Menulis judul ini perasaan saya agak sentimentil. Sebab sebuah pernyataan dari seorang teman yang menyarankan saya untuk hidup (Meikarta) di kota. Tersebab, hidup di desa tak menemukan fesyen dari yang saya lakukan ini.
Apa yang dikatakan oleh teman saya itu memang menarik dan lucu. Begini dia berkelakar, "Wong ndeso iku ra pantes dadi penulis. Lak pengen nulis urip o ng kutho, kana!.
Pernyataan itu membuat saya tertawatak pakai guling-guling loh.
Sebab orang yang memiliki hobi itu tidak harus hidup di kota besar. Orang yang hidup dengan kebersahajaan juga mampu menelurkan karya yang tidak kalah dengan orang kota. Malah karya-karya yang lahir dengan label best seller atau mendapat penghargaan dari pemerintah sebagian besar malam lahir dari rahim orang desa, suasana desa.
Lebih singkatnya tidak ada batasan untuk memulai usaha dan berkarya. Meski berada di pinggiran kota maupun sedang berada di penggunungan. Yang terpenting adalah mau terus berusaha dan meningkatkan kualitas dari apa yang jadi fesyennya.
Dari situ saya kemudian terlecut untuk terus berusaha mengembangkan dan belajar menulis, meski tulisan itu tak penting banget. Namun itu urusan penting dan tidak penting. Lebih pentingnya adalah menulis itu meski apa saja tentang hal-hal yang berada di sekitar.
Pernyataan itu sebenarnya dia sampaikan pada tahun 2015 di wall Facebook. Saya harus tahu diri. Di media sosial seperti Facebook itu tempat orang atau akun bercengkrama. Bercengkrama dengan akun saja. Tanpa saling pandang atau tegur sapa. Selain itu di media sosial itu tidak ada batasan untuk komentar apa saja, meski tidak mengandung sara tidak ada yang melarang. Saya juga harus rendah diri setelah mendapat komentar itu. Sebab maha besar netijen dengan segala cuwitan atau komentarnya. Apalagi falsafah dari senandung Arabia pernah mengatakan bahwa pekerjaan paling mudah adalah komentar.
Dengan kebenaran komentar netijen--anggap saja dia adalah netijen--saya harus tahu bahwa tulisan yang bertebaran di media sosial itu adalah konsumsi publik. Sebab saya sadar tulisan yang sudah dilempar di publik itu sudah jadi milik publik, milik banyak orang, di mana tulisan itu hidup di situlah tulisan itu jadi rebutan netijen. Jadi, ya itu harus saya pahami dan saya jalani dengan kebesaran hati dan tanpa menghilangkan rasa penasaran terhadap tulisan.
Baca Juga: Anak-anak dan Air yang Mengalir
Baca Juga: Mengaduk Nasib dengan Selembar Kupon
Dari kelakar teman saya itu, saya jadi sadar bahwa tulisan ini tidak seberapa penting bagi publik. Namun anggap saja tulisan-tulisan itu adalah konsumsi pribadi. Yang tak lebih hanya pemanis buatan sendiri. Anggap saja ini adalah lompatan untuk konsumsi masyarakat luar. Pun tak layak untuk publik ini sebongkah batu yang bakal jadi emas. Yang orang lain akan memburunya.
Untuk itu saya harus terus belajar sambil memperbaiki kualitas. Yang penting adalah tetap giat berlatih. Meski kita tahu bahwa belajar itu berat, yang mudah itu komentar. Terlebih dari apa yang dimaksud teman saya itu memang ada benarnya. Untuk ukuran orang kampung sulit untuk mengakses bahan bacaan yang kualitas. Atau minimal geliat budaya membaca sangatlah rendah.
Jadi untuk menjadi orang yang berbeda, dalam hal ini jadi orang yang bisa menulis adalah tidak gampang seperti orang kota dan meskipun ada hanya satu dua orang saja.
Orang kota atau orang yang hidup di belantara kota menjadi penulis adalah tidak prestisius. Menjadi pengusaha adalah jaminan masa depan. Oleh sebab itu untuk jadi seorang penulis tidak ada batasan teritorial wilayah, desa atau kota. Semua sama.
Kejadian itu kiranya jadi stimulan untuk menggerakkan jemari untuk menyentuhkan sebuah keyboard untuk segera menyelesaikan tulisan yang belum selesai-selesai. Statemen sahabat itu ibarat cambuk yang harus digaungkan, dicambukkan pada saya. Tidak harus jadi orang kota untuk menyelesaikan sebuah tulisan itu.
Barang kali ia beranggapan bahwa ia sering menjumpai tulisan-tulisanyang ia temui berasal dari luar kota. Jadi seorang penulis itu hidup dan besar di kota. Menjadi seorang juru tulis yang hidupnya di desa adalah sebuah kenihilan belaka. Lebih lanjut, sebenarnya candaan atau guyonan itu tidak terjadi satu dua kali di kesempatan lain. Menulis itu bagi orang yang hidup di desa adalah lelucon yang tidak lucu banget. Pramordialnya belajar menuliskan tak ada batasan atau sekte-sekte yang membatasi orang untuk berkarya.
Ditambah lagi masyarakat desa tempat tinggal saya sebagian besar masyarakatnya adalah bermata pencaharian dan berpenghasilan dari laut. Mereka jadi nelayan dan tani. Sehingga yang ada di benak mereka adalah bekerja di tengah laut maupun hari-harinya dihabiskan di tengah ladang atau kebun.
Oleh karena itu, teman saya memiliki anggapan bahwa orang yang memiliki kemauan di luar dua pekerjaan itu dianggap mustahil. Jadi penulis itu dirasa buang-buang waktu saja. Lebih baik mikul ikan atau ikut ngadem saja.
Namun musim ikan di Pantai Prigi, di segara dekat tempat tinggal saya itu musim ikan munculnya musiman. Saat sedang musim ikan, ikan yang muncul banyak sekali. Tetapi saat tidak musim, sampai-sampai lima tahun ikan betah tidak muncul ke permukaan. Bahkan masyarakat sekitar tidak makan ikan. Kalau pun makan, harus mendatangkan ikan dari laut utara.
Untuk itulah saya memiliki keyakinan, bahwa kegiatan apa saja selagi itu positif itu adalah hal yang perlu diteruskan. Bahkan sangat perlu ditingkatkan. Meski teman saya menganjurkan saya untuk mikul ikan, tetapi itu sudah jadi rezeki orang lain. Saya mencari rezeki lain dengan cara belajar menulis itu. Bahkan anjuran teman itu sudah saya lakukan, meski saya mikul ubur-ubur. Menghasilkan memang. Selepas pulang mikul uwur-uwur, saya mencatat aktivitas dari kegiatan mikul ubur-ubur itu.
Dari tulisan itu, apabila kita mau mencatatnya akan jadi sebuah catatan yang sangat menarik sekali. Menulis hal-hal dari sekitar kita itu terasa lebih hidup. Atau menghidupkan desa yang kita tinggali itu.
Memang, hidup di kampung itu tidak jauh dari kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakatnya, yakni nelayan kalau musim ikan, berkebun atau bercocok tanam. Namun tidak lantas membuat nyali menciut. Tetapi hidup di kampung itu harus memiliki spirit untuk maju.Ya, maju menapaki jalan yang lebih baik.
Menulis itu mengecilkan kebodohan dan keluar dari tempurung skeptis dari lingkungan kita sendiri. Menulis itu menggambarkan sesuatu seolah hidup di depan mata, selain tentunya memberi motivasi serta menebar informasi dan pengetahuan kepada orang lain (pembaca). Bahkan kisah-kisah yang haru biru itu berawal dari seorang penulis, yang menetap di suatu wilayah bernama desa atau kampung..
Saya rasa, ungkapan dan saran yang sarat emosional tersebut malah jadi pembangkit untuk terus belajar menulis. Karena menulis itu asyik! Bahkan, orang-orang yang telah sukses itu berangkat dari desa, bukan kalangan orang elit. Tokoh seperti Stephen Kings, J.K. Rowling dan sebagainya adalah orang yang berasal desa. Meski dari tanah yang sunyi, sepi, ia malah bisa menjawab keragu-raguan orang.
Kenyataannya banyak sekali orang desa yang bisa berbicara di kancah nasional, seperti Jokowi, SBY atau tokoh penting di Jakarta itu dahulunya berasal dari anak kampung, anak desa yang memiliki kesempatan hidup di kota. Oleh karena itu melihat data yang demikian memberikan jawaban atas pernyataan dari sahabat saya tadi. Tidak ada batasan untuk tetap belajar dan terus semangat dalam meniti karir dimulai dari bawah. Perlulah kita kita menganggap niat dan tekad yang tinggi, tidak mustahil keberhasilan didapatkan.
Barang kali, lewat sebuah tulisan ini menjadi refleksi bagi kita semua. Bahwasanya menulis itu bukan pekerjaan orang kota saja. Tetapi menulis itu adalah pekerjaan seorang penulis yang ngin mengabarkan suatu informasi maupun pengetahuan yang kiranya kita tidak mengetahui.[]
Apa yang dikatakan oleh teman saya itu memang menarik dan lucu. Begini dia berkelakar, "Wong ndeso iku ra pantes dadi penulis. Lak pengen nulis urip o ng kutho, kana!.
Pernyataan itu membuat saya tertawa
Sebab orang yang memiliki hobi itu tidak harus hidup di kota besar. Orang yang hidup dengan kebersahajaan juga mampu menelurkan karya yang tidak kalah dengan orang kota. Malah karya-karya yang lahir dengan label best seller atau mendapat penghargaan dari pemerintah sebagian besar malam lahir dari rahim orang desa, suasana desa.
Lebih singkatnya tidak ada batasan untuk memulai usaha dan berkarya. Meski berada di pinggiran kota maupun sedang berada di penggunungan. Yang terpenting adalah mau terus berusaha dan meningkatkan kualitas dari apa yang jadi fesyennya.
Dari situ saya kemudian terlecut untuk terus berusaha mengembangkan dan belajar menulis, meski tulisan itu tak penting banget. Namun itu urusan penting dan tidak penting. Lebih pentingnya adalah menulis itu meski apa saja tentang hal-hal yang berada di sekitar.
Pernyataan itu sebenarnya dia sampaikan pada tahun 2015 di wall Facebook. Saya harus tahu diri. Di media sosial seperti Facebook itu tempat orang atau akun bercengkrama. Bercengkrama dengan akun saja. Tanpa saling pandang atau tegur sapa. Selain itu di media sosial itu tidak ada batasan untuk komentar apa saja, meski tidak mengandung sara tidak ada yang melarang. Saya juga harus rendah diri setelah mendapat komentar itu. Sebab maha besar netijen dengan segala cuwitan atau komentarnya. Apalagi falsafah dari senandung Arabia pernah mengatakan bahwa pekerjaan paling mudah adalah komentar.
Dengan kebenaran komentar netijen--anggap saja dia adalah netijen--saya harus tahu bahwa tulisan yang bertebaran di media sosial itu adalah konsumsi publik. Sebab saya sadar tulisan yang sudah dilempar di publik itu sudah jadi milik publik, milik banyak orang, di mana tulisan itu hidup di situlah tulisan itu jadi rebutan netijen. Jadi, ya itu harus saya pahami dan saya jalani dengan kebesaran hati dan tanpa menghilangkan rasa penasaran terhadap tulisan.
Baca Juga: Anak-anak dan Air yang Mengalir
Baca Juga: Mengaduk Nasib dengan Selembar Kupon
Dari kelakar teman saya itu, saya jadi sadar bahwa tulisan ini tidak seberapa penting bagi publik. Namun anggap saja tulisan-tulisan itu adalah konsumsi pribadi. Yang tak lebih hanya pemanis buatan sendiri. Anggap saja ini adalah lompatan untuk konsumsi masyarakat luar. Pun tak layak untuk publik ini sebongkah batu yang bakal jadi emas. Yang orang lain akan memburunya.
Untuk itu saya harus terus belajar sambil memperbaiki kualitas. Yang penting adalah tetap giat berlatih. Meski kita tahu bahwa belajar itu berat, yang mudah itu komentar. Terlebih dari apa yang dimaksud teman saya itu memang ada benarnya. Untuk ukuran orang kampung sulit untuk mengakses bahan bacaan yang kualitas. Atau minimal geliat budaya membaca sangatlah rendah.
Jadi untuk menjadi orang yang berbeda, dalam hal ini jadi orang yang bisa menulis adalah tidak gampang seperti orang kota dan meskipun ada hanya satu dua orang saja.
Orang kota atau orang yang hidup di belantara kota menjadi penulis adalah tidak prestisius. Menjadi pengusaha adalah jaminan masa depan. Oleh sebab itu untuk jadi seorang penulis tidak ada batasan teritorial wilayah, desa atau kota. Semua sama.
Kejadian itu kiranya jadi stimulan untuk menggerakkan jemari untuk menyentuhkan sebuah keyboard untuk segera menyelesaikan tulisan yang belum selesai-selesai. Statemen sahabat itu ibarat cambuk yang harus digaungkan, dicambukkan pada saya. Tidak harus jadi orang kota untuk menyelesaikan sebuah tulisan itu.
Barang kali ia beranggapan bahwa ia sering menjumpai tulisan-tulisanyang ia temui berasal dari luar kota. Jadi seorang penulis itu hidup dan besar di kota. Menjadi seorang juru tulis yang hidupnya di desa adalah sebuah kenihilan belaka. Lebih lanjut, sebenarnya candaan atau guyonan itu tidak terjadi satu dua kali di kesempatan lain. Menulis itu bagi orang yang hidup di desa adalah lelucon yang tidak lucu banget. Pramordialnya belajar menuliskan tak ada batasan atau sekte-sekte yang membatasi orang untuk berkarya.
Ditambah lagi masyarakat desa tempat tinggal saya sebagian besar masyarakatnya adalah bermata pencaharian dan berpenghasilan dari laut. Mereka jadi nelayan dan tani. Sehingga yang ada di benak mereka adalah bekerja di tengah laut maupun hari-harinya dihabiskan di tengah ladang atau kebun.
Oleh karena itu, teman saya memiliki anggapan bahwa orang yang memiliki kemauan di luar dua pekerjaan itu dianggap mustahil. Jadi penulis itu dirasa buang-buang waktu saja. Lebih baik mikul ikan atau ikut ngadem saja.
Namun musim ikan di Pantai Prigi, di segara dekat tempat tinggal saya itu musim ikan munculnya musiman. Saat sedang musim ikan, ikan yang muncul banyak sekali. Tetapi saat tidak musim, sampai-sampai lima tahun ikan betah tidak muncul ke permukaan. Bahkan masyarakat sekitar tidak makan ikan. Kalau pun makan, harus mendatangkan ikan dari laut utara.
Untuk itulah saya memiliki keyakinan, bahwa kegiatan apa saja selagi itu positif itu adalah hal yang perlu diteruskan. Bahkan sangat perlu ditingkatkan. Meski teman saya menganjurkan saya untuk mikul ikan, tetapi itu sudah jadi rezeki orang lain. Saya mencari rezeki lain dengan cara belajar menulis itu. Bahkan anjuran teman itu sudah saya lakukan, meski saya mikul ubur-ubur. Menghasilkan memang. Selepas pulang mikul uwur-uwur, saya mencatat aktivitas dari kegiatan mikul ubur-ubur itu.
Dari tulisan itu, apabila kita mau mencatatnya akan jadi sebuah catatan yang sangat menarik sekali. Menulis hal-hal dari sekitar kita itu terasa lebih hidup. Atau menghidupkan desa yang kita tinggali itu.
Memang, hidup di kampung itu tidak jauh dari kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakatnya, yakni nelayan kalau musim ikan, berkebun atau bercocok tanam. Namun tidak lantas membuat nyali menciut. Tetapi hidup di kampung itu harus memiliki spirit untuk maju.Ya, maju menapaki jalan yang lebih baik.
Menulis itu mengecilkan kebodohan dan keluar dari tempurung skeptis dari lingkungan kita sendiri. Menulis itu menggambarkan sesuatu seolah hidup di depan mata, selain tentunya memberi motivasi serta menebar informasi dan pengetahuan kepada orang lain (pembaca). Bahkan kisah-kisah yang haru biru itu berawal dari seorang penulis, yang menetap di suatu wilayah bernama desa atau kampung..
Saya rasa, ungkapan dan saran yang sarat emosional tersebut malah jadi pembangkit untuk terus belajar menulis. Karena menulis itu asyik! Bahkan, orang-orang yang telah sukses itu berangkat dari desa, bukan kalangan orang elit. Tokoh seperti Stephen Kings, J.K. Rowling dan sebagainya adalah orang yang berasal desa. Meski dari tanah yang sunyi, sepi, ia malah bisa menjawab keragu-raguan orang.
Kenyataannya banyak sekali orang desa yang bisa berbicara di kancah nasional, seperti Jokowi, SBY atau tokoh penting di Jakarta itu dahulunya berasal dari anak kampung, anak desa yang memiliki kesempatan hidup di kota. Oleh karena itu melihat data yang demikian memberikan jawaban atas pernyataan dari sahabat saya tadi. Tidak ada batasan untuk tetap belajar dan terus semangat dalam meniti karir dimulai dari bawah. Perlulah kita kita menganggap niat dan tekad yang tinggi, tidak mustahil keberhasilan didapatkan.
Barang kali, lewat sebuah tulisan ini menjadi refleksi bagi kita semua. Bahwasanya menulis itu bukan pekerjaan orang kota saja. Tetapi menulis itu adalah pekerjaan seorang penulis yang ngin mengabarkan suatu informasi maupun pengetahuan yang kiranya kita tidak mengetahui.[]
Posting Komentar