Sekarang ini tak sedikit orang yang mengenal jembatan Mangrove. Orang-orang yang berasal dari luar kota pun sudah mengenal jembatan ini dengan sebutan Jembatan Galau. Entah dari mana dan bagaimana ceritanya, sebuah jembatan yang terbuat dari rangkaian kayu balau itu dikenal dengan sebutan Jembatan Galau.
Jika merujuk dari kata galau, jembatan itu seolah mengisyaratkan seseorang yang datang ke lokasi itu dalam keadaan tidak tenang dan mengalami kejenuhan, kekacauan dalam berpikir maupun seseorang yang tak tertentu.
Jembatan yang berlanskap Gunung Kumbung Karno di sebelah selatan, Gunung Sepikul di sisi utara dan pepohonan mangrove di sekitarnya ini jadi obat dari kegalauan diri. Obat yang ditawarkan oleh Jembatan Galau ini tidak lain adalah suasana yang tenang, hijau dan bersih. Latar pegunungan dan tetumbuhan ini merekomendasikan bahwa kepenatan dan kejenuhan berlalu setelah berkunjung di tempat ini.
Jembatan ini berasal dari berbahan dasar dari kayu balau. Kayu balau memiliki nama ilmiah Shorea spp. Dari kayu balau inilah menurut warga sekitar jadi asal mula penyembuatan Jembatan Galau itu. Dari bahan dasar kayu balau dan pepohonan bakau, jembatan ini oleh masyarakat sekitar di-pleset-kan jadi nama Jembatan Galau.
Namun benar tidaknya itu adalah karangan warga sekitar untuk mem-branding sebuah tempat destinasi yang sedang booming kala itu. Sementara letak Konservasi Mangrove ini berdekatan dengan Pantai Cengkrong dan lokasinya sejalur dengan Jalur Lintas Selatan (JLS). Jadi apabila berkunjung di tempat Ecowisata Mangrove ini kita bisa menikmati beberapa tempat sekaligus, seperti Pantai Cengkrong dan Konservasi Mangrove dan jembatan JLS yang jadi salah satu destinasi lain.
Sementara untuk menuju di Konservasi Mangrove ini sangat mudah. Akses jalannya juga mulus dan memudahkan bagi pengunjung menuju kawasan wisata tersebut. Selain berdekatan dengan Pantai Cengkrong dan JLS, Mangrove juga berdekatan dengan Pantai Damas, Pantai Prigi dan Pantai Pasir Putih.
Saat berada di pintu gerbangnya, wisata ini bernama Ecowisata Mangrove, Pancer Cengkrong Trenggalek. Burung-burung merpati beterbatangan di sekitar pintu masuk. Di kawasan konservasi hutan bakau ni selain dilengkapi Jembatan Galau sebagai destinasi utama juga ada gazebo-gazebo untuk berteduh saat kelelahan atau kepanasan, juga ada sampan, dan layanan pendukung lainnya dan warung-warung yang memanjakan perut pengunjung. Namun berdekatan dengan warung-warung tersebut ada banyak burung merpati beterbatangan di sekitar dan hewan-hewan lain.
Baca Juga: Minggu di Kampung Coklat Bersama Keluarga (Kecil)
Baca Juga: Sejarah Singkat Berdirinya Kampung Coklat
Fasilitas yang tersedia adalah di antaranya mushola, kamar mandi dan warung-warung kecil yang berjajar rapi di tepi jalan. Tentu adanya fasilitas tersebut sangat mendukung pengunjung. Tetapi ketika berkunjung di siang hari panas sekali. Karena tanaman yang masih kecil dan dalam masa tanam. Akan tetapi ketika sudah sampai di tempat hutan mangrove, rasa panas terbayarkan dengan suasana alam dan pemandangan yang indah dibalut dengan taman-taman mangrove.
Konservasi ini dikelola oleh PokMasWas Kejung Samudra. Sebuah Ecowisata Mangrove yang sangat asri dengan keindahan alam sekitarnya. Sebuah tempat wisata yang berwawasan lingkungan dengan mengutamakan aspek konservasi alam.
Begitu melewati jembatan kayu yang disebut Jembatan Galau ini sejauh mata memandang, di depannya terhampar aneka jenis tanaman bakau di atas lahan seluas sekitar 100 hektar. Latar view pegunungan, menambah sempurna pemandangan. Seketika menghamburkan kejenuhan dan kesuntukan pikiran.
Saya tak tahu persis berapa panjang jembatan galau itu membentang. Yang jelas awal pembangunan, jembatan ini memiliki panjang 500 meter. Berjalannya waktu dan semakin ramai pengujung, jembatan itu sekarang kira-kira mencapai 0,5 km. Lokasi Ecowisata Mangrove ini berada di sebelah utara pantai Cengkrong, masuk di adminitrasi Desa Karanggandu, Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek.
Terwujudnya jembatan ini tentu tidak lepas dari kerja keras dari PokMasWas Kejung Samudra, Imam Syaaifudin sebagai ketuanya. Dia berjuang bersama anggota kelompoknya dalam menjaga dan melestarikan mangrove ini. Berkat mereka tumbuhan beraneka jenis tanaman mangrove, seperti jenis Rizhopora aficulata, Ceriops decandra, Sonneratia alba, dan masih banyak lagi terawat dengan baik.
Selain berfungsi sebagai sarana edukasi lingkungan, hutan mangrove berfungsi untuk menahan abrasi pantai dan tempat yang aman bagi pengembangbiakan aneka biota laut. Tempat ini juga cocok sebagai wahana rekreasi bareng keluarga dan alternatif bagi penyuka foto prewedding.
Beberapa tanaman yang berada di hutan mangrove ternyata bisa dijadikan obat. Ya betul obat, Tanaman yang berdaun nganan bisa dijadikan obat gatal. Apabila ada seseorang yang gatal atau terkena penyakit kulit, getah dari pohon nganan bisa dioleskan di sekitar luka.
Selain tanaman tanaman mangrove ini bisa juga jadi sirup. Buah-buah yang berada di Mangrove itu ada yang bisa dimanfaatkan untuk diolah menjadi sirup, yakni buah Bogem Sonneratia casoelaris. Sirup yang terbuat dari buah Mangrove itu tentu saja segar.
Pembersihannya rutin dilaksanakan satu minggu sekali. Maka, kebersihan dan kenyamannya selalu terjaga. Hingga ekosistem juga patut dijaga pula. Hal itu saya ketahui dari papan-papan nama yang ditancapkannya. Selain terdapat aneka jenis mangrove, hutan itu ditanami bibit pohon cemara udang, meski jumlahnya tidak sebanyak jenis tanaman bakau.
Kami berjalan mengikuti sepanjang jembatan kayu itu, hingga sampai di muara sungai Kalisongo. Tiba di tepi muara sungai yang membelah hutan bakau ini, saya melihat beberapa orang sedang duduk-duduk di tepi sungai di bawah jembatan kayu yang melintai sungai ini. Sungai ini bermuala di Pantai Cengkrong melewati pancer yang banyak perahu dibenahi.
Ecowisata Mangrove di Cengkrong ini merupakan salah satu pesona alam yang patut kita jaga. Keindahan alam mampu mengobati kegalauan para pengunjung. Begitulah Mangrove itu, selain sebagai menanggulangi abrasi, Mangrove juga mampu ngobati manusianya. Semoga.[]
Jika merujuk dari kata galau, jembatan itu seolah mengisyaratkan seseorang yang datang ke lokasi itu dalam keadaan tidak tenang dan mengalami kejenuhan, kekacauan dalam berpikir maupun seseorang yang tak tertentu.
Jembatan yang berlanskap Gunung Kumbung Karno di sebelah selatan, Gunung Sepikul di sisi utara dan pepohonan mangrove di sekitarnya ini jadi obat dari kegalauan diri. Obat yang ditawarkan oleh Jembatan Galau ini tidak lain adalah suasana yang tenang, hijau dan bersih. Latar pegunungan dan tetumbuhan ini merekomendasikan bahwa kepenatan dan kejenuhan berlalu setelah berkunjung di tempat ini.
Jembatan ini berasal dari berbahan dasar dari kayu balau. Kayu balau memiliki nama ilmiah Shorea spp. Dari kayu balau inilah menurut warga sekitar jadi asal mula penyembuatan Jembatan Galau itu. Dari bahan dasar kayu balau dan pepohonan bakau, jembatan ini oleh masyarakat sekitar di-pleset-kan jadi nama Jembatan Galau.
Namun benar tidaknya itu adalah karangan warga sekitar untuk mem-branding sebuah tempat destinasi yang sedang booming kala itu. Sementara letak Konservasi Mangrove ini berdekatan dengan Pantai Cengkrong dan lokasinya sejalur dengan Jalur Lintas Selatan (JLS). Jadi apabila berkunjung di tempat Ecowisata Mangrove ini kita bisa menikmati beberapa tempat sekaligus, seperti Pantai Cengkrong dan Konservasi Mangrove dan jembatan JLS yang jadi salah satu destinasi lain.
Sementara untuk menuju di Konservasi Mangrove ini sangat mudah. Akses jalannya juga mulus dan memudahkan bagi pengunjung menuju kawasan wisata tersebut. Selain berdekatan dengan Pantai Cengkrong dan JLS, Mangrove juga berdekatan dengan Pantai Damas, Pantai Prigi dan Pantai Pasir Putih.
Saat berada di pintu gerbangnya, wisata ini bernama Ecowisata Mangrove, Pancer Cengkrong Trenggalek. Burung-burung merpati beterbatangan di sekitar pintu masuk. Di kawasan konservasi hutan bakau ni selain dilengkapi Jembatan Galau sebagai destinasi utama juga ada gazebo-gazebo untuk berteduh saat kelelahan atau kepanasan, juga ada sampan, dan layanan pendukung lainnya dan warung-warung yang memanjakan perut pengunjung. Namun berdekatan dengan warung-warung tersebut ada banyak burung merpati beterbatangan di sekitar dan hewan-hewan lain.
Baca Juga: Minggu di Kampung Coklat Bersama Keluarga (Kecil)
Baca Juga: Sejarah Singkat Berdirinya Kampung Coklat
Fasilitas yang tersedia adalah di antaranya mushola, kamar mandi dan warung-warung kecil yang berjajar rapi di tepi jalan. Tentu adanya fasilitas tersebut sangat mendukung pengunjung. Tetapi ketika berkunjung di siang hari panas sekali. Karena tanaman yang masih kecil dan dalam masa tanam. Akan tetapi ketika sudah sampai di tempat hutan mangrove, rasa panas terbayarkan dengan suasana alam dan pemandangan yang indah dibalut dengan taman-taman mangrove.
Konservasi ini dikelola oleh PokMasWas Kejung Samudra. Sebuah Ecowisata Mangrove yang sangat asri dengan keindahan alam sekitarnya. Sebuah tempat wisata yang berwawasan lingkungan dengan mengutamakan aspek konservasi alam.
Begitu melewati jembatan kayu yang disebut Jembatan Galau ini sejauh mata memandang, di depannya terhampar aneka jenis tanaman bakau di atas lahan seluas sekitar 100 hektar. Latar view pegunungan, menambah sempurna pemandangan. Seketika menghamburkan kejenuhan dan kesuntukan pikiran.
Saya tak tahu persis berapa panjang jembatan galau itu membentang. Yang jelas awal pembangunan, jembatan ini memiliki panjang 500 meter. Berjalannya waktu dan semakin ramai pengujung, jembatan itu sekarang kira-kira mencapai 0,5 km. Lokasi Ecowisata Mangrove ini berada di sebelah utara pantai Cengkrong, masuk di adminitrasi Desa Karanggandu, Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek.
Terwujudnya jembatan ini tentu tidak lepas dari kerja keras dari PokMasWas Kejung Samudra, Imam Syaaifudin sebagai ketuanya. Dia berjuang bersama anggota kelompoknya dalam menjaga dan melestarikan mangrove ini. Berkat mereka tumbuhan beraneka jenis tanaman mangrove, seperti jenis Rizhopora aficulata, Ceriops decandra, Sonneratia alba, dan masih banyak lagi terawat dengan baik.
Selain tamanan itu tumbuh juga tamanan bogem, bakau, ketapang, pohong jangkar, bantaro, dan dlujon. Tumbuhan yang rimbun membantu tumbuhan yang lain seperti lumut (plangton). Selain pohon bakau, hidup pula ekosistem hewan seperti, kepiting bakau (Scyila serrata), udang dan kerang bakau (Thotre Artica islandica), sehingga hewan merasa nyaman dan berkembang biak dengan leluasa.
“Ada waktu yang tepat untuk masa menanam; yaitu 20 tahun yang lalu, dan mulai sekarang untuk untuk masa tanam,” kata EBY saat berkunjung di Mangrove ini.
Selain berfungsi sebagai sarana edukasi lingkungan, hutan mangrove berfungsi untuk menahan abrasi pantai dan tempat yang aman bagi pengembangbiakan aneka biota laut. Tempat ini juga cocok sebagai wahana rekreasi bareng keluarga dan alternatif bagi penyuka foto prewedding.
Beberapa tanaman yang berada di hutan mangrove ternyata bisa dijadikan obat. Ya betul obat, Tanaman yang berdaun nganan bisa dijadikan obat gatal. Apabila ada seseorang yang gatal atau terkena penyakit kulit, getah dari pohon nganan bisa dioleskan di sekitar luka.
Selain tanaman tanaman mangrove ini bisa juga jadi sirup. Buah-buah yang berada di Mangrove itu ada yang bisa dimanfaatkan untuk diolah menjadi sirup, yakni buah Bogem Sonneratia casoelaris. Sirup yang terbuat dari buah Mangrove itu tentu saja segar.
Pembersihannya rutin dilaksanakan satu minggu sekali. Maka, kebersihan dan kenyamannya selalu terjaga. Hingga ekosistem juga patut dijaga pula. Hal itu saya ketahui dari papan-papan nama yang ditancapkannya. Selain terdapat aneka jenis mangrove, hutan itu ditanami bibit pohon cemara udang, meski jumlahnya tidak sebanyak jenis tanaman bakau.
Kami berjalan mengikuti sepanjang jembatan kayu itu, hingga sampai di muara sungai Kalisongo. Tiba di tepi muara sungai yang membelah hutan bakau ini, saya melihat beberapa orang sedang duduk-duduk di tepi sungai di bawah jembatan kayu yang melintai sungai ini. Sungai ini bermuala di Pantai Cengkrong melewati pancer yang banyak perahu dibenahi.
Ecowisata Mangrove di Cengkrong ini merupakan salah satu pesona alam yang patut kita jaga. Keindahan alam mampu mengobati kegalauan para pengunjung. Begitulah Mangrove itu, selain sebagai menanggulangi abrasi, Mangrove juga mampu ngobati manusianya. Semoga.[]
إرسال تعليق