Kegiatan tulis-menulis semakin bertambah semarak. Ini terlihat dari beberapa teman yang saya kenal lewat media sosial; Facebook, blog, Wattpad atau media lain semakin meriah. Artinya kita semakin banyak berbagi dalam kebaikan lewat menulis.
Namun dari semaraknya dunia tulis menulis ada beberapa penulis yang kehilangan ghairah atau goyah ketika konsisten--dalam hal ini menulis setiap hari. Selain itu, juga masih banyak yang dipertanyakan hal mendasar tentang menulis, "bagaimana cara mengawali menulis?", "Dapat satu paragraf sudah buntu dan mood hilang, inspirasi lenyap entah kemana," Sebenarnya, saya belum pantas menjawab pertanyaan tersebut.
Pertanyaan ini sangat cocok dan tepat ditujukan kepada para penulis kawakan, senior atau orang yang malang melintang di dunia perbukuan atau kepenulisan untuk mendapat jawaban yang memuaskan. Namun dengan keterbatasan kemampuan dan pengalaman di bidang menulis, saya akan menjawab sedikit. Jawaban ini hasil rangkuman dari pengalaman para penulis dan biografi para penulis senior.
Baca Juga: Menulis, Menabung untuk Orang Lain
Baca Juga: Kejutan Literasi dengan Berbagi Buku
Menulis itu tak ubahnya mengasah mata pisau. Semakin sering diasah, maka akan semakin tajam. Menulis pun demikian, apabila menulis setiap hari, pertanyaan mendasar tadi terjawab dengan sendiri.
Artinya, menulislah apa yang kamu sukai dan kamu ketahui. Karena penulis itu bekerja dalam 3 dimensi. Pertama, menulis bekerja menggunakan otot. Menulis itu memang membutuhkan kondisi yang kondusif. Artinya apabila badan terasa sangat capek maka menulis tidak bisa dipaksakan. Kalau pun bisa, hasilnya tidak maksimal. Tatkala otot sudah mengalami kelelahan, diperlukan adanya relaksasi otot. Mungkin saja rekreasi atau kegiatan lain yang bisa membuat otot bisa kembali tidak tegang dan optimal untuk menulis.
Kedua, menulis bekerja dengan otak. Manakala kondisi otak kita memiliki banyak gagasan yang perlu dieksplor, maka hasilnya akan baik pula. Namun ketika otak kita mengalami kelelahan akibat banyak begadang atau lagi sakit, hasilnya pun juga tidak maksimal. Otak paling banyak menyuplai gagasan atau ide yang berseliweran. Kalau otak tidak bekerja sebagaimana mestinya, kebuntuan atau kemacetan, dua momok menulis ini sering kita jumpai.
Ketiga, menulis bekerja menggunakan hati. Menulis yang paling menyedot perhatian adalah menulis menggunakan hati. Apalagi menulis dengan hati, hasilnya pun juga sampai hati para pembaca. Tidak dipungkiri, banyak penulis yang mendapat perhatian para pembaca setianya. Sampai-sampai buku yang masih masuk di meja penerbit sudah ditunggu oleh pembaca. Bekerja dengan hati, jelas dampaknya juga sampai ke relung hati yang paling dalam.
Oleh karena itulah, Ustad Reza Syarief, MA, MBA menilai penulis yang bekerja dalam 3 dimensi, menulis dengan otot, otak, sekaligus dengan hati akan membentuk karakter dalam kepenulisannya. Serta menjanjikan dan diperhitungkan dalam kancah dunia penulisan, blogger atau perbukuan.
Selain itu, karya tulisan yang ditulis semakin konsisten, semakin berbobot dan menggugah. Karena menulis 3 dimensi ini yang membedakan penulis satu dengan penulis yang lain.
Menulislah dengan spirit dan totalitas yang dalam diri kita. Hasilnya bisa dibedakan antara penulis 'biasa' dan penulis yang memiliki totalitas dalam berkarya. Karena menulis bukan hanya sekedar menulis dan membubungkan imajinasi semata, tapi dengan totalitas yang kita miliki ini; otot, otak, dan hati. Mari menulis, karena menulis bekerja dalam keabadian.
Namun dari semaraknya dunia tulis menulis ada beberapa penulis yang kehilangan ghairah atau goyah ketika konsisten--dalam hal ini menulis setiap hari. Selain itu, juga masih banyak yang dipertanyakan hal mendasar tentang menulis, "bagaimana cara mengawali menulis?", "Dapat satu paragraf sudah buntu dan mood hilang, inspirasi lenyap entah kemana," Sebenarnya, saya belum pantas menjawab pertanyaan tersebut.
Pertanyaan ini sangat cocok dan tepat ditujukan kepada para penulis kawakan, senior atau orang yang malang melintang di dunia perbukuan atau kepenulisan untuk mendapat jawaban yang memuaskan. Namun dengan keterbatasan kemampuan dan pengalaman di bidang menulis, saya akan menjawab sedikit. Jawaban ini hasil rangkuman dari pengalaman para penulis dan biografi para penulis senior.
Baca Juga: Menulis, Menabung untuk Orang Lain
Baca Juga: Kejutan Literasi dengan Berbagi Buku
Menulis itu tak ubahnya mengasah mata pisau. Semakin sering diasah, maka akan semakin tajam. Menulis pun demikian, apabila menulis setiap hari, pertanyaan mendasar tadi terjawab dengan sendiri.
Artinya, menulislah apa yang kamu sukai dan kamu ketahui. Karena penulis itu bekerja dalam 3 dimensi. Pertama, menulis bekerja menggunakan otot. Menulis itu memang membutuhkan kondisi yang kondusif. Artinya apabila badan terasa sangat capek maka menulis tidak bisa dipaksakan. Kalau pun bisa, hasilnya tidak maksimal. Tatkala otot sudah mengalami kelelahan, diperlukan adanya relaksasi otot. Mungkin saja rekreasi atau kegiatan lain yang bisa membuat otot bisa kembali tidak tegang dan optimal untuk menulis.
Kedua, menulis bekerja dengan otak. Manakala kondisi otak kita memiliki banyak gagasan yang perlu dieksplor, maka hasilnya akan baik pula. Namun ketika otak kita mengalami kelelahan akibat banyak begadang atau lagi sakit, hasilnya pun juga tidak maksimal. Otak paling banyak menyuplai gagasan atau ide yang berseliweran. Kalau otak tidak bekerja sebagaimana mestinya, kebuntuan atau kemacetan, dua momok menulis ini sering kita jumpai.
Ketiga, menulis bekerja menggunakan hati. Menulis yang paling menyedot perhatian adalah menulis menggunakan hati. Apalagi menulis dengan hati, hasilnya pun juga sampai hati para pembaca. Tidak dipungkiri, banyak penulis yang mendapat perhatian para pembaca setianya. Sampai-sampai buku yang masih masuk di meja penerbit sudah ditunggu oleh pembaca. Bekerja dengan hati, jelas dampaknya juga sampai ke relung hati yang paling dalam.
Oleh karena itulah, Ustad Reza Syarief, MA, MBA menilai penulis yang bekerja dalam 3 dimensi, menulis dengan otot, otak, sekaligus dengan hati akan membentuk karakter dalam kepenulisannya. Serta menjanjikan dan diperhitungkan dalam kancah dunia penulisan, blogger atau perbukuan.
Selain itu, karya tulisan yang ditulis semakin konsisten, semakin berbobot dan menggugah. Karena menulis 3 dimensi ini yang membedakan penulis satu dengan penulis yang lain.
Menulislah dengan spirit dan totalitas yang dalam diri kita. Hasilnya bisa dibedakan antara penulis 'biasa' dan penulis yang memiliki totalitas dalam berkarya. Karena menulis bukan hanya sekedar menulis dan membubungkan imajinasi semata, tapi dengan totalitas yang kita miliki ini; otot, otak, dan hati. Mari menulis, karena menulis bekerja dalam keabadian.
Like this yoooo :)
ردحذفSemoga tulisan kita bermanfaat sehingga menjadi ladang pahala untuk kehidupan akhirat kita.
Betul, Bu. Tapi maaf tulisannya berantakan. Banyak kalimat yang gak efektif. Soalnya belum sempet ngedit. Nulisnya pakai hape...
ردحذفAmin bu. Semoga bermanfaat bagi sesama. 😁
Wah, mantep mas. Tips menulisnya keren. Saya salut nih, mas kaya dah konsisten nulis dua artikel setiap harinya.
ردحذفIni bukan kaya atau konsisten, Mas. Tapi kebetulan lagi di rumah. Jadi ya kebetulan aja nulis. Hehehe
ردحذفSalut mas. Tapi keren2 tulisannya
ردحذفTerima kasih mas Apresiasinya. Tapi tulisan itu amburadul. Nulisnya pakai hape. 🙏
ردحذفMenulis jangan pada saat jatuh cinta, alhasil eksistensi kefokusan bakal buyar hahahaha *nambahin Tips
ردحذفNah tuh mantap... terima kasih atas tambahan tipnya... yang lebih mendalam lagi pas lagi (kega)galau. Hehehe
ردحذفKalau galau, inspirasi datang tak terbendung Ka hahahahah
ردحذفSepakat banget saya ka dengan usul itu. Makasih, Ka. Pokoknya Kegagalau tetep... Hahaha
ردحذفإرسال تعليق