Beberapa hari ini, saya mendengarkan keluhan anak-anak SMPN 1 Papar. Beberapa keluhan yang keluar dari siswa tersebut mayoritas sama. Yakni malas kembali ke sekolah setelah menerima pelajaran olah raga di lapangan. Ini merupakan salah satu permasalahan yang penting kita cari jawabannya.
Lalu apa penyebab utama seorang siswa malas atau ogah kembali ke sekolah lagi? Sebagai seorang pendidik sekaligus pengajar kita seharusnya tanggap akan kejadian tersebut. Ini merupakan salah satu permasalahan yang serius di bidang pendidikan.
Tidak dipungkiri, pelajaran yang disukai oleh siswa adalah pelajaran olahraga. Pelajaran Jasmani dan Olah raga ini jadi salah satu mata pelajaran yang tidak terikat oleh gedung atau bangku sekolah. Pelajaran olah raga dengan mudah dilakukan juga asyik. Yang tidak kalah penting adalah para siswa mudah dan bisa bergerak bebas.
Setelah kita mengetahui bahwa pelajaran olah raga itu adalah mata pelajaran yang mengharuskan seorang siswa harus berinteraksi di luar kelas, tetapi untuk kembali ke dalam kelas siswa cenderung berat. Sebaiknya kita sebagai pengajar di kelas penjaskes, harus mengurai benang merah dari masalah ini.
Sebab apa jadinya jika kelas tidak ada siswa atau siswanya tidak mau kembali masuk kelas?
Atau gedung yang memiliki nama sekolah itu menyimpan trauma atau masalah bagi siswa? Atau setelah keenakan beraktivitas di luar kelas, siswa sudah dipapak (ditagih) oleh mata pelajaran yang tidak mereka sukai?
Kiranya itu merupakan salah dua tantangan seorang siswa yang keasikan di luar kelas. Bagaimana pun dan dari sudut mana pun, setahu saya dari sejak zaman saya sekolah dahulu sumber masalah ituterletak pada murid.
Baca Juga: Malam dan Orang-orang yang Membuktikan Kedahsyatannya
Baca Juga: Demokrasi Harus Romantis
Guru bukan tempat salah. Ia merupakan tempat yang paling benar dan maha benar dari manusia yang bernama murid. Sebab guru merupakan pahlawan tanpa tanda jasa. Tidak ada celah sedikit pun baginya atas kesalahan dalam dunia kelas. Hingga kini berita-berita di dunia pendidikan tak lagi seperti itu. Seorang siswa berani dan seenak udelnya sendiri kepada gurunya. Sampai-sampai guru itu dianggapnya sebagai musuh.
Bagaimana pun, seorang siswa harus memiliki rasa legawa dan mau menerima kritikan dari guru. Sebab guru adalah tempat sorotan bagi publik dan masyarakat. Guru jadi seorang bapak, teman, sahabat, pendidik dan pengajar di dunia pendidikan, di sekolah.
Secara tidak langsung, menjadi seorang guru atau pengajar harus tahu alasan kenapa siswa memiliki keinginan siswa tidak mau kembali ke sekolahan.
Seorang pengajar juga tidak langsung menyalahkan siswa. Lebih baik seorang guru mencari apa yang jadi permasalahannya. Sebab, pendidikan selama yang saya alami--tempat yang paling saklek--yang menjalankan rutinitas belaka. Tempat metodenya mandek. Pelajaran yang disampaikan adalah metode menghafal tanggal, bulan dan tahun peristiwa. Metode pengajarannya juga tetap seperti itu-itu saja.
Apabila sudah menemukan masalah di siswa, kita perlulah mendekati siswa kemudian bertanya apa yang sedang terjadi? Kenapa siswa yang baru berada di luar kelas, ogah-ogahan kembali lagi di kelas?
Meski guru sudah belajar selama puluhan tahun, tetapi guru juga harus belajar. Tidak hanya mengajar, tetapi harus mengajar. Kiai Ahmad Dahlan dalah film Sang Pencerah, ia mengatakan, “Guru mengajar juga belajar”.
Dari aktifitas belajar ini terjadi kontak belajar dan mengajar. Khususnya guru dan murid. Namun sekarang banyak siswa yang pergi ke sekolah tidak melakukan aktifitas belajar. Ia hanya menjalankan rutinitas, bermain bersama teman dan selebihnya membaca teks-teks yang menjemukan.
Selain pelajaran yang disampaikan oleh guru sudah di luar batas kemampuan murid-muridnya, ruang tak terlalu sempit membuat siswa jadi kurang gerak. Sehingga siswa menganggap bahwa pelajaran itu seperti momok yang harus dihindari tatkala bel istirahat berbunyi. Keceriaan sangat tergambar pada wajah mereka.
Namun berbeda setelah bel bunyi tanda waktu istirahat habis, siswa sebagain besar berada dan mencari tempat duduk yang paling belakang. Hal ini menandakan bahwa siswa sedang tidak siap untuk menerima transfer-an dari gurunya dan belajar dengan ogah-ogahan.
Oleh karena itu, untuk mendapatkan suasana kelas yang nyaman, seorang pengajar harus tahu formulanya. Mampu membangkitkan semangat belajar siswa yang sudah mulai mengendur. Tidak memasang badan “gempal” atau berengos yang dipanjangkan dan suara yang didehem-dehemkan supaya siswa takut.
Tetapi guru harus lunak dan memberi kebebasan--bukan artian bebas semaunya sendiri. Sebab bagaimana pun siswa membutuhkan guru yang mengayomi dengan cara belajar dalam mengajar. Siswa yang tidak suka di dalam kelas sebaiknya diberikan waktu untuk sejenak meluapkan beban yang ada di pikiran dan di badannya. Misal dengan cara membuat game atau bercanda, bercerita atau lainnya. Sebuah pelajaran tidak hanya urusan transfer-mentransfer ilmu secara saklek. Namun juga melenturkan proses belajar dan mengajarnya.
Lalu apa penyebab utama seorang siswa malas atau ogah kembali ke sekolah lagi? Sebagai seorang pendidik sekaligus pengajar kita seharusnya tanggap akan kejadian tersebut. Ini merupakan salah satu permasalahan yang serius di bidang pendidikan.
Tidak dipungkiri, pelajaran yang disukai oleh siswa adalah pelajaran olahraga. Pelajaran Jasmani dan Olah raga ini jadi salah satu mata pelajaran yang tidak terikat oleh gedung atau bangku sekolah. Pelajaran olah raga dengan mudah dilakukan juga asyik. Yang tidak kalah penting adalah para siswa mudah dan bisa bergerak bebas.
Setelah kita mengetahui bahwa pelajaran olah raga itu adalah mata pelajaran yang mengharuskan seorang siswa harus berinteraksi di luar kelas, tetapi untuk kembali ke dalam kelas siswa cenderung berat. Sebaiknya kita sebagai pengajar di kelas penjaskes, harus mengurai benang merah dari masalah ini.
Sebab apa jadinya jika kelas tidak ada siswa atau siswanya tidak mau kembali masuk kelas?
Atau gedung yang memiliki nama sekolah itu menyimpan trauma atau masalah bagi siswa? Atau setelah keenakan beraktivitas di luar kelas, siswa sudah dipapak (ditagih) oleh mata pelajaran yang tidak mereka sukai?
Kiranya itu merupakan salah dua tantangan seorang siswa yang keasikan di luar kelas. Bagaimana pun dan dari sudut mana pun, setahu saya dari sejak zaman saya sekolah dahulu sumber masalah ituterletak pada murid.
Baca Juga: Malam dan Orang-orang yang Membuktikan Kedahsyatannya
Baca Juga: Demokrasi Harus Romantis
Guru bukan tempat salah. Ia merupakan tempat yang paling benar dan maha benar dari manusia yang bernama murid. Sebab guru merupakan pahlawan tanpa tanda jasa. Tidak ada celah sedikit pun baginya atas kesalahan dalam dunia kelas. Hingga kini berita-berita di dunia pendidikan tak lagi seperti itu. Seorang siswa berani dan seenak udelnya sendiri kepada gurunya. Sampai-sampai guru itu dianggapnya sebagai musuh.
Bagaimana pun, seorang siswa harus memiliki rasa legawa dan mau menerima kritikan dari guru. Sebab guru adalah tempat sorotan bagi publik dan masyarakat. Guru jadi seorang bapak, teman, sahabat, pendidik dan pengajar di dunia pendidikan, di sekolah.
Secara tidak langsung, menjadi seorang guru atau pengajar harus tahu alasan kenapa siswa memiliki keinginan siswa tidak mau kembali ke sekolahan.
Seorang pengajar juga tidak langsung menyalahkan siswa. Lebih baik seorang guru mencari apa yang jadi permasalahannya. Sebab, pendidikan selama yang saya alami--tempat yang paling saklek--yang menjalankan rutinitas belaka. Tempat metodenya mandek. Pelajaran yang disampaikan adalah metode menghafal tanggal, bulan dan tahun peristiwa. Metode pengajarannya juga tetap seperti itu-itu saja.
Apabila sudah menemukan masalah di siswa, kita perlulah mendekati siswa kemudian bertanya apa yang sedang terjadi? Kenapa siswa yang baru berada di luar kelas, ogah-ogahan kembali lagi di kelas?
Meski guru sudah belajar selama puluhan tahun, tetapi guru juga harus belajar. Tidak hanya mengajar, tetapi harus mengajar. Kiai Ahmad Dahlan dalah film Sang Pencerah, ia mengatakan, “Guru mengajar juga belajar”.
Dari aktifitas belajar ini terjadi kontak belajar dan mengajar. Khususnya guru dan murid. Namun sekarang banyak siswa yang pergi ke sekolah tidak melakukan aktifitas belajar. Ia hanya menjalankan rutinitas, bermain bersama teman dan selebihnya membaca teks-teks yang menjemukan.
Selain pelajaran yang disampaikan oleh guru sudah di luar batas kemampuan murid-muridnya, ruang tak terlalu sempit membuat siswa jadi kurang gerak. Sehingga siswa menganggap bahwa pelajaran itu seperti momok yang harus dihindari tatkala bel istirahat berbunyi. Keceriaan sangat tergambar pada wajah mereka.
Namun berbeda setelah bel bunyi tanda waktu istirahat habis, siswa sebagain besar berada dan mencari tempat duduk yang paling belakang. Hal ini menandakan bahwa siswa sedang tidak siap untuk menerima transfer-an dari gurunya dan belajar dengan ogah-ogahan.
Oleh karena itu, untuk mendapatkan suasana kelas yang nyaman, seorang pengajar harus tahu formulanya. Mampu membangkitkan semangat belajar siswa yang sudah mulai mengendur. Tidak memasang badan “gempal” atau berengos yang dipanjangkan dan suara yang didehem-dehemkan supaya siswa takut.
Tetapi guru harus lunak dan memberi kebebasan--bukan artian bebas semaunya sendiri. Sebab bagaimana pun siswa membutuhkan guru yang mengayomi dengan cara belajar dalam mengajar. Siswa yang tidak suka di dalam kelas sebaiknya diberikan waktu untuk sejenak meluapkan beban yang ada di pikiran dan di badannya. Misal dengan cara membuat game atau bercanda, bercerita atau lainnya. Sebuah pelajaran tidak hanya urusan transfer-mentransfer ilmu secara saklek. Namun juga melenturkan proses belajar dan mengajarnya.
إرسال تعليق