Disadari atau tidak, saya menumbuhkan ketertarikan terhadap kajian para jamaah jomblo yang lebih dari status itu, lho. Kajian yang biasa berkisah tentang ratapan para jomblover ini begitu renyah untuk dikonsumsi. Sehingga banyak—salah satunya saya—menikmati dan mengikuti para pengisah jomblo itu. Saya kira, ini semacam cara untuk menangkal paham mainstream; bahwa sebelum berjodoh, tidak selamanya berpasangan itu bahagia.
Sebagai peminat kajian jomblo gadungan, saya sedang melakukan riset dari perilaku teman-teman, yang biasa mengeluh dan (men)twitt(kan) ke-galau-an atau statusnya mengenai jomblo ini. Saya mengawalinya dengan mengamati perilaku teman-teman sendiri. Sejak kapan kata jomblo ini di merebak, itu bukan alasan. Yang jelas jomblo sudah menjadi trendsetter status. Makin kesini jomblo semakin merebak, bak jamur di musim dingin. Dari hari demi hari semakin meningkat, antusias pemuja jomblo(isme) itu. Seseorang secara trans(gender)paran menulis status di BBM, Facebook, Twitter maupun media sosial lainnya jomblo dengan bangga.
Secara gamblang, saya tidak begitu tahu apa yang melatar-belakangi mereka dalam mendeklarasikan diri sebagai jomblo. Padahal, stattus jomblo, meminjam pengertian yang pernah saya baca dalam website Jombloo dot co, adalah spesies yang terhinakan dalam urusan jodoh. Memang mau tidak mau, jomblo itu adalah sesuatu posisi yang tidak enak. Tidak enak dipandang dan tidak enak untuk diskusi antar sesama teman. Akan menjadi aib tidak laku. Akan tetapi bagi pengrajin kata, kata jomblo ibarat sebongkah batu yang siap diolah dijadikan emas permata untuk si doi.
Dalam literat ke-bahasa-an, kata jomblo menjadi sebuah kekayaan dan khasanah bagi pengrajin kata. Mereka dengan ekspresi maupun goresan luka hati, mengekspresikan jomblo tak lagi sedekar hiburan. Mereka dengan berdarah-darah mengangkat kata ‘jomblo’ dengan potret-potret yang beragam. Kata jomblo menjadi variatif: wagu, humor, dan slengek-an.
Lihat saja status Gus Mul—sapaan akrab dari akronim Agus Mulyadi—status-status maupun tulisan-tulisan yang beredar media sosial: Jombloo dot co dan Mojok.co itu, ia tidak lagi menanggung beban moral, luka nestapa, melainkan sebuah anugerah yang dapat menguatkan mereka. Sehingga ia menggarap kata jomblo lebih dari sedekar. Tetapi penyambut lidah rakyat semangat dalam bertindak dan berkisah, semacam kreativitas yang tiada batas.
Prestasi itu bukan hanya isapan jempol belaka. Lihat saja, Gus Mul, dengan PeDe ia mendeklarasikan sebagai junjungan jomblover, ia mampu menerbitkan buku dari status jomblonya tersebut. Buku yang berjudul Jomblo Tapi Hafal Pancasila merupakan bukti yang tidak bisa terbantahkan. Meskipun jomblo tetapi tidak mati tertekan nasib yang tidak mujur. Mujur untuk urusan jodoh. Gus Mul sadar, dengan tampang pas-pasan tersebut ia tidak berani menawarkan kepada cewek manapun, ia lebih menarik si wek-wek dengan karya yang dilahirkan itu. Tidak menutup-kemungkinan, si wek-wek itu yang akan tertarik oleh Gus Mul. Okeh, Gus Mul. Saya rasa, si pujaan hati merapat sendiri itu NKRI harga mati.
Tri Em, misalkan lagi, anak muda ini sangat piawai dalam mempromosikan konten jomblo. Sehingga, kata jomblo bukan lagi menjadi hal yang menyiksa, tetapi malah menjadi amunisi inspirasi untuk beraksi. Artinya, lewat status jomblo itulah, Tri Em, mampu mengaktualisasikan jomblo tidak hanya sekedar jomblo belaka. Tetapi jomblo yang berintgritas dalam berkarya. Terlepas dari Gus Mul dan Tri Em itu jomblo atau tidak, ia semacam junjungan jomblover yang sangat dikagumi oleh para pembaca tulisan-tulisannya.
Saya berteman dengan mereka di dunia maya, hanya sok kenal sok dekat, SKSD saja. Dan membaca tulisan-tulisan yang mereka hasilkan. Meski jomblo, mereka tidak sendirian dalam menuangkan kesendiriannya. Lewat tulisan yang ia lahirkan itu bentuk teman yang kongkrit. Dari dirinyalah yang mengaku jomblo itu mengalir luka yang dalam inspirasi.
Saya sedikit mengalirkan pandangan ke mantan konten jomblo itu. Secara sadar, saya termasuk penikmat saja bukan pecinta. Hanya selingan agar hidup saya tidak menoton. Tidak ada humor-humornya. Hanya tegang terus. Oleh karena, belajar berkisah tentang jomblo ini, serasa melemaskan otot-otot saya yang kencang. Tetapi sesekali mengalihkan pandangan ke kajian yang lebih berat muatan cintamu yakni membaca buku-buku metodologi maupun spiritualitas.
Mengikuti tulisan-tulisan yang sliweran di akun media sosial; dalam konten Jomblo memiliki tempat di hati mantan untuk khazanah jomblo(isme) di muka mantan bumi ini.
Konten-konten jomblo, seakan membuat saya menanggalkan sebentar ‘baju kebesaran’, yang sedang saya terjuni. Mereka dengan mudah mengalihkan rekontruksi yang sedang saya bangun. Tulisan yang mengandung wagu, humor, dan slengek-an, yang menghadirkan gelak tawa, kekeh dalam hati, memang memiliki penggemar di hati pembacanya. Ia serasa mengalihkan minat bacaan saya. Pada kesempatan yang langka ini, saya merasa mengekor atau memanfaatkan ketenaran mereka, supaya nama saya ikut terkatrol dan dikenal atas background mereka. Unsur lain yang tidak kalah penting adalah ikut belajar menulis versi slengek-an. Meski masih kaku dan wagu. Salam
Sebagai peminat kajian jomblo gadungan, saya sedang melakukan riset dari perilaku teman-teman, yang biasa mengeluh dan (men)twitt(kan) ke-galau-an atau statusnya mengenai jomblo ini. Saya mengawalinya dengan mengamati perilaku teman-teman sendiri. Sejak kapan kata jomblo ini di merebak, itu bukan alasan. Yang jelas jomblo sudah menjadi trendsetter status. Makin kesini jomblo semakin merebak, bak jamur di musim dingin. Dari hari demi hari semakin meningkat, antusias pemuja jomblo(isme) itu. Seseorang secara trans(gender)paran menulis status di BBM, Facebook, Twitter maupun media sosial lainnya jomblo dengan bangga.
Secara gamblang, saya tidak begitu tahu apa yang melatar-belakangi mereka dalam mendeklarasikan diri sebagai jomblo. Padahal, stattus jomblo, meminjam pengertian yang pernah saya baca dalam website Jombloo dot co, adalah spesies yang terhinakan dalam urusan jodoh. Memang mau tidak mau, jomblo itu adalah sesuatu posisi yang tidak enak. Tidak enak dipandang dan tidak enak untuk diskusi antar sesama teman. Akan menjadi aib tidak laku. Akan tetapi bagi pengrajin kata, kata jomblo ibarat sebongkah batu yang siap diolah dijadikan emas permata untuk si doi.
Dalam literat ke-bahasa-an, kata jomblo menjadi sebuah kekayaan dan khasanah bagi pengrajin kata. Mereka dengan ekspresi maupun goresan luka hati, mengekspresikan jomblo tak lagi sedekar hiburan. Mereka dengan berdarah-darah mengangkat kata ‘jomblo’ dengan potret-potret yang beragam. Kata jomblo menjadi variatif: wagu, humor, dan slengek-an.
Lihat saja status Gus Mul—sapaan akrab dari akronim Agus Mulyadi—status-status maupun tulisan-tulisan yang beredar media sosial: Jombloo dot co dan Mojok.co itu, ia tidak lagi menanggung beban moral, luka nestapa, melainkan sebuah anugerah yang dapat menguatkan mereka. Sehingga ia menggarap kata jomblo lebih dari sedekar. Tetapi penyambut lidah rakyat semangat dalam bertindak dan berkisah, semacam kreativitas yang tiada batas.
Prestasi itu bukan hanya isapan jempol belaka. Lihat saja, Gus Mul, dengan PeDe ia mendeklarasikan sebagai junjungan jomblover, ia mampu menerbitkan buku dari status jomblonya tersebut. Buku yang berjudul Jomblo Tapi Hafal Pancasila merupakan bukti yang tidak bisa terbantahkan. Meskipun jomblo tetapi tidak mati tertekan nasib yang tidak mujur. Mujur untuk urusan jodoh. Gus Mul sadar, dengan tampang pas-pasan tersebut ia tidak berani menawarkan kepada cewek manapun, ia lebih menarik si wek-wek dengan karya yang dilahirkan itu. Tidak menutup-kemungkinan, si wek-wek itu yang akan tertarik oleh Gus Mul. Okeh, Gus Mul. Saya rasa, si pujaan hati merapat sendiri itu NKRI harga mati.
Tri Em, misalkan lagi, anak muda ini sangat piawai dalam mempromosikan konten jomblo. Sehingga, kata jomblo bukan lagi menjadi hal yang menyiksa, tetapi malah menjadi amunisi inspirasi untuk beraksi. Artinya, lewat status jomblo itulah, Tri Em, mampu mengaktualisasikan jomblo tidak hanya sekedar jomblo belaka. Tetapi jomblo yang berintgritas dalam berkarya. Terlepas dari Gus Mul dan Tri Em itu jomblo atau tidak, ia semacam junjungan jomblover yang sangat dikagumi oleh para pembaca tulisan-tulisannya.
Saya berteman dengan mereka di dunia maya, hanya sok kenal sok dekat, SKSD saja. Dan membaca tulisan-tulisan yang mereka hasilkan. Meski jomblo, mereka tidak sendirian dalam menuangkan kesendiriannya. Lewat tulisan yang ia lahirkan itu bentuk teman yang kongkrit. Dari dirinyalah yang mengaku jomblo itu mengalir luka yang dalam inspirasi.
Saya sedikit mengalirkan pandangan ke mantan konten jomblo itu. Secara sadar, saya termasuk penikmat saja bukan pecinta. Hanya selingan agar hidup saya tidak menoton. Tidak ada humor-humornya. Hanya tegang terus. Oleh karena, belajar berkisah tentang jomblo ini, serasa melemaskan otot-otot saya yang kencang. Tetapi sesekali mengalihkan pandangan ke kajian yang lebih berat muatan cintamu yakni membaca buku-buku metodologi maupun spiritualitas.
Mengikuti tulisan-tulisan yang sliweran di akun media sosial; dalam konten Jomblo memiliki tempat di hati mantan untuk khazanah jomblo(isme) di muka mantan bumi ini.
Konten-konten jomblo, seakan membuat saya menanggalkan sebentar ‘baju kebesaran’, yang sedang saya terjuni. Mereka dengan mudah mengalihkan rekontruksi yang sedang saya bangun. Tulisan yang mengandung wagu, humor, dan slengek-an, yang menghadirkan gelak tawa, kekeh dalam hati, memang memiliki penggemar di hati pembacanya. Ia serasa mengalihkan minat bacaan saya. Pada kesempatan yang langka ini, saya merasa mengekor atau memanfaatkan ketenaran mereka, supaya nama saya ikut terkatrol dan dikenal atas background mereka. Unsur lain yang tidak kalah penting adalah ikut belajar menulis versi slengek-an. Meski masih kaku dan wagu. Salam
إرسال تعليق