Terus terang saja, saya selama menempuh pendidikan di Sekolah Dasar (SD) sampai Sekolah Menengah Kejuruan (SMK sederajat SMA), tidak intens belajar sejarah. Sebab, dari SD sampai SMK—seingat saya—hanya dihadapkan dengan hafalan letak geografis dan astronomi wilayah Indonesia dan hitungan matematis. Itu saja tidak lebih.
Begitu pun di bangku kuliah, saya ambil jurusan yang jauh dari kata sastra. Boro-boro mengenal tokoh sastrawan atau pelaku sejarah, untuk urusan membaca saja, jurusan saya “jauh” dari kata buku: praktek lapangan tujuh lima persen, selebihnya hanya teori-teori mata kuliah.
Lalu untuk tahu soal sejarah, saya dihadapkan buku tentang Wiji Thukul. Siapakah Wiji Thukul? Saya tidak menangi mempelajari lebih mendalam. Entah “dosa” apa yang menghampiri saya, di ujung perkuliahan strata 1, saya seolah dibangunkan untuk belajar tentang sejarah, misal berkenalan dengan karya Pramoedya Ananta Toer, Tan Malaka, Soekarno, dll.
Seolah terbangun dari tidur panjang, saya belajar sejarah dari buku-buku. Sehingga akhir-akhir ini, saya semakin intens membaca dan mempelajari buku-buku tentang sejarah, meskipun informasi tak seratus persen terserap.
Saya membaca buku-buku sejarah, barangkali,—seperti saya sebut judul di atas seolah sedang (#)MelawanLupa. Slogan ini yang menjadi embrio saya mempelajari sejarah. Membaca Wiji Thukul merupakan salah satu langkah yang tepat untuk menghancurkan tembok tebal terhadap sejarah yang tak saya ketahui.
Wiji Thukul? Di manakah penyair ini berada? Semua orang mencari dan bertanya tentang keberadaannya. Fajar Merah, anak kedua Wiji Thukul dalam acara talkshow di Mata Najwa, bilang “ia sampai sekarang mencari ayahnya. Ia mencari dan mempelajari Wiji Thukul dari tulisan-tulisan ayahnya.”
Kehilangan atau ‘lenyapnya’ Wiji Thukul menjadi tanya tanya besar [?]. Istri Wiji Thukul, Sipon—sapaan akrab Siti Dyah Sujirah—masih dicantumkan daftar nama di kolom Kartu Keluarga (KK) sebagai kepala rumah tangga, halaman 137. “Suami saya hilang. Kalau dibilang mati, di mana jasadnya”? Artinya, Sipon dan anak-anaknya masih menunggu kehadirannya di rumah. Ditambah lagi, keyakinan Lawu, Hartono dan beberapa penelusuran yang dilakukan oleh kerabat, saudara, teman-teman hingga para aktivis, jika kuat keyakinan Wiji Thukul masih hidup. Ia ‘hanya’ dilenyapkan. Ia menjadi korban penghilangan paksa.
Di tengah penindasan para buruh dan ke-tidak-adil-an di zamannya, ia mencerdaskan para masyarakat melalui puisi-puisi yang ia buat. Thukul adalah lelaki cadel yang tak tidak bisa bilang “r” dengan sempurna. Ia “cacat” wicara tapi dianggap berbahaya. Saat membaca puisi di tengah buruh dan mahasiswa, aparat, pada saat itu, memberinya cap sebagai agitator, penghasut. Selebaran, poster, stensilan, dan buletin propaganda yang ia bikin tersebar luas di kalangan buruh dan petani.
Kegiatannya mendidik anak-anak kampung, dengan pendidikan teater, ia dianggap menggerakkan kebencian terhadap Orde Baru. Maka ia dibungkam. Dilenyapkan. Sampai sekarang tak diketahui lagi keberadaannya. Demikian puisi yang ditulis Thukul ketika di Pontianak yang berjudul “Catatan”, yang berisi pesan buat istri dan anak-anaknya, Fitri Nganti Wani dan Fajar Merah.
Kalau kelak anak-anak bertanya mengapa
dan aku jarang pulang
katakan Ayahmu tak ingin jadi pahlawan
tapi dipaksa menjadi penjahat
oleh penguasa yang sewenang-wenang...
Thukul adalah cerita penting dalam sejarah Orde Baru yang tak patut diabaikan: seorang penyair yang sajak-sajaknya takuti sebuah rezim. Thukul adalah sebuah lambang perjuangan.
Disela-sela pelarian dan kejaran aparat, ketika itu, Thukul selalu menulis puisi. Baginya, puisi telah menjadi bagian dari setiap tarikan nafas hidupnya. Akan tetapi bakat menulis puisi Thukul tidak tumbuh secara alami, melainkan atas arahan dan bimbingan guru teaternya, Cempe Lawu Warta Wasesa. Dari guru teaternya inilah Thukul mengasah tradisi belajar menulis. Pun Cempe inilah yang membaiat nama Wiji Thukul. Wiji Thukul bukan asli namanya. Nama aslinya Wiji Widodo.
Ia tidak hanya menulis puisi saja, tetapi ia juga menulis cerpen. Pria kelahiran Solo, 26 Agustus 1963 ini, menulis puisi sesuai realitas sosial masyarakat. Salah satunya adalah berjudul “Baju Bekas”. Puisi ini ia tulis selepas pulang dari pasar sentral, Pontianak. “Pernah satu kali Paul (nama samaran ketika di Pontianak) membeli baju. Rencananya akan dikirim ke Solo untu istrinya, Sipon. Begitu dibuka, lengan baju itu sobek. Lalu dia membaut puisi ‘Baju Bekas yang Lengannya Robek’,” kisah Martin, aktivis asal Medan tentang asbabul puisi tersebut, di halaman 23.
Thukul adalah anak seorang tukang becak Sorogenen. Penampilan rambutnya lusuh. Pakaiannya kumal. Celananya seperti tak mengenal sabun dan setrika. Ia selalu membawa tas putih dari kantong terigu. Isinya buku, pakaian dan kacamata baca. Ia adalah pembacaan yang kuat. Setiap bepergian, ia selalu membawa buku. Ketika berkunjung di kontrakan Lukman, di Tangerang, ia selalu membawa buku untuk teman-temannya. Peninggalan buku Thukul sampai sekarang masih tersimpan 50 buku, halaman 31. Pria yang pernah sekolah di Sekolah Menengah Karawitan (sampai kelas I), jurusan Tari, Solo ini, memiliki tradisi mengkliping majalah. Ia melengkapi dekorasi dengan mengkliping majalah Tempo bekas yang dibeli dari pasar loak.
Untuk itu, Membaca buku serial Buku Tempo Prahara-Prahara Orde Baru, yang berjudul Wiji Thukul; Teka-Teki Orang Hilang ini, seperti menelisik, menyingkap, merekontruksi, dan mengingat kembali berbagai peristiwa gelap kemanusiaan pada masa Orde Baru yang nyaris terlupakan. Membaca Wiji Thukul semacam #MelapanLupa pada masa-masa keganasan Orde Baru saat itu. Oleh karena itu, Hanya ada satu kata: Lawan![]
Begitu pun di bangku kuliah, saya ambil jurusan yang jauh dari kata sastra. Boro-boro mengenal tokoh sastrawan atau pelaku sejarah, untuk urusan membaca saja, jurusan saya “jauh” dari kata buku: praktek lapangan tujuh lima persen, selebihnya hanya teori-teori mata kuliah.
Lalu untuk tahu soal sejarah, saya dihadapkan buku tentang Wiji Thukul. Siapakah Wiji Thukul? Saya tidak menangi mempelajari lebih mendalam. Entah “dosa” apa yang menghampiri saya, di ujung perkuliahan strata 1, saya seolah dibangunkan untuk belajar tentang sejarah, misal berkenalan dengan karya Pramoedya Ananta Toer, Tan Malaka, Soekarno, dll.
Seolah terbangun dari tidur panjang, saya belajar sejarah dari buku-buku. Sehingga akhir-akhir ini, saya semakin intens membaca dan mempelajari buku-buku tentang sejarah, meskipun informasi tak seratus persen terserap.
Saya membaca buku-buku sejarah, barangkali,—seperti saya sebut judul di atas seolah sedang (#)MelawanLupa. Slogan ini yang menjadi embrio saya mempelajari sejarah. Membaca Wiji Thukul merupakan salah satu langkah yang tepat untuk menghancurkan tembok tebal terhadap sejarah yang tak saya ketahui.
Wiji Thukul? Di manakah penyair ini berada? Semua orang mencari dan bertanya tentang keberadaannya. Fajar Merah, anak kedua Wiji Thukul dalam acara talkshow di Mata Najwa, bilang “ia sampai sekarang mencari ayahnya. Ia mencari dan mempelajari Wiji Thukul dari tulisan-tulisan ayahnya.”
Kehilangan atau ‘lenyapnya’ Wiji Thukul menjadi tanya tanya besar [?]. Istri Wiji Thukul, Sipon—sapaan akrab Siti Dyah Sujirah—masih dicantumkan daftar nama di kolom Kartu Keluarga (KK) sebagai kepala rumah tangga, halaman 137. “Suami saya hilang. Kalau dibilang mati, di mana jasadnya”? Artinya, Sipon dan anak-anaknya masih menunggu kehadirannya di rumah. Ditambah lagi, keyakinan Lawu, Hartono dan beberapa penelusuran yang dilakukan oleh kerabat, saudara, teman-teman hingga para aktivis, jika kuat keyakinan Wiji Thukul masih hidup. Ia ‘hanya’ dilenyapkan. Ia menjadi korban penghilangan paksa.
Di tengah penindasan para buruh dan ke-tidak-adil-an di zamannya, ia mencerdaskan para masyarakat melalui puisi-puisi yang ia buat. Thukul adalah lelaki cadel yang tak tidak bisa bilang “r” dengan sempurna. Ia “cacat” wicara tapi dianggap berbahaya. Saat membaca puisi di tengah buruh dan mahasiswa, aparat, pada saat itu, memberinya cap sebagai agitator, penghasut. Selebaran, poster, stensilan, dan buletin propaganda yang ia bikin tersebar luas di kalangan buruh dan petani.
Kegiatannya mendidik anak-anak kampung, dengan pendidikan teater, ia dianggap menggerakkan kebencian terhadap Orde Baru. Maka ia dibungkam. Dilenyapkan. Sampai sekarang tak diketahui lagi keberadaannya. Demikian puisi yang ditulis Thukul ketika di Pontianak yang berjudul “Catatan”, yang berisi pesan buat istri dan anak-anaknya, Fitri Nganti Wani dan Fajar Merah.
Kalau kelak anak-anak bertanya mengapa
dan aku jarang pulang
katakan Ayahmu tak ingin jadi pahlawan
tapi dipaksa menjadi penjahat
oleh penguasa yang sewenang-wenang...
Thukul adalah cerita penting dalam sejarah Orde Baru yang tak patut diabaikan: seorang penyair yang sajak-sajaknya takuti sebuah rezim. Thukul adalah sebuah lambang perjuangan.
Disela-sela pelarian dan kejaran aparat, ketika itu, Thukul selalu menulis puisi. Baginya, puisi telah menjadi bagian dari setiap tarikan nafas hidupnya. Akan tetapi bakat menulis puisi Thukul tidak tumbuh secara alami, melainkan atas arahan dan bimbingan guru teaternya, Cempe Lawu Warta Wasesa. Dari guru teaternya inilah Thukul mengasah tradisi belajar menulis. Pun Cempe inilah yang membaiat nama Wiji Thukul. Wiji Thukul bukan asli namanya. Nama aslinya Wiji Widodo.
Ia tidak hanya menulis puisi saja, tetapi ia juga menulis cerpen. Pria kelahiran Solo, 26 Agustus 1963 ini, menulis puisi sesuai realitas sosial masyarakat. Salah satunya adalah berjudul “Baju Bekas”. Puisi ini ia tulis selepas pulang dari pasar sentral, Pontianak. “Pernah satu kali Paul (nama samaran ketika di Pontianak) membeli baju. Rencananya akan dikirim ke Solo untu istrinya, Sipon. Begitu dibuka, lengan baju itu sobek. Lalu dia membaut puisi ‘Baju Bekas yang Lengannya Robek’,” kisah Martin, aktivis asal Medan tentang asbabul puisi tersebut, di halaman 23.
Thukul adalah anak seorang tukang becak Sorogenen. Penampilan rambutnya lusuh. Pakaiannya kumal. Celananya seperti tak mengenal sabun dan setrika. Ia selalu membawa tas putih dari kantong terigu. Isinya buku, pakaian dan kacamata baca. Ia adalah pembacaan yang kuat. Setiap bepergian, ia selalu membawa buku. Ketika berkunjung di kontrakan Lukman, di Tangerang, ia selalu membawa buku untuk teman-temannya. Peninggalan buku Thukul sampai sekarang masih tersimpan 50 buku, halaman 31. Pria yang pernah sekolah di Sekolah Menengah Karawitan (sampai kelas I), jurusan Tari, Solo ini, memiliki tradisi mengkliping majalah. Ia melengkapi dekorasi dengan mengkliping majalah Tempo bekas yang dibeli dari pasar loak.
Untuk itu, Membaca buku serial Buku Tempo Prahara-Prahara Orde Baru, yang berjudul Wiji Thukul; Teka-Teki Orang Hilang ini, seperti menelisik, menyingkap, merekontruksi, dan mengingat kembali berbagai peristiwa gelap kemanusiaan pada masa Orde Baru yang nyaris terlupakan. Membaca Wiji Thukul semacam #MelapanLupa pada masa-masa keganasan Orde Baru saat itu. Oleh karena itu, Hanya ada satu kata: Lawan![]
Posting Komentar