Daun tidak memiliki nilai secara signifikan. Bila dibanding uang, daun sangat tidak berharga dihadapan uang. Begitu pun saat kita sandingkan dengan kendaraan bermotor, maka orang akan memilih motor atau kendaraan lain. Jangankan dengan motor, apabila kita sandingkan pulsa, orang dengan sekonyong-konyong pilih pulsanya.
Daun atau lebih dikenal dengan godong adalah salah satu organ tumbuhan yang tumbuh dari ranting, biasanya berwarna hijau. Lalu apakah kita mengerti makna dari godong yang warnanya hijau itu? Godong yang masih hijau, yang masih tunas itu merupakan harapan dari kehidupan baru. Meski begitu daun--baik yang sudah warna coklat atau sudah tua maupun masih muda dengan warna ijo royo-royo--biasa kita anggap sebagai sampah yang tak memiliki arti apa-apa. Daun hanya setangkai daun. Yang tak memiliki pelajaran apa-apa!
Godong yang biasanya kita anggap sampah, ternyata memiliki banyak sekali pelajaran hidup. Daun yang biasa setiap hari dan pagi kita bersihkan untuk menjaga kebersihan lingkungan. Ternyata memiliki falsafah hidup yang bernas, yang patut kita pelajari dan kita ambil hikmahnya.
Daun atau lebih dikenal dengan godong adalah salah satu organ tumbuhan yang tumbuh dari ranting, biasanya berwarna hijau. Lalu apakah kita mengerti makna dari godong yang warnanya hijau itu? Godong yang masih hijau, yang masih tunas itu merupakan harapan dari kehidupan baru. Meski begitu daun--baik yang sudah warna coklat atau sudah tua maupun masih muda dengan warna ijo royo-royo--biasa kita anggap sebagai sampah yang tak memiliki arti apa-apa. Daun hanya setangkai daun. Yang tak memiliki pelajaran apa-apa!
Godong yang biasanya kita anggap sampah, ternyata memiliki banyak sekali pelajaran hidup. Daun yang biasa setiap hari dan pagi kita bersihkan untuk menjaga kebersihan lingkungan. Ternyata memiliki falsafah hidup yang bernas, yang patut kita pelajari dan kita ambil hikmahnya.
"Daun tepat 'di pucuk hijau' merupakan awal dari sebuah kehidupan. Dimulai dengan proses yang sangat lama. Sebuah kehidupan dibutuhkan nutrisi yang banyak dan baik, agar tumbuh menjadi seorang yang berguna di suatu masa. Seperti halnya sebuah pucuk yang hijau, pucuk yang berusaha untuk berkembang dan berusaha memberikan manfaat bagi seluruh makhluk hidup."
Bila kita amati, sekarang godong gedang sudah sedikit dilalaikan oleh masyarakat kota maupun orang perdesaan. Godong gedang atau daun pisang ternyata menyimpan kesederhanaan, kesahajaan dan egaliter. Daun pisan bisa diterima di semua golongan. Baik masyarakat desa maupun kalangan menengah atas. Di balik warnanya ijo royo-royo, Daun pisang memberi pesan kepada saya, meski sudah ditinggal penggunanya, godong gedang sejatinya masih tetap seperti dahulu. Menyimpan sistem kerakyatan yang egaliter dan sederhana.
Baca Juga: Perdana di Surabaya, Cicipi Cangkri Coffee
Baca Juga: Suzuki Satria, Motor Legenda dan Keusilan Anak Muda
Baca Juga: Perdana di Surabaya, Cicipi Cangkri Coffee
Baca Juga: Suzuki Satria, Motor Legenda dan Keusilan Anak Muda
Bagaimana tidak, coba kita flasback sejenak ke zaman dahulu, di mana godong gedang selalu dibutuhkan saat kita akan pergi ke ladang, hutan maupun di tempat kerja. Orang desa sudah survive dengan alam. Oleh karena itu, orang desa membungkus makanan (bontot) di tempat kerja supaya makanannya tahan lama. Apabila makanan itu dikukus, rasa jadi cita rasa yang khas, yang orang kota bakal kembali mencicipi ulang. Kembali untuk menikmati makanan yang jadi alas sebagai tempat makan itu.
Saya tidak tahu, orang tua kita dahulu. Orang tua kita itu memang orangnya kreatif-kreatif. Saking kreatifnya apa yang ada di alam jadi membantunya dalam beraktifitas. Misalnya meski sedang hujan dan tidak ada payung maka godong gedang bisa jadi alat untuk berlindung dari kejaran rintikan hujan,
Daun pisang dapat dimanfaatkan sebagai payung dengan cara pemotong bagian tangkainya dan kemudian daunnya dijadikan payung. Sementara itu, daun pisang dalam kuliner Nusantara memiliki peran utama sebagai pendukung dekorasi, pelengkap, dan pengemas bahan makanan; selain itu juga digunakan pada berbagai kegiatan keagamaan.
sebelum hujan, maka godong gedang bisa dipakai sebagai penggantinya. Daun pisang ini dekat dengan rakyat dan melebur dengan rakyat. Mengambil istilah populer jaman sekarang, apabila seseorang akan mencari daun pisang, seseorang akan blusukan ke kebun atau pekarangan rumah. Lebih dari itu, apa yang diinginkan oleh manusia.
Saya jadi teringat hadits yang mengatakan “Allah tidak menciptakan hal tidak berguna.” Godong gedang pun juga banyak manfaat bagi kehidupan lingkungan sekitar.
Begitu pun juga daun jati. Daun jati sama dengan daun pisang. Ia sangat merakyat. Ia selalu nampak sederhana dan gagah di atas pohon. Meski tekstur daun jati yang agak keras,ia juga sering dipakai untuk membungkus makanan. Ia juga sangat dekat dengan petani. Dulu sebelum banyak penebangan liar marak, pohon jati masih mudah kita temui, dan mudah kita pakai untuk membungkus makanan saat kita akan ke ladang atau di hutan.
Godong jati atau orang Jawa bilang godong waru. Gambar waru adalah kata kiasan dari kata kasih sayang. Karena, orang Jawa bilang waru metafor dari gambar hati. Namun, sekarang daun jati susah didapat, kalaupun kita ingin memakai jasa itu, kita harus keliling dahulu ke dalam hutan nan jauh di sana.
Sekarang, setelah banyak orang membangun pohon besi dan pohon beton, pohon pisang dan pohon jati pun mulai berkurang bahkan hilang. Hampir jarang saya menjumpai orang yang menanam pohon jati, begitu pun pohon pisang, perkembangbiak-annya sudah mulai menyusut. Orang lebih suka menggunakan plastik dan kertas untuk membungkus makanan saat mau bepergian jauh atau ke ladang. Hilangnya pohon gedang, seolah hilang pula kesederhanaan dan kesahajaan dari sebuah desa.
Kita bisa lihat, orang-orang di desa lebih suka dengan gaya glamor. Hura-hura. Konsumentif. Maka, sudah saatnya kita mempelajari filosofi dari alam yang diajarkan oleh kakek-nenek, buyut, si embah maupun leluhur kita tentang kesederhanaan dari alam itu.
Dari setangkai daun pisang (godong gedang) dan godong waru yang merakyat itu patut kita pelajari tentang ke-egaliterian-nya. Seiring hilangnya kesederhanaan godong gedang yang dahulu kita gunakan. Hilang pula kegiatan "blusukan” atau trutusan di pekarangan, lenyap diterjang oleh keinginan instan seseorang.
Kini godong gedang digantikan oleh kertas plastik yang berkonotasikan tentang hal yang instan. Yang menggambarkan bahwa orang-orang jadi malas untuk bergerak. Malas berusaha dan mencari. Karena godong memang tidak abadi. Yang abadi adalah tingkah seseorang.
Tasikmadu, 08/08/2014. Diperbarui Surabaya 07/10/2018
Saya tidak tahu, orang tua kita dahulu. Orang tua kita itu memang orangnya kreatif-kreatif. Saking kreatifnya apa yang ada di alam jadi membantunya dalam beraktifitas. Misalnya meski sedang hujan dan tidak ada payung maka godong gedang bisa jadi alat untuk berlindung dari kejaran rintikan hujan,
Daun pisang dapat dimanfaatkan sebagai payung dengan cara pemotong bagian tangkainya dan kemudian daunnya dijadikan payung. Sementara itu, daun pisang dalam kuliner Nusantara memiliki peran utama sebagai pendukung dekorasi, pelengkap, dan pengemas bahan makanan; selain itu juga digunakan pada berbagai kegiatan keagamaan.
sebelum hujan, maka godong gedang bisa dipakai sebagai penggantinya. Daun pisang ini dekat dengan rakyat dan melebur dengan rakyat. Mengambil istilah populer jaman sekarang, apabila seseorang akan mencari daun pisang, seseorang akan blusukan ke kebun atau pekarangan rumah. Lebih dari itu, apa yang diinginkan oleh manusia.
Saya jadi teringat hadits yang mengatakan “Allah tidak menciptakan hal tidak berguna.” Godong gedang pun juga banyak manfaat bagi kehidupan lingkungan sekitar.
Begitu pun juga daun jati. Daun jati sama dengan daun pisang. Ia sangat merakyat. Ia selalu nampak sederhana dan gagah di atas pohon. Meski tekstur daun jati yang agak keras,ia juga sering dipakai untuk membungkus makanan. Ia juga sangat dekat dengan petani. Dulu sebelum banyak penebangan liar marak, pohon jati masih mudah kita temui, dan mudah kita pakai untuk membungkus makanan saat kita akan ke ladang atau di hutan.
Godong jati atau orang Jawa bilang godong waru. Gambar waru adalah kata kiasan dari kata kasih sayang. Karena, orang Jawa bilang waru metafor dari gambar hati. Namun, sekarang daun jati susah didapat, kalaupun kita ingin memakai jasa itu, kita harus keliling dahulu ke dalam hutan nan jauh di sana.
Sekarang, setelah banyak orang membangun pohon besi dan pohon beton, pohon pisang dan pohon jati pun mulai berkurang bahkan hilang. Hampir jarang saya menjumpai orang yang menanam pohon jati, begitu pun pohon pisang, perkembangbiak-annya sudah mulai menyusut. Orang lebih suka menggunakan plastik dan kertas untuk membungkus makanan saat mau bepergian jauh atau ke ladang. Hilangnya pohon gedang, seolah hilang pula kesederhanaan dan kesahajaan dari sebuah desa.
Kita bisa lihat, orang-orang di desa lebih suka dengan gaya glamor. Hura-hura. Konsumentif. Maka, sudah saatnya kita mempelajari filosofi dari alam yang diajarkan oleh kakek-nenek, buyut, si embah maupun leluhur kita tentang kesederhanaan dari alam itu.
Dari setangkai daun pisang (godong gedang) dan godong waru yang merakyat itu patut kita pelajari tentang ke-egaliterian-nya. Seiring hilangnya kesederhanaan godong gedang yang dahulu kita gunakan. Hilang pula kegiatan "blusukan” atau trutusan di pekarangan, lenyap diterjang oleh keinginan instan seseorang.
Kini godong gedang digantikan oleh kertas plastik yang berkonotasikan tentang hal yang instan. Yang menggambarkan bahwa orang-orang jadi malas untuk bergerak. Malas berusaha dan mencari. Karena godong memang tidak abadi. Yang abadi adalah tingkah seseorang.
Tasikmadu, 08/08/2014. Diperbarui Surabaya 07/10/2018
إرسال تعليق