Zaman sekarang sudah semakin canggih, serba teknologi, sekarang bisa mengakses apa pun dimana pun tinggal ketik kemudian tampak hasilnya. Memang dunia sekarang orang-orang tidak lepas oleh yang namanya dunia maya, sehingga alangkah baiknya memanfaatkan kearah yang positif. Begitu mudah cara untuk mengaksesnya sebuah internet, manusia seakan berdiri dalam dua dunia, yaitu dunia nyata dan dunia maya. Maka untuk menunjang produktifis seseorang dalam berkarir budaya yang baik harus dilakukan dari rumah maupun di luar rumah. Budaya membaca di rumah sejatinya harus di giatkan.
Tetapi sekarang untuk membudayakan membaca di rumah amatlah susah, lihat saja anak muda sekarang! Lebih suka nongkrong di tepi jalan dengan aktifitasnya, yaitu “ngopi”. Dan menjadi kaum yang konsumtif dan hedonis. Mereka untuk tinggal di rumah pun sulit, paling-paling rumah hanya untuk tempat berganti pakaian, untuk beristirahat sebentar, dan kemudian keluar lagi bersama teman-teman yang lain. Budaya membaca seharusya di giatkan untuk merangsang intelektualnya.
Sering kali menyumpai anak yang susah untuk tradisi budaya membaca di rumah. Mungkin karena orang tuanya tidak memiliki tradisi membaca, sehingga anaknya pun juga memiliki anggapan yang sama dengan orang tuanya “Orang tuaku saja tidak pernah membaca, kenapa aku harus membaca?” Dari asumsi anak tersebut setidaknya orang tua harus cerdas dan jeli. Dengan cara membelikan buku-buku bacaan dan di tempatkan di tempat yang strategis yang mudah untuk dijangkau oleh anaknya tersebut. Di tempat tidurnya anak, di ruang tamu, mau pundi di ruang makan. Secara tidak sadar anak tersebut berstimulan uuntuk meraihnya dan penasaran dengan warna maupun gambar (baca: cover buku) sehingga ada iktikad membaca.
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib sautu kaum sehingga kaum itu sendiri yang mengubahnya”
Memang kesulitan untuk mendapatkan buku bacaan untuk anak kecil di kota kecil memang gampang-gampang susah. Malah tidak ada yang berjualan atau toko buku. Kalau di kota-kota besar seperti Surabaya, Malang, Maupun Bandung, sudah banyak toko buku, bahkan buku yag di jual sudah masuk kategori mencukupi. Tetapi berbeda dengan tempat tinggal saya, tidak ada tempat yang menjual buku bacaan maupun buku yang lain, kalau pun ada tidak seberapa banyaknya. Hingga untuk membelinya pun harus keluar kota dengan jarak tempuh yang cuku penguras tenaga dan yang lain.
Sangat sedih memang, jika membandingkan dengan Jepang. Saya ingat, setelah Hiroshima dan Nagasaki di bom atom oleh “Amerika”. Kaisar Jepang hanya bertanya satu hal: Ada berapa guru yang hidup?
Mengutip dari buku Gola Gong. Lihatlah! Menurut daya dari Bunkannews (situs media massa berbahasa jepang), jumlah toko buku di Jepang sama dengan di Amerika. Lucunya, luas negara Amerika 26 kali luas Jepang. Penduduknya juga 2 kali lebih banyak. Hebatnya, setengahnya adalah toko buku bekas sehingga masyarakat Jepang bisa membeli dengan harga murah. Lantas bagaimana di Indonesia negeriku ini? Negeri ini memang seperti yang kita lihat sekarang masih dalam “tahap”.
Menurut cerita yang saya baca. Ada dua hal yang tampak ketika di Jepang yaitu kalau tidak membaca ya tidur. Naik bis kota, subway, dan jalan-jalan ke mana saja orang membaca buku. Tak kenal waktu. Korannya pun tebal-tebal dan bisa dijadikan alas tidur jika mengantuk di stasiun kereta bawah tanah. Setelah membaca, kadang mereka meninggalkan begitu saja di bangku-bangku stasiun atau tong sampah, saya betul betul kagum di buatnya. Makin kagum karena toko buku di Jepang tutupnya lebih lama ketimbang departement store.
Membaca adalah aktifitas intelektual, dimana orang akan berimajinasi , berfikir dan seolah-olah membaca terjadi aktifitas interaksi, berdialog, berdiskusi maupun mengajak bicara dengan penulisan, keintiman itu terasa karena memang membaca itu mempersiapkan untuk memaknai dari apa yang disampaikan oleh penulis, membaca itu dihadapkan dengan sebuah realitas yang ada.
Budaya membaca harus di bangun sejak sedini mungkin. Bahkan penerapandalam Surat al-Alaq: Iqra’ bismi rabbikalaldzi khalaq: bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan. Itulah wahyu pertama Allah kepada Muhammad. Bacalah! Kata Allah, bukan “berhitunglah”. Allah menyuruh kita untuk “membaca” isi dunia ini. Untuk membuka segala misteri siptakaan-Nya. Bukan untuk menghitungdalam perspektif uang. Jadi, dengan membaca kisah pergumulanku dengan buku, aku harap banyak orangtua yang bisa mengambil hikmah.
Bahkan, seorang penyair Taufiq ismail sangar concern pada hal ini. Dia melakukan penelitian menegenai pelajaran sastra dan mengarang tingkat SMA di 13 negara. Hasilnya, SMA-SMA di Singapura menugasi para siswanya membaca novel sastra sebanyak 6 judul: Brunei 7 judul: Thailand 5 judul: Jepang 15 judul: jerman 22 judul: Amerika 32 judul: Kanada 13 judul: Prancis 20 judul: Belanda 30 judul: dan di Indonesia, masya Allah... 0 (nol) judul sementara, sedangkan dalam negeri korup Indonesia berada di divisi utama.
Kembali lagi ke persoalan budaya membaca di rumah (reading habit) di lingkungan keluarga. Selain menyuruh anak-anak membaca buku, juga harus membacakan cerita. Dan bahkan budaya lisan yang dulu di bangun nenek moyang, tidak banyak masyarakat kita melakukan tradisi tersebut. Ungakapan tersebut saya yakin memang benar adanya. Dalam lingkungan keluarga dan masyarakat pada umumnya tidak ada lagi budaya cerita dongeng-dongeng cerita dahulu. Banyak sekali anak-anak yang tidak tahu asal-usul desanya maupun sejarah tempat tinggalnya. Ini terbukti ketika saya ikut sebuah diskusi, ketika itu para kaum muda tidak bisa menceritakan desanya. Kenapa desanya di beri nama tersebut? Dengan terdiam, tidak bisa mengungkapkan ceritanya.
Pendapat Elizabeth B. Hurlock (1980), “Sekalipun anak-anak sudah mulai bermain dengan anak-anak di luar rumah, keluarga masih merupakan pengaruh sosialisasi yang terpenting, sehingga pembentukkan karakter yang paling berhasil adalah dalam keluarga.” Ya, saya setuju. Keluarga merupakan pendidik pertama dan utama.
Untuk membudayakan membaca dalam rumah ada beberapa cara membangun budaya baca di rumah:
1. Sebelum menularkan ke lingkungan tempat kita tinggal, mulai dengan membangunnya dilingkungan keluarga;
2. Orangtua memberi contoh membaca, bukan memaksa si anak agar membaca;
3. Selain di dalam kamar si anak, sediakan rak buku di tempat strategis di rumah, misalnya ruang keluarga atau ruang makan;
4. Beri kesempatan pada si anak untuk berlanganan majalah atau koran kesukaannya.
Tetapi sekarang untuk membudayakan membaca di rumah amatlah susah, lihat saja anak muda sekarang! Lebih suka nongkrong di tepi jalan dengan aktifitasnya, yaitu “ngopi”. Dan menjadi kaum yang konsumtif dan hedonis. Mereka untuk tinggal di rumah pun sulit, paling-paling rumah hanya untuk tempat berganti pakaian, untuk beristirahat sebentar, dan kemudian keluar lagi bersama teman-teman yang lain. Budaya membaca seharusya di giatkan untuk merangsang intelektualnya.
Sering kali menyumpai anak yang susah untuk tradisi budaya membaca di rumah. Mungkin karena orang tuanya tidak memiliki tradisi membaca, sehingga anaknya pun juga memiliki anggapan yang sama dengan orang tuanya “Orang tuaku saja tidak pernah membaca, kenapa aku harus membaca?” Dari asumsi anak tersebut setidaknya orang tua harus cerdas dan jeli. Dengan cara membelikan buku-buku bacaan dan di tempatkan di tempat yang strategis yang mudah untuk dijangkau oleh anaknya tersebut. Di tempat tidurnya anak, di ruang tamu, mau pundi di ruang makan. Secara tidak sadar anak tersebut berstimulan uuntuk meraihnya dan penasaran dengan warna maupun gambar (baca: cover buku) sehingga ada iktikad membaca.
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib sautu kaum sehingga kaum itu sendiri yang mengubahnya”
Memang kesulitan untuk mendapatkan buku bacaan untuk anak kecil di kota kecil memang gampang-gampang susah. Malah tidak ada yang berjualan atau toko buku. Kalau di kota-kota besar seperti Surabaya, Malang, Maupun Bandung, sudah banyak toko buku, bahkan buku yag di jual sudah masuk kategori mencukupi. Tetapi berbeda dengan tempat tinggal saya, tidak ada tempat yang menjual buku bacaan maupun buku yang lain, kalau pun ada tidak seberapa banyaknya. Hingga untuk membelinya pun harus keluar kota dengan jarak tempuh yang cuku penguras tenaga dan yang lain.
Sangat sedih memang, jika membandingkan dengan Jepang. Saya ingat, setelah Hiroshima dan Nagasaki di bom atom oleh “Amerika”. Kaisar Jepang hanya bertanya satu hal: Ada berapa guru yang hidup?
Mengutip dari buku Gola Gong. Lihatlah! Menurut daya dari Bunkannews (situs media massa berbahasa jepang), jumlah toko buku di Jepang sama dengan di Amerika. Lucunya, luas negara Amerika 26 kali luas Jepang. Penduduknya juga 2 kali lebih banyak. Hebatnya, setengahnya adalah toko buku bekas sehingga masyarakat Jepang bisa membeli dengan harga murah. Lantas bagaimana di Indonesia negeriku ini? Negeri ini memang seperti yang kita lihat sekarang masih dalam “tahap”.
Menurut cerita yang saya baca. Ada dua hal yang tampak ketika di Jepang yaitu kalau tidak membaca ya tidur. Naik bis kota, subway, dan jalan-jalan ke mana saja orang membaca buku. Tak kenal waktu. Korannya pun tebal-tebal dan bisa dijadikan alas tidur jika mengantuk di stasiun kereta bawah tanah. Setelah membaca, kadang mereka meninggalkan begitu saja di bangku-bangku stasiun atau tong sampah, saya betul betul kagum di buatnya. Makin kagum karena toko buku di Jepang tutupnya lebih lama ketimbang departement store.
Membaca adalah aktifitas intelektual, dimana orang akan berimajinasi , berfikir dan seolah-olah membaca terjadi aktifitas interaksi, berdialog, berdiskusi maupun mengajak bicara dengan penulisan, keintiman itu terasa karena memang membaca itu mempersiapkan untuk memaknai dari apa yang disampaikan oleh penulis, membaca itu dihadapkan dengan sebuah realitas yang ada.
Budaya membaca harus di bangun sejak sedini mungkin. Bahkan penerapandalam Surat al-Alaq: Iqra’ bismi rabbikalaldzi khalaq: bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan. Itulah wahyu pertama Allah kepada Muhammad. Bacalah! Kata Allah, bukan “berhitunglah”. Allah menyuruh kita untuk “membaca” isi dunia ini. Untuk membuka segala misteri siptakaan-Nya. Bukan untuk menghitungdalam perspektif uang. Jadi, dengan membaca kisah pergumulanku dengan buku, aku harap banyak orangtua yang bisa mengambil hikmah.
Bahkan, seorang penyair Taufiq ismail sangar concern pada hal ini. Dia melakukan penelitian menegenai pelajaran sastra dan mengarang tingkat SMA di 13 negara. Hasilnya, SMA-SMA di Singapura menugasi para siswanya membaca novel sastra sebanyak 6 judul: Brunei 7 judul: Thailand 5 judul: Jepang 15 judul: jerman 22 judul: Amerika 32 judul: Kanada 13 judul: Prancis 20 judul: Belanda 30 judul: dan di Indonesia, masya Allah... 0 (nol) judul sementara, sedangkan dalam negeri korup Indonesia berada di divisi utama.
Kembali lagi ke persoalan budaya membaca di rumah (reading habit) di lingkungan keluarga. Selain menyuruh anak-anak membaca buku, juga harus membacakan cerita. Dan bahkan budaya lisan yang dulu di bangun nenek moyang, tidak banyak masyarakat kita melakukan tradisi tersebut. Ungakapan tersebut saya yakin memang benar adanya. Dalam lingkungan keluarga dan masyarakat pada umumnya tidak ada lagi budaya cerita dongeng-dongeng cerita dahulu. Banyak sekali anak-anak yang tidak tahu asal-usul desanya maupun sejarah tempat tinggalnya. Ini terbukti ketika saya ikut sebuah diskusi, ketika itu para kaum muda tidak bisa menceritakan desanya. Kenapa desanya di beri nama tersebut? Dengan terdiam, tidak bisa mengungkapkan ceritanya.
Pendapat Elizabeth B. Hurlock (1980), “Sekalipun anak-anak sudah mulai bermain dengan anak-anak di luar rumah, keluarga masih merupakan pengaruh sosialisasi yang terpenting, sehingga pembentukkan karakter yang paling berhasil adalah dalam keluarga.” Ya, saya setuju. Keluarga merupakan pendidik pertama dan utama.
Untuk membudayakan membaca dalam rumah ada beberapa cara membangun budaya baca di rumah:
1. Sebelum menularkan ke lingkungan tempat kita tinggal, mulai dengan membangunnya dilingkungan keluarga;
2. Orangtua memberi contoh membaca, bukan memaksa si anak agar membaca;
3. Selain di dalam kamar si anak, sediakan rak buku di tempat strategis di rumah, misalnya ruang keluarga atau ruang makan;
4. Beri kesempatan pada si anak untuk berlanganan majalah atau koran kesukaannya.
إرسال تعليق