Mengaji atau belajar ilmu-ilmu agama merupakan tradisi yang melekat kuat di dunia pesantren. Tradisi mengaji atau mengkaji merupakan salah satu penanda eksistensi dari sebuah Pesantren tidak akan disebut sebagai pesantren apabila di dalamnya tidak melakukan tradisi atau aktivitas sebagaimana tradisi mengaji.
Dari tradisi mengaji dan belajar ilmu-ilmu agama, santri memiliki ghirah dalam belajar. Untuk itu, pesantren sebagai lembaga pendidikan yang mengkaji ilmu-ilmu agama memiliki peran yang sangat penting dalam menumbuhkan semangat dan jiwa cinta terhadap keilmuan islamiyah dan antar sesama tidak terkecuali dengan bangsa.
Menurut Rahmat Petuguran dalam Suara Merdeka, (2/8/2013), semangat belajar ilmu-ilmu agama ini sangat dipengaruhi dorongan, di antaranya: pertama, mereka memiliki kecintaannya terhadap ilmu pengetahuan. Sehingga semangat untuk merawat tradisi belajar, mereka rawat dengan baik. Oleh karena itu, nalar mendokumentasikan kitab-kitab pun mereka tumbuhkan.
Mendokumentasikan kitab memungkinkan mereka mengakses pengetahuan dengan lebih leluasa. Menjaga jarak dengan kitab agar selalu dekat adalah strategi diri agar ghirah belajar tetap ada.
Kedua, santri menganggap ilmu pengetahuan sebagai jalan hidup. Mereka belajar agar dapat memperbaiki akhlak, menjaga perilaku, dan menjadi pribadi bermanfaat. Tambah Rahmat, pandangan itu berbeda dari kelompok akademik lain yang menjadikan proses belajar sebagai sarana mobilisasi sosial dan perbaikan kondisi ekonomi.
Ketiga, kitab-kitab yang digunakan di pesantren salafi memiliki kekekalan melebihi buku lain. Kitab berisi prinsip-prinsip beragama, ajaran moral, syariah, bahkan siyasah yang tak lekang oleh waktu. Kitab-kitab itu dapat digunakan selama puluhan tahun dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Tentu kita tidak bisa memandang sebelah mata terhadap salah satu pendiri bangsa ini. Muhammad Hatta adalah orang yang begitu luar biasa--barangkali--belum ada "tandingannya" terkait dengan membaca dan mendokumentasikan naskah atau bukunya. Hatta merupakan beberapa pendiri bangsa Indonesia yang bergelar kutu buku. Gelar tersebut dia dapat tidak begitu saja namun dia dapatkan lantaran kegemarannya membaca buku. Pergolakan nasional tidak membuatnya mengacuhkan diri dari buku. Bahkan saat diasingkan ke Banda Naera dan Boven Nugil, ia membawa serta buku koleksinya yang berisikan 16 peti.
Bisa dibayangkan 16 peti. Berapa banyak dan berat ketika dahulu kendaraan dan angkutan umum belum semudah dan senyaman sekarang. Namun bukan Muhammad Hatta namanya uang bergelar kutu buku apabila tidak membawa buku sebanyak itu. Bahkan, ketika itu Muhammad Hatta juga akan melangsungkan pernikahannya dengan istrinya. Pun bukan Hatta si kutu buku jika maskawinnya bukan buku. Bahkan yang istimewanya lagi buku yang ia hadiahi untuk calon istrinya adalah karya Hatta sendiri yang berjudul Alam Pikiran Yunani. Buku serta koleksi-koleksi Bung Hatta sampai sekarang masih tersimpan bagus di perpustakaan pribadinya. Hingga sekarang masih terawat dan terjaga dari tangan-tangan yang tidak bertanggungjawab.
Sementara itu, dari beberapa santri, almarhum KH. Abdurrahman Wahid yang memiliki ghirah dokumentasi yang kuat. Bahkan, dalam buku katalog induk naskah-naskah Nusantara jilid 4 Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI) menyebutkan tentang naskah koleksi Abdurrahman Wahid yang umumnya berupa manuskrip di pesantren abad ke-18 sampai ke-20. Jumlah koleksi Abdurrahman Wahid di PNRI sekitar 67 naskah dari berbagai bidang ilmu. Dari Al-Qur'an, hadits, fikih, nahwu, shorof, hingga tauhid. Di antara kitab fikih itu terdapat Safinah, Sullamut Taufiq, dan Bidayatul Hidayah yang sangat terkenal. Nama-nama kitab populer lain seperti As-Samarqandy, Anwanur Risalah, dan Daqa'iqul Khaliq juga terjaga.
Oleh karena itu, sebagai santri yang memiliki kecintaan terhadap ilmu agama dan pengetahuan harus menunjukkan kekuatan dalam merawat gerakan kebudayaan dan tradisi dokumentasi yang kuat. Nalar dokumentatif yang mereka miliki secara inheren sangat potensial dalam ikhtiar mendokumentasikan naskah-naskah lama. Lantaran mereka bergerak di bidang ilmu keagamaan, mereka juga diandalkan dalam menyelamatkan naskah-naskah lama di bidang kajian itu. Selain itu, santri sendiri memiliki dalil naqli yang mendorong mereka mendokumentasikan naskah-naskah yang mereka miliki. Al-muhafadhatu 'alal qadimish shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah: melestarikan tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik.[]
Dari tradisi mengaji dan belajar ilmu-ilmu agama, santri memiliki ghirah dalam belajar. Untuk itu, pesantren sebagai lembaga pendidikan yang mengkaji ilmu-ilmu agama memiliki peran yang sangat penting dalam menumbuhkan semangat dan jiwa cinta terhadap keilmuan islamiyah dan antar sesama tidak terkecuali dengan bangsa.
Menurut Rahmat Petuguran dalam Suara Merdeka, (2/8/2013), semangat belajar ilmu-ilmu agama ini sangat dipengaruhi dorongan, di antaranya: pertama, mereka memiliki kecintaannya terhadap ilmu pengetahuan. Sehingga semangat untuk merawat tradisi belajar, mereka rawat dengan baik. Oleh karena itu, nalar mendokumentasikan kitab-kitab pun mereka tumbuhkan.
Mendokumentasikan kitab memungkinkan mereka mengakses pengetahuan dengan lebih leluasa. Menjaga jarak dengan kitab agar selalu dekat adalah strategi diri agar ghirah belajar tetap ada.
Kedua, santri menganggap ilmu pengetahuan sebagai jalan hidup. Mereka belajar agar dapat memperbaiki akhlak, menjaga perilaku, dan menjadi pribadi bermanfaat. Tambah Rahmat, pandangan itu berbeda dari kelompok akademik lain yang menjadikan proses belajar sebagai sarana mobilisasi sosial dan perbaikan kondisi ekonomi.
Ketiga, kitab-kitab yang digunakan di pesantren salafi memiliki kekekalan melebihi buku lain. Kitab berisi prinsip-prinsip beragama, ajaran moral, syariah, bahkan siyasah yang tak lekang oleh waktu. Kitab-kitab itu dapat digunakan selama puluhan tahun dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Tentu kita tidak bisa memandang sebelah mata terhadap salah satu pendiri bangsa ini. Muhammad Hatta adalah orang yang begitu luar biasa--barangkali--belum ada "tandingannya" terkait dengan membaca dan mendokumentasikan naskah atau bukunya. Hatta merupakan beberapa pendiri bangsa Indonesia yang bergelar kutu buku. Gelar tersebut dia dapat tidak begitu saja namun dia dapatkan lantaran kegemarannya membaca buku. Pergolakan nasional tidak membuatnya mengacuhkan diri dari buku. Bahkan saat diasingkan ke Banda Naera dan Boven Nugil, ia membawa serta buku koleksinya yang berisikan 16 peti.
Bisa dibayangkan 16 peti. Berapa banyak dan berat ketika dahulu kendaraan dan angkutan umum belum semudah dan senyaman sekarang. Namun bukan Muhammad Hatta namanya uang bergelar kutu buku apabila tidak membawa buku sebanyak itu. Bahkan, ketika itu Muhammad Hatta juga akan melangsungkan pernikahannya dengan istrinya. Pun bukan Hatta si kutu buku jika maskawinnya bukan buku. Bahkan yang istimewanya lagi buku yang ia hadiahi untuk calon istrinya adalah karya Hatta sendiri yang berjudul Alam Pikiran Yunani. Buku serta koleksi-koleksi Bung Hatta sampai sekarang masih tersimpan bagus di perpustakaan pribadinya. Hingga sekarang masih terawat dan terjaga dari tangan-tangan yang tidak bertanggungjawab.
Sementara itu, dari beberapa santri, almarhum KH. Abdurrahman Wahid yang memiliki ghirah dokumentasi yang kuat. Bahkan, dalam buku katalog induk naskah-naskah Nusantara jilid 4 Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI) menyebutkan tentang naskah koleksi Abdurrahman Wahid yang umumnya berupa manuskrip di pesantren abad ke-18 sampai ke-20. Jumlah koleksi Abdurrahman Wahid di PNRI sekitar 67 naskah dari berbagai bidang ilmu. Dari Al-Qur'an, hadits, fikih, nahwu, shorof, hingga tauhid. Di antara kitab fikih itu terdapat Safinah, Sullamut Taufiq, dan Bidayatul Hidayah yang sangat terkenal. Nama-nama kitab populer lain seperti As-Samarqandy, Anwanur Risalah, dan Daqa'iqul Khaliq juga terjaga.
Oleh karena itu, sebagai santri yang memiliki kecintaan terhadap ilmu agama dan pengetahuan harus menunjukkan kekuatan dalam merawat gerakan kebudayaan dan tradisi dokumentasi yang kuat. Nalar dokumentatif yang mereka miliki secara inheren sangat potensial dalam ikhtiar mendokumentasikan naskah-naskah lama. Lantaran mereka bergerak di bidang ilmu keagamaan, mereka juga diandalkan dalam menyelamatkan naskah-naskah lama di bidang kajian itu. Selain itu, santri sendiri memiliki dalil naqli yang mendorong mereka mendokumentasikan naskah-naskah yang mereka miliki. Al-muhafadhatu 'alal qadimish shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah: melestarikan tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik.[]
Kalau menurut saya Mas,memiliki ghirah dokumentasi ilmu atau mendapatkan ilmu dari sumber manapun harus dilakukan oleh siapa saja. Baik yang berstatus santri atau bukan. Tapi sepertinya di ruang lingkup pesantren lebih diprioritaskan.
ردحذفBetul, Mbak... gairah keilmuan harus dimiliki oleh semua pribadi seseorang, baik Santri atau bukan. Namun, entah kenapa, pada bab ini santri selalu dilingkupi oleh ilmu mulai dari bangun tidur sampai mau berangkat tidur lagi....
ردحذفإرسال تعليق