Barangkali berbicara tentang makhluk halus semacam genderuwo, kita harus memiliki kekuatan supranatural untuk melihat kehadirannya. Mungkin keberadaannya ada di dunia maya dan nyata yang kita tempati ini. Dan, kalaupun ada, mungkin, genderuwo itu di dunia yang emboh ngendi panggone, mungkin juga jauh dari pandangan kasat mata kita. Ia memiliki tempat sendiri yang nyaman, yang tidak (boleh) kita uring-uringi keberadaannya. Ia juga memiliki aktivitas intelektual yang tidak bisa kita rasakan dan kita lihat. Rasa-rasanya bulu kudukku merinding ngomongne genderuwo ngalor-ngidul yang tidak tahu persisnya itu.
Lantas apa hubungannya kehadiran genderuwo dengan panggung literasi? Waduh, sangat tidak nyambung jika diukur dari tengkorak otak sehat kita. Hanya orang-orang yang memiliki kemampuan supranatural tingkat tinggi yang mampu menerawang dan menembus batas kewajaran pandangan itu. halah, aku ki ngomongne opo kok ndakik-ndakik ngenei? Bicara tinggi tapi tidak bisa membuktikan. Orang Jawa bilang jarkoni: "Ujar ora iso nglakoni." Haduh, saking gemede bicara ini-itu, jadi lupa memberi pengertian relasi antara "panggung literasi dengan Gendruwo."
Mari kita telusuri satu persatu ke-klennik-kan ini. Literasi (membaca-menulis), dalam hal ini, khususnya menulis, menulis adalah salah satu seni memahat kata. Singkatnya, menulis itu seni. Seni untuk membebaskan pikiran kita. Seni untuk mengarang bebas. Juga seni dalam keberanian mengekspresikan diri dalam menulis yang sifatnya satire, anekdot, dan humor, serta hal-hal konyol, dan hal-hal tabu untuk diperbincangkan, ataupun sesuatu yang menarik untuk dilupakan dan dilalui begitu saja, maka menulis dengan seni guyonan yang tidak mengandung SARA, ternyata memiliki humor dengan nilai estetika tinggi.
Tulisan model humor, anekdot dan guyonan khas daerah seperti ini biasanya memiliki nilai satire si kondom (situasi, kondisi, dan domisili). Misal, dengan kehadiran buku yang berjudul Bau Pesing Genderuwo; Bukan Guyonan Biasa (2014), kita tidak usah memiliki kemampuan supranatural untuk melihatnya, kehadirannya menjadi fenomena tersendiri di tengah gaung gerakan literasi yang usung oleh penulisnya dan beberapa teman lain. Buku Bau Pesing Genderuwo ini menjadi kritik sosial yang membekas dengan tutur jenaka serta menghibur tentang keseharian lingkungan sekitar. Buku ini hadir berisikan keisengan-keisengan penulisnya dengan sajian humor khas Suroboyo-an yang menjadi identitas diri penulis.
Eko Prasetyo adalah sosok dalang yang menghadirkan genderuwo dalam panggung literasi. Berprofesi sebagai wartawan, jurnalis serta editor, musprast, biasanya disapa, menampilkan sesosok genderuwo menjadi guyonan khas di komplek perumahannya. Namun, baru giliran toilet di rumahnya bau pesing, ia sangka genderuwo itu adalah ada di rumahnya, tanpa ba-bi-bu ia pun memberanikan diri untuk melihatnya, dengan bibir komat-kamit dan membaca doa masuk toilet, ia putar gagang pintu toilet, dan "Hei, orang lagi pipis kok dibuka seh!" Wkwkwk, konyol bukan?
Keberanian dan kemauan dalam menangkap cerita-cerita yang, barangkali dianggap konyol seperti itu, menghadirkan hal yang menarik untuk dilewatkan. Dalam buku Jadi Penulis? Siapa Takut! (Kaifa, 2012), Alif Danga Munsyi alias Remi Sylado memberi tuntutan kepada siapa saja yang tertarik menekuni dunia tulis-menulis. Menurut dia, "Penulis harus memiliki kemauan untuk bertanya dan keharusan menjawab persoalan-persoalan yang menarik."
Mungkin masalah itu merupakan hal yang sederhana. Yang sayang untuk dilewatkan begitu saja. Namun. Pertanyaan atau fenomena apa pun--meski itu sangat sederhana--haruskah dijawab. "Sebab, dengannya kita sedang melatih diri untuk menjadi cerdas dan cendekia dalam masalah kebudayaan," tulisnya (2011: 20).
Tidak dipungkiri masalah humorisasi pun masuk dalam kebudayaan itu tadi. Berbicara tentang humor, jelas, laki-laki menempati peringkat teratas dalam hal selera humor. Dan sudah bisa diduga, para komikus di stand-up comedy yang mendominasi adalah kaum hawa.
Dan, lebih membanggakan lagi adalah para humor(ter)--tidak tahu istilah ini salah atau betul--tapi yang jelas komikus istilah untuk menyapa para komikus yang jago guyonan. Para pencinta stand-up comedy Indonesia tentu tidak asing dengan Raditya Dika, Soleh Solihun, atau pun Cak Lontong. Ketiganya sudah menulis buku, meski yang menulis orang lain.
Seperti buku genderuwo di atas, buku para komikus juga terkemas dengan pemikiran segar dengan bumbu-bumbu guyonan khas masing-masing yang terbungkus dalam sebuah produk literasi. Buku!
Mari menengok ke belakang sebentar. Dunia layak berterima kasih kepada Jay Sankey. Dialah aktor yang menulis buku Zen and the Art of Stand-up Comedy (1998). Buku ini dia ngga salah satu kitab suci bagi para komik atau stand-up comedian. Di situ secara lugas dikatakan bahwa setiap lelucon yang dahsyat harus mampu menimbulkan korban bergelimpangan. Inilah yang dimaksud humor yang menggigit. Begitu pun buku Bau Pesing Genderuwo ini.
Kritik
Seperti yang sudah saya bilang di atas, Kelik Supriyanto, dalam bukunya the Kampus: ngakak sampe mampus (2009), "Cerita-cerita humor atau anekdot pada umumnya mengisahkan tentang kejenakaan akibat kecerdikan, kebodohan, kemalangan, atau keberuntungan tokoh di dalamnya. Humor atau anekdot dipilih sebagai media protes yang paling pas dikarenakan kecenderungan orang yang tidak suka dikritik secara langsung. Pihak yang dijadikan sasaran kritik tidak akan marah karena disampaikan dengan guyonan."
Di sini yang kena kritik dalam hal literasi, khususnya menulis adalah Wijaya Kusuma. Wijaya Kusuma--Omjay sapaan akrabnya--menulis di kompasiana dengan judul, Ayo Menulislah di Saat Mata Mulai Mengantuk! Edisi Minggu (30/9/2013). Coba, bayangkan bagaimana jadinya apabila mata sudah tidak kuat untuk menulis, atau ngantuk, tapi tetap disuruh untuk menulis, bisa jadi tulisannya belepotan ke mana-mana.
Dan, luweh afdolnya, bagi blogger amatir atau penulis pemula seperti saya, yang paling bijak, ya tidur. Saya merasakan betul dampak apabila mata mulai lelah. Jika mata mengantuk, otak bakal sulit dipaksa untuk terus bekerja, termasuk menua ide dalam tulisan, maka yang dijumpai tidak lebih dari tumpul.
Dugaan saya, Omjay menulis ketika saat ia sedang mengantuk. Barangkali apabila ia tidak sedang mengantuk, ia tidak mungkin memberi motivasi tentang menulis di waktu mengantuk. Ajakannya itu saya rasa berlebihan dan kritik saya buat Omjay, om apabila bila ngantuk, Sampeyan tidur saja! Apabila tidak mengantuk dan belum tidur serta ada waktu luang, siapkan camilan dan kopi. ["-"]
Judul Buku : Bau Pesing Genderuwo: Bukan Guyonan Biasa
Penerbit : Sarbikita Publishing, Surabaya
Terbit : I, Juli 2014
Tebal : vii + 118 hlm
ISBN : 978-602-14909-8-3
Lantas apa hubungannya kehadiran genderuwo dengan panggung literasi? Waduh, sangat tidak nyambung jika diukur dari tengkorak otak sehat kita. Hanya orang-orang yang memiliki kemampuan supranatural tingkat tinggi yang mampu menerawang dan menembus batas kewajaran pandangan itu. halah, aku ki ngomongne opo kok ndakik-ndakik ngenei? Bicara tinggi tapi tidak bisa membuktikan. Orang Jawa bilang jarkoni: "Ujar ora iso nglakoni." Haduh, saking gemede bicara ini-itu, jadi lupa memberi pengertian relasi antara "panggung literasi dengan Gendruwo."
Mari kita telusuri satu persatu ke-klennik-kan ini. Literasi (membaca-menulis), dalam hal ini, khususnya menulis, menulis adalah salah satu seni memahat kata. Singkatnya, menulis itu seni. Seni untuk membebaskan pikiran kita. Seni untuk mengarang bebas. Juga seni dalam keberanian mengekspresikan diri dalam menulis yang sifatnya satire, anekdot, dan humor, serta hal-hal konyol, dan hal-hal tabu untuk diperbincangkan, ataupun sesuatu yang menarik untuk dilupakan dan dilalui begitu saja, maka menulis dengan seni guyonan yang tidak mengandung SARA, ternyata memiliki humor dengan nilai estetika tinggi.
Tulisan model humor, anekdot dan guyonan khas daerah seperti ini biasanya memiliki nilai satire si kondom (situasi, kondisi, dan domisili). Misal, dengan kehadiran buku yang berjudul Bau Pesing Genderuwo; Bukan Guyonan Biasa (2014), kita tidak usah memiliki kemampuan supranatural untuk melihatnya, kehadirannya menjadi fenomena tersendiri di tengah gaung gerakan literasi yang usung oleh penulisnya dan beberapa teman lain. Buku Bau Pesing Genderuwo ini menjadi kritik sosial yang membekas dengan tutur jenaka serta menghibur tentang keseharian lingkungan sekitar. Buku ini hadir berisikan keisengan-keisengan penulisnya dengan sajian humor khas Suroboyo-an yang menjadi identitas diri penulis.
Eko Prasetyo adalah sosok dalang yang menghadirkan genderuwo dalam panggung literasi. Berprofesi sebagai wartawan, jurnalis serta editor, musprast, biasanya disapa, menampilkan sesosok genderuwo menjadi guyonan khas di komplek perumahannya. Namun, baru giliran toilet di rumahnya bau pesing, ia sangka genderuwo itu adalah ada di rumahnya, tanpa ba-bi-bu ia pun memberanikan diri untuk melihatnya, dengan bibir komat-kamit dan membaca doa masuk toilet, ia putar gagang pintu toilet, dan "Hei, orang lagi pipis kok dibuka seh!" Wkwkwk, konyol bukan?
Keberanian dan kemauan dalam menangkap cerita-cerita yang, barangkali dianggap konyol seperti itu, menghadirkan hal yang menarik untuk dilewatkan. Dalam buku Jadi Penulis? Siapa Takut! (Kaifa, 2012), Alif Danga Munsyi alias Remi Sylado memberi tuntutan kepada siapa saja yang tertarik menekuni dunia tulis-menulis. Menurut dia, "Penulis harus memiliki kemauan untuk bertanya dan keharusan menjawab persoalan-persoalan yang menarik."
Mungkin masalah itu merupakan hal yang sederhana. Yang sayang untuk dilewatkan begitu saja. Namun. Pertanyaan atau fenomena apa pun--meski itu sangat sederhana--haruskah dijawab. "Sebab, dengannya kita sedang melatih diri untuk menjadi cerdas dan cendekia dalam masalah kebudayaan," tulisnya (2011: 20).
Tidak dipungkiri masalah humorisasi pun masuk dalam kebudayaan itu tadi. Berbicara tentang humor, jelas, laki-laki menempati peringkat teratas dalam hal selera humor. Dan sudah bisa diduga, para komikus di stand-up comedy yang mendominasi adalah kaum hawa.
Dan, lebih membanggakan lagi adalah para humor(ter)--tidak tahu istilah ini salah atau betul--tapi yang jelas komikus istilah untuk menyapa para komikus yang jago guyonan. Para pencinta stand-up comedy Indonesia tentu tidak asing dengan Raditya Dika, Soleh Solihun, atau pun Cak Lontong. Ketiganya sudah menulis buku, meski yang menulis orang lain.
Seperti buku genderuwo di atas, buku para komikus juga terkemas dengan pemikiran segar dengan bumbu-bumbu guyonan khas masing-masing yang terbungkus dalam sebuah produk literasi. Buku!
Mari menengok ke belakang sebentar. Dunia layak berterima kasih kepada Jay Sankey. Dialah aktor yang menulis buku Zen and the Art of Stand-up Comedy (1998). Buku ini dia ngga salah satu kitab suci bagi para komik atau stand-up comedian. Di situ secara lugas dikatakan bahwa setiap lelucon yang dahsyat harus mampu menimbulkan korban bergelimpangan. Inilah yang dimaksud humor yang menggigit. Begitu pun buku Bau Pesing Genderuwo ini.
Kritik
Seperti yang sudah saya bilang di atas, Kelik Supriyanto, dalam bukunya the Kampus: ngakak sampe mampus (2009), "Cerita-cerita humor atau anekdot pada umumnya mengisahkan tentang kejenakaan akibat kecerdikan, kebodohan, kemalangan, atau keberuntungan tokoh di dalamnya. Humor atau anekdot dipilih sebagai media protes yang paling pas dikarenakan kecenderungan orang yang tidak suka dikritik secara langsung. Pihak yang dijadikan sasaran kritik tidak akan marah karena disampaikan dengan guyonan."
Di sini yang kena kritik dalam hal literasi, khususnya menulis adalah Wijaya Kusuma. Wijaya Kusuma--Omjay sapaan akrabnya--menulis di kompasiana dengan judul, Ayo Menulislah di Saat Mata Mulai Mengantuk! Edisi Minggu (30/9/2013). Coba, bayangkan bagaimana jadinya apabila mata sudah tidak kuat untuk menulis, atau ngantuk, tapi tetap disuruh untuk menulis, bisa jadi tulisannya belepotan ke mana-mana.
Dan, luweh afdolnya, bagi blogger amatir atau penulis pemula seperti saya, yang paling bijak, ya tidur. Saya merasakan betul dampak apabila mata mulai lelah. Jika mata mengantuk, otak bakal sulit dipaksa untuk terus bekerja, termasuk menua ide dalam tulisan, maka yang dijumpai tidak lebih dari tumpul.
Dugaan saya, Omjay menulis ketika saat ia sedang mengantuk. Barangkali apabila ia tidak sedang mengantuk, ia tidak mungkin memberi motivasi tentang menulis di waktu mengantuk. Ajakannya itu saya rasa berlebihan dan kritik saya buat Omjay, om apabila bila ngantuk, Sampeyan tidur saja! Apabila tidak mengantuk dan belum tidur serta ada waktu luang, siapkan camilan dan kopi. ["-"]
Judul Buku : Bau Pesing Genderuwo: Bukan Guyonan Biasa
Penerbit : Sarbikita Publishing, Surabaya
Terbit : I, Juli 2014
Tebal : vii + 118 hlm
ISBN : 978-602-14909-8-3
Posting Komentar