Terkadang semangat nasionalis itu bermula dari tempat yang jauh dari keramaian. Begitu pun tempat pendidikan seperti kampus. Kampus kecil juga dapat menggugah nilai nasionalis para anak muda. Inilah yang saya rasakan ketika memasuki kawasan kampus yang ada di kota tercinta dan pertama kalinya menginjakkan kaki ke kampus STKIP PGRI Trenggalek.
Dalam acara memperingati hari pahlawan yang biasa kita rayakan pada tanggal 10 November, tepatnya pada tanggal (23/11) mahasiswa PISP/ PPKn di STKIP PGRI Trenggalek memperingatinya dengan pementasan orasi dan musikalisasi orasi dengan sangat luar biasa. Cocok untuk para kawula muda.
Sekarang ini menurut pengamatan saya, bangsa ini telah mengalami kehilangan kepercayaan terhadap dirinya sendiri. Kenapa saya katakan kehilangan percaya diri? Karena anak muda sekarang jarang menyanyikan lagi-lagi yang bergenre nasionalis. Kebanyakan yang didengungkan dalam kesehariannya adalah menyanyikan lagu-lagu yang bergenre cengeng, lagu picisan dan sering berganti-ganti kesukaan tergantung golongan yang dia anut.
Nah, di kantin itu saya diperkenalkan dengan seorang seniman. Namanya Pak Bara. Ia adalah lulusan murni Seni. Ternyata di kantin ada Astina, yang kebetulan dia kemarin ikut acara seminar yang diadakan Kolwat (komunitas yang saya ketuai).
Ketika Dadang sibuk dengan acaranya, saya memberanikan diri untuk memulai bincang-bincang dengan Pak Bara. Tadi saya dengar tentang seni. Ternyata seni itu terbagi beberapa macam seni. Seni tulis, seni pahat, seni musik dll, masih banyak lagi yang diceritakan oleh Pak Bara. Dia seorang sarjana murni dari seni, entah apa gelarnya saya tidak tahu.
“Kalau kuliah di seni itu, kuliahnya seperti orang mbolang, pakaiannya compang camping dan seperti itulah.” Itulah bedanya kuliah di dunia seni dengan di pendidikan, termasuk di STKIP Trenggalek. Saya kira, seni adalah bentuk ekspresi jiwa yang terus di luapkan setelah menemukan titik fokus untuk dijadikan obyeknya.
Karena suara gemuruh terdengar dari dalam kantin, saya keluar bersama Pak Bara. Dadang menuju ruangan lantai atas, gedung Yudistira. Nah, di situlah saya melihat lukisan anak-anak SMA berbagai varian dengan tema Hari Pahlawan. Lukisannya luar biasa. Keren.
Sementara itu di acara orasi dan musik yang di selenggarakan prodi PPKn, di kampus STKIP PGRI Trenggalek kemarin, (23/11) ingin rasanya meluapkan emosional saya. Karena apa yang saya rasakan ketika mendengar orasi dan dikelilingi oleh musik-musik beraliran lagu-lagu nasionalis, yang diaransemen sedemikian rupa, membuat emosional saya tergugah untuk mendengar demontrasikan gagasannya di Hari Pahlawan itu.
Orasi sendiri dari pemahaman sendiri identik dengan suara lantang dan sang orator yang meneriakkan atas penindasan-penindasan terhadap masyarakat kecil atau orang termarjinalkan.
Sebanyak 9 kontestan group musik dari SMA unjuk kebolehan dalam acara bertajuk pagelaran musik dan orasi dalam rangka Hari Pahlawan di halaman kampus di Trenggalek.
“Acara ini sangat bermanfaat bagi para kaula muda untuk menyalurkan dan menunjukkan keterampilan vokla dan musiknya di depan insan kampus. Saya berharap, pagelaran ini dapat menjadi inspirasi dan motivasi bagi anak muda dan sebagai perkenalan kampus ke siswa-siswa SMA,” kata Pak Bangkit jeda acara.
Kegiatan lomba orasi dan musik dalam rangka Hari Pahlawan merupakan sebuah kegiatan yang bermakna. Karena banyak anak muda yang masih melirik lagu-lagu perjuangan. “Dengan tampilan yang ada, setidaknya kemampuan peserta lomba dalam mengaransemen lagu-lagu perjuangan (Gugur Bunga, hingga “Gebyar-Gebyar”-nya Gombloh) merupakan fenomena bahwa lagu nasionalistik bisa jadi alternatif bagi lagu pop.
"Sebab lagu remaja itu merupakan lagu cemen yang melemahkan mental remaja,” kata Pak Nurani dalam sela-sela orasi pengumuman pemenang.
Sejak jaman group Band Coklat menyanyikan lagu “Bendera” disitulah tonggak mula group Band-Band di Indonesia ramai-ramainya menciptakan dan menyanyikan lagu-lagu bergenre nasioanalis.
“Kekurangan yang muncul dalam lomba tersebut saya kira adalah ketika para peserta kurang bisa memadukan antara orasi dan musik. Karena penilaian yang ada tampaknya mengarah pada bagaimana setelah lirik lagu dinyanyikan, orasi diucapkan diiringi dengan arasemen musik yang membuat pesan orasi lebih enak di dengar dan, dengan demikian, membantu dalam penyampaian pesan,” ujar Pak Nurani dalam penilaian terakhir pada pengumuman pemenang.
Sejalan apa yang dikatakan pak Nurani. “Pada bagian memberi orasi musik terus berjalan, tetapi suara agak dipelankan, supaya tidak terjadi penumpukkan sehingga blance tetap terjaga,” ungkap Pak Didiek Sagita di sela-sela pengumunan pemenang lomba orasi dan musik tingkat SMA se-Trenggalek kemarin.
Orasi secara umum adalah proses penyampaian pesan dalam bentuk lisan di hadapan audien (orang-orang yang hadir) Orang yang menyampaikan pesan tersebut di sebut orator. Seorang orator diharuskan mempunyai pancaran perasaan senang yang berisikan tenaga penggerak yang menggairahkan aktivitas audiens. Yang pernah saya temukan dalam sejarah orator ulung adalah Presiden pertama Indonesia, yaitu Ir Soekarno. Adalah orator hebat dan orator ulung. Karena berhasil membakar semangat massa. Maklum, pada jaman itu, jumlah penduduk Indonesia yang bisa baca tulis masih sangat kurang. Maka, pidato telah menjadi sarana penting untuk membangkitkan rakyat.
Inilah perlunya orasi dan musik di padukan. Karena orasi dan musik menyimpan pesan yang sangat luar biasa bagi yang mendengarkan. Dan uuntuk kampus yang menyelenggarakan event seperti ini sangatlah luar biasa. Sehingga untuk kedepan event seperti itu harus diperhatikan supaya para peserta ada kesiapan untuk lomba orasi dan musik tersebut. Kemudian orasi dan musik tersebut menjadi titik kebangkitan para generasi titah negeri ini.***
Hidup para pemuda!
Hidup juang!
Dalam acara memperingati hari pahlawan yang biasa kita rayakan pada tanggal 10 November, tepatnya pada tanggal (23/11) mahasiswa PISP/ PPKn di STKIP PGRI Trenggalek memperingatinya dengan pementasan orasi dan musikalisasi orasi dengan sangat luar biasa. Cocok untuk para kawula muda.
Sekarang ini menurut pengamatan saya, bangsa ini telah mengalami kehilangan kepercayaan terhadap dirinya sendiri. Kenapa saya katakan kehilangan percaya diri? Karena anak muda sekarang jarang menyanyikan lagi-lagi yang bergenre nasionalis. Kebanyakan yang didengungkan dalam kesehariannya adalah menyanyikan lagu-lagu yang bergenre cengeng, lagu picisan dan sering berganti-ganti kesukaan tergantung golongan yang dia anut.
***
Sebelum bercerita terlebih dalam, izinkan saya bercerita sejenak tentang pengalaman saya mengembara di kampus ini. Waktu itu saya ke STKIP Trenggalek tak kenal siapa-siapa. Saya hanya menyimpan nomor kontak Nurani. Teman-teman yang kuliah di STKIP pun tak juga memiliki No. HP-nya. Saya merasa tak diundang, saya langsung merangsek masuk lewat jalan barat gedung besar, melihat ke timur. Di sana ada Dadang yang berjalan ke timur, kayaknya akan mengarah ke suatu tepat. Saya pun mengejarnya. Saya mengikuti langkahnya. Ternyata ia menuju kantin yang berada di Timur gedung.Nah, di kantin itu saya diperkenalkan dengan seorang seniman. Namanya Pak Bara. Ia adalah lulusan murni Seni. Ternyata di kantin ada Astina, yang kebetulan dia kemarin ikut acara seminar yang diadakan Kolwat (komunitas yang saya ketuai).
Ketika Dadang sibuk dengan acaranya, saya memberanikan diri untuk memulai bincang-bincang dengan Pak Bara. Tadi saya dengar tentang seni. Ternyata seni itu terbagi beberapa macam seni. Seni tulis, seni pahat, seni musik dll, masih banyak lagi yang diceritakan oleh Pak Bara. Dia seorang sarjana murni dari seni, entah apa gelarnya saya tidak tahu.
“Kalau kuliah di seni itu, kuliahnya seperti orang mbolang, pakaiannya compang camping dan seperti itulah.” Itulah bedanya kuliah di dunia seni dengan di pendidikan, termasuk di STKIP Trenggalek. Saya kira, seni adalah bentuk ekspresi jiwa yang terus di luapkan setelah menemukan titik fokus untuk dijadikan obyeknya.
Karena suara gemuruh terdengar dari dalam kantin, saya keluar bersama Pak Bara. Dadang menuju ruangan lantai atas, gedung Yudistira. Nah, di situlah saya melihat lukisan anak-anak SMA berbagai varian dengan tema Hari Pahlawan. Lukisannya luar biasa. Keren.
Sementara itu di acara orasi dan musik yang di selenggarakan prodi PPKn, di kampus STKIP PGRI Trenggalek kemarin, (23/11) ingin rasanya meluapkan emosional saya. Karena apa yang saya rasakan ketika mendengar orasi dan dikelilingi oleh musik-musik beraliran lagu-lagu nasionalis, yang diaransemen sedemikian rupa, membuat emosional saya tergugah untuk mendengar demontrasikan gagasannya di Hari Pahlawan itu.
Orasi sendiri dari pemahaman sendiri identik dengan suara lantang dan sang orator yang meneriakkan atas penindasan-penindasan terhadap masyarakat kecil atau orang termarjinalkan.
Sebanyak 9 kontestan group musik dari SMA unjuk kebolehan dalam acara bertajuk pagelaran musik dan orasi dalam rangka Hari Pahlawan di halaman kampus di Trenggalek.
“Acara ini sangat bermanfaat bagi para kaula muda untuk menyalurkan dan menunjukkan keterampilan vokla dan musiknya di depan insan kampus. Saya berharap, pagelaran ini dapat menjadi inspirasi dan motivasi bagi anak muda dan sebagai perkenalan kampus ke siswa-siswa SMA,” kata Pak Bangkit jeda acara.
Kegiatan lomba orasi dan musik dalam rangka Hari Pahlawan merupakan sebuah kegiatan yang bermakna. Karena banyak anak muda yang masih melirik lagu-lagu perjuangan. “Dengan tampilan yang ada, setidaknya kemampuan peserta lomba dalam mengaransemen lagu-lagu perjuangan (Gugur Bunga, hingga “Gebyar-Gebyar”-nya Gombloh) merupakan fenomena bahwa lagu nasionalistik bisa jadi alternatif bagi lagu pop.
"Sebab lagu remaja itu merupakan lagu cemen yang melemahkan mental remaja,” kata Pak Nurani dalam sela-sela orasi pengumuman pemenang.
Sejak jaman group Band Coklat menyanyikan lagu “Bendera” disitulah tonggak mula group Band-Band di Indonesia ramai-ramainya menciptakan dan menyanyikan lagu-lagu bergenre nasioanalis.
“Kekurangan yang muncul dalam lomba tersebut saya kira adalah ketika para peserta kurang bisa memadukan antara orasi dan musik. Karena penilaian yang ada tampaknya mengarah pada bagaimana setelah lirik lagu dinyanyikan, orasi diucapkan diiringi dengan arasemen musik yang membuat pesan orasi lebih enak di dengar dan, dengan demikian, membantu dalam penyampaian pesan,” ujar Pak Nurani dalam penilaian terakhir pada pengumuman pemenang.
Sejalan apa yang dikatakan pak Nurani. “Pada bagian memberi orasi musik terus berjalan, tetapi suara agak dipelankan, supaya tidak terjadi penumpukkan sehingga blance tetap terjaga,” ungkap Pak Didiek Sagita di sela-sela pengumunan pemenang lomba orasi dan musik tingkat SMA se-Trenggalek kemarin.
Orasi secara umum adalah proses penyampaian pesan dalam bentuk lisan di hadapan audien (orang-orang yang hadir) Orang yang menyampaikan pesan tersebut di sebut orator. Seorang orator diharuskan mempunyai pancaran perasaan senang yang berisikan tenaga penggerak yang menggairahkan aktivitas audiens. Yang pernah saya temukan dalam sejarah orator ulung adalah Presiden pertama Indonesia, yaitu Ir Soekarno. Adalah orator hebat dan orator ulung. Karena berhasil membakar semangat massa. Maklum, pada jaman itu, jumlah penduduk Indonesia yang bisa baca tulis masih sangat kurang. Maka, pidato telah menjadi sarana penting untuk membangkitkan rakyat.
Inilah perlunya orasi dan musik di padukan. Karena orasi dan musik menyimpan pesan yang sangat luar biasa bagi yang mendengarkan. Dan uuntuk kampus yang menyelenggarakan event seperti ini sangatlah luar biasa. Sehingga untuk kedepan event seperti itu harus diperhatikan supaya para peserta ada kesiapan untuk lomba orasi dan musik tersebut. Kemudian orasi dan musik tersebut menjadi titik kebangkitan para generasi titah negeri ini.***
Hidup para pemuda!
Hidup juang!
Posting Komentar