Suatu tempat yang perlu perawatan atau perlindungan biasa buka terbatas; pagi sampai sore atau sore hingga malam saja. Kalaupun buka penuh itu biasa ada kegiatan yang memungkinkan dibukanya secara penuh. Katakanlah hari besar atau sedang memperingati berdirinya bangunan tersebut pertama kali dibangun.
Malam itu kami sedang di jalur yang tepat untuk menuju Tugu Pahlawan. Kami berada di Jalan Tunjungan. Tepatnya di sekitar Plaza Tunjungan. Jadi tinggal beberapa Km saja, atau kami butuh waktu 7 menit untuk sampai di Jalan Pahlawan. Jadi malam itu kami putuskan untuk menyusuri Jalan Pahlawan sekaligus menikmati panorama dari landmark membanggakan di Kota Pahlawan ini.
Awalnya kami tidak sengaja datang dan menikmati Tugu Pahlawan di malam hari. Karena krentek--satu dua bulan sebelumnya saya memiliki keinginan untuk datang--sekali ada kesempatan, maka kami datang dengan hati riang. Kedatangan, terutama saya, bermodal ingatan beberapa tahun silam, pernah melintasi Jalan Pahlawan bersama teman dari NTT. Giliran malam itu imaji saya tentang tempat ini menggedor-gedor dan segera dilunasi.
Malam yang sejuk di Kota Surabaya, Ella menyalakan aplikasi Google Maps. Aplikasi ini jadi pilihan utama saat kami ingin mengunjungi dan menikmati berbagai tempat di Kota Pahlawan. Karena saya belum terlalu hafal dengan jalan Surabaya. Jadi mengakses aplikasi yang terkonek dengan jangkauan satelit merupakan hal yang penting.
Di jalur tunjungan, Ella mengetik pencarian estimasi Tugu Pahlawan. Di smartphone, ia mendapati arah jalan dan estimasi jarak yang kami tuju. (Saya lupa persisnya berapa meter dari tempat saya berhenti kemarin, kalau tidak salah 8 Km). Dengan arahan aplikasi Google Maps, kami menyusuri jalanan Kota Surabaya dengan asoy gemboy. Jalan lumayan ramai lancar. Kebisingan Raya Bubutan: putar balik disambar klakson, suara bleyer saling bersahutan, decit rem, aspal ganas, polisi berkacak pinggang mengatur jalan mengiringi malam itu.
Mencecap Sorot Lampu Tugu Pahlawan
Suasana di Jalan Pahlawan berbeda dengan suasana tiga atau empat hari sebelum kami datang di malam hari. Selepas melewati viaduk (yang beberapa hari sebelum saya datang, terjadi kecelakaan tertabrak kereta api saat orang-orang melihat drama kolosal 'Surabaya Membara' di jalur kereta ini) hati saya sangat senang. Akhirnya saya bisa mencecap malam di Tugu Pahlawan.
Ya, Tuhan menjawab rasa penasaran saya dengan mengizinkan kami yang butuh rehat dan menikmati angin malam di tempat yang bebas khas malam sejenak di Tugu Pahlawan. Namun, rasa penasaran untuk menziarahi tugu sebagai penanda mengenang jasa para pejuang arek-arek Surabaya tersebut dari balik pagar yang terkunci.
Kami hanya bisa menyaksikan Tugu Pahlawan yang bermandikan cahaya dari balik pagar yang terkunci dari depan kantor kepemerintahan gubernur Jawa Timur. Di area pedastrian yang luas, kami tidak menyia-nyiakan begitu saja kesempatan malam itu. Dari kejauhan Monumen Tugu Pahlawan berbentuk paku dalam posisi yang terbalik itu secara bergantian memancarkan beragam warna, kami mengabadikan sorot malam itu dari balik kamera telepon genggam.
Keindahan sorot malam yang penuh lama dan di depan gapura jalan masuk di sebelah samping itu ritme air mancur nampak mengikuti alunan suasana. Bila suasana sedang hujan atau kelabu di hati kita, ritme air mancur itu tak menampakkan pesonanya. Di depan air mancur, di sebelah kanan kirinya banyak orang yang hilir mudik dan duduk menikmati malam dengan cara mereka masing-masing.
Di antara mereka ada yang duduk-duduk sambil mengelurkan telepon genggamnya dan duduk di atas bola-bola pedastrian itu dengan berswafoto. Tidak jauh dari seorang gadis berswafoto itu juga ada komunitas sepeda onthel menggelar dengan menjagang sepedanya di tepian sebelah air mancur.
Saya memang tak sempat ngobrol dengan salah satu dari komunitas itu. Saya waktu itu masih fokus dengan gemerlapnya Tugu Pahlawan dengan sorotan lampu yang menambah kesan mempesona. Malam itu kami memang belum berjumpa diorama Bung Karno yang kokoh dan berwibawa membacakan Teks Proklamasi yang berada di depan pintu masuk Tugu Pahlawan yang disorot lampu warna warni.
Keragaman warna pada Monumen Tugu Pahlawan tersebut nampak mempesona dan menambah ketakjuban atas jejak dari sebuah bangunan yang disoroti warna mulai dari warna ungu, merah muda, biru, kuning, oranye. Monumen ini berada di jantung Kota Surabaya. Monumen Tugu Pahlawan ini berdiri dengan kokoh sejak awal dibangun dan diresmikan pada 10 Nopember 1952 oleh Presiden RI pertama Ir. Soekarno.
Tugu Pahlawan merupakan sebuah monumen yang menjadi markah di tanah Kota Surabaya. Tinggi monumen ini adalah 41,15 meter dan berbentuk lingga atau paku terbalik. Tubuh monumen berbentuk lengkungan-lengkungan (Canalures) sebanyak 10 lengkungan, dan terbagi atas 11 ruas.
Seperti informasi yang berseliweran di internet, ketinggian, ruas dan canalures memiliki makna atas tanggal peristiwa pertempuran rakyat Surabaya melawan penjajah. Makna tersebut adalah 10, 11 dan1945. Simbol tersebut merupakan hari dan tanggal bersejarah bagi penduduk Kota Surabaya dan seluruh rakyat Indonesia atas peringaperistiwa Pertempuran 10 November 1945 di Kota Surabaya, di mana arek-arek Surabaya berjuang melawan pasukan Sekutu bersama Belanda yang hendak menjajah kembali Indonesia.
Malam itu orang-orang yang berkunjung di pinggir Tugu Pahlawan itu telah hilir mudik. Namun kami memang tidak beranjak dari gapura depan kantor Gubernur Jawa Timur. Seolah ingin menyatukan jiwa kami atas jasa para pahlawan yang telah mendahului kita, malam itu jadi malam yang pertama kami menyusuri tempat-tempat bersejarah di Kota Surabaya.
Malam itu kami sedang di jalur yang tepat untuk menuju Tugu Pahlawan. Kami berada di Jalan Tunjungan. Tepatnya di sekitar Plaza Tunjungan. Jadi tinggal beberapa Km saja, atau kami butuh waktu 7 menit untuk sampai di Jalan Pahlawan. Jadi malam itu kami putuskan untuk menyusuri Jalan Pahlawan sekaligus menikmati panorama dari landmark membanggakan di Kota Pahlawan ini.
Awalnya kami tidak sengaja datang dan menikmati Tugu Pahlawan di malam hari. Karena krentek--satu dua bulan sebelumnya saya memiliki keinginan untuk datang--sekali ada kesempatan, maka kami datang dengan hati riang. Kedatangan, terutama saya, bermodal ingatan beberapa tahun silam, pernah melintasi Jalan Pahlawan bersama teman dari NTT. Giliran malam itu imaji saya tentang tempat ini menggedor-gedor dan segera dilunasi.
Malam yang sejuk di Kota Surabaya, Ella menyalakan aplikasi Google Maps. Aplikasi ini jadi pilihan utama saat kami ingin mengunjungi dan menikmati berbagai tempat di Kota Pahlawan. Karena saya belum terlalu hafal dengan jalan Surabaya. Jadi mengakses aplikasi yang terkonek dengan jangkauan satelit merupakan hal yang penting.
Di jalur tunjungan, Ella mengetik pencarian estimasi Tugu Pahlawan. Di smartphone, ia mendapati arah jalan dan estimasi jarak yang kami tuju. (Saya lupa persisnya berapa meter dari tempat saya berhenti kemarin, kalau tidak salah 8 Km). Dengan arahan aplikasi Google Maps, kami menyusuri jalanan Kota Surabaya dengan asoy gemboy. Jalan lumayan ramai lancar. Kebisingan Raya Bubutan: putar balik disambar klakson, suara bleyer saling bersahutan, decit rem, aspal ganas, polisi berkacak pinggang mengatur jalan mengiringi malam itu.
Mencecap Sorot Lampu Tugu Pahlawan
Suasana di Jalan Pahlawan berbeda dengan suasana tiga atau empat hari sebelum kami datang di malam hari. Selepas melewati viaduk (yang beberapa hari sebelum saya datang, terjadi kecelakaan tertabrak kereta api saat orang-orang melihat drama kolosal 'Surabaya Membara' di jalur kereta ini) hati saya sangat senang. Akhirnya saya bisa mencecap malam di Tugu Pahlawan.
Ya, Tuhan menjawab rasa penasaran saya dengan mengizinkan kami yang butuh rehat dan menikmati angin malam di tempat yang bebas khas malam sejenak di Tugu Pahlawan. Namun, rasa penasaran untuk menziarahi tugu sebagai penanda mengenang jasa para pejuang arek-arek Surabaya tersebut dari balik pagar yang terkunci.
Kami hanya bisa menyaksikan Tugu Pahlawan yang bermandikan cahaya dari balik pagar yang terkunci dari depan kantor kepemerintahan gubernur Jawa Timur. Di area pedastrian yang luas, kami tidak menyia-nyiakan begitu saja kesempatan malam itu. Dari kejauhan Monumen Tugu Pahlawan berbentuk paku dalam posisi yang terbalik itu secara bergantian memancarkan beragam warna, kami mengabadikan sorot malam itu dari balik kamera telepon genggam.
Keindahan sorot malam yang penuh lama dan di depan gapura jalan masuk di sebelah samping itu ritme air mancur nampak mengikuti alunan suasana. Bila suasana sedang hujan atau kelabu di hati kita, ritme air mancur itu tak menampakkan pesonanya. Di depan air mancur, di sebelah kanan kirinya banyak orang yang hilir mudik dan duduk menikmati malam dengan cara mereka masing-masing.
Di antara mereka ada yang duduk-duduk sambil mengelurkan telepon genggamnya dan duduk di atas bola-bola pedastrian itu dengan berswafoto. Tidak jauh dari seorang gadis berswafoto itu juga ada komunitas sepeda onthel menggelar dengan menjagang sepedanya di tepian sebelah air mancur.
Saya memang tak sempat ngobrol dengan salah satu dari komunitas itu. Saya waktu itu masih fokus dengan gemerlapnya Tugu Pahlawan dengan sorotan lampu yang menambah kesan mempesona. Malam itu kami memang belum berjumpa diorama Bung Karno yang kokoh dan berwibawa membacakan Teks Proklamasi yang berada di depan pintu masuk Tugu Pahlawan yang disorot lampu warna warni.
Keragaman warna pada Monumen Tugu Pahlawan tersebut nampak mempesona dan menambah ketakjuban atas jejak dari sebuah bangunan yang disoroti warna mulai dari warna ungu, merah muda, biru, kuning, oranye. Monumen ini berada di jantung Kota Surabaya. Monumen Tugu Pahlawan ini berdiri dengan kokoh sejak awal dibangun dan diresmikan pada 10 Nopember 1952 oleh Presiden RI pertama Ir. Soekarno.
Tugu Pahlawan merupakan sebuah monumen yang menjadi markah di tanah Kota Surabaya. Tinggi monumen ini adalah 41,15 meter dan berbentuk lingga atau paku terbalik. Tubuh monumen berbentuk lengkungan-lengkungan (Canalures) sebanyak 10 lengkungan, dan terbagi atas 11 ruas.
Seperti informasi yang berseliweran di internet, ketinggian, ruas dan canalures memiliki makna atas tanggal peristiwa pertempuran rakyat Surabaya melawan penjajah. Makna tersebut adalah 10, 11 dan1945. Simbol tersebut merupakan hari dan tanggal bersejarah bagi penduduk Kota Surabaya dan seluruh rakyat Indonesia atas peringaperistiwa Pertempuran 10 November 1945 di Kota Surabaya, di mana arek-arek Surabaya berjuang melawan pasukan Sekutu bersama Belanda yang hendak menjajah kembali Indonesia.
Malam itu orang-orang yang berkunjung di pinggir Tugu Pahlawan itu telah hilir mudik. Namun kami memang tidak beranjak dari gapura depan kantor Gubernur Jawa Timur. Seolah ingin menyatukan jiwa kami atas jasa para pahlawan yang telah mendahului kita, malam itu jadi malam yang pertama kami menyusuri tempat-tempat bersejarah di Kota Surabaya.
إرسال تعليق