Jujur saja, awalnya saya tak tertarik dengan film ini. Judulnya terlalu simple. Tak membawa ekspektasi berlebih selain judulnya yang pelit. Menonton pun rasanya ogah-ogahan. Namun saat itu saya merelakan diri dan merendahkan ego sendiri. Menonton film dengan antusias seadanya.
Saat di tengah segmen anggapan itu berubah seketika. Pikiran saya terbawa pada suatu masa jauh ke depan, lebih maju dan modern. Sehingga keinginan menonton sampai menit akhir pun menggelora. Ternyata film ini gambarkan perubahan cinta manusia terhadap dunia yang telah mengubah tata kehidupan saat ini. Meski diselingi peragaan-peragaan adegan vulgar, film ini lebih menitik-beratkan pada perkembangan zaman kekinian dan lebih melenial.
Sejak diliris tahun 2013, film ini merupakan salah satu cikal bakal film yang mengkritik kehidupan manusia terhadap teknologi yang berlebihan. Di mana orang-orang lebih asik menyendiri dengan layar datarnya daripada dunia nyata yang lebih dinamis dan kompleks.
Lazimnya, percintaan itu dilakukan antara benda hidup, lebih gamblangnya manusia dengan manusia. Namun di film ini, kisah cinta yang dihadirkan sangat tak lazim; cinta antara manusia dengan benda mati.
Mengambil latar di Los Angeles di masa depan, Her berkisah tentang seorang pria (Theodore Twombly) dengan sistem operasi komputer (artificial intelligence).
Kritik sosial modern mulai terasa pada segmen ini, di mana Theodore membeli sebuah perangkat sistem operasi komputer terbaru (OS). Komputer itu diberi nama Samantha (disuarakan Scarlett Johanson). Sistem itu hanya bersuara. Namun suaranya begitu seksi dan merdu. Selain itu, Samantha begitu cerdas, ia mampu mendalami dan menjelajahi perasaan layaknya manusia. Hubungan Theodore dan Samantha terjalin semakin erat, hingga keduanya saling jatuh cinta.
Awalnya Theodore membeli teknologi ini hanya untuk kepentingan pekerjaan dan kehidupan sehari-hari. Dengan kemudahan dan cepatnya teknologi itu, membuat interaksi Theodore dan Samantha semakin intim. Theodore Twombly merupakan seorang penulis yang bekerja menuliskan surat bagi orang-orang yang tidak mampu atau tidak mau menulis sendiri. Semenjak digugat cerai istrinya, kehidupannya jadi lebih murung. Ia lebih menghabiskan hidupnya bermain game.
Penyakit (ke)sepi(an) memang menyerang kaum urban. Di mana zaman yang lebih mengagungkan benda. Namun apakah cinta antara manusia dan benda bisa dikatakan sebagai cinta? Lalu siapa yang berhak atas cinta? Pertanyaan ini sungguh bukan tanpa alasan yang dibalut dengan satire sosial jaman now, dengan sentuhan futuristik, nuansa setting film menggambarkan zaman sekarang dan masa depan.
Theodore menemukan pengganti istrinya, pada sosok Samantha. Ia selalu menemani di kala sepi bahkan saat Theodore menyendiri atau mengurung diri. Ia bilang She's not just a computer!
Meski begitu, perjumpaan Theodore dan Samantha tak lebih dari sistem operasi dengan pengguna, ia tak pernah rasakan kehadiran fisiknya. Samantha itu mirip yang kita bawa ke mana-mana seperti gadget kita. Fragmen ini mengisyaratkan pada generasi milenial. Di mana-mana orang tak bisa lepas dari gadget. Lebih suka layar sentuh menawarkan hiburan dalam kotak layar. Padahal gadget itu membuat kita jadi apatis/ tak peduli terhadap lingkungan sekitar. Komunikasi cukup lewat layar tak perlu berhadapan langsung.
Melalui layar pintar pula manusia dibawa ke ranah bukan miliknya. Isu politik dianggap menjadi bagian dalam hidupnya; diperdebatkan, diperjuangkan, dimenangkan dalam debat-debat virtual di group Whatsapp, Line, timeline Facebook.
Manusia di generasi milineal merasa puas dengan kiriman stiker-stiker emoticon, dan kalimat-kalimat gombal yang tak menggambarkan realitas. Menghadirkan kehampaan yang tak saling berpandangan meski bersama. Di lain kesempatan, malapetaka mengampiri cerita tentang cinta. Tak sedikit kisah cinta hancur melalui alat komunikasi ini. Rumah tangga dan persahabatan retak gara-gara layar yang lebar lima inci ini. Meski kita tak bisa pungkiri, teknologi mampu mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat.
Dinamika cinta Theodore dan Samantha disajikan dengan apik oleh Spike Jonze. Keberhasilan tak lepas dari kerja Arcade Fire pada aransemen musik, serta cinematography Hoyte van Hoytema.
Selain Her, Jonze telah menghasilkan beberapa film yang tak kalah brilian. Film-film yang dihasilkan seperti Being John Malkoich (1999), Adaptation (2002) dan Where the Wild Things Are (2009). Jika dilihat dari kisah cinta antara Theodore dan Samantha bisa dibilang kerumitan dan keanehan atau keeksentrikan. Namun dari keanehan dari alur cerita di film ini menampilkan sisi film yang luar biasa.
Film ini adalah film fiksi ilmiah. Yang berawal dari keresahan Jonze terhadap perilaku-perilaku manusia Amerika di masa depan. Di mana generasi milineal sudah merasa bahagia dengan dunia tampak begitu datar, sedatar layar datar.
Jonze berhasil mengangkat isu-isu milineal. ini adalah film satire sosial modern yang menggambarkan kompleksitas manusia zaman jaman now. Film tampak hangat, segar dan representatif di hari ini dan masa yang akan datang. Saya kira film ini tidak bisa lekang oleh waktu jika dilihat dari perkembangan teknologi yang begitu luar biasa.
Saat di tengah segmen anggapan itu berubah seketika. Pikiran saya terbawa pada suatu masa jauh ke depan, lebih maju dan modern. Sehingga keinginan menonton sampai menit akhir pun menggelora. Ternyata film ini gambarkan perubahan cinta manusia terhadap dunia yang telah mengubah tata kehidupan saat ini. Meski diselingi peragaan-peragaan adegan vulgar, film ini lebih menitik-beratkan pada perkembangan zaman kekinian dan lebih melenial.
Sejak diliris tahun 2013, film ini merupakan salah satu cikal bakal film yang mengkritik kehidupan manusia terhadap teknologi yang berlebihan. Di mana orang-orang lebih asik menyendiri dengan layar datarnya daripada dunia nyata yang lebih dinamis dan kompleks.
Lazimnya, percintaan itu dilakukan antara benda hidup, lebih gamblangnya manusia dengan manusia. Namun di film ini, kisah cinta yang dihadirkan sangat tak lazim; cinta antara manusia dengan benda mati.
Mengambil latar di Los Angeles di masa depan, Her berkisah tentang seorang pria (Theodore Twombly) dengan sistem operasi komputer (artificial intelligence).
Namun sebelum ia menggilai perangkat lunak itu, ia sangat cinta terhadap istrinya, Catherine (Rooney Mara). Kedua insan manusia membangun mahligai rumah tangga dengan harmonis. Lalu, mereka tak mampu pertahankan rumah tangganya. Theodore digugat cerai Catherine. Perceraian mereka membuat Theodore sangat terpukul dan tak bisa menerima kenyataan dan hingga akhirnya Theodore lebih suka menyendiri.She's not just a computer! Theodore
Kritik sosial modern mulai terasa pada segmen ini, di mana Theodore membeli sebuah perangkat sistem operasi komputer terbaru (OS). Komputer itu diberi nama Samantha (disuarakan Scarlett Johanson). Sistem itu hanya bersuara. Namun suaranya begitu seksi dan merdu. Selain itu, Samantha begitu cerdas, ia mampu mendalami dan menjelajahi perasaan layaknya manusia. Hubungan Theodore dan Samantha terjalin semakin erat, hingga keduanya saling jatuh cinta.
Awalnya Theodore membeli teknologi ini hanya untuk kepentingan pekerjaan dan kehidupan sehari-hari. Dengan kemudahan dan cepatnya teknologi itu, membuat interaksi Theodore dan Samantha semakin intim. Theodore Twombly merupakan seorang penulis yang bekerja menuliskan surat bagi orang-orang yang tidak mampu atau tidak mau menulis sendiri. Semenjak digugat cerai istrinya, kehidupannya jadi lebih murung. Ia lebih menghabiskan hidupnya bermain game.
Penyakit (ke)sepi(an) memang menyerang kaum urban. Di mana zaman yang lebih mengagungkan benda. Namun apakah cinta antara manusia dan benda bisa dikatakan sebagai cinta? Lalu siapa yang berhak atas cinta? Pertanyaan ini sungguh bukan tanpa alasan yang dibalut dengan satire sosial jaman now, dengan sentuhan futuristik, nuansa setting film menggambarkan zaman sekarang dan masa depan.
Theodore menemukan pengganti istrinya, pada sosok Samantha. Ia selalu menemani di kala sepi bahkan saat Theodore menyendiri atau mengurung diri. Ia bilang She's not just a computer!
Meski begitu, perjumpaan Theodore dan Samantha tak lebih dari sistem operasi dengan pengguna, ia tak pernah rasakan kehadiran fisiknya. Samantha itu mirip yang kita bawa ke mana-mana seperti gadget kita. Fragmen ini mengisyaratkan pada generasi milenial. Di mana-mana orang tak bisa lepas dari gadget. Lebih suka layar sentuh menawarkan hiburan dalam kotak layar. Padahal gadget itu membuat kita jadi apatis/ tak peduli terhadap lingkungan sekitar. Komunikasi cukup lewat layar tak perlu berhadapan langsung.
Melalui layar pintar pula manusia dibawa ke ranah bukan miliknya. Isu politik dianggap menjadi bagian dalam hidupnya; diperdebatkan, diperjuangkan, dimenangkan dalam debat-debat virtual di group Whatsapp, Line, timeline Facebook.
Manusia di generasi milineal merasa puas dengan kiriman stiker-stiker emoticon, dan kalimat-kalimat gombal yang tak menggambarkan realitas. Menghadirkan kehampaan yang tak saling berpandangan meski bersama. Di lain kesempatan, malapetaka mengampiri cerita tentang cinta. Tak sedikit kisah cinta hancur melalui alat komunikasi ini. Rumah tangga dan persahabatan retak gara-gara layar yang lebar lima inci ini. Meski kita tak bisa pungkiri, teknologi mampu mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat.
Dinamika cinta Theodore dan Samantha disajikan dengan apik oleh Spike Jonze. Keberhasilan tak lepas dari kerja Arcade Fire pada aransemen musik, serta cinematography Hoyte van Hoytema.
Selain Her, Jonze telah menghasilkan beberapa film yang tak kalah brilian. Film-film yang dihasilkan seperti Being John Malkoich (1999), Adaptation (2002) dan Where the Wild Things Are (2009). Jika dilihat dari kisah cinta antara Theodore dan Samantha bisa dibilang kerumitan dan keanehan atau keeksentrikan. Namun dari keanehan dari alur cerita di film ini menampilkan sisi film yang luar biasa.
Film ini adalah film fiksi ilmiah. Yang berawal dari keresahan Jonze terhadap perilaku-perilaku manusia Amerika di masa depan. Di mana generasi milineal sudah merasa bahagia dengan dunia tampak begitu datar, sedatar layar datar.
Jonze berhasil mengangkat isu-isu milineal. ini adalah film satire sosial modern yang menggambarkan kompleksitas manusia zaman jaman now. Film tampak hangat, segar dan representatif di hari ini dan masa yang akan datang. Saya kira film ini tidak bisa lekang oleh waktu jika dilihat dari perkembangan teknologi yang begitu luar biasa.
Saya berkali kali menonton film Ini, bahkan di laptop masih ada file nya.
ردحذفSaya dampak sekarang masih berdebat dengan teman saya, dia bilang Theo nya bunuh diri dengan melompat dari atas gedung
Eh.typo.. dampak= sampai
ردحذفWaaaah betulkah? Menarik banget sepertinya perdebatan itu....
ردحذفMenurut mas dia bunuh diri engga?
ردحذفMenurutku dia ngga bunuh diri.... 😂
ردحذفNah sama pendapat nya dengan saya
ردحذفSaya pernah lihat poster filmnya. Tapi belum tertarik untuk menonton. Hehe
ردحذفRada seram pas nonton ini. Kalau membayangkan masa depan yang seperti itu, barangkali jatuh cinta ke OS bisa jadi ada juga 😂
ردحذفBetul, Mas. Dampaknya memang sudah terasa seperti sekarang ini. Aku ngerasa begitu.
ردحذفإرسال تعليق