"Dalam bayangan kita, sekolah memiliki misi untuk mengembangkan pemahaman siswa yang mendalam terhadap sejumlah bidang studi inti. Sekolah akan mendorong siswa menggunakan pengetahuan yang diperoleh untuk memecahkan masalah dan menyelesaikan tugas yang bakal mereka hadapi dalam masyarakat yang lebih luas”—Howard Gardner
Kita ketahui bersama betapa rumitnya kondisi pendidikan di Indonesia sekarang ini. Persoalan demi persoalan seolah begitu sulit untuk diurai. Mengatasi persoalan yang belum sampai tuntas, sudah muncul persoalan lain. Selalu saja timbul permasalahan yang kecil maupun besar, seakan enggan untuk beralih menjadi lebih baik. Begitu seterusnya, sehingga seolah kita kehilangan kesempatan yang lebih menggerakkan, memberdayakan, dan menjanjikan perubahan sebagaimana yang diharapkan.
Saya tidak akan menyinggungnya satu persatu persoalan yang ada, karena saya tidak memiliki lahan untuk membahas permasalahan yang ada saat ini. Tentunya harus memiliki lahan yang cukup banyak mengulas remeh-temeh persoalan yang mendera pendidikan di negara Indonesia ini.
Selama ini masyarakat secara umum memahami bahwa untuk melakukan perubahan yang cukup signfikan dibutuhkan energi besar, persiapan matang, biaya yang tidak sedikit dan seterusnya. Sektor sekolah demikian pula universitas juga ikut terlipat untuk kemajuan suatu bangsa di sektor pendidikan. Sebab sekolah, universitas sesungguhnya yang menjadi kunci reformasi dalam dunia pendidikan.
Dalam hal ini untuk merubah pendidikan dalam kapasitas internal kampus (Universitas) maka dibutuhkan adalah segala hal memang bersifat besar dan membutuhkan biaya yang cukup banyak pula. Tentunya juga partisipasi aktif semua pihak pemegang kebijakan dan para loyalis kampus tanpa terkecuali. Namun tak ada gading yang tak retak, artinya pada usaha orang pasti ada titik kelemahan. Hal semacam itu wajar dan sah-sah saja.
Bisa kita lihat bersama, di universitas yang saya sendiri berproses dengan almamater kebanggaan biru telah mengalami kemajuan dalam soal pembangunan. Ini adalah langkah positif yang dilakukan oleh pihak pengambil kebijakan. Banyak perbaikan fasilitas dan sarana dan prasarana saya amati ada beberapa penambahan bangunan yang akan dijadikan kegiatan aktifitas mahasiswa. Ini adalah keputusan yang cukup baik demi kemajuan sebuah kampus untuk meningkatkan intelektual, praktisnya menambah asa belajar mahasiswa dalam mencari ilmu di khalayak kampus atau sekolah.
Universitas sebagai alat untuk menumbuhkan semangat belajar kepada para peserta didik untuk membuat menjadi lebih baik, dari hal yang tidak ia ketahui menjadi ia ketahui. Kiranya kampus menjadi daya tarik untuk meningkatkan potensi kemampuan siswa untuk belajar dan mendapat kehidupan yang lebih baik dikemudian hari. Banyak orang-orang yang sukses tanpa langsung merasakan langsung disiplin ilmu dalam kawah candra dimuka universitas itu. Akan tetapi orang yang belajar dengan sendiri, meminjam istilah Emha Ainun Najib—“Universitas kehidupan”. Seperti ungkapan yang sering kita dengar pengalamanlah yang menjadi pelajaran dan guru yang luar biasa, sehingga menjadi orang yang lebih baik dan sukses. Manakala ada, jumlahnya hanya sedikit yang berhasil dalam hal tersebut.
Lantas, cara yang praktis dilakukan mahasiswa di Universitas, khususnya universitas dengan sering diberi sebutan kampus biru, karena almameternya biru, ini mahasiswa di minta peran aktif untuk memupuk semangat belajar diluar kelas maupun di dalam kelas. Hal tersebut, kiranya menjadi langkah intensif yang harus dikejar oleh mahasiswa. Organisasi, diskusi misalnya.
Iklim dan Tradisi
Proses belajar mengajar tidak hanya terpaku dalam kelas saja, ini artinya banyak aktifitas yang seharusnya dilakukan untuk menambah ilmu dan khazanah pengetahuan oleh mahasiswa. Mungkin saja membutuhkan alat bantu diantaranya; lingkungan, teman atau membaca buku. Dan ini tidak banyak yang mau berkecimpung ke dalam organisasi, sehingga mahasiswa tersebut terkenal dengan sebutan mahasiswa “kupu-kupu” (kuliah-pulang, kuliah-pulang), tradisi inilah yang seharusnya dipotong dari mata rantai oleh pola pikir mahasiswa itu sendiri. Belajar bukan hanya duduk di kelas kemudian mendengarkan guru berbicara setelah itu pulang. Atau lebih populer dengan D3 (datang, duduk, dengar).
Namun pendidikan dalam artian luas lagi, yakni selain mengikuti kuliah, mahasiswa seharusnya juga aktif dalam kegiatan ekstra kampus, dan aktif juga berdiskusi maupun pergi bertandang ke perpustakaan untuk menyelami buku-buku yang ada. Saya teringat apa yang di sampaikan oleh Rektor Paramadina, Anies Baswedan pernah berujar “IP yang baik hanya akan mengantarkan Anda wawancara. Tetapi yang membuat anda diterima adalah leadership skill, karakter dan etos dan itu semua didapatkan tidak di ruang kelas”. Penggagas Indonesia Mengajar ini juga menanmbahkan “Di Universitas, mahasiswa tidak hanya mendapatkan transkrip akademik tetapi juga transkrip non akademik. Transkrip non akademik mencatat kegiatan para mahasiswa dalam berorganisasi. Bagi saya lulus dengan IPK tinggi itu baik, tapi lulus dengan IPK baik plus pengalaman organisasi jauh lebih baik”. Namun tidak sedikit mahasiswa yang sadar akan penting sebuah organisasi kampus. Yang saya amati hanya orang-orang itu saja yang berkecimpung didalamnya.
Sementara itu, untuk memperoleh pengetahuan yang belum ia dapatkan di dalam kelas, mahasiswa bisa mendapatkan membaca buku. Sekarang banyak sekali buku yang dijual di toko buku, tidak seperti Masa orde baru dahulu, penerbitan buku dibatasi bahkan bisa juga dibredel dari peredarannya. Sekarang buku banyak yang beredar di toko buku, namun kalau memang keberatan untuk membelinya, atau kalah dengan anggaran pulsa atau karena kalah degan hedonisnya bisa mencari alternatif lain, yakni berkunjung ke perpustakaan kampus. Lagi-lagi bisa kita amati. Orang-orang yang aktif di dalam perpustakaan hanya orang itu-itu saja. Bahkan yang tandang di dalam perpustakaan sehari itu di daftar pengunjung hanya tertera 100 orang setiap harinya, itu pun beberapa mahasiswa yang mengembalikan buku yang di pinjem kemudian ia mengundurkan diri dari perpustakaan. Itu artinya perbandingan buku dengan jumlah mahasiswa yang berbeda jauh jomplang, bisa dikatakan dramatis maupun kritis intelektual.
Sebenarnya, saya kangen ueforia dengan iklim diskusi di bawah-bawah pohon, seperti citivas akademika di kampus-kampus besar disana. Artinya kuliah tidak hanya terpaku dalam kelas saja. Biasanya kuliah yang terbatas oleh ruang hanya mahasiswa yang duduk didepan saja yang mengikuti, yang belakang bermain sendiri, masa “bodo” dengan pelajaran yang menjenuhkan itu. Kuliah dengan suasana DPR (dibawah pohon rindang) tentunya asyik sekali. Bisa diibaratkan iklim belajar yang bebas tanpa sekat bangku dan kursi belaka. Suasana diskusi ini mahasiswa tentunya tidak akan jenuh, antusiasnya meningkat dengan hembusan angin sepoi-sepoi dari pohon tersebut tidak seperti didalam kelas seperti biasanya.
Namun, di Universitas Nusantara ini kegiatan tersebut jauh api dari panggang. Tidak bisa dilaksanakan secara optimal. Bisa kita lihat, iklim yang seperti ini yang seharusnya di bentuk, namun tak ada wadah untuk mengapresiasikan. Karena lahan tempat parkir yang tidak memadai untuk menampung kendaraan sehingga tempat tak sekat itu tak bisa kita temui. Kebiasaan berdiskusi dibawah pohon bertemankan jajan ringan dan kopi tak jua menjadi tontonan yang menarik lagi. Ini sangat disayangkan sekali iklim belajar yang seperti ini tak juga di senggol. Adanya mahasiswa yang habis kuliah ia langsung pergi di warkop dengan mengobrolkan yang tak berkaitan dengan pelajaran maupun pengetahuan malah menjadi tradisi. Ia lebih suka membicarakan remeh-temeh hal yang tak penting.
Manusia-Manusia Baru
Peningkatan kualitas pendidikan tentunya mencakup seluruh komponen; mulai dari pendidik, sarana prasarana, hingga (mahasiswa). Mahasiswa dengan gelar “maha” (besar) yang tersemat dalam dirinya, masyarakat menaruh harapan di pundak mereka para kaum intelektual. Namun apakah mahasiswa sekarang sudah lebih baik daripada mahasiswa sebelumnya? Pada masa orde baru, mahasiswa masa itu lebih mementingkan kepentingan bersama. Bisa kita lihat, dahulu mahasiswa memikirkan kemajuan sebuah bangsa ketimbang memikirkan IPK yang hanya kamuflase belaka. Bisa dikatakan mahasiswa altruis yang mampu bertahan dengan mementingkan kepentingan kemajuan bersama, negara kita. Seperti halnya, Soe Hok Gie, seorang mahasiswa pemikir, Soekarno, Moh. Hatta, Sjahrir, Tan Malaka dan masih banyak lagi. Saya tidak bisa menyembunyikan lulusan yang satu ini, Mark Zuckerberg dengan fasilitas facebooknya yang kita nikmati bersama. Itu semua adalah alumnus dari Universitas dengan pemampuan berfikir Progresif yang mampu melahirkan sebuah pemikiran untuk dipakai orang lain sesudahnya.
Bahkan Muhammad Hatta pernah berujar “Proses pembelajaran yang benar seyogyanya bukan menghasilkan manusia-manusia biasa yang hanya bisa menimba dan mengerti ilmu melainkan juga manusia yang bisa memancarkan ilmu itu dan meninggalkan legacy bagi generasi penerusnya”. Itu artinya pendidikan seharusnya meninggalkan buah pemikiran untuk di konsumsi orang berikutnya, sehingga terjadi feedback dari proses yang tidak bim salabim langsung jadi tanpa proses panjang dan tersusun secara sistematis.
Namun sekarang, kita ternina-bobokan oleh sulitnya mencari pekerjaan. Sehingga kuliahpun kita harus aktif, dengan asumsi dengan aktif kuliah yang dilakoni setiap hari di kemudian hari akan sukses dengan IPK yang sangat memuaskan. Kuliah sudah sewajarnya memikirkan masa depan. Ya, itu hal lumrah yang dipikirkan oleh mahasiswa pada umumnya. Bisa kita lihat banyak sekali sarjana-sarjana yang menganggur bahkan disibukkan dengan berkas-berkas lamaran yang mereka pertentang-tentengkan kesana kemarin hanya mencari pekerjaan. Namun kita tidak boleh lupa kancah yang harus kita hadapi masyarakat dengan beribu-ribu karakter. Tentunya kita bisa belajar di dalam kawasan Universitas ini dengan bersosialisai belajar di organisasian. Karena masyarakat kita pun juga bersifat komunitas.
Tantangan menjadi agent of change tentu bisa terjawab apabila ia telah matang di dalam penggodokan kawah candra dimuka, Universitas. Eksistensi mereka di dalam dunia masyarakat akan terpanggil manakala mereka menjadi manusia baru. Mahasiswa seperti ini tidak akan luput dengan kecerdasan interpersonal seperti dikatakan Jasmine “Jika Anda memutuskan untuk memakai pendekatan ini, situasi Anda—setidaknya sebagian hari, tidak seharian—akan dekat denan situasi ideal di mana Anda akan terekspos langsung dalam kecerdasan itu bersama dengan aktifitas yang ada memperkaya dan memperkuat pengalaman” (Ngainun Naim, 2099)
Jika mahasiswa telah belajar dengan kompetitif di kawah candradimuka, mengaktualisasi dan intelektualitas yang mumpuni, mahasiswa dengan penggodokan di universitas berbeda dengan yang hanya kuliah-pulang, kuliah pulang. Seperti kata bijak yang sering di kutip banyak orang “Orang-orang besar tidak dilahirkan. Mereka ditempa, diukir, dan dipersiapkan oleh pendidikan yang baik”—Mohammad Fauzil Adhim seorang penulis buku Parenting.
Kiranya benar apa yang dikatakan oleh penulis tersebut. Mahasiswa yang ditempa dengan terpola dengan sistematis outputnya di barengi dengan intelektual dan menguasai teknologi, berorganisasi dan moral agama, tentu dicari banyak orang bahkan instansi. Mahasiswanya sepatutnya memiliki kontribusi yang nyata untuk membangun masyarakat dan bukan hanya embel-embel jas dan almameter belaka. Lantaran mahasiswa sebagai pondasi awal untuk memperbaiki keadaan di negara Indonesia ini menjadi lebih baik. Inilah dialetika yang seharusnya terjalin, sehingga terjadi timbal-balik yang mau belajar bukan hanya belajar di dalam kelas namun juga mencari ilmu ditimbunan semak belukar sekalipun, bahkan ia ditempa sedemikian beratnya sehingga rekontruksi (pengembalian) pendidikan mahasiswa bisa terasa dengan sendirinya. Sehingga Indonesia tidak lagi tergilas dengan kebijakan globalisasi, manakala bisa mencetak mahasiswa yang bisa dihandalkan dalam kancah percaturan masyarakat nasional maupun internasional.[]
Kita ketahui bersama betapa rumitnya kondisi pendidikan di Indonesia sekarang ini. Persoalan demi persoalan seolah begitu sulit untuk diurai. Mengatasi persoalan yang belum sampai tuntas, sudah muncul persoalan lain. Selalu saja timbul permasalahan yang kecil maupun besar, seakan enggan untuk beralih menjadi lebih baik. Begitu seterusnya, sehingga seolah kita kehilangan kesempatan yang lebih menggerakkan, memberdayakan, dan menjanjikan perubahan sebagaimana yang diharapkan.
Saya tidak akan menyinggungnya satu persatu persoalan yang ada, karena saya tidak memiliki lahan untuk membahas permasalahan yang ada saat ini. Tentunya harus memiliki lahan yang cukup banyak mengulas remeh-temeh persoalan yang mendera pendidikan di negara Indonesia ini.
Selama ini masyarakat secara umum memahami bahwa untuk melakukan perubahan yang cukup signfikan dibutuhkan energi besar, persiapan matang, biaya yang tidak sedikit dan seterusnya. Sektor sekolah demikian pula universitas juga ikut terlipat untuk kemajuan suatu bangsa di sektor pendidikan. Sebab sekolah, universitas sesungguhnya yang menjadi kunci reformasi dalam dunia pendidikan.
Dalam hal ini untuk merubah pendidikan dalam kapasitas internal kampus (Universitas) maka dibutuhkan adalah segala hal memang bersifat besar dan membutuhkan biaya yang cukup banyak pula. Tentunya juga partisipasi aktif semua pihak pemegang kebijakan dan para loyalis kampus tanpa terkecuali. Namun tak ada gading yang tak retak, artinya pada usaha orang pasti ada titik kelemahan. Hal semacam itu wajar dan sah-sah saja.
Bisa kita lihat bersama, di universitas yang saya sendiri berproses dengan almamater kebanggaan biru telah mengalami kemajuan dalam soal pembangunan. Ini adalah langkah positif yang dilakukan oleh pihak pengambil kebijakan. Banyak perbaikan fasilitas dan sarana dan prasarana saya amati ada beberapa penambahan bangunan yang akan dijadikan kegiatan aktifitas mahasiswa. Ini adalah keputusan yang cukup baik demi kemajuan sebuah kampus untuk meningkatkan intelektual, praktisnya menambah asa belajar mahasiswa dalam mencari ilmu di khalayak kampus atau sekolah.
Universitas sebagai alat untuk menumbuhkan semangat belajar kepada para peserta didik untuk membuat menjadi lebih baik, dari hal yang tidak ia ketahui menjadi ia ketahui. Kiranya kampus menjadi daya tarik untuk meningkatkan potensi kemampuan siswa untuk belajar dan mendapat kehidupan yang lebih baik dikemudian hari. Banyak orang-orang yang sukses tanpa langsung merasakan langsung disiplin ilmu dalam kawah candra dimuka universitas itu. Akan tetapi orang yang belajar dengan sendiri, meminjam istilah Emha Ainun Najib—“Universitas kehidupan”. Seperti ungkapan yang sering kita dengar pengalamanlah yang menjadi pelajaran dan guru yang luar biasa, sehingga menjadi orang yang lebih baik dan sukses. Manakala ada, jumlahnya hanya sedikit yang berhasil dalam hal tersebut.
Lantas, cara yang praktis dilakukan mahasiswa di Universitas, khususnya universitas dengan sering diberi sebutan kampus biru, karena almameternya biru, ini mahasiswa di minta peran aktif untuk memupuk semangat belajar diluar kelas maupun di dalam kelas. Hal tersebut, kiranya menjadi langkah intensif yang harus dikejar oleh mahasiswa. Organisasi, diskusi misalnya.
Iklim dan Tradisi
Proses belajar mengajar tidak hanya terpaku dalam kelas saja, ini artinya banyak aktifitas yang seharusnya dilakukan untuk menambah ilmu dan khazanah pengetahuan oleh mahasiswa. Mungkin saja membutuhkan alat bantu diantaranya; lingkungan, teman atau membaca buku. Dan ini tidak banyak yang mau berkecimpung ke dalam organisasi, sehingga mahasiswa tersebut terkenal dengan sebutan mahasiswa “kupu-kupu” (kuliah-pulang, kuliah-pulang), tradisi inilah yang seharusnya dipotong dari mata rantai oleh pola pikir mahasiswa itu sendiri. Belajar bukan hanya duduk di kelas kemudian mendengarkan guru berbicara setelah itu pulang. Atau lebih populer dengan D3 (datang, duduk, dengar).
Namun pendidikan dalam artian luas lagi, yakni selain mengikuti kuliah, mahasiswa seharusnya juga aktif dalam kegiatan ekstra kampus, dan aktif juga berdiskusi maupun pergi bertandang ke perpustakaan untuk menyelami buku-buku yang ada. Saya teringat apa yang di sampaikan oleh Rektor Paramadina, Anies Baswedan pernah berujar “IP yang baik hanya akan mengantarkan Anda wawancara. Tetapi yang membuat anda diterima adalah leadership skill, karakter dan etos dan itu semua didapatkan tidak di ruang kelas”. Penggagas Indonesia Mengajar ini juga menanmbahkan “Di Universitas, mahasiswa tidak hanya mendapatkan transkrip akademik tetapi juga transkrip non akademik. Transkrip non akademik mencatat kegiatan para mahasiswa dalam berorganisasi. Bagi saya lulus dengan IPK tinggi itu baik, tapi lulus dengan IPK baik plus pengalaman organisasi jauh lebih baik”. Namun tidak sedikit mahasiswa yang sadar akan penting sebuah organisasi kampus. Yang saya amati hanya orang-orang itu saja yang berkecimpung didalamnya.
Sementara itu, untuk memperoleh pengetahuan yang belum ia dapatkan di dalam kelas, mahasiswa bisa mendapatkan membaca buku. Sekarang banyak sekali buku yang dijual di toko buku, tidak seperti Masa orde baru dahulu, penerbitan buku dibatasi bahkan bisa juga dibredel dari peredarannya. Sekarang buku banyak yang beredar di toko buku, namun kalau memang keberatan untuk membelinya, atau kalah dengan anggaran pulsa atau karena kalah degan hedonisnya bisa mencari alternatif lain, yakni berkunjung ke perpustakaan kampus. Lagi-lagi bisa kita amati. Orang-orang yang aktif di dalam perpustakaan hanya orang itu-itu saja. Bahkan yang tandang di dalam perpustakaan sehari itu di daftar pengunjung hanya tertera 100 orang setiap harinya, itu pun beberapa mahasiswa yang mengembalikan buku yang di pinjem kemudian ia mengundurkan diri dari perpustakaan. Itu artinya perbandingan buku dengan jumlah mahasiswa yang berbeda jauh jomplang, bisa dikatakan dramatis maupun kritis intelektual.
Sebenarnya, saya kangen ueforia dengan iklim diskusi di bawah-bawah pohon, seperti citivas akademika di kampus-kampus besar disana. Artinya kuliah tidak hanya terpaku dalam kelas saja. Biasanya kuliah yang terbatas oleh ruang hanya mahasiswa yang duduk didepan saja yang mengikuti, yang belakang bermain sendiri, masa “bodo” dengan pelajaran yang menjenuhkan itu. Kuliah dengan suasana DPR (dibawah pohon rindang) tentunya asyik sekali. Bisa diibaratkan iklim belajar yang bebas tanpa sekat bangku dan kursi belaka. Suasana diskusi ini mahasiswa tentunya tidak akan jenuh, antusiasnya meningkat dengan hembusan angin sepoi-sepoi dari pohon tersebut tidak seperti didalam kelas seperti biasanya.
Namun, di Universitas Nusantara ini kegiatan tersebut jauh api dari panggang. Tidak bisa dilaksanakan secara optimal. Bisa kita lihat, iklim yang seperti ini yang seharusnya di bentuk, namun tak ada wadah untuk mengapresiasikan. Karena lahan tempat parkir yang tidak memadai untuk menampung kendaraan sehingga tempat tak sekat itu tak bisa kita temui. Kebiasaan berdiskusi dibawah pohon bertemankan jajan ringan dan kopi tak jua menjadi tontonan yang menarik lagi. Ini sangat disayangkan sekali iklim belajar yang seperti ini tak juga di senggol. Adanya mahasiswa yang habis kuliah ia langsung pergi di warkop dengan mengobrolkan yang tak berkaitan dengan pelajaran maupun pengetahuan malah menjadi tradisi. Ia lebih suka membicarakan remeh-temeh hal yang tak penting.
Manusia-Manusia Baru
Peningkatan kualitas pendidikan tentunya mencakup seluruh komponen; mulai dari pendidik, sarana prasarana, hingga (mahasiswa). Mahasiswa dengan gelar “maha” (besar) yang tersemat dalam dirinya, masyarakat menaruh harapan di pundak mereka para kaum intelektual. Namun apakah mahasiswa sekarang sudah lebih baik daripada mahasiswa sebelumnya? Pada masa orde baru, mahasiswa masa itu lebih mementingkan kepentingan bersama. Bisa kita lihat, dahulu mahasiswa memikirkan kemajuan sebuah bangsa ketimbang memikirkan IPK yang hanya kamuflase belaka. Bisa dikatakan mahasiswa altruis yang mampu bertahan dengan mementingkan kepentingan kemajuan bersama, negara kita. Seperti halnya, Soe Hok Gie, seorang mahasiswa pemikir, Soekarno, Moh. Hatta, Sjahrir, Tan Malaka dan masih banyak lagi. Saya tidak bisa menyembunyikan lulusan yang satu ini, Mark Zuckerberg dengan fasilitas facebooknya yang kita nikmati bersama. Itu semua adalah alumnus dari Universitas dengan pemampuan berfikir Progresif yang mampu melahirkan sebuah pemikiran untuk dipakai orang lain sesudahnya.
Bahkan Muhammad Hatta pernah berujar “Proses pembelajaran yang benar seyogyanya bukan menghasilkan manusia-manusia biasa yang hanya bisa menimba dan mengerti ilmu melainkan juga manusia yang bisa memancarkan ilmu itu dan meninggalkan legacy bagi generasi penerusnya”. Itu artinya pendidikan seharusnya meninggalkan buah pemikiran untuk di konsumsi orang berikutnya, sehingga terjadi feedback dari proses yang tidak bim salabim langsung jadi tanpa proses panjang dan tersusun secara sistematis.
Namun sekarang, kita ternina-bobokan oleh sulitnya mencari pekerjaan. Sehingga kuliahpun kita harus aktif, dengan asumsi dengan aktif kuliah yang dilakoni setiap hari di kemudian hari akan sukses dengan IPK yang sangat memuaskan. Kuliah sudah sewajarnya memikirkan masa depan. Ya, itu hal lumrah yang dipikirkan oleh mahasiswa pada umumnya. Bisa kita lihat banyak sekali sarjana-sarjana yang menganggur bahkan disibukkan dengan berkas-berkas lamaran yang mereka pertentang-tentengkan kesana kemarin hanya mencari pekerjaan. Namun kita tidak boleh lupa kancah yang harus kita hadapi masyarakat dengan beribu-ribu karakter. Tentunya kita bisa belajar di dalam kawasan Universitas ini dengan bersosialisai belajar di organisasian. Karena masyarakat kita pun juga bersifat komunitas.
Tantangan menjadi agent of change tentu bisa terjawab apabila ia telah matang di dalam penggodokan kawah candra dimuka, Universitas. Eksistensi mereka di dalam dunia masyarakat akan terpanggil manakala mereka menjadi manusia baru. Mahasiswa seperti ini tidak akan luput dengan kecerdasan interpersonal seperti dikatakan Jasmine “Jika Anda memutuskan untuk memakai pendekatan ini, situasi Anda—setidaknya sebagian hari, tidak seharian—akan dekat denan situasi ideal di mana Anda akan terekspos langsung dalam kecerdasan itu bersama dengan aktifitas yang ada memperkaya dan memperkuat pengalaman” (Ngainun Naim, 2099)
Jika mahasiswa telah belajar dengan kompetitif di kawah candradimuka, mengaktualisasi dan intelektualitas yang mumpuni, mahasiswa dengan penggodokan di universitas berbeda dengan yang hanya kuliah-pulang, kuliah pulang. Seperti kata bijak yang sering di kutip banyak orang “Orang-orang besar tidak dilahirkan. Mereka ditempa, diukir, dan dipersiapkan oleh pendidikan yang baik”—Mohammad Fauzil Adhim seorang penulis buku Parenting.
Kiranya benar apa yang dikatakan oleh penulis tersebut. Mahasiswa yang ditempa dengan terpola dengan sistematis outputnya di barengi dengan intelektual dan menguasai teknologi, berorganisasi dan moral agama, tentu dicari banyak orang bahkan instansi. Mahasiswanya sepatutnya memiliki kontribusi yang nyata untuk membangun masyarakat dan bukan hanya embel-embel jas dan almameter belaka. Lantaran mahasiswa sebagai pondasi awal untuk memperbaiki keadaan di negara Indonesia ini menjadi lebih baik. Inilah dialetika yang seharusnya terjalin, sehingga terjadi timbal-balik yang mau belajar bukan hanya belajar di dalam kelas namun juga mencari ilmu ditimbunan semak belukar sekalipun, bahkan ia ditempa sedemikian beratnya sehingga rekontruksi (pengembalian) pendidikan mahasiswa bisa terasa dengan sendirinya. Sehingga Indonesia tidak lagi tergilas dengan kebijakan globalisasi, manakala bisa mencetak mahasiswa yang bisa dihandalkan dalam kancah percaturan masyarakat nasional maupun internasional.[]
إرسال تعليق