Membaca menjadi semacam kebutuhan hidup manakala ditumbuhkembangkan dalam kehidupan sehari-hari. Hal semacam ini sudah ditanamkan oleh pribadi tersebut sedemikian mengakar dan menggurita. Biasanya sudah sejak kecil budaya membaca atau cinta terhadap buku ditanamkan dalam-dalam oleh orangtuanya, sehingga tidak melakukan aktivitas yang menjadi ciri khasnya ia merasa ada yang benar-benar kurang. Kurang apabila tidak melakukan rutinitasnya tersebut, misalnya saja, kegiatan rutin membaca.
Kegiatan rutin membaca ternyata membuat rabuk semangat dalam melakukan aktivitas fisik sehari-hari. Membaca menjadi rabuk semangat mengingat membaca adalah media untuk berinteraksi langsung setiap hari sebelum otak kita berinteraksi dengan yang umum. Rabuk semangat ini juga didapat dari kata pertama membaca hingga kata terakhir.
Judul Merabuk Semangat dengan Membaca ini saya dapat dari buku yang berjudul Penyegar Jiwa (2013). Buku yang digarap oleh Teguh Imam Perdana ini memberi pemahaman tentang bagaimana jiwa juga membutuhkan penyegaran jiwa setelah bertubi-tubi mendapatkan masalah atau pengalaman-pengalaman pribadi yang tidak mengenakkan.
Oleh karena itu, Merabuk Semangat dengan Membaca adalah salah satu faktor yang penting dalam negesi atau mengawali hari karir yang ingin dikerjakan. Seseorang yang akan berangkat kerja, orang perkotaan, merawat tradisi ini sesungguhnya untuk mengetahui dahulu masalah yang akan ditemukan di jalanan. Kondisi merabuk semangat membaca ini harus dibangun sejak kapan pun dan dimana pun.
Tidak terkecuali orang yang sedang sakit. Berbicara tentang sakit saya hampir 2 minggu mengalami sakit. Sakit yang saya derita adalah gejala Demam Berdarah (DB). Hampir setiap hari saya tidak membaca untuk membaca sebentar saja kondisi badan sudah memerintahkan bahan bacaan supaya ditaruh dan tidak dilanjutkan. Sebenarnya, saya sedang berusaha membaca buku Jakob Oetama Bekerja dengan Hati; Kisah Wartawan Miskin yang Berhasil Menjadi Konglomerat Media (2013) yang tulis oleh Nur Islafatun ini menarik untuk saya baca. Namun lagi-lagi kondisi badan yang menjadi terkendala untuk membaca.
Namun, sakit bukan alasan untuk terus belajar dan membaca. Saya jadi teringat ungkapan yang familiar dari Barat yang cukup fenomenal. Seorang Esais dan penyair abad ke-19 Ralph Waldo Emerson berujar, "Jika jarang bertemu dengan seseorang yang memiliki intelektualitas yang jarang dia ketemui, maka tanyakanlah buku apa yang ia baca?" Oleh karena itu, seperti apa yang dikutip oleh Kompas, 24 Mei 2015 dalam Rubrik Laras Keluarga "Membaca buku bukan lagi untuk menambah wawasan dan pengetahuan namun juga untuk berpikir kritis dan analitis. Kebiasaan membaca buku pada akhirnya akan membantu proses pendidikan dalam diri seseorang. Membaca berbagai macam topik dan berbagai informasi sama halnya dengan menghasup ilmu dan pengetahuan.
Karena itu, membaca adalah media politis untuk menumbuhkan semangat dalam jiwa. Sekalipun sedang sakit, membaca adalah pekerjaan politis untuk mempertahankan diri untuk tetap belajar dan berpikir secara kritis serta analitis. Sakit tidak menghalangi untuk berpikir atraktif dan menghasilkan karya yang berkualitas. Oleh karena itu dibutuhkan semangat yang tinggi untuk tetap membaca sehingga belajar dalam cakup yang lebih bisa tercapai.[]
Kegiatan rutin membaca ternyata membuat rabuk semangat dalam melakukan aktivitas fisik sehari-hari. Membaca menjadi rabuk semangat mengingat membaca adalah media untuk berinteraksi langsung setiap hari sebelum otak kita berinteraksi dengan yang umum. Rabuk semangat ini juga didapat dari kata pertama membaca hingga kata terakhir.
Judul Merabuk Semangat dengan Membaca ini saya dapat dari buku yang berjudul Penyegar Jiwa (2013). Buku yang digarap oleh Teguh Imam Perdana ini memberi pemahaman tentang bagaimana jiwa juga membutuhkan penyegaran jiwa setelah bertubi-tubi mendapatkan masalah atau pengalaman-pengalaman pribadi yang tidak mengenakkan.
Oleh karena itu, Merabuk Semangat dengan Membaca adalah salah satu faktor yang penting dalam negesi atau mengawali hari karir yang ingin dikerjakan. Seseorang yang akan berangkat kerja, orang perkotaan, merawat tradisi ini sesungguhnya untuk mengetahui dahulu masalah yang akan ditemukan di jalanan. Kondisi merabuk semangat membaca ini harus dibangun sejak kapan pun dan dimana pun.
Tidak terkecuali orang yang sedang sakit. Berbicara tentang sakit saya hampir 2 minggu mengalami sakit. Sakit yang saya derita adalah gejala Demam Berdarah (DB). Hampir setiap hari saya tidak membaca untuk membaca sebentar saja kondisi badan sudah memerintahkan bahan bacaan supaya ditaruh dan tidak dilanjutkan. Sebenarnya, saya sedang berusaha membaca buku Jakob Oetama Bekerja dengan Hati; Kisah Wartawan Miskin yang Berhasil Menjadi Konglomerat Media (2013) yang tulis oleh Nur Islafatun ini menarik untuk saya baca. Namun lagi-lagi kondisi badan yang menjadi terkendala untuk membaca.
Namun, sakit bukan alasan untuk terus belajar dan membaca. Saya jadi teringat ungkapan yang familiar dari Barat yang cukup fenomenal. Seorang Esais dan penyair abad ke-19 Ralph Waldo Emerson berujar, "Jika jarang bertemu dengan seseorang yang memiliki intelektualitas yang jarang dia ketemui, maka tanyakanlah buku apa yang ia baca?" Oleh karena itu, seperti apa yang dikutip oleh Kompas, 24 Mei 2015 dalam Rubrik Laras Keluarga "Membaca buku bukan lagi untuk menambah wawasan dan pengetahuan namun juga untuk berpikir kritis dan analitis. Kebiasaan membaca buku pada akhirnya akan membantu proses pendidikan dalam diri seseorang. Membaca berbagai macam topik dan berbagai informasi sama halnya dengan menghasup ilmu dan pengetahuan.
Karena itu, membaca adalah media politis untuk menumbuhkan semangat dalam jiwa. Sekalipun sedang sakit, membaca adalah pekerjaan politis untuk mempertahankan diri untuk tetap belajar dan berpikir secara kritis serta analitis. Sakit tidak menghalangi untuk berpikir atraktif dan menghasilkan karya yang berkualitas. Oleh karena itu dibutuhkan semangat yang tinggi untuk tetap membaca sehingga belajar dalam cakup yang lebih bisa tercapai.[]
إرسال تعليق