Sudah sekian lama, aku mengharapkan perubahan dalam diriku. Bisikan ini yang selalu saja berdengung dalam pikiranku! Tiap hari aku diasyikkan dengan tontonan yang ada di TV. Di dalamnya penuh rayuan-rayuan bintang iklan. Hampir semua tayangannya adalah hiburan yang memiskinkan jiwa. Hampir semua channel berisi kicauan yang membuat kita mengikuti hasrat yang begitu tinggi. Hasrat akan kesenangan, keasyikan, dan semuanya membuat aku melupakan aktivitas untuk mencari ilmu dan pengetahuan.
Memang usiaku masih muda. Tapi aku beruntung, masih bisa sekolah hingga perguruan tinggi yang masih aku tempuh. Sementara, teman seusia dan sekampungku jarang yang mengenyam pendidikan sampai ke Perguruan tinggi.
Aku mendengar suara perempuan dari kejauhan sana, “Aibb, Aibb, segera pulang! Sudah malam, ayo segera belajar sana!”
Itulah ucapan ibuku yang akan kuingat hingga saat ini. Ucapan itu selalu kudengar saat aku kanak-kanak, tepatnya saat aku masih sekolah di SD. Dan suara wanita tua paruh baya itu selalu terbawa kemana pun aku pergi. Bahkan terpatri dalam otakku sampai sekarang, di usiaku yang sudah menginjak dewasa. Waktu itu aku belum begitu jatuh cinta yang namanya lembaran harum semerbak secarik kertas, dan untaian kalimat yang berjajar rapi dalam barisan kata, yang disebut dengan dalam buku, entah itu buku pelajaran maupun buku bacaan yang lain. Karena memang waktu itu aku dihantui dengan rasa malas dan masih terlalu disibukkan dengan kesenangan pada hal-hal lain selain buku.
Tanpa mengubris suara perempuan paruh baya itu, aku pun melanjutkan bermain bersama teman-teman sebayaku. Aku tidak tertarik dengan buku. Aku belum tahu bahwa ia adalah cakrawala dunia. Apabila sudah menonton acara TV kesukaanku, pasti semuanya sudah lupa.
“Tak matikan TV-nya lho, kalau nggak amu belajar!”, inilah yang sering keluar dari mulut ibu ketika anaknya malas belajar. Kata-kata itu masih tetap tertanam dalam memori ini.
Ya, namanya Aibb, Mungkin nama ini terdengar agak kurang etis, karena secara maknawiah dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Aibb berarti hal yang membuat malu, atau menjadi tercela. Tetapi karena nama itu, aku justru punya kemauan yang kuat untuk membuktikan kepada semua orang. Bahwa aku tidaklah orang yang memalukan dan tercela dalam lingkunganku.
Memang keluargaku tidak mengikuti tradisi suka membaca. Bahkan adikku tiap hari suka nonton TV. Mau berangkat sekolah dan belajarpun, ia tidak luput dari bayang-bayang yang namanya tontonan yang dipersembahkan di layar kaca itu. Hampir rata-rata dua puluh jam lamanya TV itu tak pernah mati.
Sebenarnya, akupun juga sama seperti mereka. Hingga ku menyadarinya belakangan, yaitu ketika aku mulai masuk kuliah. Sejak saat itu, aku menganggap bahwa TV adalah suatu yang di dalamnya berisi kabar yang penuh kebohongan. Ya, aku mulai punya tekad yang besar untuk menunjukkan kepada diriku sendiri bahwa aku harus berbeda dan bisa menunjukkan sesuatu yang berbeda, tanpa ikut-ikutan kondisi lingkunganku yang itu-itu saja, di mana orang-orang terlalu jauh dipengaruhi oleh TV. Mulai dari bahan yang diobrolkan, tak lepas dari pengaruh TV. Hingga kosa kata, hampir semuanya dipengaruhi TV.
Aku mencoba untuk berbeda. Aku mencoba untuk bersuara. Aku memulainya dengan cara menjalin pertemanan dengan teman-teman kuliahku yang banyak bicara dan punya prestasi di kelas. Aku mulai menyukai teman-teman mahasiswa yang berani bicara ‘vokal’. Dengan berteman dengan mereka, banyak wawasan dan motivasi yang kudapat, terutama hal-hal baru yang membuat aku semakin menyukai pengetahuan dan wawasan. Bukan wawasan dan pengetahuan yang berasal dari TV, tapi dari sumber-sumber baru yang bisa kudapat.
Ketika aku berteman dengan Abdul dan teman sepermainannya di suatu kampus, tempat dimana keduanya menimba ilmu, aku mulai menemukan aktivitas yang menarik. Kebetulan, teman-teman itu memang kebanyakan ikut komunitas pencinta buku. Maka, semua berubah seratus delapan puluh derajat. Aku yang mulanya tidak mengenal lembaran-lembaran dan ukiran di atas kertas, lalu menghabiskan hari-hari dengan kumpulan-kumpulan kertas yang disusun rapi. Aku serasa kehausan dengan cakrawala dunia.
Abdul adalah pemuda yang cukup produktif, dan ia juga merupakan pengasuh Perpustakaan Kampung Jambu di tempat tinggalnya. Pada Abdul-lah, aku banyak belajar. Seringkali Abdul tak segan untuk memberi wejangan dan pitutur. Dari nasehat itulah, aku mendapatkan suntikan energi untuk semakin mencintai buku.
“Bro, kita kaum muda”, sambutnya, “Kita harus berkarya! Kita harus berfikir agar kita dihargai orang lain!”
“Caranya gimana ya, Brey?”, tanya ku penasaran dengan suasana penuh guyon.
“Perbanyaklah baca dan berteman dengan buku!”
Setelah mendengar masukan dari Abdul itu, aku pun mulai memberanikan diri untuk membuka buku. Awalnya aku sangat sulit untuk konsentrasi. Ternyata tak mudah memaksa diri untuk membaca buku. Tapi aku terus mencobanya. Kesulitan yang kualami di awal ini adalah memahami makna yang disampaikan oleh penulis.
Kemudian aku coba cari-cari tulisan tentang bagaimana caranya membaca buku yang menyenangkan, agar tidak bosan. Kucari artikel di google pula tentang hal itu. Kemudian kutemukan kata-kata di sebuah tulisan yang intinya mengatakan mengatakan bahwa: Membaca itu merupakan aktivitas intelektual. Membacar termasuk aktivitas reseptif. Melalui kegiatan membaca, informasi dari sumber tertulis dipindahi. Setelah dipindai, informasi “tersimpan” bersama informasi lain yang telah ada. Informasi terorganisir, melengkapi, menguatkan, menegasi, atau bahkan mematahkan informasi yang telah ada”.
Hari kedua, ketiga, keempat, aku masih merasa bahwa belum dapat yang aku dapat dari membaca buku. Aku pun juga belum mendapat perubahan selama membaca buku yang kubaca. Memang dari lembaran yang kutumpuk dan berbaris-baris dengan rapi itu, masih sering kali aku abaikan dengan tidak konsentrasi.
Seringkali ketika aku pulang kampung, aku juga ketemu teman-teman yang membuatku terlena sehingga jauh dari kegiatan membaca. Misalnya ketika aku ketemu Amir, teman sepermainan di kampung, yang sering mengajakku bermain terus dan menggodaku untuk tidak terus belajar. Dengannya, seringkali aku harus keluar mencari hiburan yang ada di luar rumah. Bahkan, aku diajak ke tempat yang tak pernah aku kunjungi sebelumnya, yaitu ke ‘kafe’. Di tempat itu, Amir mengajakku untuk menenggak air ‘goblok’ yang keruh itu. Kala itu, aku juga digoda oleh gadis yang kerja di kafe tersebut untuk minum minuman yang memabukkan itu. Hampir saja aku tergoda. Untungnya, ketika gelas berisi alkohol itu dekat di multku, baunya segera tercium di hidungku dan otakku segera memutuskan untuk membatalkannya.
Sepertinya aku memang dijebak Amir. Mungkin ia tak menyukai diriku yang jarang berkebiasaan seperti anak-anak muda lainnya. Sehingga ada niat untuk membuatku “nakal” sepertinya dengan cara menjebakku dengan cara mengajakku ke Kafe dan menyuruh Mbak pelayan kafe itu untuk membuatku bisa meminum air memabukkan itu. Tapi ternyata ia gagal.
Setelah kejadian di kafe itu, aku merasa trauma untuk pergi ke tempat minum itu. Semenjak hari ketujuh, aku merasakan perubahan dalam diriku. Aku merasakan semangat baru, yaitu perasaan bahwa aku semakin mantab untuk menunjukkan sikap dan kebiasaan yang berbeda dengan yang lain, terutama dengan teman-teman kampungku yang hanya ikut arus. Mulai bisa kurasakan energi yang kuat dalam diriku untuk membaca buku.
Ketika aku kembali ke kampus, semakin mantab tekadku untuk berkecimpung si dunia pe(cinta) dan penggiat buku. Siang, malam, pagi dan sore aku pun menyempatkan diri untuk selalu mengindahkan buku, entah apa saja dan banyak macam yang kukunyah dalam hari-hariku. Hingga mulai kutelan pemikiran-pemikiran “orang ahli” dan para “pemikir”. Lambat laun sikapku mulai berubah.
Kegemaranku membaca mulai terbangun dengan dasar yang kokoh, dengan alasan bahwa ini adalah jalan untuk mencari pengetahuan, wawasan, dan untuk membentuk karakterku. Aku yakin bahwa tak ada yang salah dengan keputusannya ini, bahkan sekarang aku berharap menjadi seorang sastrawan maupun penulis.
Oleh sebab itu, bagiku buku adalah embrio kemajuan. Kegemaran membaca buku adalah mahkota peradaban. Dari membaca buku Remy Silado, aku menemukan kalimat begini: “Apabila ada manusia di zaman sekarang yang menyebut dirinya modern tetapi tidak mengindahkan buku, memilikinya dan membacanya, maka dengan manusia tersebut telah mengambil inisiatif menjadikan dirinya sebagai hewan.”
Banyak teman dan tokoh yang menganjurkan untuk terus mengindahkan dan berteman dengan lembaran dan tumpukan buku (membacanya). Karena buku adalah jendela dunia. Berlumuran dengan buku lebih indah di diri kita sendiri.[]
Memang usiaku masih muda. Tapi aku beruntung, masih bisa sekolah hingga perguruan tinggi yang masih aku tempuh. Sementara, teman seusia dan sekampungku jarang yang mengenyam pendidikan sampai ke Perguruan tinggi.
Aku mendengar suara perempuan dari kejauhan sana, “Aibb, Aibb, segera pulang! Sudah malam, ayo segera belajar sana!”
Itulah ucapan ibuku yang akan kuingat hingga saat ini. Ucapan itu selalu kudengar saat aku kanak-kanak, tepatnya saat aku masih sekolah di SD. Dan suara wanita tua paruh baya itu selalu terbawa kemana pun aku pergi. Bahkan terpatri dalam otakku sampai sekarang, di usiaku yang sudah menginjak dewasa. Waktu itu aku belum begitu jatuh cinta yang namanya lembaran harum semerbak secarik kertas, dan untaian kalimat yang berjajar rapi dalam barisan kata, yang disebut dengan dalam buku, entah itu buku pelajaran maupun buku bacaan yang lain. Karena memang waktu itu aku dihantui dengan rasa malas dan masih terlalu disibukkan dengan kesenangan pada hal-hal lain selain buku.
Tanpa mengubris suara perempuan paruh baya itu, aku pun melanjutkan bermain bersama teman-teman sebayaku. Aku tidak tertarik dengan buku. Aku belum tahu bahwa ia adalah cakrawala dunia. Apabila sudah menonton acara TV kesukaanku, pasti semuanya sudah lupa.
“Tak matikan TV-nya lho, kalau nggak amu belajar!”, inilah yang sering keluar dari mulut ibu ketika anaknya malas belajar. Kata-kata itu masih tetap tertanam dalam memori ini.
Ya, namanya Aibb, Mungkin nama ini terdengar agak kurang etis, karena secara maknawiah dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Aibb berarti hal yang membuat malu, atau menjadi tercela. Tetapi karena nama itu, aku justru punya kemauan yang kuat untuk membuktikan kepada semua orang. Bahwa aku tidaklah orang yang memalukan dan tercela dalam lingkunganku.
Memang keluargaku tidak mengikuti tradisi suka membaca. Bahkan adikku tiap hari suka nonton TV. Mau berangkat sekolah dan belajarpun, ia tidak luput dari bayang-bayang yang namanya tontonan yang dipersembahkan di layar kaca itu. Hampir rata-rata dua puluh jam lamanya TV itu tak pernah mati.
Sebenarnya, akupun juga sama seperti mereka. Hingga ku menyadarinya belakangan, yaitu ketika aku mulai masuk kuliah. Sejak saat itu, aku menganggap bahwa TV adalah suatu yang di dalamnya berisi kabar yang penuh kebohongan. Ya, aku mulai punya tekad yang besar untuk menunjukkan kepada diriku sendiri bahwa aku harus berbeda dan bisa menunjukkan sesuatu yang berbeda, tanpa ikut-ikutan kondisi lingkunganku yang itu-itu saja, di mana orang-orang terlalu jauh dipengaruhi oleh TV. Mulai dari bahan yang diobrolkan, tak lepas dari pengaruh TV. Hingga kosa kata, hampir semuanya dipengaruhi TV.
Aku mencoba untuk berbeda. Aku mencoba untuk bersuara. Aku memulainya dengan cara menjalin pertemanan dengan teman-teman kuliahku yang banyak bicara dan punya prestasi di kelas. Aku mulai menyukai teman-teman mahasiswa yang berani bicara ‘vokal’. Dengan berteman dengan mereka, banyak wawasan dan motivasi yang kudapat, terutama hal-hal baru yang membuat aku semakin menyukai pengetahuan dan wawasan. Bukan wawasan dan pengetahuan yang berasal dari TV, tapi dari sumber-sumber baru yang bisa kudapat.
Ketika aku berteman dengan Abdul dan teman sepermainannya di suatu kampus, tempat dimana keduanya menimba ilmu, aku mulai menemukan aktivitas yang menarik. Kebetulan, teman-teman itu memang kebanyakan ikut komunitas pencinta buku. Maka, semua berubah seratus delapan puluh derajat. Aku yang mulanya tidak mengenal lembaran-lembaran dan ukiran di atas kertas, lalu menghabiskan hari-hari dengan kumpulan-kumpulan kertas yang disusun rapi. Aku serasa kehausan dengan cakrawala dunia.
Abdul adalah pemuda yang cukup produktif, dan ia juga merupakan pengasuh Perpustakaan Kampung Jambu di tempat tinggalnya. Pada Abdul-lah, aku banyak belajar. Seringkali Abdul tak segan untuk memberi wejangan dan pitutur. Dari nasehat itulah, aku mendapatkan suntikan energi untuk semakin mencintai buku.
“Bro, kita kaum muda”, sambutnya, “Kita harus berkarya! Kita harus berfikir agar kita dihargai orang lain!”
“Caranya gimana ya, Brey?”, tanya ku penasaran dengan suasana penuh guyon.
“Perbanyaklah baca dan berteman dengan buku!”
Setelah mendengar masukan dari Abdul itu, aku pun mulai memberanikan diri untuk membuka buku. Awalnya aku sangat sulit untuk konsentrasi. Ternyata tak mudah memaksa diri untuk membaca buku. Tapi aku terus mencobanya. Kesulitan yang kualami di awal ini adalah memahami makna yang disampaikan oleh penulis.
Kemudian aku coba cari-cari tulisan tentang bagaimana caranya membaca buku yang menyenangkan, agar tidak bosan. Kucari artikel di google pula tentang hal itu. Kemudian kutemukan kata-kata di sebuah tulisan yang intinya mengatakan mengatakan bahwa: Membaca itu merupakan aktivitas intelektual. Membacar termasuk aktivitas reseptif. Melalui kegiatan membaca, informasi dari sumber tertulis dipindahi. Setelah dipindai, informasi “tersimpan” bersama informasi lain yang telah ada. Informasi terorganisir, melengkapi, menguatkan, menegasi, atau bahkan mematahkan informasi yang telah ada”.
Hari kedua, ketiga, keempat, aku masih merasa bahwa belum dapat yang aku dapat dari membaca buku. Aku pun juga belum mendapat perubahan selama membaca buku yang kubaca. Memang dari lembaran yang kutumpuk dan berbaris-baris dengan rapi itu, masih sering kali aku abaikan dengan tidak konsentrasi.
Seringkali ketika aku pulang kampung, aku juga ketemu teman-teman yang membuatku terlena sehingga jauh dari kegiatan membaca. Misalnya ketika aku ketemu Amir, teman sepermainan di kampung, yang sering mengajakku bermain terus dan menggodaku untuk tidak terus belajar. Dengannya, seringkali aku harus keluar mencari hiburan yang ada di luar rumah. Bahkan, aku diajak ke tempat yang tak pernah aku kunjungi sebelumnya, yaitu ke ‘kafe’. Di tempat itu, Amir mengajakku untuk menenggak air ‘goblok’ yang keruh itu. Kala itu, aku juga digoda oleh gadis yang kerja di kafe tersebut untuk minum minuman yang memabukkan itu. Hampir saja aku tergoda. Untungnya, ketika gelas berisi alkohol itu dekat di multku, baunya segera tercium di hidungku dan otakku segera memutuskan untuk membatalkannya.
Sepertinya aku memang dijebak Amir. Mungkin ia tak menyukai diriku yang jarang berkebiasaan seperti anak-anak muda lainnya. Sehingga ada niat untuk membuatku “nakal” sepertinya dengan cara menjebakku dengan cara mengajakku ke Kafe dan menyuruh Mbak pelayan kafe itu untuk membuatku bisa meminum air memabukkan itu. Tapi ternyata ia gagal.
Setelah kejadian di kafe itu, aku merasa trauma untuk pergi ke tempat minum itu. Semenjak hari ketujuh, aku merasakan perubahan dalam diriku. Aku merasakan semangat baru, yaitu perasaan bahwa aku semakin mantab untuk menunjukkan sikap dan kebiasaan yang berbeda dengan yang lain, terutama dengan teman-teman kampungku yang hanya ikut arus. Mulai bisa kurasakan energi yang kuat dalam diriku untuk membaca buku.
Ketika aku kembali ke kampus, semakin mantab tekadku untuk berkecimpung si dunia pe(cinta) dan penggiat buku. Siang, malam, pagi dan sore aku pun menyempatkan diri untuk selalu mengindahkan buku, entah apa saja dan banyak macam yang kukunyah dalam hari-hariku. Hingga mulai kutelan pemikiran-pemikiran “orang ahli” dan para “pemikir”. Lambat laun sikapku mulai berubah.
Kegemaranku membaca mulai terbangun dengan dasar yang kokoh, dengan alasan bahwa ini adalah jalan untuk mencari pengetahuan, wawasan, dan untuk membentuk karakterku. Aku yakin bahwa tak ada yang salah dengan keputusannya ini, bahkan sekarang aku berharap menjadi seorang sastrawan maupun penulis.
Oleh sebab itu, bagiku buku adalah embrio kemajuan. Kegemaran membaca buku adalah mahkota peradaban. Dari membaca buku Remy Silado, aku menemukan kalimat begini: “Apabila ada manusia di zaman sekarang yang menyebut dirinya modern tetapi tidak mengindahkan buku, memilikinya dan membacanya, maka dengan manusia tersebut telah mengambil inisiatif menjadikan dirinya sebagai hewan.”
Banyak teman dan tokoh yang menganjurkan untuk terus mengindahkan dan berteman dengan lembaran dan tumpukan buku (membacanya). Karena buku adalah jendela dunia. Berlumuran dengan buku lebih indah di diri kita sendiri.[]
إرسال تعليق