Orang yang sukses, tidak terlepas dari sikap disiplinnya yang tinggi. Disiplin menjadi kunci utama untuk meraih kesuksesan. Orang yang menempati posisi penting pada jabatan pemerintahan, akademisi, atau di banker pun karena ketelatenannya pada bidang yang digelutinya. Setiap harinya, ia mengerjakan tugas dengan penuh keseriusan dan penuh kekidmatan, juga kedisiplinan tinggi tinggi.
Orang besar seperti Soekarno, Hatta, Rhenald Kasali, dan tokoh-tokoh masyarakat di pemerintahan maupun di desa, tidak terlepas dari sikap menghargai bidang dan ilmunya. Ia tidak bisa menikmati kenyamanan dan kemudahan zaman. Terlebih lagi perbedaan zaman. Zaman dulu dan sekarang jelas berbeda.
Kalau orang dahulu disadarkan oleh keadaan, tapi orang sekarang dimudahkan oleh keadaan. Kedua zaman ini dibedakan karena teknologi informasi yang berkembang. Orang sekarang mudah dengan fasilitas yang serba cepat. Oleh karena, orang sekarang banyak yang memiliki sikap instan. Tidak menghargai sebuah proses dalam hidupnya. Semua tergantung pada kemudahan dan melupakan hal yang prinsipal sekalipun.
Oleh sebab itu, dalam bukunya Self Driver; menjadi driver atau passenger?(2014) mengelompokkan tiga tipe disiplin yang menyebabkan seseorang mencapai kesuksesan. Rhenald Kasali, dengan tegas mengklasifikasikan tiga jenis disiplin yang perlu kita kenali untuk membentuk diri menjadi seorang driver, forced discpiline, self discipline, dan indispline.
Pertama, Forced discipline. Disiplin ini karena gerakan dari luar. Seperti lembaga tempat bekerja, orangtua, guru, atau pelatih dalam sebuah tim. Orang yang disiplin faktor ini, ia lebih menikmati apa yang menjadi tuntutan dari sebuah kewajiban dari orang lain. Perubahan yang ia lakukan karena pengaruh pihak luar.
Banyak orang yang terpengaruh karena terinspirasi dari kolega atau rekan kerjanya. Faktor ini juga mempengaruhi kedisiplinan orang dalam memperbaiki kebiasaan buruk menjadi baik.
Kedua, Self discipline. Disiplin ini berasal dari dalam diri sendiri. Disiplin ini karena dorongan yang memang tersadar oleh keadaan, kemudian ia bertahap dalam melawan ketidaknyamanan-ketidaknyamanan diri.
Kegelisahan diri mempengaruhi orang untuk menjalani hidup lebih baik dengan cara melakukan hal-hal positif. Ketiga, Indisplin. Ini adalah perilaku yang tidak disiplin. Pemain sepak bola melakukan tindakan indisipliner dengan tidak tertib dalam berlatih maupun menjalankan perintah dari coachnya, mahasiswa yang tidak menyerahkan tugas pada dosen, dan lainnya sebagainya. Biasanya orang tipe indisiplin ini melakukan tindakan di luar ketentuan dan luar jam perhitungan.
Terlepas dari kesibukan yang saya lakukan akhir-akhir ini, karena di rumah paman ngunduh kemanten, saya mendisiplinkan diri untuk tetap menulis. Hal yang harus saya rawat adalah disiplin itu kunci utama untuk menghargai sebuah proses.
Seseorang yang besar seperti tokoh-tokoh di atas adalah tokoh yang melawan kesibukannya dengan menyempatkan diri pada bidang yang di gemari. Ini adalah tindakan yang sesuai koridor dalam ketentuan. Selama tindakannya tindak mengganggu aktivitas yang dikerjakan maka sah dan malah menurut saya positif.
Awal mula tindakan yang saya lakukan ini adalah pengaruh dari orang lain, kalau menurut Prof. Rhenald Kasali Forced Discpline, atau didisiplinkan oleh orang lain. Pertama yang mempengaruhi saya menulis adalah Nurani Soyomukti penulis muda asal Trenggalek yang sekarang menjabat sebagai komisioner KPU Kab. Trenggalek. Ia dengan gigit memotivasi saya untuk tetap menulis.
Begitupun dengan Dr. Ngainun Naim dan Pak Wawan Susetya, beliau juga mempengaruhi saya dengan energi menulisnya.
Kalau saya boleh menghardik diri sendiri, saya kasih tahap belajar. Dengan disiplin forced ini, pengaruh mereka membantu saya menjadi self discpline atau displin karena diri sendiri. Dan inilah yang harus saya jawab dengan tantangan mendisiplinkan diri dari kenyamanan faktor luar. Karena pengaruh dari luar akan mencapai titik tertinggi manakala disiplin yang kokoh pula.
Perhatikanlah, orang-orang yang tidak memiliki sikap disiplin--dalam dunia kerja--ia datang dengan sesuka hati, pulang semaunya sendiri, Kerja dengan tenggat waktu tidak teratur. Namun hal demikian tidak banyak orang yang melakukan tindakan tersebut, karena atasnya pasti tidak akan membiarkan bawahannya bekerja dengan etos indisipliner.
Oleh karena itu, etos disiplin perlu sekali ditanamkan pada kita sendiri, sebelum mendisiplinkan diri oranglain. Karena mendisiplinkan diri lebih memiliki muatan menjadi pribadi driver, seperti yang diutarakan oleh Prof. Rhenald Kasali tersebut.[]
Orang besar seperti Soekarno, Hatta, Rhenald Kasali, dan tokoh-tokoh masyarakat di pemerintahan maupun di desa, tidak terlepas dari sikap menghargai bidang dan ilmunya. Ia tidak bisa menikmati kenyamanan dan kemudahan zaman. Terlebih lagi perbedaan zaman. Zaman dulu dan sekarang jelas berbeda.
Kalau orang dahulu disadarkan oleh keadaan, tapi orang sekarang dimudahkan oleh keadaan. Kedua zaman ini dibedakan karena teknologi informasi yang berkembang. Orang sekarang mudah dengan fasilitas yang serba cepat. Oleh karena, orang sekarang banyak yang memiliki sikap instan. Tidak menghargai sebuah proses dalam hidupnya. Semua tergantung pada kemudahan dan melupakan hal yang prinsipal sekalipun.
Oleh sebab itu, dalam bukunya Self Driver; menjadi driver atau passenger?(2014) mengelompokkan tiga tipe disiplin yang menyebabkan seseorang mencapai kesuksesan. Rhenald Kasali, dengan tegas mengklasifikasikan tiga jenis disiplin yang perlu kita kenali untuk membentuk diri menjadi seorang driver, forced discpiline, self discipline, dan indispline.
Pertama, Forced discipline. Disiplin ini karena gerakan dari luar. Seperti lembaga tempat bekerja, orangtua, guru, atau pelatih dalam sebuah tim. Orang yang disiplin faktor ini, ia lebih menikmati apa yang menjadi tuntutan dari sebuah kewajiban dari orang lain. Perubahan yang ia lakukan karena pengaruh pihak luar.
Banyak orang yang terpengaruh karena terinspirasi dari kolega atau rekan kerjanya. Faktor ini juga mempengaruhi kedisiplinan orang dalam memperbaiki kebiasaan buruk menjadi baik.
Kedua, Self discipline. Disiplin ini berasal dari dalam diri sendiri. Disiplin ini karena dorongan yang memang tersadar oleh keadaan, kemudian ia bertahap dalam melawan ketidaknyamanan-ketidaknyamanan diri.
Kegelisahan diri mempengaruhi orang untuk menjalani hidup lebih baik dengan cara melakukan hal-hal positif. Ketiga, Indisplin. Ini adalah perilaku yang tidak disiplin. Pemain sepak bola melakukan tindakan indisipliner dengan tidak tertib dalam berlatih maupun menjalankan perintah dari coachnya, mahasiswa yang tidak menyerahkan tugas pada dosen, dan lainnya sebagainya. Biasanya orang tipe indisiplin ini melakukan tindakan di luar ketentuan dan luar jam perhitungan.
Terlepas dari kesibukan yang saya lakukan akhir-akhir ini, karena di rumah paman ngunduh kemanten, saya mendisiplinkan diri untuk tetap menulis. Hal yang harus saya rawat adalah disiplin itu kunci utama untuk menghargai sebuah proses.
Seseorang yang besar seperti tokoh-tokoh di atas adalah tokoh yang melawan kesibukannya dengan menyempatkan diri pada bidang yang di gemari. Ini adalah tindakan yang sesuai koridor dalam ketentuan. Selama tindakannya tindak mengganggu aktivitas yang dikerjakan maka sah dan malah menurut saya positif.
Awal mula tindakan yang saya lakukan ini adalah pengaruh dari orang lain, kalau menurut Prof. Rhenald Kasali Forced Discpline, atau didisiplinkan oleh orang lain. Pertama yang mempengaruhi saya menulis adalah Nurani Soyomukti penulis muda asal Trenggalek yang sekarang menjabat sebagai komisioner KPU Kab. Trenggalek. Ia dengan gigit memotivasi saya untuk tetap menulis.
Begitupun dengan Dr. Ngainun Naim dan Pak Wawan Susetya, beliau juga mempengaruhi saya dengan energi menulisnya.
Kalau saya boleh menghardik diri sendiri, saya kasih tahap belajar. Dengan disiplin forced ini, pengaruh mereka membantu saya menjadi self discpline atau displin karena diri sendiri. Dan inilah yang harus saya jawab dengan tantangan mendisiplinkan diri dari kenyamanan faktor luar. Karena pengaruh dari luar akan mencapai titik tertinggi manakala disiplin yang kokoh pula.
Perhatikanlah, orang-orang yang tidak memiliki sikap disiplin--dalam dunia kerja--ia datang dengan sesuka hati, pulang semaunya sendiri, Kerja dengan tenggat waktu tidak teratur. Namun hal demikian tidak banyak orang yang melakukan tindakan tersebut, karena atasnya pasti tidak akan membiarkan bawahannya bekerja dengan etos indisipliner.
Oleh karena itu, etos disiplin perlu sekali ditanamkan pada kita sendiri, sebelum mendisiplinkan diri oranglain. Karena mendisiplinkan diri lebih memiliki muatan menjadi pribadi driver, seperti yang diutarakan oleh Prof. Rhenald Kasali tersebut.[]
emang kadang susah tuh utk disiplin. apalagi tetap dikala paman sedang ngunduh manten... makin berat tantangan untuk mencari waktu dan tempat meluangkan ide ke dalam postingan :D
ردحذفHuahhaha. Pengalaman pribadi ya mbak?
ردحذفAku kemarin juga gitu, aku malah dapat inspirasi loh. Kalau di desa itu kan ada tuh uang nulisin hadiah buat si empunya rumah, baik hadiah berupa uang atau lainnya, nah itu gua dijadiin tukang nulis hadiah itu, nah itu gua nulis dengan judul "penulis rewang(an). Huahahah
besok minta fee 10 persen ya dari jumlah bruto 😂
ردحذف😂 janganlah... gak enak hati kalau minta, tapi kalao dikasih ya bisa jadi. Hehehe
ردحذفإرسال تعليق