Kehidupan kita tidak bisa jauh dari yang namanya air. Setiap hari kita bersinggungan langsung dengan air. Sebab, setiap hari kita mandi, salah satu alat yang urgen adalah air, mau minum juga air, dan dalam tubuh kita juga mengandung banyak air.
Konon, kalau dalam tubuh kita tidak memiliki air, maka tubuh kita akan rusak dan membahayakan kesehatan dan nyawa kita.
Sebelum menemukan dan membaca buku Masaru Emoto, pada awal perkuliahan tahun 2012, saya terlebih dahulu sudah diberi wejangan oleh dosen terkait air. Kenapa dengan air? Waktu itu, dosen saya memberi pesan yang membuat saya berfikir keras. Namun, ketika itu saya tidak terlalu memperhatikan apa yang disampaikannya. Lalu sampailah pada suatu hati, selepas saya menemukan jawaban do dalam buku Masaru Emoto.
Ternyata, pesan yang disampaikan oleh dosen IBD (Ilmu Budaya Dasar) itu memang ada benarnya dan masih berlaku dan merepresentasikan keadaaan dan karakter anak–anak.
Begini pesan yang disampaikan di sela-sela menyampaikan mata kuliah kebudayaan tersebut.
“Tuangkan air ke dalam 2 gelas berbeda. Untuk membedakan hasil dari perubahan wujud dari air tersebut, gelas 1 katakan dengan nada-nada kotor dan 1 dengan nada-nada pujian”.
Beliau menyakinkan stementnya. “Nah, tanpa disadari, air akan berubah wujud, dan bergetar seiring perubahan warna. Kemudian gelas dengan isi celakaan akan menjadi kotor dan bergetar, demikian sebaliknya, gelas yang diisi dengan pujian akan tampak bening dan anggun air tersebut."
Singkat kata, air yang diisi dengan celaan akan berubah menjadi keruh. Sedangkan air yang setiap hari disirami dengan kata-kata mutiara atau pujian akan tetap abadi dan jernih.
Membaca buku Dr. Masaru Emoto seperti mengevaluasi hidup saya. Hal di atas coba diungkap dalam buku yang ditulis oleh Masaru Emoto, The Hidden Messages in Water (Pesan Rahasia Sang Air). Masaru Emoto menjelaskan bagaimana air bisa berubah wujud dan air yang jatuh dari atas atau di sungai yang mengalir maka air tersebut abadi.
“Tidak ada dua kristal salju yang sama persis”. Tambah seorang dokter altternatif air “Rupa serpihan salju yang jatuh ke bumi selama jutaan tahun semuanya berbeda. Jika saya membekukan air danmelihat kristal-kristalnya, setiap kristal akan tampak sangat unik.” (hlm. xix-xx).
Butiran-butiran yang diteliti melalui uji klinis itu mengandung air yang menandakan cinta dan syukur adalah perwujudan kata dan rasa terima kasih dalam berbagai bentuk, dan selalu menghasilkan kristal-kristal yang indah dan utuh. Sedangkan sebaliknya, jika ketika kepada air dikatakan “kamu bodoh”, maka kristal tersebut tidak akan utuh dan tidak akan tambah sempurna.
Oleh karena itu, anak adalah perwujudan air. Apabila anak Anda setiap hari dicekok-i dengan kata-kata keras dan kasar. Maka tidak menutup kemungkinan akan tumbuh tidak sempurna, dan berkembang sesuai yang dianalogikan air tadi.
Saya masih mengingat dan menemukan orangtua-orangtua yang memberlakukan anaknya seperti yang diinginkan orangtua. Yang kemudian orangtua menjadi keras pada anaknya; memaksa anaknya menuruti yang dimau orangtua sampai akhirnya orangtua berkata kasar dan bermain tangan itu adalah sangatlah berbahaya untuk perkembangan anak.
Jaman dan pikiran anak tidak akan sama dengan apa yang dipikirkan oleh orangtua. Biasanya orangtua memaksakan kehendaknya dengan memperlakukan anaknya sesuai ekspektasinya. Kemudian kalau si anak tidak “manut-patuh”dengan adat ketimurannya maka orangtua tersebut berkata kasar dan kotor yang keluar dari mulutnya. Lebih-lebih orangtua mau ringan tangan (bully) anaknya.
Di tengah-tengah "sisa-sisa" menjadi orangtua, maka orangtua tidak harus memaksakan kehendaknya dan sebagai teman yang selalu ada setiap dia (anak) inginkan, menjadi peneliti, apa yang inginkan oleh anak, semestinya diteliti dari kejauhan. Karena air dan anak adalah bergetak, berubah dan mengalir sesuai kodrat menjadi seorang anak. Allahu’alam bishowab.
Konon, kalau dalam tubuh kita tidak memiliki air, maka tubuh kita akan rusak dan membahayakan kesehatan dan nyawa kita.
Sebelum menemukan dan membaca buku Masaru Emoto, pada awal perkuliahan tahun 2012, saya terlebih dahulu sudah diberi wejangan oleh dosen terkait air. Kenapa dengan air? Waktu itu, dosen saya memberi pesan yang membuat saya berfikir keras. Namun, ketika itu saya tidak terlalu memperhatikan apa yang disampaikannya. Lalu sampailah pada suatu hati, selepas saya menemukan jawaban do dalam buku Masaru Emoto.
Ternyata, pesan yang disampaikan oleh dosen IBD (Ilmu Budaya Dasar) itu memang ada benarnya dan masih berlaku dan merepresentasikan keadaaan dan karakter anak–anak.
Begini pesan yang disampaikan di sela-sela menyampaikan mata kuliah kebudayaan tersebut.
“Tuangkan air ke dalam 2 gelas berbeda. Untuk membedakan hasil dari perubahan wujud dari air tersebut, gelas 1 katakan dengan nada-nada kotor dan 1 dengan nada-nada pujian”.
Beliau menyakinkan stementnya. “Nah, tanpa disadari, air akan berubah wujud, dan bergetar seiring perubahan warna. Kemudian gelas dengan isi celakaan akan menjadi kotor dan bergetar, demikian sebaliknya, gelas yang diisi dengan pujian akan tampak bening dan anggun air tersebut."
Singkat kata, air yang diisi dengan celaan akan berubah menjadi keruh. Sedangkan air yang setiap hari disirami dengan kata-kata mutiara atau pujian akan tetap abadi dan jernih.
Membaca buku Dr. Masaru Emoto seperti mengevaluasi hidup saya. Hal di atas coba diungkap dalam buku yang ditulis oleh Masaru Emoto, The Hidden Messages in Water (Pesan Rahasia Sang Air). Masaru Emoto menjelaskan bagaimana air bisa berubah wujud dan air yang jatuh dari atas atau di sungai yang mengalir maka air tersebut abadi.
“Tidak ada dua kristal salju yang sama persis”. Tambah seorang dokter altternatif air “Rupa serpihan salju yang jatuh ke bumi selama jutaan tahun semuanya berbeda. Jika saya membekukan air danmelihat kristal-kristalnya, setiap kristal akan tampak sangat unik.” (hlm. xix-xx).
Butiran-butiran yang diteliti melalui uji klinis itu mengandung air yang menandakan cinta dan syukur adalah perwujudan kata dan rasa terima kasih dalam berbagai bentuk, dan selalu menghasilkan kristal-kristal yang indah dan utuh. Sedangkan sebaliknya, jika ketika kepada air dikatakan “kamu bodoh”, maka kristal tersebut tidak akan utuh dan tidak akan tambah sempurna.
Oleh karena itu, anak adalah perwujudan air. Apabila anak Anda setiap hari dicekok-i dengan kata-kata keras dan kasar. Maka tidak menutup kemungkinan akan tumbuh tidak sempurna, dan berkembang sesuai yang dianalogikan air tadi.
Saya masih mengingat dan menemukan orangtua-orangtua yang memberlakukan anaknya seperti yang diinginkan orangtua. Yang kemudian orangtua menjadi keras pada anaknya; memaksa anaknya menuruti yang dimau orangtua sampai akhirnya orangtua berkata kasar dan bermain tangan itu adalah sangatlah berbahaya untuk perkembangan anak.
Jaman dan pikiran anak tidak akan sama dengan apa yang dipikirkan oleh orangtua. Biasanya orangtua memaksakan kehendaknya dengan memperlakukan anaknya sesuai ekspektasinya. Kemudian kalau si anak tidak “manut-patuh”dengan adat ketimurannya maka orangtua tersebut berkata kasar dan kotor yang keluar dari mulutnya. Lebih-lebih orangtua mau ringan tangan (bully) anaknya.
Di tengah-tengah "sisa-sisa" menjadi orangtua, maka orangtua tidak harus memaksakan kehendaknya dan sebagai teman yang selalu ada setiap dia (anak) inginkan, menjadi peneliti, apa yang inginkan oleh anak, semestinya diteliti dari kejauhan. Karena air dan anak adalah bergetak, berubah dan mengalir sesuai kodrat menjadi seorang anak. Allahu’alam bishowab.
Posting Komentar