Perjalanan jauh dari Kota Surabaya ke Tulungagung di jam-jam padat butuh waktu dan tenaga lebih. Apalagi perjalanan itu dilakukan di akhir pekan atau di jam pulang kerja, suasana di bus maupun di terminal seolah jamur di musim hujan, volume orang yang ingin pulang kampung berjubel meningkat tajam.
Di Terminal bus Purabaya, Bungurasih orang-orang terlihat tidak sabar ingin mendapatkan bus. Banyak orang di hari biasa ngetem di tempat yang disediakan. Di akhir pekan, orang-orang, termasuk kami (saya dan Ella) langsung mencari bus yang sedang parkir di tempat parkir. Hal tersebut dilakukan supaya bisa mendapatkan tempat duduk. Alasannya satu. Hanya karena bisa tidur dan tidak pegel di badan.
Kami berdua naik bis bomell tujuan Tulungagung. Seperti biasanya, karena saking seringnya pulang pergi hampir satu pekan sekali, kami bukannya ngetem di tempat yang disediakan, tetapi kami langsung menuju di tempat parkir bis dan naik di bis yang belum jadwalnya berangkat, yang saya sampaikan tadi. Karena kalau kita harus ngetem di tempat biasa, kami harus berdesak-desakkan dengan penumpang lain. Hal tersebut membuat energi kami terkuras demi mendapatkan tempat duduk.
Ditambah lagi perjalanan dari Terminal Bungurasih menuju Tulungagung membutuhkan waktu dari empat sampai lima jam jika sedang macet-macetnya. Dalam kurun waktu tersebut tentu perut kerap meronta-ronta; lapar. Meski di dalam bus Harapan Jaya kerap hilir mudik penjual asongan (minuman atau jajanan dan mainan), tetapi tak membuat perut kami kenyang. Jajanan yang dibawa oleh penjual asongan itu hanya mengganjal supaya tidak lapar saja. Kondisi perut tetap menjerit dan lapar.
Berangkat dari terminal bus Purabaya pukul 4 sore, kami sampai di Kras, Kediri perbatasan Tulungagung pukul 8 malam. Empat jam membuat perut kami gentayangan dan meronta. Di Kras, salah satu kecamatan di Kabupaten Kediri, kami dijemput Mas Asrufin. Tapi Mas Asrufin tidak kunjung datang. Kami memiliki inisiatif untuk mengganjal perut dengan cemilan molen.
Kurang lebih satu jam-an kami menunggu, akhrnya Mas Asrufin datang. Kami mengajak dia untuk menuntaskan perut yang sedari siang sudah lapar. Atas rekomendasi Ella, kami dibawa di warung selatan Koramil, Kecamatan Ngantru, Kabupaten Tulungagung. Perjalanan kami dari Kras ke Ngantru berasa lama sekali. Karena perut menginginkan untuk segera menuntaskan dan menyantap makanan.
Setelah perjalanan kurang lebih 10 menit kami sampai di Warung Cemplon 1. Di warung ini banyak pilihan menunya. Ada masakan Jawa dan ada masakan Chinesse. Menurut Ella, Mi nyemek di sini enak. Saya bertiga pesan mi nyemek dan es jeruk. Kurang lebih setengah jam kami menunggu.
Akhirnya satu mangkok mi nyemek itu mengepul di depan meja kami. Saya pikir, semangkok mi akan tandas beberapa menit saja. Karena pertama kali saya icip kuahnya yang kental, tapi tak banyak rasanya pas dan nikmat sekali. Namun strategi saya rupanya salah ketika di Kras tadi saya sudah ngemil molen, belum tandas sampai habis, perut saya sudah mulai tak bisa menampung mi nyemek. Padahal lidah sebagai perasa ingin terus menikmati.
Mi nyemek atau bakmi nyemek adalah bakmi rebus (Jawa: bakmi godhog). Jika dilihat dari teksturnya, mi nyemek ini sebenarnya mirip dengan bakmi kuah, tetapi kuahnya agak lebih sedikit dan mi-nya masih basah. Bakmi di sini rasanya memang enak, warnanya kecoklatan karena ada rasa manisnya tetapi tidak terlalu manis, manisnya cukup pas dan mienya juga pas empuknya jadi tidak sampai kematangan. Karena saya suka masakan yang manis-manis, manisnya mi nyemek masih saya kasih kecap dan sambal. Hingga rasanya berubah, pedas manis. Pokoknya pas di lidah saya.
Istilah nyemek berasal dari Bahasa Jawa Sumpiuh yang diartikan tidak basah tidak kering. Mungkin saja menu tersebut di tengah-tengah, antara bakmi kuah dan bakmi goreng.
Mi nyemek seperti mi bakmi atau mi-mi lain. Sebagai menu lengkap ada campuran seperti suwiran ayam, telur, kubis, irisan timun dan tomat, serta taburan bawang goreng yang menambah nikmatnya bakmi nyemek. Mie Nyemek sangat enak dan segar kuahnya dinikmati selagi masih panas.
Saat saya menyantap mi nyemek di Warung Cemplon, saya membatin karena tak enak dengan mas Asrufin, kali saja saya menikmati mi Nyemek ini pas kondisi lapar, sudah pasti satu mangkuk mi nyemek ini akan tandas beserta campuran sayur dan lain-lainnya. Ingat loh, ya Mangkuk, sendok dan garbu tidak termasuk, loh!.
Namun gumam saya dalam hati itu diutarakan Mas Asrufin. Bahwa ia mengatakan persis apa yang ada dalam hati, "Umpama pas makan kondisi perut sedang lapar atau kosong satu porsi mie nyemek ini pas habis," ujarnya.
Mi nyemek di Warung Cemplon sungguh nikmat. Pokoknya rekomended banget buat kalian penyuka mi. Mi nyemek ini sangat nikmat disantap dalam kondisi panas, sebab kalau sudah dingin mi nyemek akan berubah jadi mi jemek alias blenek.
Di Terminal bus Purabaya, Bungurasih orang-orang terlihat tidak sabar ingin mendapatkan bus. Banyak orang di hari biasa ngetem di tempat yang disediakan. Di akhir pekan, orang-orang, termasuk kami (saya dan Ella) langsung mencari bus yang sedang parkir di tempat parkir. Hal tersebut dilakukan supaya bisa mendapatkan tempat duduk. Alasannya satu. Hanya karena bisa tidur dan tidak pegel di badan.
Kami berdua naik bis bomell tujuan Tulungagung. Seperti biasanya, karena saking seringnya pulang pergi hampir satu pekan sekali, kami bukannya ngetem di tempat yang disediakan, tetapi kami langsung menuju di tempat parkir bis dan naik di bis yang belum jadwalnya berangkat, yang saya sampaikan tadi. Karena kalau kita harus ngetem di tempat biasa, kami harus berdesak-desakkan dengan penumpang lain. Hal tersebut membuat energi kami terkuras demi mendapatkan tempat duduk.
Ditambah lagi perjalanan dari Terminal Bungurasih menuju Tulungagung membutuhkan waktu dari empat sampai lima jam jika sedang macet-macetnya. Dalam kurun waktu tersebut tentu perut kerap meronta-ronta; lapar. Meski di dalam bus Harapan Jaya kerap hilir mudik penjual asongan (minuman atau jajanan dan mainan), tetapi tak membuat perut kami kenyang. Jajanan yang dibawa oleh penjual asongan itu hanya mengganjal supaya tidak lapar saja. Kondisi perut tetap menjerit dan lapar.
Berangkat dari terminal bus Purabaya pukul 4 sore, kami sampai di Kras, Kediri perbatasan Tulungagung pukul 8 malam. Empat jam membuat perut kami gentayangan dan meronta. Di Kras, salah satu kecamatan di Kabupaten Kediri, kami dijemput Mas Asrufin. Tapi Mas Asrufin tidak kunjung datang. Kami memiliki inisiatif untuk mengganjal perut dengan cemilan molen.
Kurang lebih satu jam-an kami menunggu, akhrnya Mas Asrufin datang. Kami mengajak dia untuk menuntaskan perut yang sedari siang sudah lapar. Atas rekomendasi Ella, kami dibawa di warung selatan Koramil, Kecamatan Ngantru, Kabupaten Tulungagung. Perjalanan kami dari Kras ke Ngantru berasa lama sekali. Karena perut menginginkan untuk segera menuntaskan dan menyantap makanan.
Setelah perjalanan kurang lebih 10 menit kami sampai di Warung Cemplon 1. Di warung ini banyak pilihan menunya. Ada masakan Jawa dan ada masakan Chinesse. Menurut Ella, Mi nyemek di sini enak. Saya bertiga pesan mi nyemek dan es jeruk. Kurang lebih setengah jam kami menunggu.
Akhirnya satu mangkok mi nyemek itu mengepul di depan meja kami. Saya pikir, semangkok mi akan tandas beberapa menit saja. Karena pertama kali saya icip kuahnya yang kental, tapi tak banyak rasanya pas dan nikmat sekali. Namun strategi saya rupanya salah ketika di Kras tadi saya sudah ngemil molen, belum tandas sampai habis, perut saya sudah mulai tak bisa menampung mi nyemek. Padahal lidah sebagai perasa ingin terus menikmati.
Mi nyemek atau bakmi nyemek adalah bakmi rebus (Jawa: bakmi godhog). Jika dilihat dari teksturnya, mi nyemek ini sebenarnya mirip dengan bakmi kuah, tetapi kuahnya agak lebih sedikit dan mi-nya masih basah. Bakmi di sini rasanya memang enak, warnanya kecoklatan karena ada rasa manisnya tetapi tidak terlalu manis, manisnya cukup pas dan mienya juga pas empuknya jadi tidak sampai kematangan. Karena saya suka masakan yang manis-manis, manisnya mi nyemek masih saya kasih kecap dan sambal. Hingga rasanya berubah, pedas manis. Pokoknya pas di lidah saya.
Istilah nyemek berasal dari Bahasa Jawa Sumpiuh yang diartikan tidak basah tidak kering. Mungkin saja menu tersebut di tengah-tengah, antara bakmi kuah dan bakmi goreng.
Mi nyemek seperti mi bakmi atau mi-mi lain. Sebagai menu lengkap ada campuran seperti suwiran ayam, telur, kubis, irisan timun dan tomat, serta taburan bawang goreng yang menambah nikmatnya bakmi nyemek. Mie Nyemek sangat enak dan segar kuahnya dinikmati selagi masih panas.
Saat saya menyantap mi nyemek di Warung Cemplon, saya membatin karena tak enak dengan mas Asrufin, kali saja saya menikmati mi Nyemek ini pas kondisi lapar, sudah pasti satu mangkuk mi nyemek ini akan tandas beserta campuran sayur dan lain-lainnya. Ingat loh, ya Mangkuk, sendok dan garbu tidak termasuk, loh!.
Namun gumam saya dalam hati itu diutarakan Mas Asrufin. Bahwa ia mengatakan persis apa yang ada dalam hati, "Umpama pas makan kondisi perut sedang lapar atau kosong satu porsi mie nyemek ini pas habis," ujarnya.
Mi nyemek di Warung Cemplon sungguh nikmat. Pokoknya rekomended banget buat kalian penyuka mi. Mi nyemek ini sangat nikmat disantap dalam kondisi panas, sebab kalau sudah dingin mi nyemek akan berubah jadi mi jemek alias blenek.
Posting Komentar