Saat masih duduk di bangku sekolah Madrash Ibtidayah (MI)--setara Sekolah Dasar--aktivitas saya tak ada yang berbeda dengan teman sebaya di kampung waktu itu. Pulang sekolah langsung, saya bermain bersama-sama hingga jam dua sore. Tanpa ada alarm dan tanda panggilan, saya langsung bergegas mengambil air dan mandi kemudian berangkat ke masjid untuk belajar Al-Qur'an, di TPQ. Setelah sorogan dan waktu istirahat datang, kami bermain di sungai. Ya, biasanya kami (saya dan teman-teman) mencari ikan kecil atau udang batu. Saking asyiknya, kami lupa waktu pulang dan tidak kembali ke masjid untuk melaksanakan sholat Ashar. Lantaran banyak sekali aktivitas yang kami lakukan, sehingga kami lupa waktu.
Aktivitas antara lain, memet (mencari ikan di sungai memakai cikrak). Setelah itu kami susul bermain sepak bola di pelataran masjid, juga melakukan permaianan tradisional seperti Betengan, dan permainan tradisional lain. Sebuah masa yang indah untuk bersenang-senang.
Permainan tersebut memang tidak bisa jauh dari kehidupan anak seusia kami. Di mana anak-anak yang lahir di medio tahun 90-an bahagia dengan alam. Kami bermain bola dengan ceker (tanpa sepatu). Biasanya kalau tidak ada kegiatan, saya bersama teman-teman kampung, bermian di lapangan setapak, yang bisa dibuat sepak bola. Seingat saya, lapangan itu dekat dengan kuburan dan banyak carang (duri) dari resek-resek. Kami bermain dengan telanjang kaki.
Pernah suatu ketika, kami bermain bola di bawah hujan yang begitu deras. Di lapangan kami di sisi pojok selatan, di depan gawang timur ada lubang yang begitu lebar. Hujan yang deras itu membuat air mengalir ke lubang itu. Kami bermain tak memerdulikan lapangan itu licin atau tidak. Sampai akhirnya bola itu masuk di lubang tersebut, tetapi kami tetap asyik mengejar bola sampai di lubang itu dan memainkan bola di lubang tersebut. Tanpa terasa kaki saya sampai berdarah dan luka terkena serpihan pecahan botol (beling). Darah bercucuran di kaki mungil saya. Rasanya sangat perih sekali. Saat itu saya mau menangis karena tak kuat menahan perihnya luka itu, tapi saat itu saya merasa sebagai kapten, maka rasa tangis itu saya kalahkan dengan jabatan kapten di dada saya. Preeeettt....
Setelah sembuh dari cidera--luka di kaki--, kami beberapa kali latihan dan latih tanding dengan sistem home and away dengan tetangga sebelah. Hanya itu yang bisa saya tahu tentang istilah dari sepak bola. Hingga akhirnya, saya dibelikan majalah yang tidak jauh dari sepak bola. Yang tidak kalah berharga dalam jajanan itu ada bonus stiker pemain sepak bola profesional. Seingat saya di tembok kamar penuh tempelan para pemain sepak bola. Masih bisa diingat, pemain yang banyak dijadikan bonus dari jajanan itu adalah para pemain Itilia, seperti Alesandro Delpiero, Christian Antonioli, Gabriel Batistuta, dan Francisco Totti.
Di kesempatan lain, di suatu hari selepas pulang dari kantor, bapak membawa koran khusus berita sepak bola. Ternyata koran itu adalah majalah sepak bola, kalau tidak salah majalah Bola. Tanpa disengaja, sugesti itu membentuk karakter saya hingga besar.
Saya tumbuh dengan cita-cita ingin menjadi pemain sepak bola. Meski ketika itu, saya bermimpi bermain di lapangan besar desa sulitnya minta ampun. Persaingan dengan teman se-desa sulitnya luar biasa. Itu merupakan cita-cita saya diawal, selepas hanya bermain di lapangan kecil atau sepetak sawah, pekarangan milik orang lain. Saya bermimpi bermain bersama para bintang di lingkungan tempat tinggal.
Masih ingat dengan jelas, di medio 2000-an, saya pertama kalinya memiliki sepatu sepak bola. Wah, senang dan bangga tentunya. Apalagi sepatu itu dibeli dari Jakarta, kata bapak sepulang prajabatan di Jakarata. Kegemaran saya bermain sepak bola bak gayung bersambut, hobi itu disambut baik oleh bapak. Bapak merupakan seorang yang sangat tahu tentang anaknya. Saat pertama kali dibelikan majalah Bola, di situlah pertama kali saya diperkenalkan dengan dunia sepak bola. Padahal, bapak bukan pemain sepak bola.
Jika dirunut dari sisi manapun, bapak tidak memiliki sisi historis tentang olahraga yang satu ini. Meski menurut teman adik kelas bapak dulu, "Bapakmu dulu juga pernah bermain sepak bola, loh," cerita Pak Mumuk. "Ia bermain sepak bola antarkelas waktu di sekolah menengah pertama (SLTP)," pungkasnya.
Bapak bukan seorang olahragawan. Entah apa yang ada di pikiran bapak, ketika itu sehingga ia membawakan saya majalah bola sepulang dari tempat kerjanya. Jika digali dari masa mudanya, ia juga tidak pernah bercerita akan tanda-tanda atas masa muda dihabiskan dengan si kulit bundar.
Namun yang keluar dari serpihan-serpihan ucapannya, bapak adalah seorang pekerja. Karena, ia adalah anak pertama dari dua belas bersaudara. Selain itu, bapak juga pernah ngasu kaweruh di Pondok Pesantren salah satu di Kabupaten Trenggalek. I juga pernah sekolah di Madrasah Aliyah di Trenggalek sekaligus menimba ilmu di Pondok Pesantren tersebut. Namun apalah daya, ia tidak tuntas alias drop out(DO) dari sekolah maupun dari pondok karena permasalahan ekonomi. Oleh karena itu, setiap cerita yang dikabarkan kepada anak-anaknya, hanya semasa hidup di Pondok Pesantren di Kabupaten Trenggalek, yakni di Pondok Kamulan. Intinya, yang dibanggakan bukan permainan sepak bolanya, tetapi ketika ia belajar di Pondok Pesantren.
Tidak berlebihan jika kala itu saya jadi kapten di setiap lawatan di kampung RT sebelah. Bermodal pengetahuan saya menghafal nama-nama pemain, istilah-istilah di sepak bola, serta pengordinir kaos seragam yang mau dipakai saat lawatan ke lapangan tetangga membuat saya percaya diri jadi kapten kesebelasan--kadang tidak genap sebelas di klub kampung itu.
Masih ingat dengan jelas, jersey pertama kali ingin kami kenakan di tubuh kita adalah kaos As Roma, yang di depan tepat di bagian saku ada logo srigala. Waktu itu saya yang mengordinir iuran kaos itu, karena itu saya yang mencari koas itu. Karena klub favorit saya adalah As Roma, ya tak carikan kaos bernama punggung Gabriel Batistuta dan El-capitano, Francesco Totti.
Karena saya kapten, posisi kala itu adalah penyerang atau posisi di depan. Bukan di depan gawang lapangan loh. Hehehe.
"Kertas kok tukoni, muk gae opo le?" hardik ibu waktu itu.
Setelah hardikan itu, saya menjadi tak beli majalah lagi. Kalau pun membeli koran atau majalah saya harus bilang majalah itu lawas, sudah lama saya beli. Selain itu, kisah untuk mendapatkan koran atau majalah saya harus bermain "petak umpet" dengan Pak Gun, loker koran untuk area Watulimo. Pasalnya, Pak Gun ketika mendistribusikan koran di kawasan Trenggalek bagian Selatan tidak melewati area tempat tinggal saya. Ia mengendarai sepeda motor dan waktu datangnya pun juga tidak menentu. Kadang jam sepuluh pagi sudah datang, kadang jam sembilan sudah berada di tempat yang biasa saya gunakan untuk menunggu. Kadang jam setengah 11 baru nonggol. Yang lebih tak enak itu adalah majalah Bola yang saya baca hari Kamis baru bisa saya dapat di hari Jumat. Jadi saya ketinggalan berita atau ulasan satu hari.
Dan, di sinilah, saya ingin bernostalgia bersama majalah itu. Saya ingin mengulang romantisme masa kecil yang penuh dengan kenangan. Dan kenangan itu saya rajut kembali setelah berapa hari, setelah saya diberi majalah bola itu secara cuma-cuma oleh sahabat yang tinggal di Kediri, Ari A. Sunantoro. Ia merupakan pemain sepak bola. Ia berposisi sebagai penjaga gawang. Dan sudah malang melintang di beberapa klub di Kediri dan sekitarnya. Pengalaman di bawah mistar gawang tidak bisa diragukan lagi. Jam terbangnya sangat mumpuni.
Bernostalgia dengan membaca tentang sepak bola ibarat bertamasya di dunia yang dahulu pernah saya lakukan dengan bertelanjang kaki. Bermain dengan lepas, tertawa bersama. Di tahun 2016 misalnya, saya pernah membaca dan menulis tentang sepak bola di website Fandom.id, membaca di panditfootball.com dan majalah Bola serta koran olahraga merupakan romantisme yang sangat indah. Dari situ saya menggali lagi tentang peristiwa waktu itu yang muncul lagi ke permukaan.
Oh iya, sedikit menyingung kegemaran saya saat ini yang mulai terdegradasi, salah satunya adalah bermain sepak bola. Yang dahulu saya bermain bola menggunakan kaki, sekarang permaianan bola saya menggunakan tanagan, alias menulis tentang bola. Bermain sepak bola bagi saya adalah media berolah raga dana mengekspresikan dan hobbi. Kini bermain bola sebagai media refleksi dan bacaan untuk jadi referensi menulis tentang sepak bola. Meski masa lalu tak seindah seperti pemain profesional seperti di televisi-televisi itu, yang jadi bintang. Saya masih bisa bermain bola, meski menggunakan tangan, bagi saya merupakan hal yang luar biasa.
Sekali lagi romantisme sepak bola memanggil-manggil kembali. Hobi dan pengalaman tentang sepak bola tak bisa dibendung, seperti Zen RS bilang, meski tidak bisa bermain bola dengan kaki, tetapi saya sekarang bermain bola dengan tangan. Menulis tentang bola. Sepak bola merupakan merajut kembali romantise anak-anak yang saat ini sudah banyak yang tidak bisa dinikmati pada anak di era 90-an. Meski begitu, sepak bola ialah olah raga yang paling populer. Yang membedakan adalah kesempatan anak-anak melepas dan mengeksplor kemampuan mereka. Namun tak pelu bergeming, salah satu pelatih semisal Indra Safri turun gunung untuk memunculkan bakat-bakat di usia dini, dan masih mengikuti bermain bola meski kesempatan sangat minim merupakan anugerah yang patut disyukuri. Sepak bola merupakan olahraga yang tidak akan pernah sepi oleh pendukungnya. Begitulah sepak bola.[]
Aktivitas antara lain, memet (mencari ikan di sungai memakai cikrak). Setelah itu kami susul bermain sepak bola di pelataran masjid, juga melakukan permaianan tradisional seperti Betengan, dan permainan tradisional lain. Sebuah masa yang indah untuk bersenang-senang.
Permainan tersebut memang tidak bisa jauh dari kehidupan anak seusia kami. Di mana anak-anak yang lahir di medio tahun 90-an bahagia dengan alam. Kami bermain bola dengan ceker (tanpa sepatu). Biasanya kalau tidak ada kegiatan, saya bersama teman-teman kampung, bermian di lapangan setapak, yang bisa dibuat sepak bola. Seingat saya, lapangan itu dekat dengan kuburan dan banyak carang (duri) dari resek-resek. Kami bermain dengan telanjang kaki.
Pernah suatu ketika, kami bermain bola di bawah hujan yang begitu deras. Di lapangan kami di sisi pojok selatan, di depan gawang timur ada lubang yang begitu lebar. Hujan yang deras itu membuat air mengalir ke lubang itu. Kami bermain tak memerdulikan lapangan itu licin atau tidak. Sampai akhirnya bola itu masuk di lubang tersebut, tetapi kami tetap asyik mengejar bola sampai di lubang itu dan memainkan bola di lubang tersebut. Tanpa terasa kaki saya sampai berdarah dan luka terkena serpihan pecahan botol (beling). Darah bercucuran di kaki mungil saya. Rasanya sangat perih sekali. Saat itu saya mau menangis karena tak kuat menahan perihnya luka itu, tapi saat itu saya merasa sebagai kapten, maka rasa tangis itu saya kalahkan dengan jabatan kapten di dada saya. Preeeettt....
Setelah sembuh dari cidera--luka di kaki--, kami beberapa kali latihan dan latih tanding dengan sistem home and away dengan tetangga sebelah. Hanya itu yang bisa saya tahu tentang istilah dari sepak bola. Hingga akhirnya, saya dibelikan majalah yang tidak jauh dari sepak bola. Yang tidak kalah berharga dalam jajanan itu ada bonus stiker pemain sepak bola profesional. Seingat saya di tembok kamar penuh tempelan para pemain sepak bola. Masih bisa diingat, pemain yang banyak dijadikan bonus dari jajanan itu adalah para pemain Itilia, seperti Alesandro Delpiero, Christian Antonioli, Gabriel Batistuta, dan Francisco Totti.
Di kesempatan lain, di suatu hari selepas pulang dari kantor, bapak membawa koran khusus berita sepak bola. Ternyata koran itu adalah majalah sepak bola, kalau tidak salah majalah Bola. Tanpa disengaja, sugesti itu membentuk karakter saya hingga besar.
Saya tumbuh dengan cita-cita ingin menjadi pemain sepak bola. Meski ketika itu, saya bermimpi bermain di lapangan besar desa sulitnya minta ampun. Persaingan dengan teman se-desa sulitnya luar biasa. Itu merupakan cita-cita saya diawal, selepas hanya bermain di lapangan kecil atau sepetak sawah, pekarangan milik orang lain. Saya bermimpi bermain bersama para bintang di lingkungan tempat tinggal.
Masih ingat dengan jelas, di medio 2000-an, saya pertama kalinya memiliki sepatu sepak bola. Wah, senang dan bangga tentunya. Apalagi sepatu itu dibeli dari Jakarta, kata bapak sepulang prajabatan di Jakarata. Kegemaran saya bermain sepak bola bak gayung bersambut, hobi itu disambut baik oleh bapak. Bapak merupakan seorang yang sangat tahu tentang anaknya. Saat pertama kali dibelikan majalah Bola, di situlah pertama kali saya diperkenalkan dengan dunia sepak bola. Padahal, bapak bukan pemain sepak bola.
Jika dirunut dari sisi manapun, bapak tidak memiliki sisi historis tentang olahraga yang satu ini. Meski menurut teman adik kelas bapak dulu, "Bapakmu dulu juga pernah bermain sepak bola, loh," cerita Pak Mumuk. "Ia bermain sepak bola antarkelas waktu di sekolah menengah pertama (SLTP)," pungkasnya.
Bapak bukan seorang olahragawan. Entah apa yang ada di pikiran bapak, ketika itu sehingga ia membawakan saya majalah bola sepulang dari tempat kerjanya. Jika digali dari masa mudanya, ia juga tidak pernah bercerita akan tanda-tanda atas masa muda dihabiskan dengan si kulit bundar.
Namun yang keluar dari serpihan-serpihan ucapannya, bapak adalah seorang pekerja. Karena, ia adalah anak pertama dari dua belas bersaudara. Selain itu, bapak juga pernah ngasu kaweruh di Pondok Pesantren salah satu di Kabupaten Trenggalek. I juga pernah sekolah di Madrasah Aliyah di Trenggalek sekaligus menimba ilmu di Pondok Pesantren tersebut. Namun apalah daya, ia tidak tuntas alias drop out(DO) dari sekolah maupun dari pondok karena permasalahan ekonomi. Oleh karena itu, setiap cerita yang dikabarkan kepada anak-anaknya, hanya semasa hidup di Pondok Pesantren di Kabupaten Trenggalek, yakni di Pondok Kamulan. Intinya, yang dibanggakan bukan permainan sepak bolanya, tetapi ketika ia belajar di Pondok Pesantren.
***
Kembali soal majalah, kabar soal bola itu, baik Majalah Bola dan Soccer (saat ini tidak terbit lagi) merupakan stimulus kegemaran saya membaca saat itu. Tentunya saat itu, Al Quran menjadi bacaan wajib selepas Maghrib dan Subuh. Sehingga semasa MTs, saya memiliki cita-cita menjadi pemain sepak bola. Pada periode itu, saya suka melihat gambar para pemain sepak bola dan mengoleksi kaos bajakan yang dijual di toko-toko pinggir jalan. Tidak berlebihan jika kala itu saya jadi kapten di setiap lawatan di kampung RT sebelah. Bermodal pengetahuan saya menghafal nama-nama pemain, istilah-istilah di sepak bola, serta pengordinir kaos seragam yang mau dipakai saat lawatan ke lapangan tetangga membuat saya percaya diri jadi kapten kesebelasan--kadang tidak genap sebelas di klub kampung itu.
Masih ingat dengan jelas, jersey pertama kali ingin kami kenakan di tubuh kita adalah kaos As Roma, yang di depan tepat di bagian saku ada logo srigala. Waktu itu saya yang mengordinir iuran kaos itu, karena itu saya yang mencari koas itu. Karena klub favorit saya adalah As Roma, ya tak carikan kaos bernama punggung Gabriel Batistuta dan El-capitano, Francesco Totti.
Karena saya kapten, posisi kala itu adalah penyerang atau posisi di depan. Bukan di depan gawang lapangan loh. Hehehe.
***
Kembali ke majalah, orang tua saya bukan keluarga dengan tradisi membaca. Kala membeli koran atau majalah, saya mendapat omelan dari inu."Kertas kok tukoni, muk gae opo le?" hardik ibu waktu itu.
Setelah hardikan itu, saya menjadi tak beli majalah lagi. Kalau pun membeli koran atau majalah saya harus bilang majalah itu lawas, sudah lama saya beli. Selain itu, kisah untuk mendapatkan koran atau majalah saya harus bermain "petak umpet" dengan Pak Gun, loker koran untuk area Watulimo. Pasalnya, Pak Gun ketika mendistribusikan koran di kawasan Trenggalek bagian Selatan tidak melewati area tempat tinggal saya. Ia mengendarai sepeda motor dan waktu datangnya pun juga tidak menentu. Kadang jam sepuluh pagi sudah datang, kadang jam sembilan sudah berada di tempat yang biasa saya gunakan untuk menunggu. Kadang jam setengah 11 baru nonggol. Yang lebih tak enak itu adalah majalah Bola yang saya baca hari Kamis baru bisa saya dapat di hari Jumat. Jadi saya ketinggalan berita atau ulasan satu hari.
Dan, di sinilah, saya ingin bernostalgia bersama majalah itu. Saya ingin mengulang romantisme masa kecil yang penuh dengan kenangan. Dan kenangan itu saya rajut kembali setelah berapa hari, setelah saya diberi majalah bola itu secara cuma-cuma oleh sahabat yang tinggal di Kediri, Ari A. Sunantoro. Ia merupakan pemain sepak bola. Ia berposisi sebagai penjaga gawang. Dan sudah malang melintang di beberapa klub di Kediri dan sekitarnya. Pengalaman di bawah mistar gawang tidak bisa diragukan lagi. Jam terbangnya sangat mumpuni.
Bernostalgia dengan membaca tentang sepak bola ibarat bertamasya di dunia yang dahulu pernah saya lakukan dengan bertelanjang kaki. Bermain dengan lepas, tertawa bersama. Di tahun 2016 misalnya, saya pernah membaca dan menulis tentang sepak bola di website Fandom.id, membaca di panditfootball.com dan majalah Bola serta koran olahraga merupakan romantisme yang sangat indah. Dari situ saya menggali lagi tentang peristiwa waktu itu yang muncul lagi ke permukaan.
Oh iya, sedikit menyingung kegemaran saya saat ini yang mulai terdegradasi, salah satunya adalah bermain sepak bola. Yang dahulu saya bermain bola menggunakan kaki, sekarang permaianan bola saya menggunakan tanagan, alias menulis tentang bola. Bermain sepak bola bagi saya adalah media berolah raga dana mengekspresikan dan hobbi. Kini bermain bola sebagai media refleksi dan bacaan untuk jadi referensi menulis tentang sepak bola. Meski masa lalu tak seindah seperti pemain profesional seperti di televisi-televisi itu, yang jadi bintang. Saya masih bisa bermain bola, meski menggunakan tangan, bagi saya merupakan hal yang luar biasa.
Sekali lagi romantisme sepak bola memanggil-manggil kembali. Hobi dan pengalaman tentang sepak bola tak bisa dibendung, seperti Zen RS bilang, meski tidak bisa bermain bola dengan kaki, tetapi saya sekarang bermain bola dengan tangan. Menulis tentang bola. Sepak bola merupakan merajut kembali romantise anak-anak yang saat ini sudah banyak yang tidak bisa dinikmati pada anak di era 90-an. Meski begitu, sepak bola ialah olah raga yang paling populer. Yang membedakan adalah kesempatan anak-anak melepas dan mengeksplor kemampuan mereka. Namun tak pelu bergeming, salah satu pelatih semisal Indra Safri turun gunung untuk memunculkan bakat-bakat di usia dini, dan masih mengikuti bermain bola meski kesempatan sangat minim merupakan anugerah yang patut disyukuri. Sepak bola merupakan olahraga yang tidak akan pernah sepi oleh pendukungnya. Begitulah sepak bola.[]
Posting Komentar