Hidup di kota kedua setelah kota kelahiran memang penuh lika-liku. Banyak permasalahan. Terutama tentang mempertahankan diri untuk hari esok. Sebagai seorang pendatang, apalagi penyandang status mahasiswa, memikirkan dan mempertahankan diri atas kebutuhan sehari-hari adalah hal yang penting.
Untuk mempertahankan kelangsungan hidup bagi seorang siswa atau mahasiswa harus berpikir dua kali. Kebutuhan yang dibutuhkan sehari-hari harus benar-benar di menajemen dengan baik. makan, minum, dan uang saku untuk kebutuhan lain harus di menej dengan baik pula. Itu perkara kebutuhan primer, apalagi kebutuhan skunder; uang kos-kosan, atau bensin. Kebutuhan administratif pun juga harus di “nak-nik” dengan matang. Misalnya; kebutuhan mengerjakan tugas kuliah/ sekolah. Uang perjalanan dari satu tempat ke tempat lain. Semua harus di pikirkan dengan baik dan matang.
Berbeda Ketika kita sekolah/kuliah pulang-pergi. Semua telah terpenuhi karena orang tua masih ikut berperan untuk membantu kita. Di sisi lain, manakala orang tua tahu kalau anaknya tidak memiliki atau menyimpan uang, maka dengan kerendahan hati orang tua akan memberi. Itu yang biasanya saya alami.
Hidup jauh di kota orang sudah saya lakoni sejak sekolah menengah kejuruan (SMK). Dan itu lanjut di bangku kuliah, kira-kira ada 8 tahun saya mandiri bermodalkan uang saku. Namun bukan itu yang saya ceritakan dalam tulisan ini, melainkan kemegaran saya membaca buku, fokus pembelian utama adalah buku. Entah sejak kapan saya suka mengoleksi buku itu? Yang jelas, pertama kali saya konsisten dan terus menambah perbendaharaan buku itu semenjak kuliah semester 5. Dan keinginan ingin membuat perpustakaan pribadi dengan uang sendiri semakin meningkat, diimbangi dengan kegemaran membaca dan menulis hal yang sederhana seperti ini.
Saya senang dan nyaman ketika berjalan-jalan di toko buku. Dan kesempatan itu biasanya saya sempatkan satu minggu sekali atau dua kali. Keinginan itu setidaknya membeli buku satu atau dua buku setiap minggunya. Namun, lihat-lihat isi kondom (situasi, kondisi, dan domisili). Karena harga buku-buku yang di jual di toko buku, seperti Togamas dan Gramedia dikategorikan ‘mahal’ sekitar 50 ribu rupiah per eksemplar, saya mencari alternatif lain, yakni buku obralan. Dengan modal uang 50 ribu, saya bisa membawa pulang dua atau tiga buku. Itulah menajemen yang saya terapkan selama ini untuk mengisi koleksi rak buku. Saya memiliki cita-cita yang tidak terlalu besar. Selain ingin menambah vitamin organ tubuh yang paling “seksi”, otak, saya memiliki cita-cita membuat perpustakaan pribadi.
Keinginan membeli buku setiap minggunya ini, biasanya benturan antara teman dekat dan orang tua. Mereka sangat khawatir, manakala setiap minggu membeli satu atau dua buku, untuk urusan “nabi perut” tidak terurus. Sehingga kesehatan pun tidak terlalu perhatikan. Dan menurutnya “buku adalah ‘kertas tak ternilai’. Buku adalah benda mati yang tidak bisa dimakan”. Barangkali itu pesan yang ingin mereka sampaikan kepada saya.
Dengan satu minggu, 2 buku kalau dikalkulasi dalam satu bulan sudah mengumpulkan 10 lebih buah buku. Dalam satu tahun barangkali sudah lebih ada 100 buku yang saya kumpulkan. Semoga keinginan untuk mendirikan perpustakaan pribadi segera terwujud. selain menjadikan perpustakaan pribadi, saya juga ingin menumbuhkan semangat membaca pada lingkungan sekitar. Dan prioritas utama yang ingin saya kembangkan adalah membangun lingkungan dengan budaya membaca. Karena buku adalah jendela dunia, dan membaca adalah kunci untuk membukanya. (*)
Untuk mempertahankan kelangsungan hidup bagi seorang siswa atau mahasiswa harus berpikir dua kali. Kebutuhan yang dibutuhkan sehari-hari harus benar-benar di menajemen dengan baik. makan, minum, dan uang saku untuk kebutuhan lain harus di menej dengan baik pula. Itu perkara kebutuhan primer, apalagi kebutuhan skunder; uang kos-kosan, atau bensin. Kebutuhan administratif pun juga harus di “nak-nik” dengan matang. Misalnya; kebutuhan mengerjakan tugas kuliah/ sekolah. Uang perjalanan dari satu tempat ke tempat lain. Semua harus di pikirkan dengan baik dan matang.
Berbeda Ketika kita sekolah/kuliah pulang-pergi. Semua telah terpenuhi karena orang tua masih ikut berperan untuk membantu kita. Di sisi lain, manakala orang tua tahu kalau anaknya tidak memiliki atau menyimpan uang, maka dengan kerendahan hati orang tua akan memberi. Itu yang biasanya saya alami.
Hidup jauh di kota orang sudah saya lakoni sejak sekolah menengah kejuruan (SMK). Dan itu lanjut di bangku kuliah, kira-kira ada 8 tahun saya mandiri bermodalkan uang saku. Namun bukan itu yang saya ceritakan dalam tulisan ini, melainkan kemegaran saya membaca buku, fokus pembelian utama adalah buku. Entah sejak kapan saya suka mengoleksi buku itu? Yang jelas, pertama kali saya konsisten dan terus menambah perbendaharaan buku itu semenjak kuliah semester 5. Dan keinginan ingin membuat perpustakaan pribadi dengan uang sendiri semakin meningkat, diimbangi dengan kegemaran membaca dan menulis hal yang sederhana seperti ini.
Saya senang dan nyaman ketika berjalan-jalan di toko buku. Dan kesempatan itu biasanya saya sempatkan satu minggu sekali atau dua kali. Keinginan itu setidaknya membeli buku satu atau dua buku setiap minggunya. Namun, lihat-lihat isi kondom (situasi, kondisi, dan domisili). Karena harga buku-buku yang di jual di toko buku, seperti Togamas dan Gramedia dikategorikan ‘mahal’ sekitar 50 ribu rupiah per eksemplar, saya mencari alternatif lain, yakni buku obralan. Dengan modal uang 50 ribu, saya bisa membawa pulang dua atau tiga buku. Itulah menajemen yang saya terapkan selama ini untuk mengisi koleksi rak buku. Saya memiliki cita-cita yang tidak terlalu besar. Selain ingin menambah vitamin organ tubuh yang paling “seksi”, otak, saya memiliki cita-cita membuat perpustakaan pribadi.
Keinginan membeli buku setiap minggunya ini, biasanya benturan antara teman dekat dan orang tua. Mereka sangat khawatir, manakala setiap minggu membeli satu atau dua buku, untuk urusan “nabi perut” tidak terurus. Sehingga kesehatan pun tidak terlalu perhatikan. Dan menurutnya “buku adalah ‘kertas tak ternilai’. Buku adalah benda mati yang tidak bisa dimakan”. Barangkali itu pesan yang ingin mereka sampaikan kepada saya.
Dengan satu minggu, 2 buku kalau dikalkulasi dalam satu bulan sudah mengumpulkan 10 lebih buah buku. Dalam satu tahun barangkali sudah lebih ada 100 buku yang saya kumpulkan. Semoga keinginan untuk mendirikan perpustakaan pribadi segera terwujud. selain menjadikan perpustakaan pribadi, saya juga ingin menumbuhkan semangat membaca pada lingkungan sekitar. Dan prioritas utama yang ingin saya kembangkan adalah membangun lingkungan dengan budaya membaca. Karena buku adalah jendela dunia, dan membaca adalah kunci untuk membukanya. (*)
Posting Komentar