebahagian dengan tertawa bebas dalam pertandingan pun pecah. Bahkan permainan yang seru terkadang terpause sejenak dengan selingan canda gurau, selepas teman atau kita menendang bola seolah menendang angin. Tetapi bola bergulir di depan kita tanpa tersentuh kaki bagian mana pun.
Permainan akan bertambah seru apabila turun hujan atau sedang musim hujan? justru itulah yang menambah permainan bertambah ramai. Meski hujan deras, bola susah dikendalikan, tanah atau lapangan jadi licin membuat pemain terjatuh menambah kelucuan dalam bermain.
Seperti yang sudah saya sampaikan di atas, tidak ada peraturan yang tertulis dalam permainan bola plastik tersebut yang kami lakukan di sore hari. Termasuk peluit untuk menentukan permainan akan berakhir atau berhenti sejak. Tetapi yang kita khawatirkan adalah panggilan pulang ibu. Kami takut dengan berkurangnya teman bermain gara-gara tidak bisa datang ke lapangan.
Selain khawatir panggilan ibu, ada satu "peluit" yang telah disepakati bagi siapa pun yang kisah kecilnya dihabiskan dengan bermain bola adalah berkumandangnya suara azan Maghrib. Sebab suara azan menandakan peluit panjang dan permainan diakhiri dengan cepat, tanpa (kadang) dihitung selisih keunggulan yang kita ciptakan.
Dari situ tidak ada yang bisa mengalahkan indahnya kenangan bermain sepak bola di masa kecil. Kini, mungkin kita bisa menyewa atau telah disediakan lapangan bola tau futsal, tetapi keceriaan masa tak begitu indah dengan telanjang kaki saat bermain bola tak bisa diulang.
Kini kita bisa membeli bola plastik bahkan kita bisa borong membeli bola plastik sekarung. Pun, kita juga bisa membeli bola asli standar FIFA, tetapi sensasi menendang bola plastik tak akan tergantikan oleh bola sebagus atau standar FIFA sekali pun.
Kita masih teringat bagaimana sensasi bermain bola plastik di mana, kami menggunakan jersey yang dibelikan ibu dari pasar. Dan kini kita bisa membeli jersey dengan kualitas orisinal. Namun tak ada yang lebih menyenangkan selain mengenakan kaos seragam olahraga, yang nomor punggungnya kita tulisi sendiri menggunakan spidol boardmarker atau tipe x.
Dari segi perlengkapan sepatu, kini iita bisa membeli sepatu merk Adidas atau Nike terbaru, tetapi sepak bola tanpa alas kaki yang paling enak. Waktu itu, saat menendang menggunakan kaki bagian dalam dengan bola plastik, kami seolah sedang menjadi sesosok David Beckham di lapangan yang luas hanya selemparan batu. Kami benar-benar menikmati proses tendangan pisang ala Roberto Carlos (bukan Cristiano Ronaldo karena saat itu dia belum sehebat sekarang, dan tentu saja belum kenal Leonel Messi), saat kami menendang menggunakan kaki bagian luar. Tembakan itu sangat keras dan sering menyulitkan penjaga gawang (kiper).
Waktu memang tidak bisa diulang. Namun masa indah yang dulu pernah kami lakukan bersama di pekarangan atau di lahan kosong hanya bisa untuk dikenang. Kini jamannya memang sudah canggih. Semua serba elektronik dan anak-anak jaman sekarang lebih memanfaatkan alat eletronik dan tak mau bergerak meluangkan waktu sebentar setiap sore dengan bermain bola.
Olah karena itu, belilah sebuah bola plastik, ajak teman-temanmu pergi ke lapangan atau sebuah tanah kosong, tidak perlu tiang gawang, sendal jepit dan batu bata pun cukup. Nikmati permainan sepak bola dengan sesuka hati. Percayalah masa anak-anak sangat indah dilakukan dengan bergerak riang kesana kemari dan tumbuh dengan bola merupakan kodrat seorang anak menjadi seorang laki-laki. Sebab bermain bola menggunakan bola plastik adalah romantisme yang sangat indah bila kita tunaikan kembali. Lakukanlah kawan!
Kita tahu beban masa bola plastik tidak sama dengan bola standar yang digunakan di stadion atau di lapangan indoor. Saat bola itu ditendang, maka bola tersebut meluncur tidak akan sesuai dengan prediksi kita. Bahkan sedang seru-serunya bermain, permaianan berhenti sejenak gara-gara bola tersebut nyangkut di atas pohon atau di genteng.
Masih ingat dengan jelas, kami bermain bola tidak memerdulikan aturan, bahwa tidak ada garis khusus yang membatasi lapangan tersebut. Juga tidak ada tiang gawang di lapangan tersebut, bahkan dua bongkah batu dan sekumpulan sandal jepit pun sudah bisa dipakai sebagai tiang gawang.
Seorang wasit yang penting dalam pertandingan sepak bola pun ditiadakan. Dalam pertandingan tersebut tak adanya peraturan baku. Justru itulah kami tahu dan menikmati permainan sepak bola, lebih dari sekadar pertandingan juga pertemanan, persahabatan, fair play.
Untuk jumlah pemain tidak ada batasan berapa anak yang bermain. Hanya, ada sebuah peraturan yang tak tertulis tapi seolah disepakti bersama bahwa apabila sudah berada di lapangan dan lapangan sudah dirasa penuh anak-anak, maka tidak boleh ada penambahan jumlah pemain lagi.
Bagaimana cara menentukan atau membagi kedua tim? Suit merupakan salah satu cara yang paling adil dalam permainan tersebut. Apabila ada yang dirasa jago, maka ia suit dengan yang jago. Dan apabila ada anak yang ganjil dalam hitungan pembagian dua tim tersebut, biasanya kita bagi antara yang jago atau yang besar atau berusia dengan dua orang yang dianggap "biasa" atau dua anak yang usia belum sepantaran.
Karena itu tidak ada yang merasa dirugikan seperti pesepak bola India Gourav Mukhi yang disinyalir sedang melakukan pencurian usia. Menurut kabar yang berkembang, usia aslinya 28, tetapi usia yang diberitakan adalah 16 tahun.
Tidak ada pergantian meski bermain jelek. Tetapi saat kita melakukan sesuatu kesalahan, di situ keseruan atau kebahagian dengan tertawa bebas dalam pertandingan pun pecah. Bahkan permainan yang seru terkadang terpause sejenak dengan selingan canda gurau, selepas teman atau kita menendang bola seolah menendang angin. Tetapi bola bergulir di depan kita tanpa tersentuh kaki bagian mana pun.
Permainan akan bertambah seru apabila turun hujan atau sedang musim hujan? justru itulah yang menambah permainan bertambah ramai. Meski hujan deras, bola susah dikendalikan, tanah atau lapangan jadi licin membuat pemain terjatuh menambah kelucuan dalam bermain.
Seperti yang sudah saya sampaikan di atas, tidak ada peraturan yang tertulis dalam permainan bola plastik tersebut yang kami lakukan di sore hari. Termasuk peluit untuk menentukan permainan akan berakhir atau berhenti sejak. Tetapi yang kita khawatirkan adalah panggilan pulang ibu. Kami takut dengan berkurangnya teman bermain gara-gara tidak bisa datang ke lapangan.
Selain khawatir panggilan ibu, ada satu "peluit" yang telah disepakati bagi siapa pun yang kisah kecilnya dihabiskan dengan bermain bola adalah berkumandangnya suara azan Maghrib. Sebab suara azan menandakan peluit panjang dan permainan diakhiri dengan cepat, tanpa (kadang) dihitung selisih keunggulan yang kita ciptakan.
Dari situ tidak ada yang bisa mengalahkan indahnya kenangan bermain sepak bola di masa kecil. Kini, mungkin kita bisa menyewa atau telah disediakan lapangan bola tau futsal, tetapi keceriaan masa tak begitu indah dengan telanjang kaki saat bermain bola tak bisa diulang.
Kini kita bisa membeli bola plastik bahkan kita bisa borong membeli bola plastik sekarung. Pun, kita juga bisa membeli bola asli standar FIFA, tetapi sensasi menendang bola plastik tak akan tergantikan oleh bola sebagus atau standar FIFA sekali pun.
Kita masih teringat bagaimana sensasi bermain bola plastik di mana, kami menggunakan jersey yang dibelikan ibu dari pasar. Dan kini kita bisa membeli jersey dengan kualitas orisinal. Namun tak ada yang lebih menyenangkan selain mengenakan kaos seragam olahraga, yang nomor punggungnya kita tulisi sendiri menggunakan spidol boardmarker atau tipe x.
Dari segi perlengkapan sepatu, kini iita bisa membeli sepatu merk Adidas atau Nike terbaru, tetapi sepak bola tanpa alas kaki yang paling enak. Waktu itu, saat menendang menggunakan kaki bagian dalam dengan bola plastik, kami seolah sedang menjadi sesosok David Beckham di lapangan yang luas hanya selemparan batu. Kami benar-benar menikmati proses tendangan pisang ala Roberto Carlos (bukan Cristiano Ronaldo karena saat itu dia belum sehebat sekarang, dan tentu saja belum kenal Leonel Messi), saat kami menendang menggunakan kaki bagian luar. Tembakan itu sangat keras dan sering menyulitkan penjaga gawang (kiper).
Waktu memang tidak bisa diulang. Namun masa indah yang dulu pernah kami lakukan bersama di pekarangan atau di lahan kosong hanya bisa untuk dikenang. Kini jamannya memang sudah canggih. Semua serba elektronik dan anak-anak jaman sekarang lebih memanfaatkan alat eletronik dan tak mau bergerak meluangkan waktu sebentar setiap sore dengan bermain bola.
Olah karena itu, belilah sebuah bola plastik, ajak teman-temanmu pergi ke lapangan atau sebuah tanah kosong, tidak perlu tiang gawang, sendal jepit dan batu bata pun cukup. Nikmati permainan sepak bola dengan sesuka hati. Percayalah masa anak-anak sangat indah dilakukan dengan bergerak riang kesana kemari dan tumbuh dengan bola merupakan kodrat seorang anak menjadi seorang laki-laki. Sebab bermain bola menggunakan bola plastik adalah romantisme yang sangat indah bila kita tunaikan kembali. Lakukanlah kawan!
إرسال تعليق